Cipinang, Cimaung, Bandung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Cipinang
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenBandung
KecamatanCimaung
Jumlah penduduk-
Kepadatan-

Cipinang adalah desa di kecamatan Cimaung, Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

IDENTITAS[sunting | sunting sumber]

DESA : CIPINANG KECAMATAN : CIMAUNG BULAN : MARET TAHUN : 2012 NAMA PENGISI : ASEP SUHAENDI PEKERJAAN : PERANGKAT DESA JABATAN : SEKRETARIS DESA

SUMBER DATA[sunting | sunting sumber]

1. SESEPUH DESA 2. KADER PKK Kepala Desa Cipinang Sekretaris Desa ASEP JUANDA ASEP SUHAENDI (AS. CEPI)

POTENSI DESA[sunting | sunting sumber]

BATAS WILAYAH[sunting | sunting sumber]

Batas Desa/Kelurahan Kecamatan Utara Cimaung Cimaung Timur Mekarsari Cimaung Selatan Cikalong Cimaung Barat Sukamaju/Lamajang Cimaung/Pangalengan

LUAS WILAYAH MENURUT PENGGUNAANNYA[sunting | sunting sumber]

Luas Pemukiman 50.894 M2 Luas Pesawahan 1.784.291 M2 Luas Perkebunan - M2 Luas Kantor Desa 2.500 M2 Luas Hutan Konservasi - M2 Hutan Adat (bila ada) - M2

POTENSI DAYA MANUSIA[sunting | sunting sumber]

JUMLAH PENDUDUK[sunting | sunting sumber]

Jumlah Laki-laki 4.288 orang Jumlah Perempuan 4.128 orang Jumlah Kader PKK aktif 65 orang Jumlah Kepala Keluarga 2.381 KK

JUMLAH KELOMPOK MASYARAKAT[sunting | sunting sumber]

Kelompok Adat 2 klp Kelompok Kepemudaan 4 klp Kelompok Pengajian 13 klp Kelompok Jimpitan 43 klp Kelompok Tani 9 klp Kelompok Kemasyarakatan lainnya gotong royong/Kerjabakti 4 klp Kelompok Lainnya (bila ada) 1 klp

SEJARAH BERDIRINYA DESA CIPINANG[sunting | sunting sumber]

1. BAB I SEJARAH DESA....................................... 2. BAB II ADAT ISTIADAT DESA........................... 3. BAB III SISTEM KAMASYARAKATAN................ 4. BAB IV SISTEM KESENIAN................................ 5. BAB V SISTEM BAHASA DAN AGAMA............. 6. BAB VI PERMASALAHAN DAN USULAN.........

BAB I SEJARAH DESA[sunting | sunting sumber]

Gambaran Umum[sunting | sunting sumber]

Letak Desa Cipinang terhampar di antara dua buah kaki gunung Malabar dan Gunung Tilu dengan kontur wilayah perbukitan subur dan potensial dengan iklim sejuk kisaran suhu 29 °C terletak pada ketinggian + 700 m di atas permukaan laut serta ditunjang oleh kultur keramah tamahan budaya masyarakat sunda yang melekat. Luas wilayah Desa Cipinang 269,21 Ha berbatasan dengan wilayah sebelah Utara Desa Cimaung sebelah Timur Desa Mekarsari sebelah Selatan Desa Cikalong dan sebelah Barat Desa Sukamaju / Desa Lamajang. Dilintasi oleh jalan Provinsi jalur Banjaran – Pangalengan, hal tersebut merupakan tempat persinggahan wisata yang cukup strategis di wilayah Bandung Selatan, mayorritas penduduk beragama Islam, mata pencaharian utama di bidang pertanian, jarak Desa ke Kecamatan + 1,3 KM dan ke Kabupaten + 17 KM.

Sejarah dan Asal Usul Desa, Cerita Rakyat[sunting | sunting sumber]

Bermula dari Mbah Eyang Bangsa Manggala asal dari Maruyung Majalaya berkelana dan bertapa di sekitar Logawa, suatu saat dia memandang ke arah utara terlihat tempat yang sangat cocok menurutnya untuk ngababakan, lantas dia menuju tempat tersebut serta sejak itulah dia tinggal di daerah itu, yang saat ini tempat tersebut bernama Kampung Babakan. Selanjutnya belau tinggal di kampung sebelah timurnya, tepatnya yang sekarang bernama kampung Maruyung, bermula dari kampung inilah ada kegiatan pemerintahan. Menurut cerita dari para sesepuh konon asal mula nama Desa Cipinang, diambil dari ujung nama leluhur desa yang bernama Prabu Serang Sangiang Cipinang, sejak itulah nama Desa Cipinang ditetapkan. Pada tahun 1887 “Ali Mudin” dilantik sebagai lurah pertama di Desa Cipinang oleh Dalem Bandung “Raden Adipati Kusumadilaga” Bupati Bandung (1874-1893) berdasarkan pada itulah maka ditetapkan tahun 1887 sebagai tahun berdirinya Desa Cipinang. Ali Mudin memerintah sebagai lurah sampai tahun 1895, setelahnya dilanjutkan oleh “Trunadireja” (1895-1903) dia mendapat medali penghargaan dari Bupati Aa Martanagara (1893-1920) sehingga terkenal dengan sebutan / panggilan Lurah Madali, lantas beralih kepada “Madraip” (1903-1911) dilanjutkan oleh “Amir” (1911-1912). Lurah selanjutnya adalah “Aditruna” (1912-1942) dan diteruskan oleh “Panhur” (1942-1951) lantas dilimpahkan kepada “Moch Isak Truna Wijaya” (1951-1979) dia merupakan pimpinan yang pamilier, dikenal cukup dekat dengan seluruh lapisan masyarakat sehingga di bawah kepemimpinannya berhasil meraih prestasi yang cukup gemilang melalui program Panca Karya merupakan lanjutan dari Program Panca Marga dapat menumbuhkembangkan kegotong royongan masyarakat desa diberbagai bidang pembangunan diantaranya: 1. Bangunan Sekolah Dasar Cipinang (dua lokal) 2. Bangunan Sekolah Dasar Pangkalan 3. Bangunan Sekolah Dasar Tarunabhakti 4. Bangunan Sekolah Panghegar. 5. Terjangkaunya penerangan Listrik 6. Irigasi Cibongkok 7. Irigasi Cirehe 8. Irigasi Lamping 9. Irigasi Cipinang Maka dengan prestasi tersebut pada masa kepemimpinan Bupati Kolonel Masturi (1967-1979) tepatnya pada tahun 1968 Desa Cipinang mendapat kehormatan Pemerintah Pusat ditunjuk sebagai desa yang layak menerima kunjungan tamu kehormatan perwakilan 7 negara dari 5 benua, penyambutan tamu tersebut dilaksanakan di Situ Asik Kampung Babakan dimeriahkan oleh kesenian degung menampilkan sinden kondang pada masa itu Upit Sarimanah dan Suling Ajaib (Mang Kundi). Kemudian di bawah kepemimpinannya pula pada tahun 1970 dia berhasil mewujudkan Lapang Sepak Bola. Masa bhakti kepemimpinannya lebih dari 25 tahun sehingga dia mendapat penghargaan Medali Emas Bupati RH Lili Sumantri (1968-1974) dan (1974-1980). Pimpinan pemerintahan setelah “Moch Isak Truna Wijaya” dilanjutkan oleh “Moch Toha Truna Atmaja” dia menjabat dua periode, dimulai (1979-1989) dan belanjut (1989-1998). Lurah atau Kepala Desa selanjutnya adalah “Tatang Iwa Kartiwa” dia dipercaya memegang tampuk kepemimpinan (1998-2006) selanjutnya dipercaya kembali (2006-sekarang) di bawah pemerintahannya pembangunan infrastruktur desa berkembang pesat, yang semula dianggap kurang mungkin menjadi mungkin, yang tadinya tidak ada menjadi ada, berbagai pembangunan infrastruktur dan pengadaan sarana yang telah dicapai diantaranya adalah: 1. Pembangunan Gedung Serba Guna; 2. Pengadaan tanah Bak BPAB; 3. Pembangunan Bak BPAB / PAM Desa; 4. Pemasangan Papingblock halaman kantor desa; 5. Pembangunan Gapura permanen di tiap simpangan jalan desa; 6. Pembangunan SMP Negeri 1 Cimaung; 7. Pembangunan Polindes; 8. Pembangunan kios desa; 9. Pembangunan kantor desa; 10. Pembangunan kantor BPD, LPMD, Karang Taruna dan PKK; 11. Pembangunan jembatan lamping; 12. Pengadaan lahan TPU Dusun I; 13. Pengadaan kendaraan operasional desa; 14. Pembangunan PAUD RW.12; 15. Pembangunan Madrasah Al Falah RW.06; 16. Pembangunan Madrasah Nurul Jannah RW.02; 17. Pembangunan TPT RW.01; 18. Pembangunan Posyandu / Bale RW.03; 19. Pembangunan Posyandu / Bale RW.12; 20. Pengadaan kendaraan BUMDes; 21. Pengadaan Perahu Arung Jeram; 22. Pembangunan kios wisata; 23. Pembangunan jalan baru akses wisata; 24. Pembangunan Rumah Pintar / Perpustakaan Desa; 25. Pembangunan masjid Al Manar; dst.

Disamping pencapaian pembangunan infrastruktur dan pengadaan sarana di atas dia juga mempunyai progran rutin yang setiap tahun selalu dilaksanakan yaitu program bantunan stimulan renovasi rumah tidak layak huni dan bantuan stimulan dana pendidikan Madrasah Diniyah. Di bawah kepemimpinan “Tatang Iwa Kartiwa” beberapa prestasi berhasil diraih diantaranya pada tahun 2005 menjadi Juara 1 P2WKSS. Nama-nama yang pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Desa di Desa Cipinang: 1. Ali Mudin (1887-1895) 2. Trunadireja “Lurah Madali” (1895-1903) 3. Madraip (1903-1911) 4. Amir (1911-1912) 5. Aditruna (1912-1942) 6. Panhur (1942-1951) 7. Moch. Isak Truna Wijaya (1951-1979) 8. Moch. Toha Truna Atmaja ( 1979 – 1989 ) 9. Moch. Toha Truna Atmaja ( 1990 – 1998 ) 10. Tatang Iwa Kartiwa ( 1998 – 2006 ) 11. Tatang Iwa Kartiwa ( 2006 - 2012 ) 12. Asep Juanda (2012 s/d sekarang) Demikian sejarah singkat Desa Cipinang, semoga dapat dijadikan sumber pengetahuan bagi kita.

Tempat-Tempat Bersejarah/Situs Budaya[sunting | sunting sumber]

- Goong Kromong Pusaka

BAB II ADAT ISTIADAT DESA[sunting | sunting sumber]

Adat yang berkaitan dengan siklus hidup[sunting | sunting sumber]

a. Adat yang berkaitan dengan kelahiran 1. Marhaba 2. Aqiqah b. Adat yang berkaitan dengan sunatan i. Merendam anak di empang/balong ii. Mandi dengan air goong pusaka

Adat yang berkaitan dengan penikahan[sunting | sunting sumber]

1. Ngeuyeuk seureuh

Adat yang berkaitan dengan kematian[sunting | sunting sumber]

1. Tahlilan

Adat tentang Sopan Santun[sunting | sunting sumber]

a. Mengucapkan salam ketika akan bertamu dengan mengucapkan (punten, rampes, assalamu’alaikum) b. Panggilan kepada orang yang lebih tua / dihormati (akang, aa, emang, abah, aki, eyang, bapa, ibu, teteh, ibi) c. Panggilan kepada orang yang lebih muda (ayi, nyai, neng)

Adat Pergaulan muda mudi[sunting | sunting sumber]

- Kesenian Gondang

Adat yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam[sunting | sunting sumber]

1. Mitemeyan

Tabu atau pantangan[sunting | sunting sumber]

1. Pamali

Pepatah petitih/ pantun[sunting | sunting sumber]

1. Undur Katingali punduk datang katingali tarang 2. Rikrik gemi tileuleutik geus gede tingal geunahna 3. Sareundeuk saigeul sabobot sapihanean 4. Ci karacak ninggang batu laun-laun jadi legog 5. Nete taraje nincak hambalan

Upacara/ritual[sunting | sunting sumber]

1. Ngagurat taneuh 2. Micen barang di jalan ngolecer

Permainan tradisional[sunting | sunting sumber]

1. Ucing sumput 2. Encrak 3. Keser 4. Boy-boyan 5. Luncat tingi 6. Sabintrong 7. Garik 8. Sorodot gaplok 9. Sondah 10. Beklen 11. Parempet jengkol 12. Hompimpah 13. Galah 14. Jajangkungan 15. bebedilan (awi, palapah cau)

Pakaian adat[sunting | sunting sumber]

a. Kampret b. Salontreng c. Pangsi d. Kabaya 10. Rumah Adat a. Jolopong b. Parahu Kungreb c. Julang ngapak d. Tagog anjing e. Badak Heuay 11. Makanan khas tradisional a. Karedok lenca b. Rujak hiris c. Sayur lodeh d. Sayur asem e. Lotek f. Ulukutek lenca g. Awug h. Bugus i. Raginang j. Pipis k. Kolontong l. Opak m. Ampeang n. Tengteng o. Sasagon p. Saroja q. Kiripik r. Urab Jengkol s. Urab kacang t. Buntil u. Kicimpling v. Noga w. Puyur x. Kalua suuk y. Kalua jeruk z. Liwet å. Dawet ä. Candil ö. Uras aa. Lepet bb. Tangtang angin cc. Apem dd. Pais lauk ee. Rujak bebek ff. Rujak kalapa gg. Manisan gedang hh. Gorengan ii. Pinco jj. Loganda kk. Peuyeum sampeu ll. Peuyeum ketan mm. Cimplung nn. Rarawuan oo. Tangkoah (kupat tahu) pp. Katimus qq. Belem peda rr. Pais peda ss. Bubuy sampeu 12. Obat tradisional a. Babadotan b. Daun katuk c. Daun jambu d. Cai lebu e. Gegecok f. Daun sampeu g. Daun salam h. honje i. Batrawali j. Daun selong k. Daun kelor

BAB III SISTEM KAMASYARAKATAN[sunting | sunting sumber]

1. Pemerintahan/organisasi kemasyarakatan a. Struktur kelembagaan (juga ada lembaga adat) - Ketua - Sekretaris - Bendahara - Seksi-seksi b. Tugas, fungsi dan kewenangan Lembaga adat mempunyai tugas untuk membina dan melestarikan budaya dan adat istiadat serta hubungan antar tokoh adat dengan Pemerintah Desa. Lembaga Adat mempunyai fungsi: 1. Penampung dan penyalur pendapat atau aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Desa serta menyelesaikan perselisihan yang menyangkut hukum adat, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat; 2. Pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam menunjang penyelenggaraan Pemerintah Desa, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan; 3. Penciptaan hubungan yang demokratis dan harmonis serta obyektif antara Kepala Adat/ Pemangku Adat/ Ketua Adat atau Pemuka Adat dengan Pemerintah Desa. c. Sumber penghasilan lembaga adat 1) Sumbangan yang sifatnya tidak mengikat 2) Tiket Retribusi (bagi kawasan adat yang dikelola) 2. Hukum adat/norma dan sanksi Bagi yang melanggar hukum adat: bisa diberi teguran, diturunkan dari jabatan dan atau diusir keluar dari komunitas adat. 3. Sistem nilai a. Adat yang berkaitan dengan gotong royong - Girik kerja bhakti b. Adat yang berkaitan dengan musyawarah - Saur manuk - Menurut petunjuk dari sesepuh - Menurut petunjuk Ilham c. Adat yang berkaitan dengan keadilan, kejujuran dan kesederhanaan - Sumpah di bawah buku kitab - Sumpah pocong

BAB IV SISTEM KESENIAN[sunting | sunting sumber]

1. Kesenian tradisional a. Tarian - Ibing Pencak Silat - Tari Serimpi - Tari Ketuk Tilu - Tari Jaipong - Ibing Golempang b. Musik/suara - Tembang pupuh - Pangkur - Wawacan (ogin) - Beluk c. Ukir atau pahat d. Wayang - Wayang golek - Wayang Sapu - Wayang palapah sampeu 2. Kerajinan masyarakat

BAB V SISTEM BAHASA DAN AGAMA[sunting | sunting sumber]

  • 1. Bahasa tulisan dan lisan (jenis dan dialek/fooklore)
  • 2. Agama/kepercayaan yang dianut masyarakat
  • 3. Kitab (buku hukum adat)

BAB VI PERMASALAHAN DAN USULAN[sunting | sunting sumber]

Usulan:

  • 1. Mohon bantuan untuk alat-alat gamelan seni tradisional ( 13 set gamelan kendang penca)
  • 2. Mohon bantuan biaya pembangunan padepokan Pencak Silat