Cinta Bernoda Darah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Cinta Bernoda Darah adalah episode ke-3 dari serial Bu Kek Sian Su yang ditulis oleh A. S. Kho Ping Hoo. Cerita ini menyambung langsung kisah sebelumnya episode ke-2 Suling Emas. Cerita dalam episode ini nantinya akan dilanjutkan dalam episode berikutnya berjudul Mutiara Hitam.

Dalam episode ini, keluarga Kam (keluarga Suling Emas) akan meneruskan kiprahnya sebagai protagonis utama, sedangkan marga Suma baru akan memulainya, meski kebanyakan sebagai antagonis. Episode ini akan meneruskan kembali petualangan Pendekar Suling Emas Kam Bu Song.

Alur cerita[sunting | sunting sumber]

Episode ini diawali beberapa tahun setelah episode sebelumnya. Di puncak Thai-san, awal musim semi, banyak berdatangan manusia yang mengharapkan sedikit petunjuk dari Bu Kek Siansu, termasuk di antaranya adalah tokoh-tokoh dari partai-partai ternama dunia persilatan. Namun ketenangan puncak menjadi ternoda saat tiba-tiba datang 3 orang dari Thian-te Liok-koai (Enam Setan Dunia), yaitu: Hek-giam-lo (Maut Hitam) Bayisan, It-gan Kai-ong (Raja Pengemis Mata Satu) Pouw Kee Lui, dan Siang-mou Sin-ni (Dewi Rambut Harum) Coa Kim Bwee. Mareka lantas membunuhi anggota dari partai-partai ternama itu hanya untuk kesenangan. Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) Kam Bu Song yang datang kemudian malah ditawur oleh ketiganya, meski secara diam-diam Bu Kek Siansu menolongnya dan membuat ketiga penjahat itu kabur. Bu Kek Siansu lantas menurunkan 2 ilmu baru kepada Kam Bu Song sesuai dengan wataknya sebagai orang lurus dan terpelajar. Setelah kepergian Kam Bu Song, ketiga penjahat itu muncul lagi dan meminta Bu Kek Siansu menurunkan ilmu yang sama dengan yang tadi diberikan pada Kam Bu Song. Namun karena dasar berbeda, mereka bukannya paham tetapi malah menganggap Bu Kek Siansu mempermainkan mereka, marah karena itu, mereka menyerang Bu Kek Siansu dan merampas khim (kecapi) serta kitab Tiong Yong miliknya.

Beralih ke keluarga Kam di Ting-chun, lereng Cin-ling-san. Saat sedang melatih ketiga anaknya (Kam Bu Sin, Kam Sian Eng, dan anak angkatnya Yalina atau Lin Lin), tiba-tiba datang seteru cinta masa lalunya, Giam Sui Lok. Tahu tidak perlu melibatkan anak-anaknya, dia menyuruh mereka mendatangi suci-nya yang kini telah menjadi nikouw, Lai Kui Lan, sembari meminta kembali titipannya berupa kotak hitam. Tahu bahwa keadaan akan menjadi gawat jika Giam Sui Lok datang, Lai Kui Lan segera turun gunung beserta ketiga murid keponakannya. Tapi yang dijumpai justru adalah Giam Sui Lok, Kam Si Ek, dan Ciu Bwee Hwa yang telah terkapar bermandikan darah, meski begitu Ciu Bwee Hwa sempat berucap bahwa pembunuhnya adalah orang dalam peti mati yang membawa suling. Kotak hitam itu membuka rahasia bahwa ketiga anak itu mempunyai seorang kakak bernama Kam Bu Song dan Kam Si Ek ingin agar mereka bertiga mencarinya. Sayangnya sesampai di Wu-hai mereka bentrok dengan orang-orang Pek-ho-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Bangau Putih) yang sering memeras penduduk. Akibatnya mereka mesti berurusan dengan Pouw Kee Lui Kai-ong, untungnya saat mereka dalam keadaan kritis, muncul Kam Bu Song yang membantu mereka sekilas sekaligus mengingatkan kesalahan Kai-ong pada Bu Kek Siansu., meski begitu, Kam Bu Sin dan Kam Sian Eng sempat menyerang kakaknya itu karena mencurigainya sebagai pembunuh orangtuanya, tetapi Yalina tidak setuju dengan pendapat kedua kakak angkatnya itu. Tapi mereka kembali bingung antara apakah Pendekar Suling Emas adalah orang baik atau jahat saat kembali mereka menemukan pemburu-pemburu yang menjadi korban keganasan suara suling.

Tal lama mereka sampai di kota An-sui. Saat berusaha membantu sumi-istri yang berasal dari Hou-han juga dan agaknya membawa sesuatu yang rahasia, ternyata mereka malah harus berhadapan dengan Suma Boan, Ciok Kam, dan guru mereka Pouw Kee Lui Kai-ong. Beruntung Kam Bu Sin dan Kam Sian Eng berhasil diselamatkan suami-istri itu, sedangkan Yalina dibawa pergi oleh Kim-lun Seng-jin (Manusia Suci Roda Emas) Kalisani. Kam Bu Sin dan Kam Sian Eng akhirnya memutuskan untuk meneruskan mencari kakaknya. Kalisani yang melihat ada kemiripan antara Yalina dengan mendiang putri mahkota Khitan Tayami yang dicintainya, memutuskan untuk mengangkat Lin Lin menjadi muridnya.

2 bersaudara Kam yang datang di kotaraja kecewa tidak bisa menemukan jejak kakaknya, namun atas petunjuk seorang siucai, dia diarahkan untuk kembali ke An-sui dan bertanya pada pangeran Suma Kong. Seperti mendatangi bencana, kedatangan mereka menanyakan Kam Bu Song menyulut kemurkaan Suma Boan, dia berniat melampiaskan dendam lamanya pada adik-adik Kam Bu Song. Sempat menangkap Suma Ceng namun dibawa lari oleh Hek-giam-lo Bayisan, dan akhirnya dia melampiaskan semua kekesalannya terhadap Kam Bu Sin dengan menyiksanya pelan-pelan. Tapi secara mesterius dia diselamattkan oleh seseorang.

Bayisan yang salah mengira Kam Sian Eng sebagai Yalina melindungi gadis itu serta surat yang dicurinya dari rampasan Siang-mou Sin-ni (Dewi Rambut Harum) Coa Kim Bwee, namun saat Kam Sian Eng terlihat mencoba melarikan diri, dia merelakan surat itu diambil Coa Kim Bwee dan memilih mengejarnya. Coa Kim Bwee sendiri blingsatan segera pergi saat dia iseng mencoba mematahkan leher sebuah patung sastrawan kuno yang ternyata adalah samaran Kam Bu Song. Yalina sendiri yang ikut dengan Kalisani malah diajak menjarah masakan di dapur istana dan saat mencari pengganti pedangnya yang patah di ruang pusaka, dia secara naluriah mengambil Pedang Besi Kuning milik mendiang ibunya. Terbawa perasaan, Kalisani menceritakan tentang mendiang junjungannya itu dan bahkan meyakini bahwa sebenarnya Yalina adalah putri mahkota kerajaan Khitan yang hilang di medan perang. Saat para pengawal elit kerajaan menemukan mereka, Kalisani menyuruh Yalina meneruskan perjalanan mencari kakaknya sendirian, dia lalu memancing pasukan itu ke arah yang berlawanan dengan maksud mempermainkan mereka.

Yalina yang dalam perjalanannya bermaksud memberi pelajaran pada 2 hwesio Siauw-lim-pai nakal malah bertemu dengan Lie Bok Liong, murid Gan Siang Kok yang dikenal dengan Gan-lopek, dan membantunya. Namun kedatangan Cheng Hie Hwesio, orang ke-2 di Siauw-lim-pai, mencairkan keruwetan itu. Sadar kalau Lie Bok Liong tahu banyak tentang dunia persilatan, dia merajuk minta dibantu menemukan kakaknya serta yang disangka musuhnya, Pendekar Suling Emas. Lie Bok Liong yang sudah tergila-gila dengan Yalina menyanggupinya meski tahu seberat apa keinginan pujaan hatinya itu. Penyelidikan mereka membawa keduanya ke wisma “Gedung Merah” yang tidak dinyana ternyata milik Suma Boan, apalagi saat itu sedang ada pertemuan antara dirinya dengan gurunya serta beberapa anggota pengemis. Ketahuan mengintip, Yalina dan Lie Bok Liong dikeroyok beberapa jagoan itu dan terpaksa kabur.

(Bersambung)

Tokoh-tokoh[sunting | sunting sumber]

Protagonis[sunting | sunting sumber]

  • Kam Bu Song Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas), putra Kam Si Ek, murid Bu Kek Siansu dan Kwee Seng – jurus: Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti), Cap-jit-seng-kun (Ilmu Silat Tujuh Belas Bintang), Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa), Lo-hai San-hoat (Ilmu Kipas Mengacau Lautan), Kim-kong Sin-im (Tenaga Emas dari Suara Sakti), Hong-in-bun-hoat (Ilmu Sastra Angin dan Mega)
  • Kam Bu Sin, putra Kam Si Ek, adik Kam Bu Song
  • Kam Sian Eng, putri Kam Si Ek, adik Kam Bu Sin
  • Yalina atau Lin Lin, putri Tayami, putri angkat Kam Sian Ek, murid Kalisani – jurus: Khong-in-liu-san (Awan Kosong Mengurung Gunung), Khong-in-ban-kin (Awan Kosong Selaksa Kati),
  • Bu Tek Lojin (Kakek Tua Tak Terkalahkan) – jurus: Khong-in-ban-kin (Awan Kosong Selaksa Kati)
  • Kalisani Kim-lun Seng-jin (Manusia Suci Roda Emas), mantan panglima tua Khitan, murid Bu Tek Lojin – jurus: Kim-lun-sin-hoat (Ilmu Sakti Roda Emas),
  • Bu Kek Siansu
  • Gan Siang Kok lopek
  • Lie Bok Liong, murid Gan Siang Kok
  • Lai Kui Lan Nikouw, suci Kam Si Ek
  • Suma Ceng, putri Suma Kong
  • Cao Kuang Yin Sung Thai Cu, kaisar Song
  • Yu Kang, putra Yu Jin Tianglo, ketua baru Kai-pang

Antagonis[sunting | sunting sumber]

  • Liu Lu Sian Tok-siauw-kwi (Setan Kecil Beracun), putri Liu Gan, istri Kam Si Ek – jurus: Hwa-kiamhoat (Ilmu Pedang Kembang), Sin-coa-kun (Silat Ular Sakti), Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis), Im-yang-ci (Totokan Im Yang),
  • Ma Thai Kun Cui-beng-kwi (Setan Pengejar Roh), sute Liu Gan – jurus: Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah), Cui-beng-ciang (Tangan Pengejar Nyawa)
  • Bayisan Hek-giam-lo (Iblis Maut Hitam), panglima muda Khitan, murid Ban-pi Lo-cia – jurus: Cap-sha-hui-to (Tiga belas Golok Terbang), Hek-in-tok-ciam (Jarum Beracun Awan Hitam),
  • Lauw Kiat, murid Ban-pi Lo-cia
  • Pouw Kee Lui It-gan Kai-ong (Raja Pengemis Mata Satu), ketua baru Khong-sim Kai-pang, tewas dikeroyok anggota Kai-pang
  • Coa Kim Bwee Siang-mou Sin-ni (Dewi Rambut Harum), mantan selir #7, murid Liu Lu Sian
  • Bhe Kiu Toat-beng Koai-jin (Manusia Aneh Pencabut Nyawa), murid & pelayan Couw Pa Ong
  • Bhe Ciu Tok-sim Lo-tong (Bocah Tua Berhati Racun), murid & pelayan Couw Pa Ong
  • Suma Kong, pangeran
  • Suma Boan Lui-kong-sian (Dewa Geledek), putra Suma Kong, murid Pouw Kee Lui
  • Ciok Kam, murid Couw Pa Ong


Figuran[sunting | sunting sumber]

  • Ang Kun Tojin, tokoh Kun-lun-pai – jurus: Teng-peng-touw-sui (Injak Rumput Seperti Air)
  • Pek Sin Tojin, tokoh Kun-lun-pai, tewas oleh Bayisan
  • Kok Bin Cu, tokoh Hoa-san-pai
  • Kok Ceng Cu, tokoh Hoa-san-pai, tewas oleh Coa Kim Bwee
  • Leng Lo Hwesio, tokoh Bu-tong-pai
  • Leng Hi Hwesio, tokoh Bu-tong-pai, tewas oleh Pouw Kee Lui
  • Liu Mo, adik Liu Gan
  • Kauw Bian, sute Liu Gan
  • Liu Hwee, putri Liu Mo
  • Kam Si Ek
  • Ciu Bwee Hwa, istri Kam Si Ek
  • Giam Sui Lok
  • Cheng Han Hwesio, murid I Kian Hi Hosiang
  • Cheng Hie Hwesio, murid II Kian Hi Hosiang
  • Kubakan, raja Khitan
  • Pek-bin Ciangkun (Panglima Muka Putih)

Tempat-tempat[sunting | sunting sumber]

  • Thai-san, gunung
  • Han, sungai
  • Ting-chun, desa
  • Cin-ling-san, gunung
  • Wu-han, kota
  • An-sui, kota

Perkumpulan[sunting | sunting sumber]

  • Kun-lun-pai
  • Siauw-lim-pai
  • Go-bi-pai
  • Kong-thong-pai
  • Hoa-san-pai
  • Hui-to-pang
  • Pek-ho-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Bangau Putih)
  • Hui-houw-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Harimau Terbang)
  • Hek-liong-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Naga Hitam)
  • Ang-hwa-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Kembang Merah)

Pusaka[sunting | sunting sumber]

  • Kim-siauw (Suling Emas), milik Bu Kek Siansu, lalu Ciu Bun, lalu Kam Bu Song
  • Beng-kong-kiam (Pedang Sinar Terang), milik Liu Gan
  • Sam-po-cin-keng (Tiga Kitab Pusaka), milik Liu Gan, lalu Liu Lu Sian
  • Toa-hong-kiam (Pedang Angin Badai), milik Liu Lu Sian
  • Cap-sha-seng-keng (Kitab Ilmu Tiga Belas Bintang), milik Go-bi-pai, lalu Liu Lu Sian
  • Pek-giok-kiam (Pedang Pusaka Kumala Putih), milik Hoa-san-pai, lalu Liu Lu Sian
  • Pedang Besi Kuning, milik Tayami, lalu Yalina
  • Goat-kong-kiam (Pedang Sinar Bulan), milik Gan Siang Kok, lalu Lie Bok Liong

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]