Cindaga, Kebasen, Banyumas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Desa Cindaga
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenBanyumas
KecamatanKebasen
Kodepos
53172
Kode Kemendagri33.02.05.2008 Edit the value on Wikidata
Luas-
Jumlah penduduk±6500 jiwa
Kepadatan±100 jiwa per km

Cindaga adalah desa di kecamatan Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia.

Desa Cindaga yang sangat luas memiliki beragam potensi, merupakan Desa besar dengan jumlah pemilih terbanyak di kecamatan kebasen, dan di kabupaten banyumas.

Terdiri dari beragam suku bangsa dan agama, membuat desa Cindaga akan semakin ramah untuk masuknya investasi.[butuh rujukan]

Di Desa Cindaga terdapat dua rawa-rawa yaitu Rawa Winong yang terletak di Grumbul Werdeg dan Rawa Kalong yang terletak di Grumbul Poncot Kidul.[butuh rujukan]

Selain itu juga terdapat Jembatan Lengkung lima karya monumental Bung Karno Mantan Presiden RI pertama]. Jembatan yang biasa di sebut brug Plengkung oleh masyarakat sekitar tersebut, melintang diatas Sungai Serayu yang merupakan bersejarah peninggalan Perang Dunia II.

Desa Cindaga juga mempunyai Paguyuban Warga Desa Cindaga sebagai wadah komunitas lokal berbasis warga Cindaga baik yang berdomisili di kampung ataupun yang di tanah perantauan.

Adapun kegiatan yang dilakukan PWDC adalah Kegiatan Sosial dan kemasyarakatan.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Sebelah Utara = Desa Rawalo dan Desa Kebasen Kabupaten Banyumas dan Sungai Serayu

Sebelah Selatan = Desa Brani dan Desa Sampang, Kabupaten Cilacap

Sebelah Barat = Sungai Serayu

Sebelah Timur = Desa Kebasen,Desa Kalisalak Kabupaten Banyumas dan Desa Sampang Kabupaten Cilacap

Pembagian wilayah[sunting | sunting sumber]

  1. Grumbul Berusan
  2. Grumbul Buntungan
  3. Grumbul Kemitan
  4. Grumbul Krunculan
  5. Grumbul Lemah Abang
  6. Grumbul Pasemutan
  7. Grumbul Poncot
  8. Grumbul Tambangan
  9. Grumbul Gilisampir
  10. Grumbul Welahar
  11. Grumbul Werdeg
  12. Grumbul Wungu Banjeng

Jembatan Lengkung[sunting | sunting sumber]

Di desa ini terdapat bangunan peninggalan masa Perang Dunia II berupa jembatan lengkung yang sudah berusia sekitar setengah abad lebih. Yaitu Jembatan sepanjang 250 meter yang membelah Sungai Serayu yang mulai dibangun Belanda pada 1938. Namun, pada 1942, ketika Jepang datang, jembatan tersebut dihancurkan. Pada 1946, Soekarno merancang desainnya sekaligus dan membangun kembali jembatan tersebut. Jika musim kemarau bekas jembatan yg runtuh tersebut akan terlihat di bawah jembatan. Ada nilai filosofis yang terkandung dalam jembatan tersebut yaitu di jembatantersebut ada lima lengkung yang berarti adalah lima sila Pancasila. Beberapa bagian jembatan yang kini sudah tidak dipakai tersebut juga pernah runtuh pada 26 Juni 2011.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]