Chamaecyparis obtusa
Chamaecyparis obtusa (dikenal sebagai cemara Jepang, cemara hinoki,[1] atau hinoki; dalam bahasa Jepang: 檜 atau 桧, hinoki) merupakan spesies pohon cemara yang berasal dari wilayah tengah Jepang, Asia Timur.[2][3] Spesies ini telah dibudidayakan secara luas di berbagai wilayah beriklim sedang di belahan bumi utara karena memiliki kayu berkualitas tinggi serta nilai estetika yang tinggi sebagai tanaman hias. Saat ini, tersedia banyak kultivar Chamaecyparis obtusa yang dikembangkan dan dipasarkan secara komersial. Menurut catatan fosil, pada masa Miosen pohon ini pernah tumbuh di luar kawasan Asia, dengan sebaran yang mencapai wilayah Jerman.[4]
Spesies Terkait
[sunting | sunting sumber]Tanaman ini tersebar luas di seluruh wilayah Jepang. Spesies yang berkerabat dekat, yaitu Chamaecyparis pisifera (sawara cypress), dapat dengan mudah dibedakan melalui ujung daunnya yang runcing serta ukuran buah konusnya yang lebih kecil.[2][3] Di Taiwan, ditemukan jenis cemara yang serupa dan oleh para ahli botani diklasifikasikan secara berbeda. Sebagian menganggapnya sebagai varietas dari spesies ini dengan nama Chamaecyparis obtusa var. formosana, sedangkan yang lain menempatkannya sebagai spesies tersendiri, yakni Chamaecyparis taiwanensis. Perbedaannya terletak pada ukuran konus yang lebih kecil (6–9 mm) dengan sisik yang lebih halus serta ujung daun yang lebih tajam.[2][3]
Kayu
[sunting | sunting sumber]
Kayu hinoki dibudidayakan di Jepang karena kualitasnya yang sangat tinggi. Jenis kayu ini digunakan sebagai bahan utama dalam pembangunan istana, kuil, tempat pemujaan, teater tradisional noh, pemandian, bilah raket tenis meja, serta wadah tradisional masu.
Kayu hinoki memiliki aroma khas menyerupai lemon, berwarna cokelat muda kemerahan, dengan serat yang halus dan lurus. Selain keindahan seratnya, kayu ini juga dikenal sangat tahan terhadap pembusukan. Beberapa bangunan bersejarah Jepang, seperti Kuil Hōryū-ji dan Kastel Osaka, dibangun menggunakan kayu hinoki.
Kayu hinoki yang tumbuh di daerah Kiso memiliki nilai religius yang tinggi karena digunakan untuk pembangunan Kuil Ise. Pohon-pohon hinoki dari wilayah ini disebut 御神木 (go-shin-boku), yang berarti “pohon suci” atau “pohon ilahi”.
Kandungan kimia
[sunting | sunting sumber]Kayu inti (heartwood) dari Chamaecyparis obtusa var. formosana diketahui mengandung senyawa lignan seperti chamaecypanone A dan chamaecypanone B, obtulignolida, serta isootobanona.[5] Sementara itu, pada daun tanaman ini telah teridentifikasi sejumlah senyawa biflavonoid, di antaranya skiadopitisin, ginkgetin, isoginkgetin, podokarpusflavona B, 7,7-O-dimetilamentoflavona, bilobetin, podokarpusflavone A, 7-O-metilamentoflavona, amentoflavona, hinokinin, dan hinokiflavona.
Senyawa chamaecydin pertama kali ditemukan pada biji Chamaecyparis obtusa. Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman ini mengandung berbagai jenis senyawa kimia, di antaranya sabinena, elemol, mirsena, limonena, terpinen-4-ol, eudesmol, α-terpinil asetat, α-terpinolena, α-terpineol, 3-carene, α-pinena, γ-terpinena, kamfena, bornil asetat, 1-metiladamantana, cuminol, eukarvona, 2-siklopenten-1-ona; 3,4-dimetil-, 1,3-dimetil-1-sikloheksena, kalamenena, τ-muurolol, borneol, α-kadinol, dan β-tujaplisin.[6]
Beberapa dari senyawa tersebut berfungsi sebagai bahan pewangi alami maupun sebagai bahan antara (intermediate) dalam industri parfum. Oleh karena itu, minyak atsiri dari Chamaecyparis obtusa banyak dimanfaatkan dalam pembuatan produk perawatan diri seperti sabun, sampo, dan kosmetik. Selain itu, kayu hinoki juga digunakan sebagai bahan dupa tradisional Jepang karena menghasilkan aroma ringan yang lembut dan berkesan alami.[7]
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Daftar BSBI 2007 (xls) . Botanical Society of Britain and Ireland . Diarsipkan dari versi asli (xls) tanggal 26 Juni 2015.
- 1 2 3 Farjon, Aljos (2005). A monograph of cupressaceae and sciadopitys. Royal botanic gardens. Kew: Royal botanic gardens. ISBN 978-1-84246-068-9.
- 1 2 3 Rushforth, Keith D.; Rushforth, K. (1987). Conifers. London: Helm. ISBN 978-0-7470-2801-7.
- ↑ Mai, Dieter Hans (2001-04-25). "The Middle and Upper Miocene floras of the Meuro and Rauno sequences in the Lusatica region Part II: Dicotyledones". Palaeontographica Abteilung B. 257 (1–6): 35–174. doi:10.1127/palb/257/2001/35. ISSN 0375-0299.
- ↑ Kuo, Yueh-Hsiung; Chen, Chia-Hsien; Chiang, Yi-Ming (2001-09). "Three novel and one new lignan, chamaecypanones A, B, obtulignolide and isootobanone from the heartwood of Chamaecyparis obtusa var. formosana". Tetrahedron Letters (dalam bahasa Inggris). 42 (38): 6731–6735. doi:10.1016/S0040-4039(01)01272-2.
- ↑ Raha, Suchismita; Kim, Seong Min; Lee, Ho Jeong; Lee, Sang Joon; Heo, Jeong Doo; Venkatarame Gowda Saralamma, Venu; Ha, Sang Eun; Kim, Eun Hee; Mun, Sung Phil (2019-01). "Essential oil from Korean Chamaecyparis obtusa leaf ameliorates respiratory activity in Sprague‑Dawley rats and exhibits protection from NF-κB-induced inflammation in WI38 fibroblast cells". International Journal of Molecular Medicine. 43 (1): 393–403. doi:10.3892/ijmm.2018.3966. ISSN 1791-244X. PMC 6257863. PMID 30387810.
- ↑ "Hinoki (Japanese Cypress) Essential Oil | Calming, Grounding & Respiratory Support". Stillpoint Aromatics (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-04.