Cento Vergilianus de laudibus Christi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Cento Vergilianus de laudibus Christi 
karya Faltonia Betisia Proba
CentoProbae.jpg
Lima larik pertama Cento Vergilianus de laudibus Christi dengan gambar sosok Faltonia Betisia Proba memegang gulungan kitab
PenulisAbad ke-4 M
NegaraKekaisaran Romawi
BahasaLatin
SubjekAgama Kristen, Perjanjian Lama dan Baru
Cento
MetrikHeksameter daktilik


Cento Vergilianus de laudibus Christi (Latin: [kɛn.toː wɛr.ɡɪl.ɪ.aː.nʊs deː laʊ̯.dɪ.bʊs kʰrɪs.tiː]; Cento Vergilius Perihal Kemasyhuran Kristus)[nb 1] adalah judul puisi Latin yang digubah Faltonia Betisia Proba (ca. 352-384 M) sesudah memeluk agama Kristen. Cento adalah puisi yang terdiri atas larik-larik atau bait-bait petikan dari puisi-puisi gubahan penyair lain yang dirangkai ulang menjadi sebuah gubahan baru. Cento Vergilianus de laudibus Christi adalah hasil merangkai ulang larik-larik puisi gubahan Vergilius sedemikian rupa sehingga menjadi puisi baru yang bertutur tentang kisah-kisah Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Sebagian besar isi puisi ini bertutur tentang kisah hidup Yesus Kristus.

Kendati para ahli sudah mengemukakan berbagai hipotesis, alasan yang melatarbelakangi penggubahan puisi ini masih saja sukar untuk dipastikan. Apapun niat yang telah mendorong Proba untuk menggubahnya, puisi ini menjadi karya sastra yang tersebar luas, dan akhirnya dijadikan bahan pengajaran asas-asas agama Kristen di sekolah-sekolah, bersama-sama dengan De doctrina Christiana karangan Agustinus dari Hipo. Kendati populer, puisi ini menuai banyak celaan maupun pujian. Dalam sebuah karya tulis yang diduga disusun oleh Paus Gelasius I dengan menggunakan nama pena, puisi ini diremehkan sebagai karya tulis apokrif. Banyak orang juga yakin bahwa Santo Hieronimus mengungkapkan pandangan negatif terhadap Proba dan puisi ini dalam karya tulisnya. Cerdik pandai lainnya semisal Isidorus dari Sevilla, Petrarka, dan Giovanni Boccaccio justru mengagung-agungkan Proba dalam karya-karya tulis mereka, dan banyak yang memuji kecerdasannya. Pada abad ke-19 dan ke-20, Cento Vergilianus de laudibus Christi dicela sebagai puisi bermutu rendah, tetapi para ahli akhir-akhir ini sudah lebih menghargainya.

Penciptaan dan gaya sastra[sunting | sunting sumber]

Iluminasi Faltonia Proba
Patung dada yang diduga sebagai potret Vergilius
Hampir seluruh isi Cento Vergilianus de laudibus Christi, gubahan Faltonia Betisia Proba (kiri), bersumber dari karya-karya penyair Romawi Vergilius (kanan).

Faltonia Betisia Proba, penggubah Cento Vergilianus de laudibus Christi, lahir sekitar tahun 322 M. Selaku putri keluarga bangsawan terkemuka, wajar saja jika Proba akhirnya menikah dengan Clodius Celsinus Adelphius, seorang prefek Romawi.[1][2] Proba adalah pujangga yang menghasilkan karya-karya sastra dalam bentuk puisi. Menurut catatan-catatan sejarah dari masa hidupnya, puisi gubahannya yang pertama (sudah hilang) diberi judul Constantini bellum adversus Magnentium, berkisah tentang perang yang dilancarkan Kaisar Konstantius II melawan Magnensius, senapati penyerobot takhta Kekaisaran Romawi.[2][3] Suatu ketika dalam hidupnya, Proba memutuskan untuk meninggalkan kepercayaan pagan dan memeluk agama Kristen. Cento Vergilianus de laudibus Christi, yang mungkin sekali digubah antara tahun 352-384 M,[1] merupakan ikhtiarnya untuk "beralih dari topik-topik pertempuran dan pembantaian ke topik-topik rohani".[4]

Selain dari bait-bait prakata dan doa,[nb 2] seluruh isi Cento Vergilianus de laudibus Christi merupakan sebuah cento (puisi racikan) yang terdiri atas bait-bait petikan dari karya-karya tulis penyair Romawi Vergilius.[5][6][7][nb 3] Keputusan Proba untuk merangkai ulang bait-bait ciptaan Vergilius agaknya dilatarbelakangi dua alasan. Yang pertama, Vergilius adalah penyair tenar yang pernah ditugasi Caesar Augustus, Kaisar Romawi yang pertama, untuk menggubah syair wiracarita Aeneis.[10] Selaku penyair Romawi yang paling tenar, pengaruh artistik Vergilius sangat besar, bahkan terbawa-bawa sampai ke Akhir Zaman Kuno, dan ditiru oleh penyair-penyair Latin Akhir semisal Yuvenkus dan Prudensius.[11][12] Rasa hormat terhadap Vergilius sering kali diungkapkan dalam bentuk cento, yang mencapai puncak popularitasnya pada abad ke-4 M.[13][14] Yang kedua, Vergilius sering dianggap sebagai seorang nabi pra-Kristen karena adanya sebuah tafsir populer atas Ecloga ke-4 gubahannya, yang diyakini banyak orang sebagai nubuat kelahiran Yesus.[15][16]

Tidak ada nama tokoh dalam Cento Vergilianus de laudibus Christi, lantaran Vergilius tidak pernah menggunakan nama-nama Ibrani seperti "Yesus" dan "Maria" dalam karya-karya tulisnya, sehingga jumlah istilah yang dapat dimanfaatkan oleh Proba menjadi terbatas. Untuk menutupi keterbatasan ini, Proba menggunakan kata-kata taksa semacam mater (ibu), pater (ayah), deus (dewa), dan vates (penyair atau pendeta) sebagai sebutan bagi tokoh-tokoh penting Yahudi-Kristen.[17] Keterbatasan ini membuat beberapa bagian puisi menjadi sukar dipahami (menurut G. Ronald Kastner dan Ann Millin, "kalimat-kalimat pasif dan bertele-tele diakibatkan oleh ... ketiadaan istilah yang tepat dalam karya-karya [Vergilius] sehingga isi puisi adakalanya tak terselami").[17] Pengecualian dari ketiadaan nama tokoh dalam puisi ini adalah sebutan untuk Musa, yakni tokoh yang sesungguhnya dimaksud oleh Proba dalam larik puja-puji kepada "Museus". Menurut ahli klasika Sigrid Schottenius Cullhed, "Proba [mungkin sekali] memakai nama Museus sebagai sebutan bagi nabi Yahudi-Kristen tersebut, karena semenjak Zaman Yunani, nama ini sudah sering diyakini sebagai bentuk Gerika dari nama Musa".[18]

Isi[sunting | sunting sumber]

Ikhtisar[sunting | sunting sumber]

Tetapi lantaran sudah dibaptis, laksana orang ketiban anugerah, di pancuran mata air Kastalia—
Aku, yang tatkala dahaga telah meneguk kurban curahan Sang Cahaya—
kini hendak bermadah: dampingilah aku, ya Tuhan, luruskanlah akal budiku
selagi aku menuturkan, betapa Vergilius memadahkan kebesaran Al Masih.

De laudibus Christi, ll. 20–23, diterjemahkan oleh Josephine Balmer[19]

694 larik Cento Vergilianus de laudibus Christi terdiri atas bagian prakata dan doa (larik 1-55), kisah-kisah Perjanjian Lama pilihan dari Kitab Kejadian (larik 56-318) dan Kitab Keluaran (larik 319-332), kisah-kisah Perjanjian Baru pilihan dari injil-injil (larik 333-686), serta pascakata (larik 687-694).[5][20] Pada permulaan puisi tersebut, Proba merujuk kepada puisi buatannya pada masa sebelumnya sebelum menolaknya dalam nama Kristus.[21] Bagian ini juga dijadikan sebagai pengulangan pembukaan Virgil dari Aeneis: jika Virgil membuka karyanya dengan membahas "senjata dan manusia" (arma virumque), Proba secara khusus menolak perang sebagai subyek buruk dari puisi.[22] Proba kemudian menyebut dirinya sendiri sebagai seorang nabi (vatis Proba), berseru atas Allah dan Roh Kudus (alih-alih Muses), dan mengumumkan tujuannya untuk mencatat kisah Yesus.[1][21][23] Pada akhir kata pengantarnya, Proba menyebut keperluan utama puisinya: untuk "berkisah tentang cara Virgil menyanyikan jasa-jasa Kristus."[24]

Peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama tersebut adalah tentang penciptaan dunia, Kejatuhan Manusia, Air Bah, dan Keluar dari Mesir.[25] Presentasi Proba dari Penciptaan—sebagian besar berdasarkan pada penulisan ulang Georgics karya Virgil—menghimpun ulang kisah Kitab Kejadian alih-alih kepercayaan Yunani-Romawi kontemporer tentang asal muasal dunia.[26] Cullhed berpendapat bahwa aspek-aspek tertentu dari kisa penciptaan "dipersingkat … diamplifikasi atau bahkan ditranspodakan" sehingga Proba dapat menghindari pasal-pasal repetitif, seperti peciptaan ganda manusia. (Kejadian 1:25–27 dan Kejadian 2:18–19).[27][28] Dalam kisah-kisah menjelang Kejatuhan Manusia, tindakan hawa sebagian besar berdasarkan pada cerita Dido dari Bab IV Aeneis.[29][30] Ular dikisahkan cengan baris-baris terkait kematian Laocoön (dari Bab II, Aeneis) dan ular tersebut dikirim oleh dewi Alecto untuk menyerang Amata (dari Bab VII, Aeneis).[31] Proba menyinggung dua bab pertama dari Georgics (yang secara khusus, bagian-bagian tersebut membahas Zaman Besi Manusia) untuk mengisahkan kehidupan manusia setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa;[32] dalam cara ini, ia menghubungkan konsep Yunani-Romawi dari Zaman Manusia dengan konsep Kristen dari Kejatuhan Manusia.[33]

Setelah kisah Penciptaan, Proba secara singkat menyoroti Air Bah dengan memakai baris-baris dari bab empat Georgics yang aslinya masing-masing membahas kematian sarang lebah dan kebutuhan hukum setelah Zaman Keemasan. Menurut klasikis Karla Pollmann, dengan memakai baris-baris terkait penghancuran dan pendirian hukum, Proba dapat memajukan gagasan tradisional bahwa keselamatan Nuh mewakili kemunculan "penciptaan kedua dan tatanan baru" (yang merupakan zaman Patriarkhal).[34] Proba hanya mendedikasikan sedikit baris kepada Keluaran sebelum beralih ke Perjanjian Baru. Cullhed berpendapat bahwa ini karena Kitab Keluaran dan bagian lain dari Perjanjian Lama berisi kekerasan dan perang yang Proba tolak dalam prakata De laudibus Christi.[35] Dalam bagian transisional antara Perjanjian Lama dan Baru, Proba memakai kata pengantar Muses dari perang yang ditemukan pada permulaan Katalog Italia (dari Bab VII, Aeneis) dan bait-bait yang aslinya mengisahkan tameng Aeneas (dari Bab VIII, Aeneis). Dalam Aeneis, bagian-bagian tersebut dijadikan sebagai perangkat-perangkat puitis yang membolehkan Virgil untuk beralih dari paruh pertama Odyssean dari puisi tersebut ke paruh akhir Iliadic. Pada cara yang sama, Proba menghimpun ulang bait-bait tersebut untuk membantu dalam transisinya dari Perjanjian Lama ke Baru.[36]

Bagian De laudibus Christi yang berfokus pada Perjanjian Baru mengisahkan kelahiran Yesus, kehidupan dan pelayanan-Nya, penyaliban-Nya, dan kedatangan Roh Kudus.[25][37][38] Meskipun Yesus dan Maria muncul, Yusuf tak disebutkan.[39] Yesus sering kali dideskripsikan oleh bahasa yang menyanjung pahlawan Virgilian,[40] dan Maria digambarkan oleh baris-baris yang aslinya terkait dengan Venus dan Dido.[41] Kotbah di Bukit buatan Proba dimulai dengan meminjam deskripsi penghukuman Sibyl dari Cumae karena ketidakpatutan (dari Bab VI, Aeneis), dan beberapa cendekiawan menyatakan bahwa bagian dari De laudibus Christi tersebut adalah catatan pertama dari neraka dalam puisi Kristen.[42] Pelayanan Yesus terhimpun pada tiga peristiwa: meredakan laut, berjalan di atas air, dan pemanggilan murid-murid pertama-Nya.[43] Untuk mendeskripsikan penyaliban Yesus, Proba memakai beberapa baris yang awalnya merujuk kepada penghukuman Hadean (dari Bab VI, Aeneis).[44] Saat mengisahkan kematian Yesus, Proba meminjam larik-larik yang merujuk kepada cinta berahi antara Dido dan Aeneas untuk mewakili "cinta kudus Yesus dan para pengikutnya."[45] Akhir puisi tersebut berfokus pada kedatangan Yesus ke dunia dan kenaikan-Nya ke Surga; Proba mengisahkan hal yang pertama melalui nubuat yang dibuat oleh Celaeno dan Orakel Delos (dari Bab III, Aeneis), dan hal yang kedua dengan bahasa yang mendeskripsikan dewa Merkurius.[46][47]

Penyifatan Yesus[sunting | sunting sumber]

Lukisan dinding Yesus berkalung
Lukisan Aeneas menundukkan Raja Turnus
Dalam cento tersebut, Yesus (kiri) dideskripsikan dalam bahasa yang menyanjung seorang pahlawan Virgilian seperti Aeneas (kanan).

Karena peminjamannya dari Virgil, Yesus-nya Proba sangat mirip dengan pahlawan epik Virgilian.[48] Persamaan antara keduanya meliputi mencapai sebuah tujuan yang lebih besar ketimbang kebahagiaan mereka sendiri, menginisiasikan alam-alam "tanpa akhir", dan menampilkan aura-aura keilahian.[49] Menurut pakar gereja perdana Elizabeth A. Clark dan klasikis Diane Hatch, tujuan Proba adalah untuk "menyempatkan Kristus dengan sifat-sifat heroik" alih-alih pahlawan Virgilian.[50] Penyair tersebut melakukannya dengan tiga cara besar: Pertama, ia mendeskripsikan Yesus dengan sangat indah,[51] dengan "presensi yang menuntun dan luar biasa" mirip dengan Aeneas.[52] Kedua, Proba merombak ulang kisah penyaliban; Yesus tak menemui kematian-Nya, tetapi menyingkirkan orang-orang yang menjahati-Nya.[53] Pengisahan ulangnya tentang penyaliban Yesus sejalan dengan "tindakan berani" Aeneas melawan Turnus pada akhir bab kedua belas dari Aeneid.[54] Pada akhirnya, Proba mentransfer bagian-bagian dari nubuat Yesus melalui Aeneid yang mengisahkan masa depan Roma melalui progeni Aeneas (kemudian menghimpun ulang peristiwa-peristiwa orakular dalam sorotan Kristen).[54]

Penyifatan Maria[sunting | sunting sumber]

Karakterisasi Maria menimbulkan perdebatan di kalangan cendekiawan. Sejarawan Kate Cooper memandang Maria sebagai materfamilias yang cerdik dan berani.[55] Clark dan Hatch menyatakan bahwa Proba menekankan keibuan Maria dengan meniadakan Yusuf dan menyajikan Maria sebagai orang tua tunggal manusia dari Yesus. Sebaliknya, Latinis Stratis Kyriakidis berpendapat bahwa disamping keberadaan Maria dalam puisi tersebut, ia mengurangi atribut-atribut feminim, dan bahkan "impersonal".[41] Menurut Kyriakidis, ini adalah bagian dari tujuan Proba untuk lebih menyoroti keilahian Yesus—sebuah aspek yang "akan tak sejalan dengan ibu manusia yang feminim."[41]

Lukisan seorang wanita mengenakan mahkota dan membaca buku
Menurut Sigrid Schottenius Cullhed, Proba membandingkan Maria (gambar) melalui pemakaian bahasa Virgilian dengan dewi-dewi dan nabi-nabi.

Cullhed menyatakan bahwa sebagian besar pandangan cendekiawan terhadap Maria dalam puisi tersebut tidaklah sama, dan bahwa Proba membuat Maria menjadi "dua pemenuhan dan antitipe dari Hawa dan Dido."[56] Cullhed mendasarkannya pada fakta bahwa baris 563 dari bab empat Aeneid (dari pidato Merkurius kepada Aeneas, dimana dewa tersebut mendorong pahlawan tersebut untuk memergoki Dido di Carthage) dipakai dalam dua bagian dari cento tersebut: yang satu, saat Adam menegur Hawa karena berdosa, dan yang lainnya, saat Maria mengetahui bahwa Herodes berniat untuk membunuh anaknya. Menurut Cullhed, "karakterisasi negatif" dari bait asli dan pemakaian ulangnya dalam bagian Perjanjian Lama dari cento tersebut ditransformasi dalam "kemampuan yang berubah secara positif" yang membolehkan Maria dan Yesus untuk keluar dari perangkap Herodes.[56] Karena Maria dapat mengetahui masa depan, ia dibandingkan (melalui pemakaian bahasa Virgilian) dengan dewi-dewi dan nabi-nabi.[57]

Watak dan motivasi Proba[sunting | sunting sumber]

Karena informasi sejarah tentang Proba terbatas, beberapa cendekiawan mengambil analisis De laudibus Christi untuk mempelajarinya lebih lanjut. Menurut klasikis Bernice Kaczynski, "Para cendekiawan mengamati karakter Proba sendiri dalam sorotannya pada keindahan dunia alam, yang tampak dalam catatan penciptaannya."[4] Cento tersebut menyiratkan bahwa Proba memiliki penghormatan besar untuk "materi-materi domestik, untuk perkawinan dan keluarga, untuk devosi marital dan [untuk] pietas filial".[4] Meskipun Perjanjian Baru menekankan asketisisme, Proba menghiraukan ketonjolannya, menganggap bahwa topik-topik seperti keperawanan dan kemiskinan tak cocok dijadikan tema dalam puisinya. Terkait masalah-masalah keuangan, Proba menafsirkan ulang sejumlah peristiwa Perjanjian Baru dimana Yesus meminta para pengikutnya untuk menjauhi kekayaan dengan pasal-pasal yang meminta agar umat Kristen harus berbagi kekayaan dengan para keluarga mereka. Perubahan-perubahan tersebut mengilustrasikan konteks sejarah Proba, posisi sosio-ekonominya dan ekspektasi kelasnya.[4]

Alasan kenapa Proba menghimpun puisi tersebut masih diperdebatkan para cendekiawan. Latinis R. P. H. Green berpendapat bahwa karya tersebut adalah sebuah reaksi terhadap hukum kaisar Romawi Yulianus yang melarang umat Kristen mengajar sastra mitologi Latin dan Yunani klasik yang mereka yakini tak benar.[58][59] Tujuan Proba, tulis Green, adalah untuk mempersembahkan Virgil "tanpa dewa-dewa [pagan], dan [sehingga] seseorang [Virgil] tidaklah terjerumus dengan kritisisme Kristen".[60] Dalam cara ini, seorang guru Kristen dapat memakai teks tersebut untuk membahas Virgil tanpa mengkompromikan integritas moral mereka.[60] Beberapa hipotesis terkait, yang dimajukan oleh klasikis Aurelio Amatucci, berpendapat bahwa Proba mengkomposisikan cento tersebut untuk mengajari cerita-cerita anaknya dari Alkitab,[61] meskipun tak ada bukti langsung bahwa puisi tersebut menjadi alat mengajar.[62][63][64] Clark dan Hatch berpendapat bahwa alam Virgilian dari Yesus dalam cento tersebut adalah upaya Proba untuk menghimpun ketidakselarasan, menuangkan deskripsi Yesus dalam Caesares karya Yulianus dan Contra Galilaeos. Mereka menyatakan bahwa hipotesis tersebut berintrik namun tak terverifikasi karena kurangnya informasi tentang Proba, tangga pembuatan cento tersebut, dan tujuan-tujuannya.[49][52]

Tanggapan[sunting | sunting sumber]

Pada masa pembuatannya, cento buatan Proba menjadi populer, karena dicantumkan dalam catatan-catatan manuskrip dan catatan-catatan perpustakaan klaustral. Karya tersebut banyak dipakai di sekolah-sekolah bersama dengan De Doctrina Christiana karya Agustinus dari Hippo, dan karya Proba sering kali melampaui ketenaran Agustinus. Menurut Cătălina Mărmureanu, Gianina Cernescu, dan Laura Lixandru, karya tersebut menjadi populr karena gaya Virgiliannya yang dapat diakses dan karena Proba menyebut dirinya sendiri sebagai seorang perempuan yang "lemah lembut" (yang berbanding dengan "kesalahan pandangan masyarakat umum").[63]

Lukisan Santo Hieronimus, sedang membaca sebuah buku
Beberapa cendekiawan meyakini bahwa Hieronimus (gambar) mengkritik puisi tersebut.

Pada akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5, karya tersebut meraih tanggapan campuran. Beberapa cendekiawan menyaakan bahwa teolog, sejarawan, dan penerjemah Hieronimus merupakan kritikus dari karya tersebut; dalam surat yang ditulis dari Bethlehem kepada Paulinus dari Nola terkait cento-cento Virgilian,[65] ia bersikeras menentang pengikutan sebuah "kotak puji-pujian lama" (garrula anus) dan orang-orang yang berpikir seruan "Maro Tak Ber-Kristus [seperti Virgil] seorang Kristen" (nonMaronem sine Christo possimus dicere Christianum).[37][62][66][nb 4] Menurut sejarawan James Westfall Thompson, Hieronimus "sangat benar-benar menentang metode penghancuran esensi dari pengarang pagan", dan bahwa "kecintaannya terhadap klasik dan pietas Kristen jelas berlawanan" dengan tindakan-tindakan Proba.[70][nb 5] Sebaliknya, Kaisar Romawi Arcadius (yang memerintah dari 395–408 M) meraih sebuah salinan dari puisi tersebut, dan versinya memiliki lima belas baris yang menyatakan bahwa karya Proba adalah "Maro yang diubah untuk kebaikan dalam artian suci” (Maronem mutatum in melius divinosensu).[72][73] Karya tersebut juga dipersembahkan kepada Aelia Eudocia, istri Kaisar Theodosius II (yang memerintah dari 408–450 M).[74]

Pada zaman kuno akhir, sebuah dokumen pseudonim yang dikenal sebagai Decretum Gelasianum—yang lama diyakini dikeluarkan oleh Paus Gelasius I (yang memegang kepausan dari 492–496 M)—menyatakan De laudibus Christi merupakan apokrifa dan "karya puisi reprehensif".[75] Namun hampir seabad kemudian, Uskup Agung Isidorus dari Sevilla (560–636 M) menyebut Proba merupakan "satu-satunya wanita yang menonjol di kalangan pria dari gereja" (Probafemina inter viros ecclesiasticosposita sola).[73] Terkait De laudibus Christi, Isidore menyatakan bahwa "ini bukanlah karya yang harus dikagumi, tetapi [Proba] cerdas" dalam mengkompilasikan puisi tersebut (Cuius quidem non miramur studium sed laudamus ingenium).[73][76][77]

Pada masa itu, Proba dan karyanya dipuji sebagai contoh keterpelajaran dan kecendikawanan. Dalam sebuah surat tahun 1385 kepada Anna von Schweidnitz (istri Kaisar Romawi Suci Charles IV), penyair dan cendekiawan Italia Petrarka menyebut Proba dan karyanya saat mendiskusikan kejeniusan perempuan,[78][79] dan pada 1374, humanis Giovanni Boccaccio mencantumkan Proba dalam koleksi biografi wanita sejarah dan mitologi buatannya berjudul De mulieribus claris.[79] Pada 1474, puisi tersebut diterbitkan oleh pencetak Swiss Michael Wenssler,[80] yang tampaknya membuat Proba menjadi pengarang perempuan pertama yang memiliki karya yang direproduksi oleh sebuah pers cetak.[81] De laudibus Christi masih populer pada zaman Renaisans (cendekiawan Italia, Filippo Ermini, vontohnya, mendaftarkan tujuh incunabula dan empat belas edisi abad ke-16 dari puisi tersebut), dan pada 1518, karya Proba bahkan dipakai oleh pionir edukasional John Colet di St Paul's School, bersama dengan para pengarang lainnya yang Colet rasa "menuliskan kebijaksanaan dengan nuansa dan puji-pujian Latin" (wrote theyre wysdom with clene and chast Latin), seperti Juvencus, Lactantius, Prudentius, dan Sedulius.[82]

Para cendekiawan pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 lebih kritis terhadap De laudibus Christi.[83][84] Beberapa klasikis dan filologis dari era tersebut mengutip karya tersebut sebagai contoh "kemiskinan gagasan" dari zaman kuno akhir.[49] Pada 1849, Dictionary of Greek and Roman Biography and Mythology karya William Smith menyebut puisi tersebut "sampah" yang dihargai "tanpa pujian",[85] dan pada 1911, P. Lejay dari The Catholic Encyclopedia menulis bahwat "aksi dari puisi tersebut berseberangan dan tak setara, perilakunya rancu, [dan] diksinya samar atau tak benar".[86] Disamping tanggapan negatif tersebut, para cendekiawan komteporer mengambil peminatan terbaharukan terhadap puisi tersebut,[87] dan beberapa orang memandangnya bagus untuk dikaji.[nb 6] Cullhed, terutama, menganggap karya tersebut "berpengaruh secara sejarah dan budaya [karena] memasukkan sejumlah kecil teks kuno dengan seorang pengarang perempuan dan terhimpun sebagai salah satu puisi Latin Kristen terawal kita yang masih ada."[89] Karya berbahasa Inggris pertamanya yang didedikasikan secara keseluruhan kepada Proba dan puisinya adalah monografi tahun 2015, Proba the Prophet, yang ditulis oleh Cullhed.[90]

Perdebatan seputar jati diri penulis[sunting | sunting sumber]

Lukisan seorang uskup sedang membaca sebuah buku
Isidorus dari Sevilla (gambar) mengidentifikasikan Faltonia Betisia Proba sebagai pengarang puisi tersebut dalam Etymologiae buatannya.

Puisi tersebut secara tradisional dikaitkan dengan Faltonia Betisia Proba sebagian besar berdasarkan pada pernyataan Isidorus, yang menulis dalam Etymologiae buatannya bahwa De laudibus Christi adalah sebuah produksi dari seorang wanita bernama Proba yang merupakan istri dari seorang pria bernama Adelfus (Proba, uxor Adelphi, centonem ex Vergilioexpressit).[91] Namun klasikis dan medievalis Danuta Shanzer berpendapat bahwa puisi tersebut bukanlah karya Faltonia Betisia Proba, tetapi cucunya, Anicia Faltonia Proba, yang hidup pada akhir abad keempat dan awal abad kelima.[88] Shanzer—yang menyatakan bahwa Faltonia Betisia Proba tampaknya meninggal pada tahun 351 M—mendasarkan sebagian besar anggapannya pada ketidakkonsistenan tanggal dan anakronisme dalam teks tersebut. Contohnya, Shanzer menekankan bahwa baris 13–17 dari De laudibus Christi sangat mirip dengan baris 20–24 dari puisi Carmen contra paganos, yang ditulis beberapa waktu setelah kematian Faltonia Betisia Proba.[88][92] Shanzer juga mengklaim bahwa De laudibus Christi menimbulkan perdebatan menonjol tentang tanggal Paskah yang jatuh pada tahun 387 Masehi, sesambil menyatakan bahwa puisi tersebut seharusnya tertanggal dari paruh akhir abad keempat. Pada akhirnya, Shanzer berpendapat bahwa rujukan perang antara Magnentius dan Constantius dalam prakata karya tersebut menimbulkan dugaan bahwa Faltonia Betisia Proba mengaransemen De laudibus Christi, tetapi faktanya bahwa perang tersebut terjadi pada tahun yang sama dengan kematian mendadaknya. Shanzer memajukan hipotesisnya disertai dengan argumen tekstual, yang menyatakan bahwa pengarang De laudibus Christi sering kali merujuk dalam manuskrip-manuskrip berikutnya yang hanya dapat diraih Anicia Proba, seperti "ibu bangsa Anicia" atau "Gundik Romawi menonjol".[92]

Dalam buku buatannya tahun 2015 Proba the Prophet, Cullhed menentang klaim-klaim Shanzer, mula-mula menyatakan bahwa tak ada bukti definitif bahwa Faltonia Betisia Proba meninggal pada 351 dan anggapan semacam itu masih sangat spekulatif. Cullhed juga berpendapat bahwa "tak ada landasan untuk penentuan prioritas dari baris-baris pembuka puisi tersebut, dan bahwa rujukan sebenarnya dari perdebatan tahun 387 tentang Paskah merujuk kepada persengketaan pada masa sebelumnya.[92] Sesuai dengan judul-judul yang ditemukan dalam manuskrip-manuskrip pada masa berikutnya, Cullhed juga menawarkan bukti baru untuk mendukung poinnya dengan alasan bahwa jika Anicia Proba telah menulis De laudibus Christi, penyair Latin Claudian mungkin akan menyebut keterampilan puitisnya dalam panegrik tahun 295 Masehi buatannya yang menselebrasikan kekonsulan bersama dari putra-putranya Anicius Hermogenianus Olybrius dan Anicius Probinus.[92] Cullhed menjelaskan argumennya sebagai berikut: "Bukti untuk mendiskreditkan atribusi Isidorus [anggapan bahwa Faltonia Betisia Proba adalah pengarang cento tersebut] tidaklah terlandaskan, dan sehingga, aku akan berpendapat bahwa cento tersebut ditulis pada pertengahan abad keempat oleh Faltonia Betisia Proba."[92] Saat ini, konsensus-konsensus umum di kalangan klasikis dan cendekiawan Latin adalah bahwa De laudibus Christi benar-benar ditulis oleh Faltonia Betisia Proba.[1][93]

Baca juga[sunting | sunting sumber]

  • Interpretatio Christiana, adaptasi unsur-unsur budaya dan fakta sejarah non-Kristen pada sudut pandang dunia Kekristenan

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Puisi ini disebut pula De laudibus Christi (Latin: [deː laʊ̯.dɪ.bʊs kʰrɪs.tiː]; Perihal Kemasyhuran Kristus) dan Cento Probae (Latin: [kɛn.toː proː.bae̯]; Cento Proba).
  2. ^ bait-bait prakata dan doa adalah campuran antara larik-larik Latin gubahan Proba sendiri dan larik-larik yang dipetik dari atau yang merujuk kepada Vergilius, penyair Zaman Perak Lukanus, dan penyair abad ke-4 Yuvenkus.[5]
  3. ^ Ausonius (310-395 M) adalah satu-satunya penyair dari Zaman Kuno yang mengulas tentang bentuk dan isi Cento Vergilianus de laudibus Christi. Pernyataannya dijadikan tolok ukur oleh banyak ahli.[8] Dalam bukunya, Cyclopædia (1728), Ephraim Chambers memparafrasakan pernyataan Ausonius sebagai berikut: Sebuah cento "dapat saja terambil dari karya-karya satu orang maupun beberapa orang penyair. Bait-baitnya dapat saja terambil utuh maupun dipecah dua, separuh pecahan nantinya dirangkai dengan separuh pecahan dari bait puisi lain. Akan tetapi tidak boleh ada dua bait bait digunakan berturut-turut tanpa jeda, apalagi pecahan bait.[9]
  4. ^ Alessia Fassina menyatakan bahwa garrula anus yang disebut oleh Hieronimus sebenarnya adalah Melania si Tua,[67] dan Sigrid Schottenius Cullhed berpendapat bahwa Hieronimus tak mengatakan tentang orang manapun, tetapi lebih kepada gaya orang yang tak sejalan dengan kotbah Injil.[68] Cullhed juga menyatakan bahwa "kebanyakan cendekiawan meyakini bahwa 'wanita tua pengoceh ini' seharusnya tak merujuk kepada orang manapun selain Proba".[69]
  5. ^ Ironisnya, pada Abad Pertengahan—karena Faltonia Betisia Proba sering kali disamakan dengan cucunya Anicia Faltonia Proba dan karena Hieronimus memuji Anicia Proba dalam sebuah surat kepada DemetriasDe laudibus Christi terkadang disebut "Cento penyair bergambar Proba Faltonia, yang disepakati oleh Hieronimus ilahi".[71]
  6. ^ Contohnya: Green berpendapat bahwa sebuah cento Vergilian [seperti De laudibus Christi] telah mengalami sikap tak adil dari para cendekiawan",[88] Kaczynski menyebut karya tersebut "mengenang" dan cento "Kristen paling sukses",[6] dan Cullhed menyatakan bahwa karya-karya tersebut "posisi dalam tradisi antara Virgil dan Alkitab [serta] teknik imigrasi kesusastraan radikalnya dan fungsi pengarang perempuan … membuat tanggapan terhadap Cento tersebut menjadi bidang kajian yang tersoroti."[89]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Plant (2004), p. 170.
  2. ^ a b Kaczynski (2013), hlmn. 131-132.
  3. ^ Cullhed (2015), hlm. 24.
  4. ^ a b c d Kaczynski (2013), hlm. 132.
  5. ^ a b c Cullhed (2015), hlm. 113.
  6. ^ a b Kaczynski (2013), hlm. 131.
  7. ^ Cullhed (2015), hlm. 1.
  8. ^ McGill (2005), hlmn. 2-5.
  9. ^ Chambers (1728), hlm. 180.
  10. ^ Comparetti (1895), hlmn. 1-14.
  11. ^ Ziolkowski & Putnam (2008), hlm. 475.
  12. ^ Comparetti (1895), hlm. 159.
  13. ^ Ziolkowski & Putnam (2008), hlm. 469.
  14. ^ Comparetti (1895), hlm. 53.
  15. ^ Ziolkowski & Putnam (2008), hlm. 470.
  16. ^ Comparetti (1895), hlm. 99.
  17. ^ a b Kastner & Millin (1981), hlm. 39.
  18. ^ Cullhed (2015), hlm. 128.
  19. ^ Balmer (1996), p. 111.
  20. ^ Cullhed (2015), hlmn. 190-231.
  21. ^ a b Mărmureanu, Cernescu, and Lixandru (2008), pp. 5 – 6.
  22. ^ Stevenson (2005), pp. 65 – 66.
  23. ^ Stevenson (2005), p. 66.
  24. ^ Mărmureanu, Cernescu, and Lixandru (2008), p. 6.
  25. ^ a b Mărmureanu, Cernescu, and Lixandru (2008), p. 5.
  26. ^ Cullhed (2015), pp. 138 – 40.
  27. ^ Cullhed (2015), p. 138.
  28. ^ Cullhed (2015), pp. 141 – 42.
  29. ^ Cullhed (2015), p. 142.
  30. ^ Cullhed (2015), p. 145.
  31. ^ Cullhed (2015), p. 151.
  32. ^ Cullhed (2015), pp. 154 – 55.
  33. ^ Cullhed (2015), p. 157.
  34. ^ Pollmann (2017), p. 113.
  35. ^ Cullhed (2015), p. 121.
  36. ^ Cullhed (2015), pp. 122 – 23.
  37. ^ a b Disse, Dorothy (November 26, 2012). "Proba/Faltonia Betitia Proba (c. 322–c. 370)". InfIonLine.net. Diarsipkan dari versi asli tanggal April 3, 2013. 
  38. ^ Mărmureanu, Cernescu, and Lixandru (2008), p. 4.
  39. ^ Cullhed (2015), p. 164.
  40. ^ Cullhed (2015), pp. 158, 164.
  41. ^ a b c Cullhed (2015), pp. 164 – 65.
  42. ^ Cullhed (2015), pp. 169 – 70.
  43. ^ Cullhed (2015), p. 176.
  44. ^ Cullhed (2015), p. 181.
  45. ^ Cullhed (2015), p. 184.
  46. ^ Cullhed (2015), p. 185.
  47. ^ Cullhed (2015), p. 186.
  48. ^ Cullhed (2015), p. 158.
  49. ^ a b c Clark & Hatch (1981), p. 31.
  50. ^ Clark & Hatch (1981), p. 36.
  51. ^ Clark & Hatch (1981), pp. 33 – 34.
  52. ^ a b Clark & Hatch (1981), p. 33.
  53. ^ Clark & Hatch (1981), p. 34.
  54. ^ a b Clark & Hatch (1981), p. 35.
  55. ^ Cooper (2007), pp. 66 – 67.
  56. ^ a b Cullhed (2015), p. 165.
  57. ^ Cullhed (2015), p. 166.
  58. ^ Green (1995), pp. 555 – 58.
  59. ^ Stevenson (2005), p. 67.
  60. ^ a b Green (1995), p. 558.
  61. ^ Cullhed (2015), pp. 52 – 53.
  62. ^ a b Plant (2004), p. 171.
  63. ^ a b Mărmureanu, Cernescu, and Lixandru (2008), p. 8.
  64. ^ Cullhed (2015), p. 53.
  65. ^ Copeland (2016), p. 357.
  66. ^ Green (1995), p. 553.
  67. ^ Fassina (2004).
  68. ^ Cullhed (2015), p. 58.
  69. ^ Cullhed (2015), p. 57.
  70. ^ Thompson (1906), p. 650.
  71. ^ Cullhed (2015), p. 64.
  72. ^ Cullhed (2015), p. 190.
  73. ^ a b c Stevenson (2005), p. 68.
  74. ^ Cullhed (2015), p. 59.
  75. ^ Harich-Schwarzbauer (2006).
  76. ^ Jensen (1996), p. 53.
  77. ^ Isidorus dari Sevilla, De viris illustribus, V.
  78. ^ Cox (2008), p. 18.
  79. ^ a b Cullhed (2015), p. 25.
  80. ^ "Proba, Falconia  – Carmina, sive Centones Vergilii". Universal Short Title Catalogue. Diakses tanggal July 11, 2017. 
  81. ^ Worth 2015, p. 66.
  82. ^ Stevenson (2005), p. 69.
  83. ^ Cullhed (2015), p. 56.
  84. ^ Cullhed (2015), pp. 66–67.
  85. ^ Smith (1849), p. 134.
  86. ^ Lejay (1911).
  87. ^ Kaczynski (2013), p. 133.
  88. ^ a b c Green (1995), p. 551.
  89. ^ a b Cullhed (2015), p. 6.
  90. ^ Cullhed (2015).
  91. ^ Isidorus dari Sevilla, Etymologiae, I.39.26.
  92. ^ a b c d e Cullhed (2015), pp. 22 – 23.
  93. ^ Cullhed (2015), p. 65.

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

Terjemahan ke dalam bahasa Inggris
Sumber-sumber sekunder
  • Matthew, John (1989). "The Poetess Proba and Fourth-century Rome: Questions of Interpretation". Dalam Michel Christol, ed. Institutions, Société et Vie Politique dans l'Empire Romain au IVe Siècle ap. J.-C. [Institutions, Society, and Political Life in the Roman Empire in the Fourth Century AD]. Collection de l'Ecole française de Rome (dalam bahasa Inggris and Prancis). Roma, Italia: Ecole Française de Rome. hlm. 277–304. ISBN 978-2-7283-0253-6. 
  • McGill, Scott (2007). "Virgil, Christianity, and the Cento Probae". Dalam J. H. D. Scourfield, ed. Texts and Culture in Late Antiquity: Inheritance, Authority, and Change. Swansea, Britania Raya: Classical Press of Wales. hlm. 173–194. ISBN 978-1-905125-17-3. 
  • Sandnes, Karl Olav (2011). "Faltonia Betitia Proba: The Gospel "According to Virgil"". The Gospel "According to Homer and Virgil": Cento and Canon. Supplements to Novum Testamentum. Leiden, Belanda: Brill Publishers. hlm. 141–180. ISBN 978-90-04-18718-4.