Catarina d'Aragón

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Catharina dari Aragon)
Lompat ke: navigasi, cari
Catarina d'Aragón
Potret oleh Lucas Hornebolte
Potret oleh Lucas Hornebolte
Permaisuri Inggris
Memerintah sebagai pasangan 11 Juni 1509 – 23 Mei 1533
Koronasi 24 Juni 1509
Pasangan Arthur, Pangeran Wales
m. 1501; des. 1502
Henry VIII dari Inggris
m. 1509; dibatalkan 1533
Anak
Henry dari Cornwall
Mary I dari Inggris
Wangsa Wangsa Trastámara
Ayah Fernando II dari Aragon
Ibu Isabel dari Kastilia
Lahir 16 Desember 1485
Istana Uskup Agung, Alcalá de Henares, Spanyol
Meninggal 7 Januari 1536 (umur 50)
Kastil Kimbolton, Cambridgeshire, Inggris
Tanda tangan Tanda tangan Catarina d'Aragón
Agama Katolik Roma

Catarina dari Aragon (Kastilia: Catalina; 16 Desember 1485 – 7 Januari 1536) merupakan Ratu Inggris dari tahun 1509 sampai dengan 1533 sebagai istri pertama Raja Henry VIII; ia sebelumnya adalah Putri Wales sebagai istri Pangeran Arthur.

Putri Ratu Isabel dari Kastilia dan Raja Fernando II dari Aragon, Catarina hanya berusia tiga tahun ketika ia dijodohkan oleh Pangeran Arthur, calon ahli waris takhta Inggris. Mereka menikah pada tahun 1501, dan Arthur meninggal lima bulan kemudian. Pada tahun 1507, ia menjabat sebagai duta besar untuk istana Spanyol di Inggris, dan menjadi duta besar wanita yang pertama di dalam sejarah Eropa.[1] Catarina kemudian menikah dengan adik Arthur yang baru saja naik takhta, Henry VIII, pada tahun 1509. Selama enam bulan pada tahun 1513, ia bekerja sebagai bupati Inggris ketika Henry VIII berada di Perancis. Selama itu Inggris memenangkan Pertempuran Flodden, suatu peristiwa dimana Catarina memainkan sebuah peranan penting.[2]

Tahun 1525, Henry VIII tergila-gila dengan Anne Boleyn dan tidak bahagia didalam pernikahannya dengan Catarina yang tidak dapat menghasilkan seorang putra, mengabaikan putri mereka, calon Mary I dari Inggris, sebagai Pewaris dugaan pada saat tidak ada preseden yang ditetapkan untuk seorang wanita dimahkotai. Ia berupaya untuk membatalkan pernikahan mereka dan menggerakkan rantai peristiwa yang menyebabkan perpecahan Inggris dengan Gereja Katolik. Ketika Paus Klemens VII menolak untuk membatalkan pernikahan tersebut, Henry menantangnya dengan Akta Supremasi atas urusan-urusan agama. Pada tahun 1533 pernikahan mereka dinyatakan tidak sah dan Henry menikahi Anne didepan seorang pendeta di Inggris, tanpa mengacu kepada Paus. Catarina menolak untuk menerima Henry sebagai Kepala Supremasi Gereja Inggris dan menganggap dirinya istri raja dan ratu yang sah, yang banyak menarik simpati yang populer.[3] Meskipun demikian, ia hanya diakui sebagai janda Pangeran Wales oleh Henry. Setelah diusir dari istana, ia menghabiskan sisa hidupnya di Kastil Kimbolton dan meninggal disana pada tanggal 7 Januari 1536. Pengikut Inggris Catarina memandang tinggi dirinya dan kematiannya membuat rakyat Inggris sangat berkabung.[4]

Sebuah buku yang kontroversial The Education of Christian Women oleh Juan Luis Vives, yang mengisahkan bahwa wanita memiliki hak untuk pendidikan, yang didedikasikan untuk dirinya. Begitulah citra Catarina dimata rakyat yang bahkan musuhnya, Thomas Cromwell, mengungkapkan tentang dirinya, "Jika bukan karena jenis kelaminnya, ia dapat menantang semua pahlawan sejarah."[5] Ia berhasil mengampuni hidup para pemberontak yang terlibat didalam III Hari Mei demi keluarga mereka.[6] Catarina juga memenangkan kekaguman besar dengan memulai program ekstensif untuk membantu rakyat yang miskin.[7][6] Ia merupakan pelindung Humanisme Renaisans dan sahabat dari sarjana-sarjana hebat Desiderius Erasmus dan Thomas More.[7]

Awal Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Potret oleh Juan de Flandes yang diduga adalah Catarina ketika berusia sebelas tahun. Ia mirip dengan saudarinya Juana la Loca.
Potret saudari Catarina Juana la Loca, oleh Juan de Flandes

Catarina dilahirkan di istana Uskup Agung di Alcalá de Henares di dekat Madrid, di suatu malam pada tanggal 16 Desember 1485. Ia merupakan putri bungsu Raja Fernando II dari Aragon dan Ratu Isabel dari Kastilia.[8] Catarina berpostur pendek [9]dengan rambut panjang berwarna merah, emiliki mata besar yang berwarna biru, berparas bundar dan berkulit pucat [10] Ia menuruni pihak keluarga ibundanya, yang berasal dari istana keluarga Inggris; nenek buyutnya Catherine dari Lancaster, dari siapa namanya berasal, dan nenek moyangnya Felipa de Lencastre yang merupakan putri John dari Gaunt dan cucu perempuan Edward III dari Inggris. Yang menjadikannya sepupu ketiga ayah mertuanya, Henry VII dari Inggris,[11] dan sepupu keempat ibu mertuanya Elizabeth dari York.

Catarina dididik oleh Alessandro Geraldini, yang merupakan seorang juru tulis Ordo Suci. Ia belajar Aritmatika, kanon dan hukum perdata, sastra klasik, silsilah dan lambang sejarah, filsafat, agama, dan teologi. Ia memiliki pendidikan agama yang kuat dan mengembangkan sebuah kepercayaan yang akan memainkan peranan utama di kemudian hari. [12] Ia belajar berbicara, membaca dan menulis didalam bahasa Spanyol dan Latin, dan berbicara bahasa Perancis dan Yunani. Ia juga diajarkan keterampilan didalam negeri, seperti memasak, menari, menggambar, menenun dan merenda dengan cara yang baik, menyulam dan menjahit.[13] Tokoh Erasmus kemudian menyatakan bahwa Catarina "mencintai sastra yang bagus ia pernah belajar dengan sukses sejak kecil".[14]

Diusianya yang dini, Catarina dianggap sebagai istri yang ideal untuk Arthur, Pangeran Wales, ahli waris takhta Inggris, karena ia memiliki keturunan Inggris yang berasal dari ibundanya. Yang berarti, Catarina memiliki hak sah yang kuat atas takhta Inggris daripada Raja Henry VII sendiri melalui kedua istri pertama John dari Gaunt: Blanche dari Lancaster and Constanza dari Kastilia (1354-1394). Sebaliknya, Henry VII merupakan keturunan Gaunt dari pernikahan ketiganya dengan Katherine Swynford, yang anak-anaknya lahir diluar nikah dan hanya dilegitimasikan setelah kematian Constanza dan pernikahan John dengan Katherine. Keturunan John dan Katherine, sementara dilegitimasi, dilarang dari segala warisan takhta Inggris, sebuah striktur yang diabaikan didalam generasi berikutnya. Karena keturunan Henry merupakan anak haram yang dilarang menjadi ahli waris takhta Inggris, monarki Tudor tidak diterima oleh semua kerajaan Eropa. Pada saat itu, wangsa Trastámara merupakan wangsa yang paling bergengsi di Eropa,[11] karena aturan monarki Katolik, sehingga aliansi dari Catarina dan Arthur memvalidasi Wangsa Tudor dimata royalti Eropa dan juga memperkuat hak Tudor ke takhta Inggris melalui Catarina yang keturunan Aragon. Hal ini juga akan memberikan hak bertakhta yang tak terbantahkan kepada ahli waris laki-laki. Keduanya menikah dengan perwalian pada tanggal 19 Mei 1499 dan berlangsung dengan bahasa Latin sampai Arthur berusia lima belas tahun, ketika diputuskan bahwa mereka cukup dewasa untuk menikah.[15] Ketika Catarina dari Aragon bepergian ke London ia membawa sekelompok pejabat Afrika dengannya, termasuk salah satunya diidentifikasikan sebagai pemain trumpet John Blanke.[16] Mereka adalah warga negara Afrika pertama yang tercatat tiba di London pada saat itu, dan dianggap sebagai hamba-hamba yang mewah. Mereka menimbulkan kesan yang besar tentang putri dan kekuasaan keluarganya.[17]

Sebagai istri dan janda Arthur[sunting | sunting sumber]

Arthur pada saat sekitar pernikahannya tahun 1501
Potret seorang putri yang diduga adalah Catarina, pada sekitar tahun 1502, oleh Michael Sittow, pada awal abad ke-16. Musium Kunsthistorisches, Wina.[18][19]

Pasangan itu bertemu pada tanggal 4 November 1501 di Dogmersfield, Hampshire. Tidak banyak yang diketahui mengenai kesan pertama mereka satu sama lain, namun Arthur pernah menulis kepada mertuanya bahwa ia akan menjadi "seorang suami yang baik" dan memberitahukan orangtuanya bahwa ia akan sangat bahagia untuk "melihat paras calon istrinya yang cantik". Pasangan itu berkorespondensi didalam bahasa Latin, namun tidak dapat saling mengerti karena mereka belajar pengucapan yang berbeda.[20] Sepuluh hari kemudian, pada tanggal 14 November 1501, mereka melangsungkan pernikahan di Katedral Kuno Santo Paulus.[11] Mas kawin sebesar 200,000 koruna disetujui dan setengahnya dibayar tak lama setelah upacara pernikahan.[21]

Setelah menikah, Arthur dikirim ke Kastil Ludlow di perbatasan Wales untuk memimpin Konsili Wales dan Perbatasan, seperti tugasnya sebagai Pangeran Wales beserta istrinya yang menemaninya. Pasangan itu tinggal di Castle Lodge, Ludlow. Beberapa bulan kemudian, mereka jatuh sakit, kemungkinan sweating sickness yang melanda kota tersebut. Arthur meninggal pada tanggal 2 April 1502 dan Catarina sembuh dari sakitnya dan menjadi janda.[22]

Pada titik ini, Henry VII menghadapi tantangan menghindari kewajiban untuk mengembalikan mas kawinnya, yang setengahnya belum ia terima, kepada ayahandanya. Untuk menyelesaikan maslaah tersebut, disepakati bahwa Catarina akan menikah dengan putra kedua Henry VII, Henry, Adipati York, yang berusia lima tahun lebih muda darinya. Namun atas kematian ibunda Catarina, berarti bahwa "nilai"nya di pasar pernikahan menurun. Kastilia merupakan sebuah kerajaan yang jauh lebih besar daripada Aragon, dan kerajaan tersebut diwariskan kepada saudari Catarina yang sakit mental, Juana la Loca. Berpura-pura menunda pernikahan sampai Henry berusia cukup dewasa, namun Henry VII menunda pernikahan itu terlalu lama dan menimbulkan keraguan jika pernikahan itu akan benar-benar dilangsungkan. Ia hidup sebagai tahanan rumah di Istana Durham di London.[23] Beberapa surat yang ditulis kepada ayahandanya tentang keluhannya mengenai perlakuan. Didalam surat-surat tersebut ia menuliskan bahwa "Saya memilih apa yang saya percayai, dan tidak mengatakan apa-apa. Karena saya tidak sesederhana seperti yang saya mungkin tampak." Ia memiliki sedikit uang dan berjuang untuk bertahan, karena ia harus menyokong pelayan-pelayannya dan juga dirinya sendiri. Pada tahun 1507 ia bekerja sebagai duta besar Spanyol di Inggris, ia menjadi seorang duta besar wanita pertama di dalam sejarah Eropa. [1] Dan Henry VII beserta pejabat-pejabatnya beranggapan bahwa ia dapat dengan mudah dimanipulasi, Catarina membuktikan bahwa anggapan mereka itu tidak benar.[1]

Menikah dengan saudara Arthur tergantung pada dispensasi Paus karena hukum kanon melarang pria untuk menikahi janda saudaranya. Catarina bersaksi bahwa pernikahannya dengan Arthur tidak pernah benar-benar terwujud, yang juga sesuai dengan hukum kanon, bahwa sebuah pernikahan tidak berlaku jika tidak disempurnakan.[24][25]

Ratu Inggris (1509–1533)[sunting | sunting sumber]

Ukiran kayu dari abad ke-16 pemahkotaan Henry VIII dari Inggris dan Catarina d'Aragón yang menunjukkan lencana heraldik mereka, Tudor Merah Jambu dan Delima Granada

Pernikahan[sunting | sunting sumber]

Pernikahan Catarina dilangsungkan pada tanggal 11 Juni 1509,[26] tujuh tahun setelah kematian Pangeran Arthur. Ia menikah dengan Henry VIII, yang baru saja naik takhta, didalam sebuah upacara pribadi di Gereja Greenwich. Ia berusia dua puluh tiga tahun dan raja yang beranjak delapan belas tahun.[27][26]

Pemahkotaan[sunting | sunting sumber]

Pada hari Sabtu tanggal 23 Juni, prosesi tradisional malam penobatan untuk Westminster disambut dengan antusias dan kerumunan besar. Seperti kebiasaan, pasangan akan menghabiskan malam sebelum pemahkotaan mereka di Menara London. Pada hari Minggu di pertengahan musim panas, 24 Juni 1509, Henry VIII dan Catarina diurapi dan dimahkotai bersama oleh Uskup Agung Canterbury di sebuah upacara yang megah di Westminster Abbey. Penobatan tersebut diikuti oleh perjamuan di Westminster Hall. Banyak Ksatria yang dilantik didalam upacara penoabtan itu.[26] Pada bulan berikutnya, banyak acara-acara sosial yang diselenggarakan oleh Ratu yang baru kepada publik Inggris. Ia membuat kesan yang baik dan diterima dengan baik oleh masyarakat Inggris.[22]

Kehamilan dan Keturunan[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 31 Januari 1510, Catarina melahirkan secara prematur seorang putri yang lahir mati. Seorang putra, Henry dari Cornwall lahir pada Hari Raya Tahun Baru 1511. Pada tanggal 22 Februari 1511 pangeran kecil itu tiba-tiba meninggal dan penyebab kematiannya tidak tercatat. Tahun 1513, Catarina kembali hamil,[28] namun ia kembali keguguran ketika Henry kembali dari Perancis. Bayinya kemungkinan lahir prematur atau meninggal tak lama setelah dilahiran. Pada bulan Desember 1514, ia kembali memiliki seorang bayi laki-laki, Pangeran Henry yang lahir mati. Pada tanggal 18 Februari 1516, Catarina melahirkan seorang bayi perempuan.[29] Bayi itu diberi nama Mary dan dibaptis tiga hari kemudian dengan sebuah upacara yang besar di Gereja Observant Friars. Tahun 1518, Catarina kembali hamil untuk yang terakhir kalinya. Ia melahirkan seorang putri pada tanggal 10 November, namun bayi itu hanya hidup selama beberapa jam saja atau selama seminggu. Catarina hamil setidaknya sebanyak enam kali.[30]

Catarina menyaksikan Henry yang sedang bertanding tombak di atas kudanya yang mengenakan blazon berinisial huruf 'K' untuk menghormatinya yang telah melahirkan seorang putra.
Nama Lahir Meninggal Catatan
Putri yang tidak bernama
31 Januari 1510[31]
Lahir mati.
Henry dari Cornwall 1 Januari 1511 22 Februari 1511 Hidup 52 hari.
Henry dari Cornwall
Oktober 1513
Lahir mati atau hidup selama beberapa jam.
Henry dari Cornwall
Desember 1514
Hidup selama beberapa jam.
Mary I, Ratu Inggris 18 Februari 1516 17 November 1558 Satu-satunya yang selamat.
Putri yang tidak bernama 10 November 1518 17 November 1518 Hidup selama tujuh hari.

Pengaruh[sunting | sunting sumber]

Potret Henry VIII oleh Hans Holbein Muda skt. 1540

Pada tanggal 11 Juni 1513, Henry melantik Catarina sebagai Bupati Gubernur Inggris ketika ia pergi ke Perancis untuk kampanye militernya.[32] Ketika Louis d'Orléans, Adipati Longueville ditawan di Thérouanne, Henry mengirimnya untuk tinggal di rumah tangga Catarina. Ia menulis kepada Wolsey bahwa ia dan konsilinya memilih sang Adipati untuk tinggal di Menara London karena rakyat Skotlandia "sekarang menjadi begitu sibuk".[33] Perang dengan Skotlandia menyibukkan rakyatnya, dan ia menjadi "sangat sibuk dengan membuat spanduk dan lencana" di Istana Richmond. Rakyat Skotlandia menyerang pada tanggal 3 September ia memerintahkan Thomas Lovell untuk angkat senjata di kabupaten midland.[34]

Catarina berkendara ke utara dengan baju besinya untuk mengendalikan pasukan, meskipun ia sedang hamil besar pada saat itu. (Ia melahirkan seorang putra yang lahir mati pada sekitar bulan Oktober.) Pidatonya yang bagus dilaporkan oleh sejarawan Peter Martyr d'Anghiera di Valladolid dalam dua minggu.[35] Meskipun buletin Italia menyatakan bahwa ia berada sejauh 100 mil dari London ketika berita kemenangan di Pertempuran Flodden sampai ditelinganya, ia berada didekat Buckingham.[36] Dari Woburn Abbey ia mengirim surat kepada Henry bersama dengan sebuah cabikan mantel berdarah Raja James IV dari Skotlandia, yang tewas di medan perang, untuk digunakan Henry sebagai banner di pengepungan Tournai.[37]

Dedikasi beragama Catarina meningkat saat ia berusia lanjut, begitu juga minatnya di bidang akademik. Ia terus memperluas pengetahuan dan memberikan pelatihan kepada putrinya. Pendidikan di kalangan perempuan menjadi modis, yang sebagian terjadi karena pengaruh Catarina. Ia juga menyumbangkan uang dalam jumlah yang besar ke beberapa perguruan tinggi. Namun Henry yang masih dianggap sebagai pewaris laki-laki yang penting. Wangsa Tudor yang baru dan legitimasinya masih diuji.[38] Sebuah perang sipil yang panjang (1135–54) diperjuangkan terakhir kali oleh seorang wanita, (Matilda dari Inggris), menjadi ahli waris takhta. Bencana perang sipil masih segar didalam kenangan hidup dari Perang Mawar.[39]

Tahun 1520, keponakan Catarina Karl V[40] melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris, dan ia mendesak Henry memasuki aliansi dengan Karl daripada dengan Perancis. Segera setelah kepergiannya, ia menemani Henry ke Perancis untuk merayakan kunjungan yang diselenggarakan oleh François I, yang disebut Camp du Drap d'Or. Dalam waktu dua tahun, perang diumumkan melawan Perancis dan Kaisar sekali lagi diterima di Inggris, dimana rencana untuk mempertunangkan dirinya dengan putri Catarina, Mary.

Hal Besar Raja[sunting | sunting sumber]

Catarina yang sedang memohon kasus perceraiannya dari Henry. Dilukis oleh Henry Nelson O'Neil

Tahun 1525, Henry VIII tergila-gila oleh Anne Boleyn, seorang dayang Ratu Catarina yang berusia sembilan tahun lebih muda dari Henry. Henry mulai mengejarnya;[41] Catarina pada saat itu sudah tidak dapat memberinya keturunan lagi. Henry mulai percaya bahwa pernikahannya dikutuk dan mencari konfirmasi dari Alkitab, yang ditafsirkan bahwa jika seorang pria menikahi istri saudaranya, maka pasangan tersebut tidak akan memiliki keturunan.[42][7] Meskipun pernikahan Catarina dengan Arthur belum disempurnakan (dan Catarina bersumpah mati bahwa ia masih perawan ketika menikah dengan Henry), interpretasi Henry menurut Alkitab mengartikan bahwa pernikahan mereka adalah dosa dimata Tuhan.[25] Masalah ini menjadi topik yang panas didalam kampanye Henry untuk memenangkan pembatalan pernikahan dari Paus.[25] Ada kemungkinan bahwa ide pembatalan itu telah diajukan oleh Henry lebih awal, dan sangat mungkin bahwa hal itu dimotivasikan oleh keinginannya untuk memiliki seorang putra. Sebelum ayahanda Henry dimahkotai, Inggris dilanda oleh perang sipil atau tuntutan saingan mahkota Inggris, dan Henry mungkin ingin menghindari ketidakpastian yang sama atas suksesi.[43]

Penderitaan saya begitu besar, hidup saya begitu terganggu oleh rencana harian yang dibuat untuk niat Raja yang lebih jahat, kejutan-kejutan yang diberikan Raja kepada saya, dengan beberapa orang konsilinya, begitu fana, dan perlakuan saya apa yang diketahui Tuhan, cukup untuk mempersingkat sepuluh nyawa, lebih dari nyawaku.

Segera menjadi salah satu obyek yang menyerap keinginan Henry untuk mendukung pembatalan itu.[44] Catarina menolak ketika disarankan kepadanya untuk diam-diam pensiun ke sebuah biara, ia menyatakan, "Tuhan tidak pernah memanggil saya ke sebuah biara. Saya adalah satu-satunya istri sah Raja".[45] Ia mengatur bandingnya ke Tahta Suci, bertindak secara independen dari Kardinal Thomas Wolsey, namun ia tidak mengungkapkan rencananya. William Knight, sekretaris Raja dikirim ke Paus Klemens VII untuk menuntut pembatalan, dengan alasan bahwa pengeluaran bulla Paus Yulius II diperoleh dengan alasan palsu.

Sebagai Paus pada saat itu, tahanan yang dipenjarakan oleh keponakan Catarina, Kaisar Karl V, setelah Jatunya Roma pada bulan Mei 1527, Ksatria memiliki kesulitan mendapatkan akses. Pada akhirnya, utusan Henry harus kembali tanpa mencapai banyak. Henry sekarang tidak punya pilihan selain menempatkan masalah besar ini ke tangan Thomas Wolsey, dan Wolsey berupaya sebisanya untuk mengamankan keputusan yang menguntungkan Henry.[46]

Putri Catarina dan Henry Nyonya Mary

Wolsey berupaya sejauh mengadakan pengadilan gerejawi di Inggris dengan wakil Paus yang memimpin, Henry dan Catarina turut hadir. Paus tidak berniat untuk mengabulkan keputusan itu mencapai Inggris, dan wakilnya dipanggil kembali. (Seberapa jauh Paus dipengaruhi oleh Karl V sulit diterka, namun hal yang jelas Henry melihat bahwa Paus tidak mungkin membatalkan pernikahannya dengan bibi Kaisar.[47]) Paus melarang Henry untuk menikah lagi sebelum keputusan dikeluarkan di Roma. Wolsey gagal dan dipecat dari jabatannya tahun 1529. Wolsey kemudian memulai sebuah plot rahasia untuk membuat Anne Boleyn dibuang kepengasingan dan mulai berkomunikasi dengan Paus untuk hal itu. Ketika dipergoki, Henry memerintahkan penahanan Wolsey dan jika saja ia tidak sakit parah dan meninggal pada tahun 1530, ia kemungkinan akan dieksekusi untuk pengkhianatannya.[48] Setahun kemudian, Catarina diusir dari istana, dan ruangannya diberikan kepada Anne Boleyn. Ketika Uskup Agung Canterbury William Warham meninggal, pendeta keluarga Boleyn, Thomas Cranmer dilantik untuk mengisi posisi yang kosong itu.[49]

Ketika Henry memutuskan untuk membatalkan pernikahannya dengan Catarina, John Fisher menjadi konselor sekaligus pendukung utamanya. Ia muncul di istana mewakilinya dimana ia mengejutkan orang dengan keterusterangannya, dan dengan kenyataan itu, seperti layaknya Yohanes Pembaptis, ia siap untuk mati jika perceraian terjadi. Henry sangat marah atas perlakuannya dna ia menulis dengan bahasa Latin yang panjang untuk menjawab pidato Fisher. Salinan Fisher masih ada sampai sekarang, dengan penjelasan naskah didalam margin yang menunjukkan keberaniannya menantang kemarahan Henry. Menyebabkan penghapusan ke Roma dan mengakhiri peranan Fisher didalam masalah ini, tapi Henry tidak pernah memaafkannya.[50][51] Tokoh lain yang mendukung kasus Catarina termasuk Thomas More, saudari kandung Henry Mary Tudor, Ratu Perancis - meskipun sebagai seorang anggota keluarga Tudor dan kerajaan, ia selamat dari hukuman dan eksekusi - María de Salinas, Karl V, Kaisar Romawi Suci, Paus Paulus III dan reformasi Protestan Martin Luther[52] dan William Tyndale.[53]

Pembuangan dan Kematian[sunting | sunting sumber]

Setelah kembali ke Dover dari suatu pertemuan dengan Raja François I dari Perancis di Calais, Henry menikahi Anne Boleyn didalam sebuah upacara rahasia.[54] Beberapa sumber berspekulasi bahwa Anne telah hamil pada saat itu (dan Henry tidak ingin mengambil risiko memiliki anak terlahir tidak sah), namun yang lain bersaksi bahwa Anne (yang telah melihat saudarinya Mary Boleyn dijadikan sebagia gundik raja dan dicampakkan sewenang-wenang) menolak untuk tidur dengan Henry sampai mereka resmi menikah. Henry membela legalitas ikatan mereka dengan menunjukkan bahwa Catarina sebelumnya telah menikah. Jika ia dan Arthur telah mewujudkan pernikahan mereka, Henry oleh hukum kanon memiliki hak untuk menikah lagi.[55]Pada tanggal 23 Mei 1533, Cranmer, duduk dipengadilan khusus yang diadakan di Dunstable Priory untuk memutuskan keabsahan pernikahan Henry dengan Catarina, menyatakan bahwa pernikahan tersebut tidak sah meskipun Catarina bersaksi bahwa ia dan Arthur tidak pernah memiliki hubungan fisik. Cranmer memerintahkan pernikahan Henry dan Anne yang sah lima hari kemudian, pada tanggal 28 Mei 1533.[56]

Sampai akhir hayatnya, Catarina merujuk dirinya sendiri sebagai satu-satunya istri Henry dan Ratu Inggris yang sah, dan para pelayannya terus memanggilnya dengan gelar tersebut. Henry menolak gelarnya dan menyebutnya "Janda Putri Wales" sebagai pengakuan atas posisinya sebagai janda saudaranya.[54]

Catarina pergi ke kastil The More pada musim dingin tahun 1531/32.[57] Tahun 1535 ia dipindahkan ke Kastil Kimbolton. Disana ia mengurung dirinya sendiri didalam sebuah ruangan (yang hanya ditinggalkan untuk menghadiri Misa), berpakaian hanya Silisium Ordo Santo Fransiskus dan puasa terus menerus. Ketika sesekali ia diijinkan untuk menerima pengunjung, ia dilarang untuk melihat putrinya, Mary. Mereka juga dilarang untuk berkorespondensi, namun simpatisan diam-diam mengantarkan surat-surat diantara keduanya. Henry menawarkan baik ibu dan putrinya ijin untuk bertemu dan mengunjungi satu sama lain jika mereka akan mengakui Anne Boleyn sebagai Ratunya yang baru. Namun tawaran itu ditolak oleh keduanya.[57]

Pada akhir Desember 1535, ketika ia merasa ajalnya mendekat, Catarina membuat Surat wasiat, dan menulis kepada keponakannya, Karl V, Kaisar Romawi Suci, yang memintanya untuk melindungi putrinya.[58]

Catarina meninggal di Kastil Kimbolton pada tanggal 7 Januari 1536.[59] Keesokan harinya, berita kematiannya sampai ditelinga raja. Pada saat itu terdapat rumor bahwa ia telah diracuni[60][61][62] diduga oleh Gregory di Casale.[63] Menurut penulis kronik Edward Hall, Anne Boleyn mengenakan pakaian berwarna kuning untuk berkabung, yang dapat ditafsirkan dengan berbagai cara; Polydore Vergil menafsirkan bahwa ini berarti Anne tidak berkabung.[64] Chapuys melaporkan bahwa Raja Henry yang berpakaian kuning, merayakan berita tersebut dan membuat acara besar untuk dirinya dan putri Anne, Elizabeth, untuk orang-orang di istananya.[65] Hal ini dipandang sebagai tindakan yang tidak menyenangkan dan vulgar oleh banyak orang. Teori lain adalah berpakaian kuning adalah untuk menghormati janda putri yang konon warna kuning adalah warna berkabung untuk bangsa Spanyol. Tentu saja di kemudian hari dilaporkan bahwa Henry dan Anne baik secara individu maupun secara pribadi menangisi kematiannya. Pada hari pemakaman Catarina, Anne Boleyn keguguran seorang putra. Desas-desus kemudian beredar bahwa Catarina telah diracuni oleh Anne atau Henry, atau keduanya, karena Anne mengancam akan membunuh Catarina dan Mary pada beberapa kesempatan. Rumor itu muncul setelah penemuan jelas selama pembalseman bahwa terdapat warna hitam dihatinya yang kemungkinan disebabkan oleh racun.[66] Ahli medis modern sepakat bahwa perubahan warna hatinya bukan karena racun melainkan disebabkan oleh kanker, penyakit yang tidak dipahami pada saat itu.[67]

Catarina dimakamkan di Katedral Peterborough dengan upacara yang diadakan untuk mendiang Janda Putri Wales, bukan untuk seorang ratu. Henry tidak menghadiri pemakamannya dan melarang Mary untuk menghadirinya pula.[68][67]

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Catatan Kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Weir 1991, hlm. 59.
  2. ^ Catherine of Aragon, Queen of England.
  3. ^ Catherine of Aragon (1485–1536).
  4. ^ Lehman 2011, hlm. 295.
  5. ^ Chapuys 1533, hlm. 737.
  6. ^ a b Deutscher & Bietenholz 1987, hlm. 283.
  7. ^ a b c Catherine of Aragon Biography.
  8. ^ Lehman 2011, hlm. 283.
  9. ^ Fraser 1992, hlm. 24.
  10. ^ Weir 1991, hlm. 15.
  11. ^ a b c Lehman 2011, hlm. 284.
  12. ^ Fraser 1992, hlm. 12.
  13. ^ Weir 1991, hlm. 20.
  14. ^ Dowling 1986, hlm. 17.
  15. ^ Sanders & Low 1910, hlm. 235.
  16. ^ John Blanke.
  17. ^ Goodwin 2008, hlm. 166.
  18. ^ "KHM Bilddatenbank — KHM Bilddatenbank". Bilddatenbank.khm.at. Diakses 16 September 2013. 
  19. ^ "KHM Bilddatenbank — KHM Bilddatenbank". Bilddatenbank.khm.at. Diakses 16 September 2013. 
  20. ^ Fraser 1992, hlm. 25.
  21. ^ "Catherine of Aragon Timeline". Historyonthenet.com. 15 October 2010. Diakses 16 September 2013. 
  22. ^ a b Lehman 2011, hlm. 285.
  23. ^ Williams 1971, hlm. 15.
  24. ^ Weir 1991, hlm. 34.
  25. ^ a b c Lehman 2011, hlm. 290.
  26. ^ a b c Lehman 2011, hlm. 287.
  27. ^ Eagles 2002, hlm. 194.
  28. ^ Rymer 1741, hlm. 48.
  29. ^ Eagles 2002, hlm. 195.
  30. ^ Lehman 2011, hlm. 288.
  31. ^ "Catherine of Aragon". Britannica. 
  32. ^ Rymer, Thomas, ed., Foedera, vol. 13 (1712), p. 370, Catherine was appointed "Rectrix" and "Gubernatrix" of England.
  33. ^ Ellis 1846, hlm. 152-154.
  34. ^ Rymer 1741, hlm. 49.
  35. ^ Letters & Papers vol. 1 (1920), no. 2299: Catherine was issued with banners at Richmond on 8 September, Letters & Papers, vol.1 (1920), no.2243
  36. ^ Letters & Papers Henry VIII vol. 1 (1920) no. 2278: Calendar State Papers Venice, vol.2, no. 340: Hall, Edward, Chronicle, (1809), 564.
  37. ^ Ellis 1846, hlm. 82-84, 88-89.
  38. ^ Lehman 2011, hlm. 288-289.
  39. ^ Wilkinson 2009, hlm. 70.
  40. ^ Lehman 2011, hlm. 291.
  41. ^ Scarisbrick 1997, hlm. 154.
  42. ^ Leviticus 20:21
  43. ^ Lacey 1972, hlm. 70.
  44. ^ Brigden 2000, hlm. 114.
  45. ^ Farquhar, hlm. 61.
  46. ^ Wikisource-logo.svg "Henry VIII" in the 1913 Catholic Encyclopedia.
  47. ^ Morris 1998, hlm. 166.
  48. ^ Haigh 1993, hlm. 92.
  49. ^ Wikisource-logo.svg "Clement VII" in the 1913 Catholic Encyclopedia.
  50. ^ Jestice 2004, hlm. 277.
  51. ^ Rex 2003, hlm. 27.
  52. ^ Brecht 1994, hlm. 44.
  53. ^ Rees 2006, hlm. 77.
  54. ^ a b Lehman 2011, hlm. 292.
  55. ^ Starkey 2003, hlm. 462-464.
  56. ^ Williams 1971, hlm. 124.
  57. ^ a b Lehman 2011, hlm. 293.
  58. ^ Sharon Turner, The History of England from the Earliest Period to the Death of Elizabeth (Longman, Rees, Orme, Brown and Green,1828)
  59. ^ Eagles 2002, hlm. 202.
  60. ^ Letters and Papers of the Reign of Henry VIII, vol. X, no. 190
  61. ^ Letters and Papers of the Reign of Henry VIII, vol. X, no. 59
  62. ^ Letters and Papers of the Reign of Henry VIII, vol. X, no. 230
  63. ^ Letters and Papers of the Reign of Henry VIII, vol. X, no. 200
  64. ^ Warnicke 1991, hlm. 187.
  65. ^ Warnicke 1991, hlm. 188.
  66. ^ Lofts 1979, hlm. 139.
  67. ^ a b Lehman 2011, hlm. 294.
  68. ^ B. Deutscher & P.G. Bietenholz 2003, hlm. 284.
  69. ^ She was the daughter John of Gaunt, 1st Duke of Lancaster to his first wife Blanche of Lancaster, making her half-sister of Katherine of Aragon's maternal great-grandmother Katherine of Lancaster, daughter of John of Gaunt, 1st Duke of Lancaster to his second wife Constance of Castile.

Sumber[sunting | sunting sumber]

Sumber Buku[sunting | sunting sumber]

  • Weir, Alison (1991). The Six Wives of Henry VIII. Grove press. ISBN 0-8021-3683-4. 
  • Rymer, Thomas ed. Foedera, vol.6 part 1, Hague (1741). letter to the treasurer John Heron. 
  • Lehman, H. Eugene (2011). Lives of England's Reigning and Consort Queens. AuthorHouse Publishing. ISBN 978-1-4634-3057-3. 
  • Thomas B. Deutscher, Peter G. Bietenholz (1987). Contemporaries of Erasmus. University of Toronto Press. ISBN 978-0-8020-2575-3. 
  • Wilkinson, Josephine (2009). Mary Boleyn: the True Story of Henry VIII's Favourite Mistress. Amberley Publishing. ISBN 0-300-07158-2. 
  • Sigman, Mitchell (2011). Steal This Sound. Hal Leonard. ISBN 978-1-4234-9281-8. 
  • Goodwin, Stefan (2008). Africa in Europe: Antiquity into the Age of Global Exploration. Lexington Books. ISBN 978-0-7391-1726-2. 
  • Warnicke, Retha (1991). The Rise and Fall of Anne Boleyn. Cambridge University Press. ISBN 0-521-40677-3. 
  • Ellis, Henry, ed. (1846). Original Letters Illustrative of English History, 3rd Series, vol.1. Richard Bentley. 
  • Frederick Sanders, Sir Sidney Low (1910). The dictionary of English history. 
  • Fraser, Antonia (1992). The Wives of Henry VIII. Vintage. ISBN 0-679-73001-X. 
  • Strickland, Agnes. Lives of the queens of England: from the Norman conquest, Volume 2. 
  • Lacey, Robert (1972). The Life and Times of Henry VIII. Book Club Associates. 
  • Chapuys, Eustace (Imperial Ambassador) (1533). Calendar of State Papers, Spanish IV. 
  • Froude, James Anthony (1891). The Divorce of Catherine of Aragon. NEW YORK, CHARLES SCRIBNER'S SONS. 
  • Maclagan, Michael (1999). Line of Succession: Heraldry of the Royal Families of Europe. Little, Brown & Co. 
  • Haigh, Christopher (1993). English Reformations. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-822162-3. 
  • Rees, Fran (2006). William Tyndale: Bible Translator And Martyr. Compass Point Books. ISBN 978-0-7565-1599-7. 
  • Dowling, Maria (1986). Humanism in the Age of Henry VIII. Other. ISBN 978-0-7099-0864-7. 
  • Scarisbrick, J. J (1997). Yale English Monarchs - Henry VIII. Yale University Press. ISBN 978-0-300-07158-0. 
  • Lofts, Norah (1979). Anne Boleyn. ISBN 0-698-11005-6. 
  • Brecht, Martin (1994). Martin Luther: shaping and defining the Reformation, 1521–1532. Fortress Press. ISBN 978-0-8006-2814-7. 
  • Brigden, Susan (2000). New Worlds, Lost Worlds The Rule of the Tudors, 1485–1603. Penguin (Non-Classics). ISBN 0-14-200125-2. 
  • Morris, T. A (1998). Europe and England in the Sixteenth Century. Routledge. ISBN 978-0-415-15041-5. 
  • Morton, Henry Vollam (1955). A stranger in Spain. Methuen. ISBN 978-0-413-52200-9. 
  • Eagles, Robin (2002). The Rough Guide History of England. Rough Guides. ISBN 978-1-85828-799-7. 
  • Rex, Richard (2003). The Theology of John Fisher. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-54115-2. 
  • Jestice, Phyllis G. (2004). Holy People of the World: A Cross-Cultural Encyclopedia, Volume 1. ABC-CLIO. ISBN 978-1-57607-355-1. 
  • Starkey, David (2003). Six Wives: The Queens of Henry VIII. ISBN 0-06-000550-5. 
  • Williams, Neville (1971). Henry VIII and His Court. Macmillan Pub Co. ISBN 978-0-02-629100-2. 
  • P.G. Bietenholz, Thomas B. Deutscher (2003). Contemporaries of Erasmus: A Biographical Register of the Renaissance and Reformation. University of Toronto Press. 
  • Ibn Khaldun, Viguer María Jesús (1900). The Mediterranean in the 14th century : rise and fall of Empires. The Order of the Sash: From Alfonso XI to the House of Trastamara. 

Sumber Internet[sunting | sunting sumber]

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catarina d'Aragón
Lahir: 16 Desember 1485 Wafat: 7 Januari 1536
Inggris
Lowong
Terakhir dijabat oleh
Elizabeth dari York
Permaisuri Inggris
Nyonya Irlandia

11 Juni 1509 – 23 Mei 1533
Lowong
Selanjutnya dijabat oleh
Anne Boleyn