Candi Laras Selatan, Tapin
Candi Laras Selatan | |||||
|---|---|---|---|---|---|
Peta lokasi Kecamatan Candi Laras Selatan | |||||
| Negara | |||||
| Provinsi | Kalimantan Selatan | ||||
| Kabupaten | Tapin | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Zaul Rahman, S.Sos. | ||||
| Populasi (2023) | |||||
| • Total | ... jiwa | ||||
| Kode Kemendagri | 63.05.05 | ||||
| Kode BPS | 6305090 | ||||
| Luas | ... km² | ||||
| Kepadatan | ... | ||||
| Desa/kelurahan | 12/- | ||||
| |||||
Candi Laras Selatan merupakan kecamatan di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.
Batas wilayah
[sunting | sunting sumber]Batas-batas wilayah kecamatan Candi Laras Selatan adalah sebagai berikut:
| Utara | Kabupaten Hulu Sungai Selatan |
| Timur | Kecamatan Bakarangan |
| Selatan | Kecamatan Tapin Tengah |
| Barat | Kecamatan Candi Laras Utara |
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Candi Laras merupakan satu dari sedikit bangunan candi yang ditemukan di Kalimantan Selatan. Saat ditemukan, candi ini sudah hancur. Meski Candi Laras telah diakui sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi, kondisinya sangat memprihatinkan karena tidak dirawat. Bangunan Candi Laras telah hancur, dan ketika dilakukan ekskavasi hanya ditemukan reruntuhan bata yang tidak membentuk struktur serta temuan lepas berupa fragmen prasasti dan arca. Karena minimnya data yang tersedia, cukup sulit untuk mengetahui siapa yang membangun candi ini dan kapan pembanguannya dilakukan. Kegiatan ekskavasi pada 1997 menemukan tonggak-tonggak kayu ulin yang sangat panjang. Dari temuan itu, diduga Candi Laras dibangun dari struktur bata yang disangga dengan balok-balok kayu ulin.[1] Untuk memperkirakan usia candi, para peneliti menggunakan data arkeologi yang relevan seperti fragmen prasasti dan arca Buddha. Melansir laman Kemdikbud, benda-benda arkeologi pendukung Candi Laras terdiri dari arca babi dari batu alam, arca Buddha Dipangkara, dan fragmen batu tulis atau prasasti. Benda-benda arkeologi tersebut berukuran kecil dan tempat penemuannya cukup jauh, sekitar 450-650 meter, dari lokasi situs. Arca Buddha Dipangkara yang terbuat dari bahan perunggu memiliki ukuran panjang 21 cm dan lebar 8 cm. Arca dalam keadaan berdiri dengan sikap kaki tegak (samabhangga) dan kedua tangannya tampak diangkat ke depan. Meski kedua lengan bawah arca telah patah dan hilang, diduga lengannya bersikap abhayamudra dengan tangan kiri memegang jubah. Sedangkan rambut arca Buddha Dipangkara diigambarkan ikat membentuk ushnisa dan di tengah dahinya terdapat urna.[1]
Wajah tokoh ini digambarkan tenang dengan mata tertutup, hidungnya relatif panjang, bibirnya seperti tersenyum lebar, dan telinganya sedikit panjang. Para ahli menduga, arca Buddha Dipangkara berasal dari abad ke-7 atau abad ke-9. Kemudian, fragmen batu tulis atau prasasti yang ditemukan terbuat dari batu kali berwarna hitam. Meski kondisi batu sudah banyak berlubang, masih dapat dilihat adanya satu baris inskripsi yang ditulis dalam aksara Pallawa dengan bahasa Sanskerta. Tulisan tersebut berbunyi, "jaya siddha...". Mungkin seharusnya berbunyi "jayasiddhayatra", yang artinya perjalanan ziarah untuk memperoleh berkah. Kata yang mirip juga ditemukan dalam Prasasti Kedukan Bukit peninggalan Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7. Usia arca dan prasasti tersebut mengindikasikan bahwa lingkungan situs candi telah dihuni oleh penduduk sejak abad ke-7. Saat ini, temuan-temuan tersebut disimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, karena lokasi Candi Laras yang tidak mendukung. Sekeliling Candi Laras merupakan daerah rawa. Untuk menuju situs, hanya ada jembatan dari kayu dengan kondisi banyak yang lapuk dan lepas. Selain akses jalan yang sulit, kondisi reruntuhan candi terbengkalai karena kurangnya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Tapin. Untuk usia candi, diduga Candi Laras baru dibangun pada sekitar tahun 1400. Taksiran tersebut didapatkan dari penelitian radiokarbon C-14 yang dilakukan pada tahun 2000 terhadap kayu ulin dari Candi Laras. Terkait fungsi candi, diperkirakan Candi Laras merupakan bangunan kerajaan yang didirikan untuk maksud-maksud tertentu. Dilansir dari Banjarmasin Tribunnews, budayawan Tapin bernama Ibnu Masud menjelaskan keberadaan Candi Laras dibangun dengan maksud dan tujuan tertentu oleh warga Candi Agung di Amuntai. "Maksud dibangun Candi Laras agar mengelabui penjajah yang ingin menyerang Kerajaan Negara Dipa dengan Candi Agung-nya." Masud melanjutkan, Candi Laras juga menjadi tujuan persinggahan para kerabat Kerajaan Negara Dipa di Amuntai sebelum tiba di Kerajaan Banjar di Banjarmasin.[1]
Daftar Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 Ningsih, Widya (2023-05-08). "Sejarah Candi Laras Selatan di Kalimantan Selatan". Kompas.com. Diakses tanggal 2025-03-09.
