Chandeshvara Nayanar

Chandesha (Dewanagari: चंदेश; IAST: Caṅdeśa), alias Chandeshvara (Dewanagari: चंदेश्वर; IAST: Caṅdeśvara) adalah salah satu dari 63 Nayanar (orang suci Hindu) dalam aliran Saiwa Siddhanta di India Selatan. Dia disebut pula Chanda atau Chandikeshvara. Dia diabadikan dalam bentuk arca perunggu, yang pada umumnya menampilkannya sebagai seorang anak laki-laki, dengan rambut yang dililitkan, berdiri dengan tangan dalam posisi Añjalimudrā dan kapak di lekukan lengannya.
Di kuil-kuil Saiwa di India Selatan, tempat pemujaannya terletak di dalam dinding pertama kompleks kuil dan di sebelah timur laut lingga Siwa. Patungnya biasanya ditampilkan duduk, dengan satu kaki menjuntai ke bawah, satu tangan diletakkan di salah satu paha, dan kapak tergenggam di tangan lainnya. Dia menghadap ke dalam, ke arah dinding kuil utama. Peran aslinya mungkin sebagai penerima nirmalya, yaitu persembahan makanan dan karangan bunga yang awalnya dipersembahkan kepada Dewa Siwa.[1]
Legenda
[sunting | sunting sumber]Dalam legenda asal India Selatan—sebagaimana diriwayatkan dalam pustaka Periyapuranam—disebutkan bahwa dia lahir dalam keluarga Brahmana dan juga memiliki nama lain Visarasarman.[2] Ketika masih kecil, dia mendapati sapi-sapi keluarganya tidak dirawat. Maka dari itu dia memutuskan untuk menggembalakan dan merawat sapi-sapi itu sendiri. Sambil melakukannya, dia akan menuangkan susu ke lingga (media pemujaan Dewa Siwa), yang dia buat dari pasir. Penuangan susu yang dianggap pemborosan tersebut sampai ke telinga ayahnya, Datta. Akhirnya dia sendiri datang ke ladang dengan maksud untuk memarahi putranya. Ketika itu, Chandesha sedang bermeditasi di depan lingga pasir buatannya dan tidak melihat kedatangan ayahnya. Ayahnya yang marah menendang lingga pasir itu. Tindakan tersebut membuat meditasi Chandesha terganggu, sehingga ia secara refleks memukul kaki ayahnya dengan tongkat. Tongkat itu berubah menjadi kapak dan kaki ayahnya terputus.[3]
Pada momen tersebut, Dewa Siwa menampakkan diri, memberkati Chandesha dan membuat kaki Datta yang terputus menjadi pulih seperti sedia kala.[2] Siwa—yang senang dengan pengabdian Chandesha—juga mengangkatnya sebagai penjaga harta karun Siwa (sebagai pengasuh para gana menurut versi lain).[2] Saat berdoa kepada Chandesha (atau Chandikeshwara) di kuil-kuil India Selatan, para penyembah menjentikkan jari atau bertepuk tangan. Ini untuk menunjukkan kepada Chandikeshwara bahwa tangan mereka kosong dan mereka tidak mencuri apa pun dari kuil Siwa. Karena Chandikeshwara selalu bermeditasi mendalam, suara jentikan atau tepuk tangan ini juga untuk membangunkannya, supaya memastikan bahwa tidak ada apa pun yang diambil.
Namun, dalam beberapa pustaka Sanskerta, Chandesha justru dikatakan sebagai inkarnasi dari kemarahan Siwa. Chandesha kini sering dianggap sebagai tokoh yang eksklusif di India Selatan, tetapi dia pernah dikenal juga di India Utara, dan mungkin juga hingga ke Kamboja.[4]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ See Erik af Edholm, "Caṇḍa and the Sacrificial Remnants. A contribution to Indian Gastrotheology", Indologica Taurinensia XII (1984), pp.75--91.
- 1 2 3 T.S., Dr. Sridhar, ed. (2011). An exhibition on Chola bronzes - 1000th anniversary of Thanjavur Big temple celebration (PDF) (Report). Chennai: Department of Archaeology & Government Museum. hlm. 24.
- ↑ Rajarajan, R.K.K. (2019). "Caṇḍikeśvara Myth and Transformation: Violence and Reconciliation". Indologica Taurinensia. 45: 157–195.
- ↑ For evidence of Chandesha outside South India, see Dominic Goodall's article "Who is Caṇḍeśa?", in The Genesis and Development of Tantra, ed. Shingo Einoo, Tokyo: Institute of Oriental Culture, 2009, pp.351-424.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Media tentang Chandeshvara Nayanar di Wikimedia Commons