Cagar Alam Telaga Ranjeng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Cagar Alam Telaga Ranjeng
Berkas:Telaga Ranjeng.jpg
LetakKabupaten Brebes, Jawa Tengah, Indonesia
Koordinat7°16′33″S 109°06′10″E / 7.275815°S 109.102803°E / -7.275815; 109.102803Koordinat: 7°16′33″S 109°06′10″E / 7.275815°S 109.102803°E / -7.275815; 109.102803
Terletak di negaraIndonesia


Telaga Ranjeng atau biasa juga diucapkan Telaga Renjeng adalah kawasan CAGAR ALAM yang berlokasi di desa Pandansari, kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Telaga ini dibangun pada tahun 1924, berada di bawah kaki Gunung Slamet dan merupakan bagian dari kawasan cagar alam milik Perhutani Pekalongan Timur, Cagar Alam Telogo Ranjeng

Kawasan CA Telogo Ranjeng pertama kali ditunjuk sebagai kawasan cagar alam berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 25 tanggal 11 Januari 1925, seluas � 48,5 Ha. Status tersebut telah diperkuat dengan SK Penunjukan Menteri Kehutanan No. SK.3 5 9/MenHut-II/2004 tanggal 1 Oktober 2004.


Keadaan Fisik Kawasan

CA Telogo Ranjeng termasuk dalam wilayah Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Topografi kawasan konservasi ini berbukit , bergelombang , dan pegunungan, dengan keadaan geologinya terdiri dari batuan tertier dan kwarter yang berasal dari gunung berapi, sedangkan jenis tanahnya latosol. Cagar alam ini berada pada ketinggian + 1.600 m di atas permukaan laut dengan temperatur harian berkisar antara 13O-27O C, dengan curah hujan rata-rata 600-1.100 mm/tahun.

Potensi flora

CA Telogo Ranjeng mempunyai tipe ekosistem Hutan Hujan Tropika Pegunungan Tinggi dan tipe ekosistem perairan berupa telaga, dengan flora penyusunnya Ande-andean (Antidesma tetrandrum), Anggrung (Trema orientale), Bancetan, Baros (Garcinia sp.), Berasan (Tarenna incerta), Cemara Batu (Casuarina sp.), Cemara Nyamplung (Casuarina sp.), Cengkek (Planchonella obovata), Dempul (Glochidion sp.), Gembleb, Geringging (Weinmannia blumei), Jerukan (Xanthophyllum excelsum), Kayu Putihan, Kebeg (Ficus sp.), Kemiren (Hernandia peltata), Kemiri (Aleurites moluccana), Kemiri Sepet, Kendung (Helicia javanica), Kina (Chinchona sp.), Kopeng (Ficus ribes), Pasang (Quercus sp.), Pelah (Dysoxylum alliaceum), Pinus (Pinus merkusii), Puspa (Schima walichii), Rukem (Flacourtia sp.), Sahang (Schefflera aromatica), Suren (Toona sureni).

Fauna

Keragaman fauna yang ada antara lain Bangau Hitam (Ciconia episcopus), Elang Bido (Spilornis cheela), Burung Sesap Madu (Melliphagidae), Ayam Hutan (Gallus sp.), Bajing (Sundasciurus sp.), Burung Bubut (Centropus sp.), Ciblek (Prinia familiaris), Cici Goci (Cisticola sp.), Gelatik Batu (Parus major), Burung Hantu (Otus sp.), Kacer ( Copsychussa ularis ) , Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Burung Pleci, Plentet (Lanius schach), Prenjak (Prinia subflava), Burung Puyuh (Turnix sp.), Burung Siung (Macronous sp.), Sriti (Collocalia esculenta), Burung Trinil (Tringa sp.), Tengkek (Halcyon chloris), Ikan Lele (Clarias batrachus) dan Wader (Puntius sp.).

Potensi Lainnya

Sesuai dengan namanya, di dalam kawasan cagar alam ini terdapat telaga air tawar seluas � 18,5 Ha, yang di dalamnya hidup ikan Lele dengan jumlah tak terhitung, yang menjadi ciri khas CA Telogo Ranjeng. Ikan Lele ini sangat jinak dan akan menyambut tamu yang datang dan mengerubuti makanan yang diberikan. Masyarakat setempat mengkeramatkan ikan Lele tersebut, sehingga tidak ada yang berani mengganggu atau mengambilnya karena barang siapa yang mengambil ikan Lele dari telaga ini akan mendapat musibah.

Aksesibilitas

Kawasan ini dapat dicapai dengan rute Semarang-Tegal-Bumiayu-Kretek- Desa Pandansari, dengan waktu tempuh + 6 jam dan jarak + 245 km.


KAWASAN CAGAR ALAM TIDAK UNTUK WISATA

Peruntukan Cagar Alam (CA) dan Cagar Alam Laut (CAL) menurut UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya dan PP Nomor 28 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, disebutkan bahwa cagar alam dapat dimanfaatkan untuk kegiatan:

a. Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;

b. Pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam;

c. Penyerapan dan/atau penyimpanan karbon; dan

d. Pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya.

Sehingga, selain kegiatan-kegiatan tersebut, aktivitas dan pemanfaatan lainnya, termasuk aktifitas wisata,tidak diperbolehkan. .[1][2][3][4][5]

Mitos[sunting | sunting sumber]

Cagar alam tersebut memiliki luas empat puluh delapan setengah hektare terdiri dari hutan damar dan pinus yang mengelilingi telaga, yang sebelumnya merupakan tempat mandi para tokoh kerajaan di Jawa. Daya tarik dari Telaga Ranjeng adalah udara pegunungan yang sejuk, hutan lindung, cagar alam, serta terdapat beribu-ribu ikan lele yang jinak dan dianggap keramat, yang dianggap sebagai penghuni telaga. Konon ikan lele penunggu Telaga Ranjeng yang memiliki kedalaman tiga meter, hanya bisa diajak bermain -main dan tidak diperkenankan untuk diambil meski hanya satu ekor. Penunggu telaga menceritakan pernah ada seorang wisatawan yang mencoba mengambilnya namun sampai di rumah orang tersebut kemudian sakit-sakitan baru sembuh setelah mengembalikan ikan lele ke Telaga Ranjeng. Benar atau tidaknya cerita tersebut, yang jelas Telaga Ranjeng merupakan aset wisata yang memiliki daya tarik tersendiri sehingga dibutuhkan peran serta masyarakat sekitar dan pemerintah untuk mengembangkan tempat tersebut.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Situs resmi Kabupaten Brebes, diakses 16 Feb 2015". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-28. Diakses tanggal 2021-04-28. 
  2. ^ Bumiayu.net, diakses 16 Feb 2015
  3. ^ Travel Detik, diakses 16 Feb 2015
  4. ^ "i Wisata Indonesia, diakses 16 Feb 2015". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-10-24. Diakses tanggal 2015-02-16. 
  5. ^ Solo raya: Keindahan dan misteri Telaga Ranjeng[pranala nonaktif permanen], diakses 25 Mei 2017]