Bulusan (tradisi)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Bulusan (disebut juga Tradisi Bulusan) adalah salah satu peringatan tradisional masyarakat Islam di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Indonesia, yang diadakan tujuh hari sesudah Idul Fitri.[1][2] Perayaan tradisi ini berpusat di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Tradisi ini berasal dari legenda yang berkaitan dengan Sunan Muria yang dikisahkan menegur warga setempat yang masih bekerja pada malam hari walaupun saat itu Ramadhan dan warga tersebut berubah menjadi bulus.[3][4]

Legenda[sunting | sunting sumber]

Perayaan Bulusan

Mbah Dado seorang alim ulama penyebar agama Islam. Dia mempunyai murid bernama Umara dan Umari. Dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam dia berniat untuk mendirikan sebuah pesantren. Maka ditemukanlah tempat yang tepat untuk membangun pesantren tersebut, yaitu di kaki Gunung Muria. Pada bulan Ramadhan, tepatnya pada waktu malam Nuzulul Qur'an datang Sunan Muria untuk bersilaturrahmi dan membaca Al Qur'an bersama Mbah Dado, sahabatnya. Dalam perjalanannya, Sunan Muria mendengar orang bekerja di sawah pada malam hari sedang ndaut (mangambil bibit padi). Suna Muria berhenti sejenak dan berkata, "Lho, malam Nuzulul Qur'an kok tidak baca Al Qur'an, malah di sawah berendam air seperti bulus[5] saja?" Akibat perkataan itu Umara dan Umari seketika menjadi bulus. Datang Mbah Dado untuk memintakan maaf atas kesalahan santrinya kepada Sunan Muria. Akan tetapi, ibarat nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin dapat kembali lagi. Akhirnya, Sunan Muria menancapkan tongkatnya ke tanah, keluar mata air atau sumber sehingga diberilah tempat itu nama Dukuh Sumber dan tongkatnya berubah menjadi pohon yang diberi nama pohon tamba ati. Sambil meninggalkan tempat itu Sunan Muria berkata, "Besok anak cucu kalian akan menghormatimu setiap satu minggu[6] setelah hari raya bulan Syawal tepatnya waktu Bada Kupat. sampai sekarang setiap bada kupat tempat tesebut ramai dikunjungi orang untuk berziarah dan juga melihat bulus. Tradisi ini sekarang masih ada san terkenal dengan nama Bulusan[7].

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://nooraflah.wordpress.com/2011/12/08/cerita-bulusan-saat-kupatan/
  2. ^ Proyek Sasana Budaya (1979) Petunjuk Wisata Budaya Jawa Tengah. Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  3. ^ Anton W. Hartono (3 September 2011). "Bulusan, Legenda yang (Berusaha) Bertahan". Suara Merdeka. Diakses tanggal 9 Juli 2013. 
  4. ^ M. Agus Yusrun Nafi' (4 September 2012). "Pemberdayaan Tradisi Bulusan". Suara Merdeka. Diakses tanggal 9 Juli 2013. 
  5. ^ http://candreswari.blogspot.com/2008/09/tradisi-bulusan-kudus.html
  6. ^ http://sosbud.kompasiana.com/2012/10/02/tradisi-di-kotaku-tercinta-kota-kudus-497940.html
  7. ^ http://mahasiswakudus.wordpress.com/kudus/