Buduk, Mengwi, Badung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Buduk
Desa
Negara  Indonesia
Provinsi Bali
Kabupaten Badung
Kecamatan Mengwi
Pemerintahan
 • Kepala desa I Made Puspaka, ST
Kodepos 80351
Luas 2,77 km²
Jumlah penduduk

7.463 jiwa (2016)[1]

8.060 jiwa (2010)[2]
Kepadatan 2.909,75 jiwa/km²
Situs web http://www.desabuduk.com

Buduk adalah desa di kecamatan Mengwi, Badung, Bali, Indonesia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sejarah Desa Buduk dapat terungkap dari salah satu sumber tertulis yang berupa Lontar Babad Pangeran Pasek Buduk yang dimiliki oleh Geriya Simpangan. Dalam Lontar Babad Pangeran Pasek Buduk diawali dengan turunnya Dalem Ketut dari Kerajaan Majapahit ke Bali yang diiringi oleh para Arya dan empat orang prajurit pilihan (Para Pangeran ) diantaranya :

  1. Pangeran Maja Langu atau disebut Kebo Ndan Pengasih yang adalah Putra Kryan Patih Madu, Cucu dari Lembu Ireng yang Juga disebut Sira Kryan Patih Lembu Wonga Tileng yang mempunyai tunggangan Seekor Kebo Wadak yang sangat disayangi, kerena sangat kuat dan mengerti serta menuruti setiap perintah tuannya.
  2. Pangeran Krrta Langu dengan tunggangan seekor Kambing Hitam atau disebut pula dengan Wedus Ireng .
  3. Pangeran Krrta Jiwa dengan tunggangan berupa seekor Banteng Jagiran atau disebut pula Sapi Jantan.
  4. Pangeran Krrta Baya dengan tunggangan berupa seekor Harimau atau Mrga.

Para prajurit sangat setia akan perintah Raja. Dalam Pemerintahan Dalem Ketut Ngelesir dengan para Patih andalan seperti Ki Gusti Patih Kubon Tubuh, dengan warga Pasek Wisuda Sanak Pitu tidak ada kecocokan dengan Pangeran Kebo Ndan Pengasih dan saudaranya. Para pengikut Pasek sangat mempertahankan kehormatan dan kewibawaan Raja dan Kerajaan, sebaliknya. Pangeran Kebo Ndan Pengasih berserta Saudaranya karena kemampuan beliau dan sifat beliau yang agak ugal-ugalan sehingga seakan-akan tidak menghormati tata cara atau aturan yang berlaku di kerajaan di Bali. Karena ketidakcocokan itu, Warga Pasek mohon agar Pangeran Kebo Ndan Pengasih dipindahkan bersama Saudaranya. Maka Dalem Ketut Ngelisir mengabulkan permohonan Warga Pasek dan diutuslah Pangeran Kebo Ndan Pengasih dan Saudaranya untuk menyerang I Gusti Batu Tumpeng yang berada di Desa Kekekeran dengan alasan I Gusti Batu Tumpeng tidak menyerahkan upeti sebagai tanda tunduk terhadap kerajaan. Disamping itu, Dalem juga meminta Cokorda Mengwi untuk mengatasi kelakuan I Gusti Batu Tumpeng.

Alkisah berangkatlah Pangeran Kebo Ndan Pengasih dan ketiga saudaranya untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Dalem yang disertai pengikut/prajurit sebanyak empat ratus orang. Sebelum menyerang I Gusti Batu Tumpeng, Pangeran Kebo Ndan Pengasih diberi pesan agar menuju suatu tempat yang bernama "Lemah Larangan Dalem" dan mulai membuat pondok yang disebut Kuwu. Selanjutnya mereka melakukan penyusunan kekuatan dan strategi ynag diperlukan. Dalam perjalanan ditengah sawah desa Nambangan Badung, salah satu adiknya yang bernama Pangeran Krta Baya tidak kuat lagi dan memohon untuk istirahat. Pangeran Kebo Ndan Pengasih menyuruh adiknya beserta dengan pengiringnya untuk diam disana. Karena kendaraan yang dibawa adalah Mrga disebutlah daerah itu lama kelamaan dikenal menjadi Mara Gaya dan selanjutnya menurunkan Pasek Margaya. Kemudian Pangeran Krrta Langu juga mengalami kepayahan dan disuruh untuk tetap disana dan karena tunggangannya berupa Kambing disebutlah Daerah itu Pekambingan dan kemudian selanjutnya menurunkan Pasek Pekambingan.

Perjalanan dilanjutkan dan kemudian adiknya Pangeran Krrta Jiwa juga mengalami kelelahan dan diminta untuk tinggal di daerah mereka beristirahat, karena kendaraannya adalah Sapi Jantan disebutlah daerah itu menjadi Sempidi dan keturunan beliau selanjutnya disebut sebagai Pasek Sempidi. Karena kesetiaan beliau atas perintah Raja (Dalem) maka perjalanan beliau lanjutkan sendirian saja bersama-sama dengan prajuritnya. Sedangkan adik-adik beliau telah terlebih dahulu tinggal disuatu tempat.

Perjalanan dilanjutkan terus menuju ke barat. Pangeran diiringi oleh Prajurit saja tiba disuatu tempat dimana Pangeran bersama Prajurit untuk memutuskan beristirahat guna menyusun kekuatan lagi. Karena sangat lelah, para prajurit istirahat saling tumpang tindih dengan posisi sembarangan, sehingga tampak kerep dan selanjutnya tempat ini dikenal dengan Banjar Tampakkerep. Dari tempat inilah dimulai segala aktifitas guna mempersiapkan diri untuk tugas penyerangan. Dekat tempat ini, Pangeran membuat tempat pemujaan berupa turus lumbung yang disebut Pura Kubon dan sekarang dikenal dengan Pura Dalem Kebon. Dari sini, beliau memilih beberapa tempat yang diperlukan untuk kepentingan tersebut diatas yaitu untuk peristirahatan tunggangan beliau berupa Kebo Wadak ditaruh di sebelah Selatan pada suatu tegalan yang selanjutnya tempat itu disebut Umetegal dan menjadi Banjar Umetegal, lebih keselatan lagi disiapkan tempat permandian(pekipuhan)' yang kemudian dikenal Umekepuh dan sekarang disebut dengan Banjar Umekepuh, diantaranya ada tempat pengembalaan yang disebut Umepadang dan sekarang disebut Br. Umecandi, demikian juga untuk pembuatan senjata disebut air terjun (grojogan) yang ada ditepi sungai Pangi yang sekarang disebut Pemedilan dan tempat pembuatan perlengkapan senjatanya disebut Tumbakbayuh. Di daerah pesisir, dibuatlah tempat latihan perang-perangan yang disebut perarianan yang sekarang disebut Desa Pererenan. Demikian juga dengan tempat lainnya yang dipergunakan untuk suatu kepentingan beliau kemudian dikenal dengan suatu nama yang ada sampai saat ini.

Singkat cerita akhirnya I Gusti Batu Tumpeng dapat dikalahkan sehingga lama-kelamaan Pangeran Kebo Ndan Pengasih menetap didaerah ini dan setelah beristri dan mendapatkan seorang anak laki-laki yang sangat kuat dan perkasa dan selanjutnya diserahkanlah kendaraan Kebo Wadak beliau kepada sang Pangeran yang kemudian dikenal Pangeran Pasek Badak. Wilayah Karang Dalem yang ditempati oleh Pangeran disebut Desa Buduk sampai sekarang. Dalam Pemerintahan Dalem kekuasaannya meliputi :

  • Batas utara : sampai Desa Kapal
  • Batas Selatan : Sampai Desa Pererenan
  • Batas Timur : Tukad Mati / Pangkung Mati .
  • Batas barat : sampai tukad bausan

Seiring dengan perkembangan waktu dan keadaan maka Desa Buduk yang terdiri dari Desa Pererenan, Desa Tumbakbayuh, dan Desa Buduk sendiri . Pada tahun 1999 secara definitif dibawah kepemimpinan Bapak I Ketut Rendah yang telah menjabat selama 27 tahun sejak tahun 1973 sampai dengan tahun 2000 dimekarkan. Selanjutnya karena beliau berdomisili di Desa Pererenan tepatnya di Br. Tiyingtutul Pererenan maka pada tahun 2000 dilaksanakanlah pemilihan Kepala Desa, sehingga untuk pertama kalinya di Desa Buduk secara demokratis Bapak I Made Puspaka, STKomp. Diangkat dan ditetapkan sebagai Kepala Desa Buduk berdasarkan SK.Bupati Badung Nomor 1388 Tahun 2000, tertanggal 24 Maret 2000.

Dengan luas wilayah 3,63 km2 yang dibatasi oleh Desa Dalung Kecamatan Kuta Utara disebelah Timur, Desa Tumbakbayuh disebelah selatan, Desa Cepaka Kecamatan Kediri Tabanan disebelah Barat dan Kelurahan Kapal disebelah utara; Desa Buduk dibagi menjadi sepuluh Banjar Dinas yang mana nama–nama Banjar Dinas tersebut sesuai dengan asal-usul / sejarah Desa Buduk itu sendiri yaitu seperti :

  1. Banjar Dinas Gunung, dengan Kelian Dinasnya I Wayan Sukartha.
  2. Banjar Dinas Umekepuh, dengan Kelian Dinasnya I Nyoman Suardika.
  3. Banjar Dinas Umecandi, dengan Kelian Dinasnya I Ketut Suparta.
  4. Banjar Dinas Umetegal , dengan Kelian Dinasnya I Gede Widnyana.
  5. Banjar Dinas Pasekan , dengan Kelian Dinasnya I Made Nayi.
  6. Banjar Dinas Sengguan , dengan Kelian Dinasnya I Ketut Miasa .
  7. Banjar Dinas Tengah, dengan Kelian Dinasnya I Made Senter.
  8. Banjar Dinas Kaja, dengan Kelian Dinasnya I Made Subagia.
  9. Banjar Dinas Tampakkerep, dengan Kelian Dinasnya I Made Somayasa .
  10. Banjar Dinas Bernasi , dengan Kelian Dinasnya I Made Sudipa.[3]

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk desa Buduk terdiri dari 3.708 laki-laki dan 3.755 perempuan dengan sex rasio 98. Tingkat kelahiran selama tahun 2016 sebanyak 31 jiwa dan kematian 26 jiwa. [4]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala Luar[sunting | sunting sumber]