Budi daya ayam arab

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Indukan ayam arab yang dibudidayakan

Pembibitan ayam buras (bukan ras) yang selama ini dilakukan oleh peternak di pedesaan kini sudah meningkat menjadi usaha yang dikelola secara intensif. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya permintaan terhadap komoditas ayam buras yang semakin tinggi. Ayam buras merupakan salah satu jenis unggas yang sudah dikenal masyarakat di perkotaan dan di pedesaan. Yang termasuk ayam buras adalah adalah ayam Bangkok, Kedu, Kampung dan Arab.

Salah satu ayam buras yang sedang popular dibudidayakan saat ini adalah ayam arab. Ayam arab dikenal sebagai ayam petelur yang unggul, seekor induk betina sanggup menghasilkan 280 butir telur per tahun. Dibandingkan dengan ayam kampung yang hanya bertelur 70 butir/tahun dalam pemeliharaan ekstensif, atau 155-160 butir/tahun dalam pemeliharaan intensif. Ayam arab jantan memiliki ciri jenggernya yang panjang. Sedangkan pada betina bulu-bulu lebih tebal daripada pejantan dan di belakang leher terdapat bintik – bintik hitam. Penetasan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu scara alami dan secara buatan (mesin tetas). Penetasan secara buatan mempunyai kelebihan diantaranya adalah dapat menghasilkan anak ayam dalam jumlah besar secara bersamaan dan waktu penetasan yang dapat diatur sesuai dengan kebutuhan anak ayam.

Keberhasilan penetasan buatan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah bobot telur, lama penyimpanan dan posisi telur saat penyimpanan. Bobot telur yang ideal untuk ayam buras adalah 34 - 40 gram, bobot telur mempengaruhi bobot tetas, semakin tinggi bobot telur maka bobot tetasnya juga akan semakin tinggi. Lama penyimpanan telur tetas yang baik maksimal 7 hari, lebih dari itu maka daya tetasnya akan menurun. Posisi telur pada saat penyimpanan yang baik adalah 30-40 derajat dengan bagian yang tumpul berada di atas, sering kali pada saat penyimpanan kuning telur akan menempel pada kerabang telur oleh karena itu diperlukan pemutaran telur saat penyimpanan sehingga diharapkan telur dapat tahan lama dan daya tetasnya tetap tinggi.

Daya tetas dan bobot tetas merupakan ukuran keberhasilan dari penetasan, daya tetas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kualitas telur, mesin tetas dan penanganan telur saat penyimpanan. Persentase daya tetas ayam buras adalah 70-75 %, angka tersebut terbilang kecil bila dibandingkan daya tetas ayam ras yang mencapai 90 %. Bobot tetas dipengaruhi oleh bobot telur, bobot tetas secara umum adalah sekitar 70% dari bobot telur tetas, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan pada masing-masing komoditi ayam buras karena perbedaan kondisi telur.

Sekilas tentang ayam arab[sunting | sunting sumber]

Sepasang ayam arab (jantan dan betina)
Seseorang sedang mengambil telur ayam arab di kandang

Ayam arab masuk ke Indonesia sekitar tahun 2000 M. Ayam Arab berasal dari Belgia dengan nama populer silver brakel kriel. Ayam arab mempunyai kerudung bulu berwarna putih di bagian belakang lehernya, kerudung ini makin kentara pada ayam jantan, karena terlihat berjuntai panjang. Karena penampilannya tesebut maka masyarakat lebih mengenal dengan sebutan ayam arab [1]. Ayam arab jantan memiliki bobot tubuh rata-rata 1.500-1.800 g/ekor, sedikit lebih berat daripada betina yang hanya 1.100-1.500 g. Bobot ini tak jauh berbeda dari ayam buras yang ada di sekitar kita.

Telur ayam arab mirip dengan ayam kampung baik ukuran maupun warnanya. Sulit membedakan mana telur ayam kampung dan telur ayam arab, jika keduanya didekatkan. Berdasarkan penelitian, ternyata kandungan gizi telur ayam arab juga nyaris sama dengan telur ayam kampung.[butuh rujukan] Ayam arab memiliki keunggulan yaitu sebagai berikut :

  1. Harga DOC hampir sama dibandingkan ayam kampung biasa.
  2. Berat telur berkisar antara 35-42,5 g (berat ideal untuk ayam buras)
  3. Warna kerabang putih, kekuningan dan putih kecoklatan. Mirip seperti telur ayam kampung sehingga digemari oleh masyarakat.
  4. Harga induk tergolong tinggi
  5. Konsumsi pakan relatif kecil karena termasuk tipe kecil
  6. Daya seksualitas pejantan tinggi
  7. Ayam betina tidak mempunyai sifat mengeram, sehingga masa bertelurnya panjang
  8. Bisa dijadikan untuk perbaikan genetik ayam buras.

Penetasan[sunting | sunting sumber]

Telur ayam arab berada dalam inkubator (proses penetasan)

Penetasan merupakan suatu proses pertumbuhan embrio di dalam telur yang mengalami perubahan-perubahan morfologi, fisiologi, anatomi dan biokimia [2]. Penetasan telur adalah usaha untuk menetaskan telur unggas dengan bantuan mesin penetas telur yang sistem atau cara kerjanya mengadopsi tingkah laku (behaviour) induk ayam atau unggas lainnya selama masa mengeram.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penetasan adalah [3] :

  • Suhu (Temperatur)
  • Kelembaban Udara (Humidity)
  • Pemutaran Telur (Egg Turning)
  • Kebersihan (Cleanliness)

Lingkungan tempat penetasan telur yang perlu diperhatikan adalah tempereatur, kelembaban relatif dan pengaturan ventilasi. Kontrol temperatur merupakan suatu faktor yang menjamin kesuksesan penetasan karena perkembangan embrio sangat sensitif terhadap temperatur. Temperatur mesin tetas yang ideal adalah 101°-103° C dengan kelembaban relatif berkisar 70-85%.

Faktor kelembaban mempunyai peranan besar untuk mendapatkan daya tetas yang tinggi. Kelembaban dalam mesin tetas harus dipertahankan di antara 60-70%. Kelembaban dapat dicapai dengan meletakan bak air didasar ruang penetasan dan kain basah diatasnya. Bila kelembaban terlalu rendah embrio cenderung menetas lambat bahkan tidak dapat pecah saat pipping.

Masa pengeraman selama 21 hari merupakan masa yang sangat kritis untuk menentukan kelahiran seekor anak ayam. Embrio di dalam telur ini tumbuh setiap harinya sampai akhirnya menetas menjadi anak ayam. Berikut ini menyampaikan secara garis besar perkembangan embrio selama 21 hari pengeraman sampai akhirnya jadi anak ayam[4].

  1. Pada hari ke-1 sejumlah proses pembentukan sel permulaan mulai terjadi. Sel permulaan untuk sistem pencernaan mulai terbentuk pada jam ke-18.
  2. Pada hari ke-2 embrio mulai bergeser ke sisi kiri, dan saluran darah mulai terlihat pada bagian kuning telur.
  3. Pada hari ke-3 dimulainya pembentukan formasi hidung, sayap, kaki, dan jaringan pernafasan.
  4. Pada hari ke-4 sel permulaan untuk lidah mulai terbentuk. Pada masa ini, embrio terpisah seluruhnya dari kuning telur dan berputar ke kiri.
  5. Pada hari ke-5 saluran pencernaan dan tembolok mulai terbentuk. Pada masa ini terbentuk jaringan organ reproduksi.
  6. Pada hari ke-6 pembentukan paruh dimulai. Begitu juga dengan kaki dan sayap. Selain itu,embrio mulai melakukan gerakan-gerakan.
  7. Hari ke-7, ke-8, dan ke-9 jari kaki dan sayap terlihat mulai terbentuk. Pembentukan bulu juga dimulai. Pada masa-masa ini, embrio sudah seperti ayam, dan mulutnya terlihat mulai membuka.
  8. Hari ke-10 dan ke-11 paruh mulai mengeras, jari-jari kaki sudah mulai sepenuhnya terpisah, dan pori-pori kulit mulai tampak.
  9. Hari ke-12 Jari-jari kaki sudah terbentuk sepenuhnya dan bulu pertama mulai muncul.
  10. Hari ke-13 dan ke-14 sisik dan kuku jari kaki mulai terbentuk. Tubuh pun sudah sepenuhnya ditumbuhi bulu. Pada hari ke-14, embrio berputar sehingga kepalanya tepat berada di bagian tumpulnya telur.
  11. Hari ke-15 jaringan usus mulai terbentuk di dalam badan embrio.
  12. Hari ke-16 dan ke-17 sisik kaki, kuku, dan paruh semakin mengeras. Tubuh embrio sudah sepenuhnya tertutupi bulu yang tumbuh. Putih telur sudah tidak ada lagi, dan kuning telur meningkat fungsinya sebagai bahan makanan yang sangat penting bagi embrio. Selain itu, paruh sudah mengarah ke rongga kantung udara, selaput cairan mulai berkurang, dan embrio mulai melakukan persiapan untuk bernafas.
  13. Hari ke-18 dan ke-19 pertumbuhan embrio sudah mendekati sempurna. Embrio juga semakin besar sehingga sudah memenuhi seluruh rongga telur kecuali rongga kantung udara.
  14. Hari ke-20 kuning telur sudah masuk sepenuhnya ke dalam tubuh embrio. Embrio yang hampir menjadi anak ayam ini menembus selaput cairan, dan mulai bernafas menggunakan udara di kantung udara.
  15. Hari ke-21 Anak ayam menembus lapisan kulit telur dan menetas.


Telur tetas[sunting | sunting sumber]

Telur ayam arab yang mempunyai kualitas baik

Telur tetas adalah telur yang telah dibuahi yaitu telah terjadi pertemuan anatara sperma dan ovum. Telur yang dihasilkan tidak semua dibuahi, karena tanpa ditunasi oleh seekor pejantan sekalipun maka betina tersebut dapat menghasilkan telur. Oleh karena itu, untuk menghasilkan telur tetas harus ada perkawinan antara jantan dan betina.

Agar daya tetas telur tinggi dan penetasan telur ayam buras dapat berjalan baik, maka hendaknya dipilih telur tetas yang bermutu tinggi. Beberapa hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan telur dengan daya tetas tinggi yaitu : seleksi telur tetas, pembersihan telur tetas dan penyimpanan telur[5]. Seleksi telur tetas yang baik dapat dipilih berdasarkan :

  1. Beratnya seragam, telur yang seragam diharapkan akan menghasilkan anak-anak yang seragam beratnya, sehingga memudahkan dalam pemeliharaan. Untuk telur ayam buras, berat idealnya 34-40 g.
  2. Bentuk, yaitu bentuk telur harus oval, normal dengan ukuran lebar 3/4 kali panjang.
  3. Kerabang, halus, rata dan tidak retak.
  4. Umur telur, diupayakan umur telur tidak lebih dari 1 minggu.
  5. Isi telur, untuk mengetahui isi telur dapat dilihat dengan peneropongan, telur yang normal tidak terdapat bintik merah, letak kuning telur di tengah-tengah.
  6. Memenuhi persyaratan genetis, yaitu telur berasal dari induk yang telah dikawini pejantan dan masing-masing merupakan bibit unggul.

Telur ayam yang baik yaitu[6]:

  1. Berat telur harus berada pada kisaran normal, yaitu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil
  2. Umur telur tetas tidak boleh lebih dari 5 hari dan telur sebaiknya disimpan pada suhu 15-17° C
  3. Kulit atau cangkang telur bebas dari kotoran, baik berupa feses maupun sisa-sisa pakan yang masih menempel
  4. Indeks telur normal, yaitu berkisar antara 70-80%.

Bobot Tetas[sunting | sunting sumber]

Ayam arab yang baru saja menetas (DOC)

Bobot tetas merupakan istilah yang menerangkan tentang bobot tetas dari telur yang menetas, artinya diperoleh dari penimbangan bobot anak yang menetas. Bobot tetas dipengaruhi oleh bobot telur, dimana terdapat hubungan yang positif antara bobot telur dan bobot tetas menyatakan bahwa bobot tetas berkorelasi dengan bobot telur, semakin tinggi bobot telur yang ditetaskan maka semakin tinggi pula bobot tetasnya[7] [8].

Secara umum bobot tetas adalah sekitar 70% dari bobot telur tetas, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan pada masing – masing komoditi unggas karena perbedaan kondisi telur. Berat rata-rata telur ayam buras adalah 43 g/butir sehingga berat tetasnya sekitar 30,1 g [9].

Faktor-faktor yang berpengaruh pada bobot telur adalah sebagai berikut[10] :

  1. Originalitas : variasi induk dari strain dan genetik ayam
  2. Umur ayam : berat telur meningkat selaras dengan umur ayam dan mencapai nilai proporsional terhadap berat badan ayam.
  3. Berat ayam : ayam tipe besar memproduksi telur lebih berat dibandingkan dengan ayam tipe kecil.
  4. Molting : molting (rontok bulu) terjadi setelah satu tahun produksi

Frekuensi Pemutaran Pada Saat Penyimpanan[sunting | sunting sumber]

Hal yang terbaik untuk memperlakukan telur tetas adalah langsung memasukkannya kedalam inkubator. Tetapi tentunya cara ini tidaklah mudah untuk dilakukan, karena itu sangatlah penting untuk dilakukan proses penyimpanan telur. Keadaan yang sempurna untuk proses penyimpanan adalah 60o F dan kelembaban udara 75 %. Tetapi tidak dalam lemari es atau tempat lain yang mempunyai suhu dibawah 40oF karena akan menurunkan daya tetasnya. Suhu yang rendah memperlambat perkembangan embrio sampai telur siap untuk dimasukkan kedalam ruang inkubator, sedangkan kelembaban yang tinggi akan mengurangi kelembaban didalam telur karena penguapan[11]. Untuk akurasi pengukuran maka diperlukan peralatan termometer (untuk suhu) dan higrometer (untuk kelembaban).

Kemampuan daya tetas telur fertil masih baik jika penyimpanan sekitar 7 hari dan maksimum 10 hari. Selebihnya maka daya tetas telur akan menurun dan setelah 3 minggu maka telur tidak ada yang bisa menetas atau daya tetasnya 0%. Syarat lain yang harus dilakukan selain kondisi suhu dan kelembaban pada saat penyimpanan sementara sebelum dimasukkan kedalam inkubator adalah telur telur tersebut setelah 3 atau 4 hari disimpan harus diputar pagi dan sore, hal ini penting untuk mencegah kuning telur di dalam telur tersebut tidak sampai menyentuh kulit telur dan merusak embrionya[12].

Fertilitas dan Daya Tetas[sunting | sunting sumber]

Ada dua istilah penting dalam proses penetasan telur, pertama daya fertilitas dan yang ke dua daya tetas. Fertilitas adalah persentase jumlah telur yang fertil (dibuahi, dikawini) dari jumlah telur yang kali pertama masuk mesin tetas. Semakin tinggi angka yang diperoleh maka semakin baik pula kemungkinan daya tetasnya. Fertilasi diartikan sebagai berhasilnya satu spermatozoa (dari ayam jago) bertemu hidup-hidup dengan sel telur (dari ayam babon) yang kemudian kedua sel tersebut akan berkembang menjadi suatu janin atau embrio sebagai bentuk sosok kehidupan individu baru anak ayam [13].

Tidak semua telur yang dieramkan dapat dibuahi, tetapi ada sebagian dari telur tersebut kosong atau mati. Untuk membedakannya dapat dilakukan dengan cara Candling (menaruh telur tersebut diatas lampu dan dilihat) minimal setelah 72 jam telur tersebut dieramkan. Telur yang fertil mempunyai sifat yang gelap pada yolk(putih telur) dengan beberapa pembuluh darah yang terpancar dari spot tersebut, lebih besar spot, lebih nyata embrio didalamnya. Apabila spot muncul tanpa disertai pembuluh darah dan disertai cincin darah yang mengelilinginya, kemungkinan sel itu mati [14].

Pada perusahaan besar candling biasanya dilakukan pada hari ke 18, bersamaan dengan memindahkan telur dari setter ke hatcher. Hal ini dimaksudkan untuk menghemat tenaga kerja dan tidak mengganggu telur yang sedang dieramkan, karena untuk melakukan candling dalam jumlah besar memerlukan waktu yang cukup lama yang berakibat akan menurunkan daya tetas telur yang lain[15].

Hal-hal yang mempengaruhi daya fertilitas antara lain asal telur (hasil dari perkawinan atau tidak), ransum induk, umur induk, kesehatan induk, rasio jantan dan betina, umur telur, dan kebersihan telur[16]. Poultry Health And Management. Third edition. Blackwell Science. University Cambrige. Cambridge.

Daya tetas adalah persentase jumlah telur yang menetas dari jumlah telur yang fertil. Daya tetas telur merupakan indikator banyaknya anak ayam yang menetas dari sejumlah telur yang dibuahi. Ayam buras dikatakan mempunyai produktivitas yang baik jika mampu memproduksi telur antara 8-12 butir/periode bertelur, fertilitasnya mencapai 79,2%, dengan daya tetas 66,6% serta bobot DOC 33,35 g dan memiliki tingkat kematian sekitar 28-34% [17].

Faktor yang mempengaruhi daya tetas antara lain faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari sifat turun menurun (genetik), perkawinan, makanan, perkandangan (suhu dan kelembaban) dan penyakit, sedangkan faktor eksternal yaitu iklim, kesalahan teknis pada saat penyimpanan, pemilihan telur dan mesin tetas.

Dead Embryo[sunting | sunting sumber]

Embrio ayam arab

Dead Embryo adalah embrio yang mati sebelum menetas. Pengamatan dead embryo dilakukan dengan cara candling (peneropongan), tanda-tanda telur yang mati antara lain warna lebih terang, serabut-serabut yang tidak bercabang, tampak gumpalan hitam yang menempel pada dinding kerabang serta tidak menunjukkan pergerakan [18]

Perkembangan embrio dimulai kurang dari 3 jam setelah fertilisasi dan berakhir pada saat telur dikeluarkan dari tubuh induk. Perkembangan selanjutnya akan terjadi jika berada pada tempat dengan suhu penetasan tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan embrio selama penetasan antara lain : suhu, komposisi udara dalam mesin tetas (kelembaban, oksigen dan karbondioksida, posisi telur dan sanitasi)[19].

Daya hidup embrio menjalani masa kritis pada awal dan akhir menjelang telur menetas. Pada dua masa ini tingkat kematian embrio cukup tinggi. Faktor-faktor yang menyebabkan daya hidup embrio menurun antara lain karena pengaruh inbreeding, defisiensi zat makanan, penyakit, lama penyimpanan, posisi dan inkubasi[20].


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ayam Arab "Ras atau Buras?". 
  2. ^ Sudjarwo, E. 1998. Penetasan. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang
  3. ^ Sudarmono. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius. Yogyakarta
  4. ^ Anonymous, 2009
  5. ^ Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius
  6. ^ blogspot.com "Keunggulan Ayam Arab". 
  7. ^ Sudjarwo, E. 1998. Penetasan. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
  8. ^ Sudaryani. T, 1996. Kualitas Telur. Penerbit P.T Penebar Swadaya, Jakarta
  9. ^ Anonymous, 2009
  10. ^ Yuwanta, T. 2004. Dasar Ternak Unggas. Kanisius
  11. ^ Jull, M. A. 1979. Poultry Husbandry. Third Edition. Tata Mcgrow Hill publishing Company inc. New York
  12. ^ Anonymous, 2007
  13. ^ http:// www. Poultry Indonesia.com
  14. ^ Rasyaf, M. 1989. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya. Jakarta
  15. ^ Wiharto, 1986. Petunjuk Beternak Ayam. Lembaga Penelitian. Universitas Brawijaya, Malang
  16. ^ David, S. 1995. Poultry Health And Management. Third edition. Blackwell Science. University Cambrige. Cambridge
  17. ^ bptkaltim@litbang.deptan.go.id
  18. ^ Wilson, J.L. 1992. Relation of Hen Egg and Egg Sequence Position With Fertility, Hachability, Viability, and Pre Incubation Embryonic Development in Broiler Breeder. Ekstension poultry department university ogeorgia. Georgia
  19. ^ Blakely, J. dan Bade. H. D, 1992. Ilmu Peternakan. Terjemahan, Edisi Empat, Gajah Mada University Press, Yojakarta
  20. ^ David, S. 1995. Poultry Health And Management. Third edition. Blackwell Science. University Cambrige. Cambridge

Paranala[sunting | sunting sumber]