Brondong, Bruno, Purworejo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Brondong
Desa
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Purworejo
Kecamatan Bruno
Pemerintahan
 • Kepala desa LURAH
Kodepos 54261
Luas ... km²
Jumlah penduduk ... jiwa
Kepadatan ... jiwa/km²

Brondong adalah desa di kecamatan Bruno, Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia. Letaknya berada sekira 1,5 Km di barat laut dari pusat kecamatan Bruno dan 34 Km berkendara dari pusat Kabupaten Purworejo. Pusat pemerintahan Desa Brondong berada di sub-Dusun Krajan, Dusun Blimbing. Desa Brondong terletak di wilayah utara Kabupaten Purworejo. Desa Brondong berupa pegunungan dengan ketinggian antara 200-1.000 meter diatas permukaan air laut. Suhu udara pada siang hari berkisar antara 22-32 derajat Celcius. Pada bulan Juli sampai Agustus suhu bisa turun menjadi 19 derajat celcius. Tempat yang cocok untuk menikmati panorama Desa Brondong yang indah terletak dipuncak Gunung Cuit.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Desa Kambangan dan Desa Watuduwur
Selatan Desa Brunorejo dan Desa Cepedak
Barat Desa Cepedak dan Desa Giyombong
Timur Desa Watuduwur, Desa Gowong dan Desa Brunorejo

Pembagian Wilayah[sunting | sunting sumber]

Desa Brondong terbagi menjadi 9 Dusun dan beberapa sub-dusun disekitarnya:

  1. Dusun Brondong
  2. Dusun Cuit
  3. Dusun Dukuh Lor
  4. Dusun Jurutengah
  5. Dusun Kamijara
  6. Dusun Pecirah
  7. Dusun Sembir
  8. Dusun Sucen
  9. Dusun Sudatan

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut dari cerita, nama Desa Brondong terlahir tak luput dari sejarah zaman Indonesia kala masih di duduki oleh Belanda. Saat itu ada pejuang yang singgah di desa tersebut setelah lari dari kejaran dan peperangan melawan tentara Belanda. Kemudian pejuang tersebut melepaskan lelah dan mandi di sebuah sungai di desa ini dan menaruh senjata dan pelurunya di atas batu. Karna suasana terik, batu tempat menaruh senjata dan peluru menjadi panas akibat panas matahari dan memicu ledakan. Pejuang perang tersebut kaget dan bingung sembari mengucapkan lho kok mbrondong?. Dari kejadin tersebut, sungai yang menjadi lokasi kejadian diberi nama Sungai Brondong dari kata Mbrondong dan kemudian menjadi nama desa. Sampai saat ini tidak ada yang tau nama pasti dari pejuang tersebut. Walaupun sampai saat ini masih tersisa makamnya di pinggir Sungai Brondong. Konon jaman dulu makam tersebut terletak di tengah sungai, tapi sekarang ada di pinggir sungai di Dukuh Brondong Duwur. Karenanya sampai sekarang masyarakat setempat mengenal nya dengan Mbah Kyai Brondong[butuh rujukan].

Geografi[sunting | sunting sumber]

Desa Brondong terletak di wilayah utara Kabupaten Purworejo. Topografi wilayah Desa Brondong berupa pegunungan dengan ketinggian antara 200-1.000 meter diatas permukaan air laut terutama diwilayah utara yang merupakan batas tepian dataran tinggi Desa Giyombong. Dibagian ini merupakan lereng pegunungan dengan kemiringan lahan curam hingga sangat curam tepatnya diwilayah Dusun Ciut dan Pecirah. Disini terdapat Gunung Gambarjaran (970 m), Gunung Cuit (838 m) dan Gunung Kembang (934 m). Desa ini dibelah oleh Sungai Brondong yang berhulu di Pegunungan Desa Giyombong dan juga terdapat Sungai Kaliwadas. Dua sungai tersebut menjadi sumber air bagi masyarakat stempat, untuk pengairan sawah, kolam, bahkan untuk persediaan air bersih. Desa Brondong beriklim tropis dengan dua musim dalam satu tahunnya yaitu musim kemarau dan penghujan, dengan suhu udara pada siang hari berkisar antara 22 - 31 derajat Celcius. Pada bulan Juli sampai Agustus suhu bisa turun menjadi 19 derajat celcius.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Mayoritas pekerjaan penduduk Desa Brondong adalah petani, buruh dan pedagang. Penduduk usia produktif umumnya merantau karena untuk bertani merasa kurang menjajikan. Karena letak geografis berupa pegunungan hasil pertanian Desa Brondong terbilang tidak menentu. Hanya padi sawah tadah hujan yang menjadi andalan masyarakat untuk bertani di lahan kering. Karena kemajuan zaman, tamanamn seperti singkong tidak lagi banyak di jumpai. Berbeda di Tahun 1990-an yang masih banyak tanaman cengkih, singkong, ubi, jagung, kapulaga dll. Sekarang tlahan kering banyak yang ditanami kayu keras seperti akasia, alba, jati karna lebih menjanjikan walaupun umur panen kayu terbilang cukup lama.