Bran Stark

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bran Stark
Tokoh A Song of Ice and Fire
Tokoh Game of Thrones
Bran Stark - Isaac Hempstead-Wright.jpeg
Isaac Hempstead Wright sebagai Bran Stark
Penampilan
perdana
Penampilan
terakhir
PenciptaGeorge R. R. Martin
PemeranIsaac Hempstead Wright
Informasi
Alias
  • Novel:
  • The Winged Wolf
  • Televisi:
  • Little Lord
  • Three-Eyed Raven
  • Bran the Broken
GenderLaki-laki
Gelar
  • Prince of Winterfell
  • Televisi:
  • King of the Andals and the First Men
  • Lord of the Six Kingdoms
  • Protector of the Realm
KeluargaHouse Stark
Kerabat

Brandon Stark atau yang biasa disebut Bran adalah karakter fiksi dalam seri novel fantasi epik A Song of Ice and Fire, yang ditulis oleh pengarang Amerika, George R. R. Martin.

Muncul pertama kali pada tahun 1996 dalam novel A Game of Thrones. Bran adalah putra kedua sekaligus anak keempat dari pasangan Lord Eddard dan Lady Catelyn Stark dari Winterfell, sebuah ibu kota kuno di Utara dari benua fiksi Westeros. Dia kembali muncul dalam A Clash of Kings (1998) dan A Storm of Swords (2000). Dia merupakan salah satu karakter terkenal yang tidak termasuk dalam novel keempat A Feast for Crows (2005). Bran kembali muncul dalam novel kelima yang berjudul A Dance with Dragons (2011).

Sedari kecil, Bran bermimpi menjadi seorang kesatria. Namun, cita-citanya tak terwujud karena mengalami kelumpuhan yang disebabkan oleh Jaime Lannister. Bran melihat perbuatan inses yang dilakukan Jaime Lannister bersama saudari kembarnya, Cersei Lannister. Bran didorong sampai jatuh dari ketinggian oleh Jaime. Akibat peristiwa tersebut, Bran terbaring koma. Dia akhirnya terbangun setelah mengalami koma berbulan-bulan. Dia kemudian diganggu oleh mimpi-mimpi tentang sosok misterius yang memanggilnya untuk melakukan perjalanan ke utara melewati Tembok Besar.

Bab penting antara Bran dengan Jaime dan Cersei merupakan sesuatu yang "mengikat" banyak pembaca di awal novel pertama. Hal itu dikatakan Martin kepada Rolling Stone pada tahun 2014.[1]

Aktor Inggris Isaac Hempstead Wright berperan sebagai Bran dalam adaptasi televisi di saluran HBO.[2] Watak Bran di musim-musim terakhir, termasuk hubungannya dengan White Walkers dan Night King telah menghasilkan banyak teori dalam fandom serta minat kritis yang signifikan.

Gambaran karakter[sunting | sunting sumber]

Karakter POV termuda dalam novel yaitu Bran, merupakan karakter di bab pertama, diciptakan oleh Martin sebagai pahlawan muda dalam seri tersebut. Mikal Gilmore dari Rolling Stone pada tahun 2014 mencatat bahwa momen dalam A Game of Thrones saat Jaime Lannister mendorong Bran yang berkemungkinan bisa menyebabkan kematiannya dapat dikatakan "mengejutkanmu".[1] Martin berkomentar dalam wawancara:

Banyak orang memberitahuku bahwa itu adalah momen yang mengejutkan, mereka berkata, "Baiklah, ini bukan cerita yang sama yang telah aku baca sejuta kali." Bran merupakan karakter POV yang pertama. Dalam kepala mereka, orang-orang berpikir bahwa Bran adalah pahlawan dalam cerita ini. Dia adalah versi muda dari Raja Arthur. Kita akan mengikuti anak laki-laki ini—dan kemudian, bum: Kamu tidak mengharapkan sesuatu seperti itu terjadi padanya. Jadi, itu berhasil [tertawa].[1]

Pada tahun 2000, Martin menyebut Bran adalah karakter yang paling sulit untuk ditulis:

Pertama, dia adalah karakter POV termuda, dan anak-anak sulit untuk ditulis. Aku pikir semakin muda mereka, semakin sulit untuk menulisnya. Dia juga karakter yang paling terlibat dalam dunia sihir. Penanganan sihir, ilmu sihir dan seluruh aspek supranatural dari buku ini adalah sesuatu yang kucoba untuk hati-hati dalam menulisnya. Jadi, aku harus memperhatikannya dengan cukup tajam. Semua itu membuat bab-bab tentang Bran sulit untuk ditulis.[3]

Booklist merujuk Bran sebagai sebuah karakter mulia pada tahun 1999.[4] Ulasan Publishers Weekly dari A Game of Thrones mencatat, sangat menarik menyaksikan karakter-karakter Martin dewasa dan tumbuh, terutama anak-anak Stark, yang berdiri di tengah cerita." [5]

Penggambaran[sunting | sunting sumber]

Bran berusia tujuh tahun pada awal kemunculannya di A Game of Thrones (1996). Dia adalah anak keempat dan putra kedua Eddard "Ned" Stark dan istrinya Lady Catelyn. Dia memiliki lima saudara, antara lain: kakak laki-laki Robb, dua kakak perempuan Sansa dan Arya, adik laki-laki bernama Rickon, dan kakak laki-laki tidak sah, Jon Snow. Bran selalu ditemani oleh Direwolf-nya yang ia beri nama Summer. Setelah kelumpuhannya, Bran selalu dibantu oleh Hodor, seorang pengurus istal di House Stark. Dalam perjalanannya ke Utara, ia bertemu dengan Reed bersaudara, Meera dan Jojen.

Martin menggambarkan Bran sebagai anak yang disukai oleh ibunya, dikarenakan memiliki rambut pirang tebal dan mata biru seorang Tully.[6] Menurut Martin, Bran adalah seorang anak laki-laki berkemauan keras, tetapi manis dan bijaksana, yang sangat disukai semua orang di Winterfell. Dia menikmati memanjat dan menjelajahi dinding-dinding dan benteng-benteng kastel;[7][8] Dia juga seorang yang patuh dan berpikiran keras.

Dengan mimpinya menjadi seorang kesatria hancur karena kelumpuhannya di A Game of Thrones, sebuah tugas memaksa Bran untuk mengatasi keterbatasannya dan merangkul kemampuan barunya.[9] Dia secara bertahap menerima penglihatan-penglihatan yang tampaknya bersifat kenabian (disebut "greensight") dan kemampuannya merasuki Summer (yang menandainya sebagai jenis "skinchanger" yang dikenal sebagai warg) menunjukkan kedewasaannya yang semakin bertambah dan nilainya di luar kehilangan kakinya. Dia juga berhasil memasuki pikiran Hodor, dan kemudian mengubah kulit menjadi burung gagak dan bahkan pohon weirwood di bawah bimbingan dari Three-Eyed Crow.

Jalan cerita[sunting | sunting sumber]

A coat of arms showing a gray wolf on a white field.
Lambang House Stark

A Game of Thrones[sunting | sunting sumber]

Dalam A Game of Thrones (1996), Bran tidak sengaja melihat Ratu Cersei Lannister dan saudara lelakinya Jaime berhubungan seks; yang mengakibatkan dirinya didorong dari jendela oleh Jaime demi terjaganya rahasia inses tersebut, tetapi Bran bertahan dalam koma.[8] Sementara Bran dalam keadaan koma, sebuah upaya dilakukan untuk mencelakainya hingga mati,[10] akan tetapi hal itu dapat dicegah oleh Catelyn. Ia menahan si pembunuh cukup lama dan akhirnya Direwolf Bran, Summer, mencelakai si pembunuh hingga tewas. Tak masuk akal, Bran bermimpi jatuh dari menara dan gagak bermata tiga menawarkan untuk mengajarinya terbang. Dengan bimbingan burung gagak, Bran bangun; tetapi karena kakinya lumpuh, dia tidak bisa berjalan. Setelah itu ia bergantung pada Hodor, si pengurus istal, dan baju zirah yang dirancang oleh Tyrion Lannister agar dapat bergerak. Ketika Robb berkuda ke selatan untuk membebaskan Ned di King's Landing, Bran menjadi penjabat sementara sebagai Lord of Winterfell.

A Clash of Kings[sunting | sunting sumber]

Pada novel A Clash of Kings (1998), diceritakan bahwa Robb Stark dinobatkan menjadi raja untuk wilayah Utara. Sedangkan Bran, sebagai pewaris Robb, memerintah kastel karena ketidakhadiran saudaranya.[9] Ketika Theon Greyjoy mengkhianati House Stark dan merebut Winterfell, Bran dan Rickon melarikan diri, dibantu oleh Osha, si manusia liar. Untuk menyembunyikan kegagalannya, Theon membunuh dua anak lain dan menyatakan mereka sebagai Bran dan Rickon. Theon sendiri dikhianati oleh Ramsay Snow, anak haram Roose Bolton.

Setelah bersembunyi di reruntuhan Winterfell, Bran dan teman-temannya keluar. Mereka mendapati kastel dalam reruntuhan. Mereka mendatangi Maester Luwin yang terluka parah, yang menyarankan agar pihak yang bepergian untuk berpisah. Osha membawa Rickon ke arah White Harbor, sementara Bran, Hodor, Meera, dan Jojen Reed berangkat ke utara untuk mencari gagak bermata tiga. Sementara itu, Bran perlahan-lahan menerima kejelasan dari mimpinya, dan kemampuannya untuk secara psikis merasuki Summer, yang membuatnya menjadi 'skin-changer' yang dikenal sebagai warg.

A Storm of Swords[sunting | sunting sumber]

Bran, Hodor, Meera dan Jojen melakukan perjalanan ke utara menuju Tembok Besar untuk mencari gagak bermata tiga.

A Dance with Dragons[sunting | sunting sumber]

Pada novel A Dance with Dragons (2011), Bran, Hodor, Meera dan Jojen bergabung dengan 'Coldhands' yang misterius dan seorang Children of The Forest yang bernama Leaf. Mereka membawa rombongan tersebut ke Three-Eyed Raven (manusia berkemampuan telepati), yang kemudian melatih Bran untuk mencapai kewaskitaan .

Adaptasi televisi[sunting | sunting sumber]

Isaac Hempstead Wright memainkan peran Bran Stark dalam serial televisi .

Bran Stark dimainkan oleh Isaac Hempstead Wright dalam adaptasi televisi dari seri buku.

Jalan cerita[sunting | sunting sumber]

Brandon "Bran" Stark adalah anak keempat dari pasangan Eddard dan Catelyn Stark. Dia diberi nama seperti pamannya yang sudah meninggal, Brandon.

Musim pertama[sunting | sunting sumber]

Bran menerima satu dari sekian banyak bayi direwolf yang diberikan kepada anak-anak Stark dan menamainya Summer. Selama kunjungan raja ke Winterfell, Bran tidak sengaja melihat Sang Ratu, Cersei, melakukan hubungan seks dengan saudaranya, Jaime, yang mendorongnya dari jendela. Sementara ia tidak sadar, Summer membunuh seorang pria yang dikirim untuk membunuhnya. Setelah bangun dari koma, Bran tidak dapat mengingat kejadian-kejadian sebelum ia jatuh dan menyadari bahwa ia lumpuh dari pinggang ke bawah. Bran terpaksa dibantu oleh Hodor ke mana pun ia pergi. Pelan-pelan, ia menyadari bahwa ia telah memperoleh kemampuan untuk memasuki kesadaran Summer, hal itu menjadikannya sebagai seorang warg atau seorang "skinchanger". Setelah kakaknya, Robb, dinobatkan sebagai Raja di Utara, Bran menjadi pewaris Robb dan Lord of Winterfell.

Musim kedua[sunting | sunting sumber]

Setelah Theon Greyjoy merebut Winterfell, Osha membantu Bran dan Rickon—adiknya—untuk bersembunyi. Untuk memperkuat klaimnya terhadap Winterfell, Theon membunuh dua anak yatim dan membakarnya, kemudian mengakuinya sebagai mayat Bran dan Rickon. Setelah pengkhianatan Theon dan pengikutnya, Bran bersama dengan Rickon, Hodor, Osha, dan dua direwolf, mereka menuju ke utara untuk menemui kakaknya, Jon Snow, demi mendapatkan perlindungan.

Musim ketiga[sunting | sunting sumber]

Bran dan kelompoknya bertemu dengan Jojen dan Meera Reed, dua bersaudara yang membantu dalam pencarian mereka. Jojen membagikan "penglihatan" pada Bran dan mengajarinya tentang penglihatan-penglihatan tersebut. Setelah dekat dengan Tembok Besar, Osha pergi dengan Rickon (demi keselamatan anak itu). Sementara itu, Bran bersikeras tetap mengikuti visinya di luar Tembok Besar. Bran dan kelompoknya bertemu dengan Sam dan Gilly, yang mencoba membujuk Bran agar tidak pergi ke luar Tembok Besar. Namun, ia menolaknya dan berkata bahwa itu telah menjadi takdirnya.

Musim keempat[sunting | sunting sumber]

Selama perjalanan mereka di luar Tembok Besar, Bran dan kelompoknya menemukan Craster's Keep, di sana mereka ditangkap dan ditahan oleh pemberontak Night's Watch yang dipimpin oleh Karl Tanner. Night's Watch yang dipimpin oleh Jon akhirnya bertemu di Craster's Keep, tetapi Locke, seorang agen Roose Bolton, yang berpura-pura menjadi anggota baru, menemukan Bran terlebih dahulu dan membawanya sebagai sandera. Bran merasuki Hodor, ia mencekik dan memutar leher Locke hingga tewas. Kelompok itu melanjutkan perjalanan tanpa memberitahu Jon, yang menurut Jojen akan menghentikan mereka. Bran akhirnya mencapai jantung para pohon tetapi terhalang oleh para wight (pengawal Night King) di luar pintu masuk. Jojen terbunuh dalam serangan itu, tetapi Children of the Forest memimpin Bran dan kelompoknya dengan aman ke gua ajaib, untuk bertemu dengan Three-Eyed Raven, yang menyatakan bahwa Bran tidak akan berjalan lagi tetapi akan terbang.

Musim keenam[sunting | sunting sumber]

Sebagai bagian dari pelatihannya, Bran ditunjukkan beberapa visi masa lalu, termasuk ketika Ned Stark dan Howland Reed menghadapi Ser Arthur Dayne dan Ser Gerold Hightower di Tower of Joy. Bran melihat bagaimana Children of the Forest menancapkan dragonglass pada salah satu dari First Men dalam sebuah ritual untuk menciptakan Night King, White Walker pertama, sebagai pertahanan melawan First Men lainnya. Bagaimanapun, Three Eyed Raven selalu tanggap untuk menarik Bran dari melihat visi-visi tersebut, memperingatinya bahwa ia mungkin saja bisa terjebak di dalamnya jika terlalu lama tinggal. Bosan dengan kemajuannya yang lambat, Bran memasuki visi miliknya sendiri dan menyaksikan Night King di masa sekarang, yang melihat Bran dan menandainya, hal itu membuat gua Three-Eyed Raven rentan terhadap sihir White Walkers.

Three-Eyed Raven memasuki pikiran Bran ke dalam visi lain di masa lalu Winterfell untuk memberikan semua pengetahuannya, tetapi sebelum proses transfer selesai, para White Walker menyerang gua, membunuh Three-Eyed Raven, Summer, dan Children of the Forest. Bran yang masih terperangkap dalam visi tersebut, mencoba memasuki Hodor yang lebih muda (bernama Wylis). Dia dan Meera melarikan diri ketika Hodor membawa tubuhnya yang tidak sadar keluar dari gua. Meera membawa Bran ke dalam hutan, sementara Hodor mengorbankan nyawanya ketika menahan pintu gua melawan pasukan wight (mayat hidup) sampai mereka mengalahkannya. Bran menyaksikan bagaimana proses memasuki pikiran (warging) secara tidak sengaja menghubungkan masa lalu dan pikiran Hodor saat ini, hal tersebut menyebabkan kejang otak pada Wylis muda dan menyebabkannya mengulangi perintah Meera untuk "Hold the door (memegang pintu}" berulang-ulang sampai dia hanya bisa mencerca kata "Hodor".

Ketika pasukan mayat hidup akan menangkap mereka, Bran dan Meera diselamatkan oleh paman Bran, yang bernama Benjen Stark, yang telah dibunuh oleh para White Walker beberapa tahun sebelumnya tetapi dihidupkan kembali oleh Children of the Forest. Benjen membisikkan keduanya ke tempat yang aman dan menyarankan agar Bran sekarang menjadi Three-Eyed Raven dan harus belajar mengendalikan kekuatannya sebelum Night King menyerang Tujuh Kerajaan. Benjen meninggalkan mereka di pohon Weirwood di Hutan Berhantu, karena sihirnya mencegah orang mati melewatinya. Bran menyentuh pohon Weirwood dan menyaksikan sisa visi Ned Stark di Tower of Joy. Dia menemukan bahwa Lyanna Stark meninggal saat melahirkan anak Rhaegar Targaryen, Aegon, yang ditemukan dan dibesarkan oleh Ned sebagai Jon Snow atas permintaan Lyanna yang sekarat.

Musim ketujuh[sunting | sunting sumber]

Bran kembali ke Winterfell yang telah dibangun dan dihuni kembali oleh keluarga Stark yang tersisa. Jon Snow melakukan perjalanan ke Dragonstone untuk bertemu dengan Daenerys Targaryen. Setelah itu ia akhirnya bersatu kembali dengan Sansa dan Arya di Winterfell, bersama-sama mengenang segala kesengsaraan yang mereka alami pasca eksekusi Ned. Littlefinger memberi Bran sebuah belati baja Valyrian (yang dulu digunakan oleh calon pembunuh Bran di musim pertama), yang kemudian ia berikan kepada Arya. Meera meninggalkan Winterfell untuk kembali ke Greywater Watch; Ketidakpedulian Bran terhadap kepergiannya membuatnya menyadari bahwa Bran "sudah mati" di gua Three-Eyed Raven. Karena alasan itu, Bran menyendiri dari saudara-saudaranya. Dia menggunakan kemampuan "melihatnya" untuk menemukan pengkhianatan Littlefinger kepada Ned. Ketika Sansa mengkonfrontasi Littlefinger tentang pengkhianatannya terhadap House Stark, Bran menguatkan tuduhan itu, dan Arya mengeksekusi Littlefinger atas perintah Sansa.

Samwell Tarly tiba di Winterfell dan datang untuk mengunjungi Bran. Bran memberi tahu Sam bahwa Jon adalah anak haram Rhaegar dan Lyanna. Namun, Sam menyebutkan catatan seorang mantan High Septon yang berisi pembatalan pernikahan Rhaegar dengan Elia Martell, sehingga Rhaegar bisa menikahi Lyanna. Bran menggunakan penglihatannya untuk mengkonfirmasi bahwa pernikahan itu terjadi, dan meninjau kembali visi Tower of Joy—menemukan bahwa nama asli Jon adalah Aegon Targaryen. Karena hal tersebut, Bran menyatakan bahwa Jon adalah pewaris sah Iron Throne.

  1. ^ a b c Gilmore, Mikal (April 23, 2014). "George R.R. Martin: The Rolling Stone Interview". Rolling Stone. Diakses tanggal November 18, 2014. 
  2. ^ "Game of Thrones Cast and Crew: Bran Stark played by Isaac Hempstead Wright". HBO. Diakses tanggal November 15, 2014. 
  3. ^ Robinson, Tasha (December 11, 2000). "Interview: George R.R. Martin continues to sing a magical tale of ice and fire". Science Fiction Weekly. scifi.com. 6, No. 50 (190). Diarsipkan dari versi asli tanggal February 23, 2002. Diakses tanggal February 2, 2012. 
  4. ^ Johnson, Roberta (January 1999). "Reviews: A Clash of Kings". Booklist. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-07-27. Diakses tanggal July 25, 2014. 
  5. ^ "Fiction review: A Game of Thrones". Publishers Weekly. July 29, 1996. Diakses tanggal August 5, 2014. 
  6. ^ "Game of Thrones Chapter 7". Westeros.org. 
  7. ^ "Game of Thrones Chapter 6". Westeros.org. 
  8. ^ a b "Game of Thrones Chapter 8". Westeros.org. 
  9. ^ a b "A Clash of Kings: Analysis of Major Characters (Bran Stark)". SparkNotes. Diakses tanggal November 18, 2014. 
  10. ^ "Game of Thrones Chapter 14". Westeros.org.