Lompat ke isi

Bokkoms

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bokkoms (atau bokkems) adalah ikan mullet utuh yang diasinkan dan dikeringkan (lebih spesifiknya mullet selatan, Chelon richardsonii, sejenis ikan yang umum dikenal di Tanjung Barat, Afrika Selatan, sebagai "harders"),[1][2] dan merupakan salah satu makanan khas yang terkenal di wilayah Pantai Barat, Afrika Selatan. Ikan asin ini dikeringkan di bawah sinar matahari dan angin, dan dikonsumsi setelah kulitnya dikupas. Dalam beberapa kasus, ikan ini juga diasapi. Kadang-kadang, bokkoms disebut sebagai "biltong ikan".

Kata bokkom berasal dari kata Belanda bokkem, yang merupakan variasi dari kata bokking (atau buckinc dalam bahasa Belanda Tengah). Kata bokking sendiri berasal dari kata bok (kata Belanda untuk kambing jantan) dan merujuk pada kenyataan bahwa bokkoms mengingatkan pada kambing, karena bokkoms memiliki bentuk yang mirip dengan tanduk kambing, sekeras tanduk kambing, dan berbau sama seperti tanduk kambing (kambing memiliki kelenjar aroma di belakang tanduk yang menimbulkan bau tersebut).[3] Catatan resmi pertama penggunaan kata ini dalam bahasa Afrikaans di Afrika Selatan tercatat dalam Patriotwoordeboek pada tahun 1902 dalam bentuk bokkom.

Sejak tahun 1658, hanya enam tahun setelah pemukiman permanen pertama orang Eropa di Tanjung Harapan, empat burgher merdeka diberi izin untuk menetap di Teluk Saldanha di Pantai Barat Afrika Selatan. Mereka diberikan hak oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda untuk menangkap ikan di perairan Teluk Saldanha dan mengirim tangkapan mereka ke pos perdagangan perusahaan di Tanjung Harapan, untuk dijual kepada burgher lainnya serta kapal-kapal yang melewati Teluk Table. Mereka memiliki hak eksklusif atas perikanan yang menguntungkan tersebut hingga tahun 1711. Sebagian dari hasil tangkapan, yakni satu per lima, harus diserahkan dalam bentuk asin dan kering, yang menjadi asal-usul bokkoms di Afrika Selatan.[4][5]

Masalah lingkungan

[sunting | sunting sumber]

Telah muncul kekhawatiran terkait menurunnya stok ikan di Pantai Barat Afrika Selatan.[5] Mullet selatan masuk dalam daftar Oranye Inisiatif Makanan Laut Berkelanjutan Afrika Selatan (SASSI) WWF sebagai spesies yang tidak berkelanjutan.[6][7] Kelompok ini mencakup spesies yang memiliki alasan untuk menjadi perhatian, baik karena spesies tersebut berkurang akibat penangkapan berlebihan dan tidak dapat menahan tekanan penangkapan saat ini, maupun karena metode penangkapan atau budidaya dapat merusak lingkungan dan/atau sifat biologis spesies tersebut membuatnya rentan terhadap tekanan penangkapan yang tinggi. Spesies-spesies ini masih boleh dijual secara legal oleh nelayan dan pengecer komersial yang terdaftar. Namun, meningkatnya permintaan terhadap spesies ini dapat mengancam keberlanjutan pasokannya.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. HAT – Verklarende Handwoordeboek van die Afrikaanse Taal, 5de Uitgawe, FF Odendal & RH Gouws (redakteurs), Pearson Education South Africa, Maskew Miller Longman, 2005, p 112
  2. "Southern mullet – Exhibition – Two Oceans Aquarium Cape Town, South Africa". Aquarium.co.za. 18 July 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 9 July 2014. Diakses tanggal 21 March 2012.
  3. Etimologiewoordeboek van Afrikaans, Buro van die Woordeboek van die Afrikaanse Taal, Editor: GJ van Wyk, 2003
  4. [pranala nonaktif]
  5. 1 2 [pranala nonaktif]
  6. "Harders – Beach Seine : SEAFOOD DATABASE". Wwf Sassi.
  7. "The bokkom controversy – a cautionary tale |". Blogs.food24.com. 12 November 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 28 November 2015. Diakses tanggal 21 March 2012.