Binduriang, Rejang Lebong

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Binduriang
Negara Indonesia
ProvinsiBengkulu
KabupatenRejang Lebong
Pemerintahan
 • CamatEliyenti[1]
Populasi
 • Total8.919 jiwa
Kode Kemendagri17.02.20 Edit the value on Wikidata
Luas44,47 km²[2]
Desa/kelurahan5

Binduriang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, Indonesia. Kecamatan ini beribu kota di Desa Simpang Beliti.[3] Menurut Badan Narkotika Nasional Provinsi Bengkulu, kecamatan ini merupakan satu dari tujuh daerah rawan penyalahgunaan narkotika di Kabupaten Rejang Lebong.[1]

Kondisi wilayah[sunting | sunting sumber]

Binduriang adalah kecamatan terkurung daratan dan semua desanya berada di pedalaman atau bukan pantai.[4]

Administrasi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Binduriang terdiri dari lima desa definitif, yaitu Air Apo, Kampung Jeruk, Kepala Curup, Simpang Beliti, dan Taba Padang.[5] Kantor camat berlokasi di Simpang Beliti. Jarak desa ke kantor camat umumnya di bawah 5 km,[2] dengan Air Apo yang berjarak 5 km sebagai desa terjauh dari kantor camat.[6]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, Binduriang memiliki populasi sebesar 8.919 jiwa. Penduduk usia produktif (15-64 tahun) mencakup 6.442 jiwa dari total populasi.[7] Penduduk lansia berjumlah 428 jiwa, sementara penduduk usia 0-14 tahun berjumlah 2.049 jiwa.[8] Laju kenaikan jumlah penduduk kecamatan ini mencapai 1,21%. Desa Kepala Curup mencatatkan kenaikan jumlah penduduk sebesar 2,16%, sekaligus merupakan yang tertinggi se-Binduriang.[7] Dengan laju kenaikan penduduk 0,35% saja, Taba Padang adalah desa dengan laju kenaikan penduduk terendah.[9]

Data tahun 2020 memperlihatkan bahwa sebagian besar penduduk Binduriang telah menggunakan listrik.[10] Terdapat 3.200 pengguna listrik di kecamatan ini, semuanya melanggan listrik pada PLN. Keluarga bukan pengguna listrik jumlah 187 keluarga, 78 di antaranya berada di Air Apo.[10]

Kesehatan dan sanitasi[sunting | sunting sumber]

Tidak ada rumah sakit di Binduriang. Fasilitas kesehatan utama warga Binduriang adalah puskesmas rawat inap di ibu kota kecamatan.[11] Kecamatan ini mencatatkan tiga kasus gizi buruk pada tahun 2020.[12] Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Rejang Lebong menunjukkan bahwa Binduriang dilayani oleh dua dokter umum, tujuh perawat, dan 12 bidan.[13]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Terdapat tujuh sekolah dasar (SD) negeri, satu madrasah ibtidaiyah (MI) negeri, satu sekolah menengah pertama (SMP) negeri, satu madrasah tsanawiyah (MTs) swasta, dan satu sekolah menengah atas (SMA) negeri di kecamatan ini.[14] Belum ada sekolah menengah kejuruan (SMK) dan atau perguruan tinggi di kecamatan ini.[15]

Kondisi sosial[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Suku Lembak adalah penduduk asli sekaligus mayoritas di Kecamatan Binduriang.[16] Mereka merupakan satu dari dua suku asli di wilayah Rejang Lebong.[17] Suku asli lainnya adalah suku Rejang. Karena di Jalan Lintas Curup-Lubuk Linggau yang melintasi Binduriang dan Padang Ulak Tanding kerap terjadi aksi rampok, pemalakan, dan begal, masyarakat Rejang Lebong dari suku bangsa yang lain sering menggeneralisasi suku Lembak sebagai pelaku tindakan kriminal. Hal ini disebut sebagai salah satu yang mencoreng nama baik suku ini.[18]

Adat Lembak dipakai oleh KUA Binduriang dalam mengawali prosesi akad nikah. Penggunaan adat dianggap tidak bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan menambah kesakralan prosesi pernikahan.[19]

Agama[sunting | sunting sumber]

Islam adalah agama utama yang dipeluk penduduk Binduriang. Tidak ada data mengenai non-muslim. Sarana peribadatan di kecamatan ini meliputi delapan masjid dan lima musala, dengan tidak ada sarana peribadatan lainnya.[20]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Pertanian dan perkebunan merupakan bidang perekonomian yang paling utama. Hasil pertanian di Binduriang meliputi jenis-jenis sayuran, rimpang, dan buah-buahan tropis. Sementara hasil perkebunan utamanya adalah kopi dan karet, dengan hasil produksi masing-masing 1,125 dan 1,250 ton.[21]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Camat Binduriang: Kalau Nol Kasus, Jelas Kami Tidak Sanggup". rakyatbengkulu.com. 13 September 2021. Diakses tanggal 4 Februari 2022. 
  2. ^ a b BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 1.
  3. ^ "Kecamatan". Situs Web Resmi Kabupaten Rejang Lebong. Diakses tanggal 4 Februari 2022. 
  4. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 5.
  5. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 3, 6.
  6. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 4.
  7. ^ a b BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 7.
  8. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 11.
  9. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 9.
  10. ^ a b BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 12.
  11. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 29.
  12. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 32.
  13. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 33.
  14. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 17-21.
  15. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 23-24.
  16. ^ Pratiwi, Sarwono, Purwadi 2020, hlm. 215-216.
  17. ^ "Program Gubernur Rohidin Sangat Dirasakan Masyarakat Rejang Lebong". Situs Web Resmi Provinsi Bengkulu. 28 Januari 2020. Diakses tanggal 4 Februari 2022. 
  18. ^ Azhar, Rajman (17 Desember 2013). "Bupati : Lembak Rusak Karena Rampok". Bengkulu Ekspress. Diakses tanggal 4 Februari 2022. 
  19. ^ Sudarno, Jaja (22 November 2017). "Ritual Adat Warnai Prosesi Akad Nikah di Binduriang RL". Kementerian Agama - Kantor Wilayah Bengkulu. Diakses tanggal 4 Februari 2022. 
  20. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 34.
  21. ^ BPS Kabupaten Rejang Lebong 2021, hlm. 50.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku[sunting | sunting sumber]

Jurnal[sunting | sunting sumber]