Bias implisit

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bias implisit dalam masyarakat sosial yang mempengaruhi perilaku setiap individu
Bias implisit dalam masyarakat sosial yang mempengaruhi perilaku setiap individu

Bias implisit merupakan tindakan, pemikiran, dan penilaian seseorang terhadap suatu kelompok tertentu berdasarkan ras, agama, kelas sosial, jenis kelamin dan yang lainnya bukan berdasarkan kemampuan dan kepribadiannya.[1] Bias adalah penilaian pribadi yang tidak berdasar atau penyimpangan pemikiran dan prasangka.[2] Sementara itu, implisit didefinisikan sebagai serangkaian proses tindakan atau yang tidak bisa disimpulkan secara langsung melalui kesadaran mawas diri.[3] Bias implisit juga bisa diartikan sebagai kecenderungan untuk menilai seseorang atau kelompok sosial tertentu tanpa alasan yang jelas atau hanya berdasar pada stereotip. Oleh karena itu, bias implisit disebut juga dengan implisit stereotipe.

Bias implisit juga disebut dengan bias tidak sadar karena merupakan tindakan stereotip sosial terhadap kelompok orang tertentu yang dibentuk oleh individu di luar kesadaran mereka sendiri. Individu tersebut memegang keyakinan bawah sadar tentang berbagai kelompok sosial dan identitas, dan bias ini berasal dari kecenderungan seseorang untuk mengatur dunia sosial dengan mengkategorikan berdasar hal-hal tertentu.[4]

Bias implisit dinamakan juga dengan bias tersembunyi atau bias spontan yang otomatis. Seseorang memiliki kemampuan untuk secara cepat dan otomatis mengkategorikan orang adalah kualitas dasar dari pikiran manusia. Kategori-kategori ini memberi tatanan pada kehidupan sehari-hari. Berdasarkan bias implisit yang dimiliki, seseorang akan mengelompokkan orang lain ke dalam kategori berdasarkan karakteristik sosial dan lainnya. Pengelompokan ini akan menjadi dasar dari stereotip, prasangka, dan diskriminasi.[5]

Bias implisit dapat mempengaruhi perilaku sekelompok orang dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan mengenai bias implisit menjadi ranah pembahasan bagi berbagai disiplin ilmu termasuk neurosains dan psikologi. Memori seseorang yang melibatkan saraf otak mendorong untuk melakukan suatu tindakan. Berdasarkan pandangan ilmu psikologi, bias implisit dilakukan oleh seseorang tanpa disengaja atau di luar kesadaran atas perbedaan prasangka yang mengakibatkan perilaku dan penilaian sosial.[3]

Garis waktu penelitian[sunting | sunting sumber]

Allport dalam penelitiannya The Nature of Prejudice pada tahun 1954 menuliskan bahwa studi mengenai kognisi sosial implisit memiliki dua rangkaian akar yang berbeda dan lebih baru. Prasangka bersumber dari perbedaan antara pemrosesan informasi "terkontrol" dan "otomatis". Jenis pengelompokan pemikiran kognisi ini dibuat oleh psikolog kognitif pada 1970-an misalnya, Shiffrin & Schneider pada tahun 1977. Sementara itu, Payne & Gawronski dalam bukunya pada tahun 2010, menyebutkan bahwa prasangka terkontrol dianggap dilakukan secara sengaja, menuntut perhatian, dan memiliki kapasitas yang terbatas. Selain itu, ia menyebutkan bahwa prasangka otomatis dianggap terbuka tanpa perhatian, memiliki kapasitas yang hampir tidak terbatas, dan sulit untuk dilakukan secara sengaja.[6]

Karya awal yang mulai mengarah pada bias implisit dikemukakan oleh Fazio dan koleganya. Ia mengungkapkan bahwa perilaku seseorang merupakan buah dari pemikiran seseorang yang otomatis dan terkontrol. Lebih lanjut, Fazio pada tahun 1955 menyebutkan pelabelan sosial antara lain "hitam" "perempuan", waktu reaksi subjek, terhadap kata-kata stereotip misalnya "malas" "pendidikan/pengasuhan". Orang-orang akan merespons lebih cepat terhadap konsep yang tertanam dalam memori, dan sebagian besar subjek merespons kata-kata seperti "malas" setelah terpapar "hitam" daripada "putih". Para peneliti secara standar mengambil pola ini untuk menunjukkan hubungan otomatis yang berprasangka antara konsep-konsep semantik.[6] Amondimo dan Kevin dalam penilitiannya pada tahun 2009 menambahkan bahwa prasangka dan pelabelansosial tidak dipengaruhi oleh pikiran terkontrol, itu artinya dilakukan secara tak sadar.

Aliran kedua berfokus pada (ketidaksadaran) seperti yang dituliskan Devine pada tahun 1989, Devine & Monteith pada tahun 1999,Dovidio & Gaertner pada tahun 2004, Greenwald & Banaji 1995, serta Banaji dan kawan-kawan pada tahu 1993. Dalam penelitianmereka menyebutkan bahwa kesadaran akan stereotip dapat mempengaruhi penilaian dan perilaku sosial dalam kemandirian relatif dari sikap yang dilaporkan subjek. Penelitian ini mendapat pengaruh dari teori memori implisit (Jacoby & Dallas 1981; Schacter 1987), yang mengarah ke definisi asli Greenwald & Banaji tentang "sikap implisit" sebagai jejak pengalaman masa lalu yang tidak teridentifikasi secara akurat untuk memediasi perasaan, pemikiran, atau tindakan yang disukai atau tidak disukai terhadap objek sosial.[6]

Epistimologi[sunting | sunting sumber]

Epistimologi bias implisit erat kaitannya dengan tiga hal yaitu: pengetahuan diri, skeptisisme, dan dilema etis.

Pengetahuan diri[sunting | sunting sumber]

Bias implisit dilakukan di luar kesadaran pemikiran seseorang hal ini terjadi atas beberapa sebab antara lain keadaan mental, ketidakpahaman seseorang akan suatu hal, dan ketidaksadaran bahwa bias implisit tersebut memiliki dampak bagi seseorang untuk berperilaku. Namun sebenarnya, seseorang sadar akan suatu penilaian terhadap objek namun belum percaya sepenuhnya jika belum terbukti keabsahan atas penilaian tersebut. Kesadaran seseorang akan suatu bias implisit bisa dilakukan dengan cara introspeksi diri atau mencari bukti dari berbagai sumber lain yang relevan.[6]

Skeptisisme[sunting | sunting sumber]

Bias implisit memiliki efek kekhawatiran skeptis pada suatu persepsi. Contoh dari bias implisit yang melibatkan skeptisisme adalah hubungan "pria kulit hitam" dan "senjata". Persepsi bahwa pria kulit hitam yang cenderung lebih mudah memiliki senjata dari pada pria kulit putih mengakibatkan perilaku seseorang yang akan menilai objek ambigu yang dipegang oleh pria berkulit hitam adalah senjata api. Kasus bias implisit ini pernah terjadi seperti pada kasus penembakan polisi terhadap pria kulit hitam tanpa senjata yaitu Oscar Grant dan Amadou Diallo.[6] Oscar Grant ditembak dari arah belakang di sebuah peron kereta api saat terjadinya perkelahian. Penjelasan dari kejadian fatal tersebut memancing emosi publik sebab otoritas mengatakan kejadian tersebut tidak sengaja dilakukan, petugas awalnya ingin mengeluarkan senjata kejut listrik namun malah pistol yang terambil.[7] Sementara itu, Amadou Diallo meninggal setelah ditembaki beberapa kali oleh polisi. Polisi meyakini Amandou Dialo merupakan tersangka pemerkosaan dan membawa senjata namun ternyata di sakunya hanya terdapat dompet.[8] Kedua peristiwa tersebut merupakan buah dari bias implisit yang berakibat fatal, persepsi yang salah terhadap seseorang mendorong seseorang untuk melakukan suatu tindakan yang ternyata keliru.

Dilema etis[sunting | sunting sumber]

Bias implisit menciptakan konflik antara tujuan etis. Dilema seputar bias implisit berasal dari stereotip yang tidak dapat dihindari hingga cara kategorisasi sosial menjadi dasar kapasitas kognitif kita. Seseorang yang mengingkari stereotip sosial umumnya karena alasan etis, hal demikian menciptakan konflik antara hal yang kita ketahui dan hargai. Pengetahuan sosial yang dimiliki seseorang akan mengurangi dilema etis dari suatu bias implisit.[6]

Karakteristik[sunting | sunting sumber]

Bias implisit memiliki karakteristik tertentu di antaranya:[9]

  • Bias implisit dialami oleh semua orang bahkan orang dengan komitmen yang diakui sekalipun misalnya hakim.
  • Bias implisit dan eksplisit terkait tetapi memiliki sikap mental yang berbeda konstruksi. Keduanya tidak saling eksklusif atau bahkan saling memperkuat satu sama lain.
  • Asosiasi implisit yang dipegang oleh individu tidak selalu sejalan dengan individu yang lainnya.
  • Keyakinan yang ada dipikiran mempengaruhi perilaku dan respon terhadap suatu objek.
  • Setiap individu memiliki bias implisit dari kelompok mereka sendiri. Meskipun penelitian telah menunjukkan bahwa seseorang masih dapat menahan bias implisit terhadap kelompok individu tersebut.
  • Bias implisit dapat diatasi. Otak manusia sangat kompleks, asosiasi implisit yang telah terbentuk dapat secara bertahap dapat dipelajari dengan teknik-teknik tertentu.

Contoh kasus[sunting | sunting sumber]

Bias implisit mengacu pada sikap, reaksi, stereotip, dan kategori bawah sadar yang memengaruhi perilaku dan pemahaman. Kasus bias implisit terjadi di berbagai lingkup seperti kesehatan, pendidikan, dan sosial masyarakat.

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Dalam dunia kesehatan, bias implisit terjadi antara dokter, perawat, dan pasiennya. Tenaga medis memanifestasikan bias implisit ke tingkat yang sama seperti populasi umum. Karakteristik berikut yang dipermasalahkan adalah ras/etnis, jenis kelamin, status sosial ekonomi, usia, penyakit mental, berat badan, pengidap AIDS, pasien cedera otak yang dianggap berkontribusi terhadap cedera mereka, pengguna narkoba suntik, disabilitas, dan keadaan sosial. Karakteristik sosio-demografis dokter dan perawat misalnya jenis kelamin, ras, jenis pengaturan perawatan kesehatan, pengalaman bertahun-tahun, negara tempat pelatihan medis diterima memiliki korelasi dengan tingkat bias seseorang dalam dunia kesehatan.[10] Bias implisit mengacu pada sikap tidak sadar dan stereotip yang dipegang terhadap orang lain. Dalam pengaturan perawatan kesehatan, ketika ide-ide tentang pasien dibuat karena asosiasi bawah sadar daripada individualitas orang itu, itu dapat menyebabkan perawatan yang buruk.[11]Berikut adalah contoh bias implisit dalam dunia kesehatan:[12]

  1. Pasien non-kulit putih menerima lebih sedikit intervensi kardiovaskular dan lebih sedikit transplantasi ginjal.
  2. Wanita kulit hitam memiliki kemungkinan meninggal yang lebih besar setelah didiagnosis menderita kanker payudara.
  3. Pasien non-kulit putih lebih kecil kemungkinannya untuk diberi resep obat nyeri (non-narkotika dan narkotika).
  4. Laki-laki kulit hitam cenderung tidak menerima kemoterapi dan terapi radiasi untuk kanker prostat dan lebih mungkin untuk pengangkatan testis.
  5. Pasien dengan kulit berwarna cenderung disalahkan karena terlalu pasif tentang perawatan kesehatan mereka.

Bias implisit pada lingkup kesehatan juga terjadi selama pandemi Covid-19 di Amerika. Dampak pandemi Covid-19 tidak proposional pada orang-orang dengan kulit selain putih melibatkan bias implisit yang berkontribusi dalam kesenjangan sosial. Pada awal Januari 2021, 1 dari 595 penduduk asli Amerika, 1 dari 735 orang kulit hitam Amerika, dan 1 dari 1.000 orang Amerika Latin meninggal karena COVID-19, dibandingkan dengan 1 dari 1.030 orang kulit putih Amerika. Keadaan struktural di komunitas Kulit Hitam dan Latin – seperti ketidaksetaraan perumahan, akses ke perawatan kesehatan, kesempatan kerja yang terbatas, dan kemiskinan – dapat menjelaskan kematian di luar rumah sakit yang jauh lebih tinggi karena COVID-19 di antara komunitas-komunitas ini. Data tersebut mengharuskan diadakannya penilitian mengenai bias implisit dalam pemberian layanan kesehatan.[11]

Sosial masyarakat[sunting | sunting sumber]

Salah satu kasus bias implisit yang pernah terjadi adalah penangkapan dua orang kulit hitam di salah satu kedai Starbucks yang dianggap telah masuk tanpa ijin dan dicurigai sebagai pelaku kriminal. Seorang pegawai kedai menelepon polisi. Namun, setelah dilakukan penelusuran ternyata dua orang pria tersebut tidak terbukti bersalah. Mereka pun akhirnya dibebaskan.[13] Kronologi peristiwa tersebut bermula saat dua pria kulit hitam mengunjungi sebuah kedai Starbucks di Philadelphia. kemudian, mereka meminta izin untuk menggunakan kamar kecil namun permintaan tersebut ditolak oleh seorang karyawan dengan alasan mereka tidak membeli apa-apa. Akhirnya, kedua pria tersebut diminta untuk meninggalkan kedai namun mereka menolaknya. Salah satu karyawan berinisiatif menelepon polisi, mereka pun ditangkap. Video insiden tersebut tersebar di media sosial Twitter dan mendapat atensi publik. Pasca peristiwa itu, demonstrasi pun dilakukan.[14]

Perilaku-perilaku yang disebabkan oleh bias implisit juga terjadi di lingkungan kerja. Contoh-contoh bias yang tidak sadar yang ada dalam lingkungan kerja yaitu: Seseorang yang dilewatkan untuk promosi berdasarkan usia, ras, agama, orientasi seksual, kecacatan, atau jenis kelamin mereka (bukan karena alasan berdasarkan pekerjaan), tidak mempekerjakan seseorang karena mereka memiliki tato atau tindik badan (meskipun ini tidak akan mempengaruhi peran mereka), hanya berteman dengan orang-orang dari RAS yang sama, memberikan nilai lebih pada rekan yang dekat, serta tidak mengundang seseorang ke acara sosial/pembangunan tim karena kekhawatiran atas ketidakmampuan mereka dalam ambil bagian di kegiatan.[15]

Dalam kehidupan masyarakat, implisit bias berdampak pada pemenuhan kebutuhan masyarakat untuk mengakses air bersih, pembuangan air, trotoar, penerangan jalan, serta hak-hak beraktivitas di tempat publik seperti taman dan transportasi umum. Kaum minoritas yang tinggal di perbatasan menghadapi masalah kesenjangan hak-hak sosial yang diperoleh.[16]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Problema bias implisit menjadi perhatian di dunia pendidikan. Kekejaman atas perbedaan RAS dalam pemberian nilai, pengskorsan, dan kelulusan masih menjadi judul berita utama pada halaman media. Pemberian hukuman dan pelabelan buruk bagi seorang siswa memandang warna kulit dna RAS mereka. Jika impisit bias terjadi pada suatu kelas maka akan mempengaruhi perilaku guru di kelas, tendensi untuk memberikan penilaian akhir atau hasil belajar yang berbeda pada siswa dengan kemampuan yang sama, serta proses belajar dan mengajar itu sendiri.[17]

Berikut adalah contoh-contoh implisit bias yang terjadi di sekolah:[18]

  1. Pendidik berasumsi bahwa peserta didik mengetahui cara bertanya atau meminta bantuan kepada mereka, meskipun begitu peserta didik yang justru menghadapi masalah akademik justru lebih canggung dan sedikit untuk meminta bantuan.
  2. Pendidik berasumsi bahwa peserta didik yang berasal dari latar belakang dan kelompok sosial tertentu memiliki kemampuan yang berbeda, sebagai contoh pendidik menganggap siswa dari kalangan tertentu puas terhadap pencapaian belajar yang rendah.
  3. Pendidik beranggapan bahwa peserta didik dengan kemampuan bahasa aksen tertentu memiliki kemampuan yang kurang dalam menulis.
  4. Peserta didik dengan kemampuan menulis yang rendah dianggap memiliki kemampuan intelektual yang rendah pula.
  5. Pendidik memperlakukan peserta penyandang cacat fisik seolah-olah mereka juga memiliki cacat mental, dan dengan demikian membutuhkan lebih banyak perhatian.
  6. Peserta didik yang berafiliasi dengan kelompok identitas tertentu dapat diperlakukan sebagai ahli dalam masalah yang terkait dengan kelompok tersebut.
  7. Pendidik berasumsi bahwa peserta didik paling baik berhubungan dengan karakter sejarah, kontemporer, atau fiksi yang menyerupai mereka secara demografis.
  8. Peserta didik dari kelompok tertentu diharapkan memiliki gaya partisipasi tertentu seperti pendiam, argumentatif, dan berorientasi agenda.

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Implisit bias dipicu oleh otak secara otomatis yang menghasilkan respon dan penilaian yang cepat. Perilaku implisit bias dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman pribadi, stereotip masyarakat dan konteks budaya. Bukan hanya tentang jenis kelamin, etnis atau karakteristik keragaman lain yang terlihat mendominasi seperti berat badan, nama, dan banyak hal lainnya juga dapat memicu implisit bias.[19] Selain itu, implisit bias terbentuk dari pembawaan karakter individu serta cara pandang dalam menghadapi situasi tertentu.[20]

Implisit bias mendorong seseorang secara tak sadar untuk berperilaku. Terlepas dari seberapa benar keyakinan seseorang terhadap sesuatu, setiap orang memiliki tingkatan bias bawah sadar yang berbeda artinya individu secara otomatis menanggapi orang lain misalnya orang dari kelompok ras atau etnis yang berbeda dengan cara yang positif atau negatif. Asosiasi-asosiasi ini sulit di kesampingkan dan tertanam dalam pikiran individu tersebut[21]

Individu dilahirkan dengan memiliki kecenderungan untuk memilih tipe-tipe orang yang ada dilingkungan sekitar dan mempelajari banyak hal dari mereka. Melalui proses pengembangan, interaksi-interaksi yang terjadi membentuk sikap yang berasal dari nilai-nilai budaya baik secara implisit maupun eksplisit. Sikap tersebut terbentuk dari mendengarkan percakapan sehari-hari, dan membaca cerita. Otak bawah sadar manusia terus menyaring dan memproses sebagian besar informasi yang dicari polanya. Pola-pola tersebut misalnya menganggap bahwa perawat adalah wanita, manager kebanyakan adalah pria. Pola-pola itulah yang kemudian membentuk bias implisit. Jika dibiarkan akan menimbulkan perilaku diskriminatif.[22]

Paparan berulang terhadap gambar dan tema yang disajikan media baik cetak maupun online dapat mempengaruhi kepercayaan dan perilaku orang. Oleh karena itu media massa dengan citra tertentu telah membentuk bias implisit di kehidupan masyarakat. Jika dibiarkan terus menerus maka akan memberikan dampak negatif atau sebaliknya jika media masa memberikan kesan positif dalam merespon bias implisit maka akan memberikan dampak baik juga. Dalam sebuah eksperimen di Rwanda, misalnya, sebuah sinetron radio yang memuat pesan tentang meningkatkan toleransi rasial dan mengurangi prasangka mengungkapkan bahwa peserta yang mendengar radio drama lebih toleran terhadap perkawinan campuran dan perbedaan pendapat secara terbuka, dan menunjukkan lebih banyak kepercayaan, empati, dan kerjasama.[23]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Bias implisit dapat menimbulkan efek positif dan negatif bagi kehidupan manusia. Kedua efek tersebut akan memengaruhi seseorang dalam mengambil suatu keputusan. Informasi yang diperoleh dari pikiran alam bawah sadar manusia menjadi dasar seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Oleh karena itu, individu menganggap tindakan yang ia lakukan tidak merugikan orang lain namun tanpa ia sadari, tindakan tersebut melukai hati seseorang.[24]

Bias implisit tidak hanya memengaruhi perilaku individu, tetapi juga dapat memengaruhi praktik dan struktur institusional. Misalnya, banyak institusi menganut praktik-praktik tertentu yang merugikan bagian dari anggota institusi. Dalam dunia pendidikan bias implisit terjadi seperti saat fakultas mengadakan pertemuan pada waktu dimana orang tua yang memiliki anak usia dini sedang menjemput anak-anak di penitipan anak itu artinya telah terjadi pendiskriminasian orang tua dari anak-anak kecil. Bias institusional dilakukan tanpa disengaja misalnya dalam pembuatan jadwal, contohnya jadwal tersebut sering kali dibuat bersamaan dengan waktu yang tidak ramah bagi seseorang yang telah berkeluarga. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan bagaimana bias berdasarkan pengalaman dan kurangnya kesadaran saat ini dapat membuat institusi tidak ramah kepada anggota kelompok demografis tertentu.[23]

Bias implisit dalam dunia kesehatan memiliki pengaruh buruk pada pengalaman pasien dengan tenaga medis. Seperti halnya, pasien mengalami diskriminasi berdasarkan warna kulit. Diskriminasi implisit semacam ini mengakibatkan rasa kurang percaya dan enggan berhubungan dengan institusi medis. Selain itu, bias implisit dapat membatasi seberapa baik pasien memahami kesehatannya. Misalnya, tenaga medis membatasi penjelasan konsep medis secara terperinci karena bias implisit mereka memberi tahu mereka bahwa pasien tidak memiliki literasi kesehatan untuk sepenuhnya terlibat dengan perawatannya. Tenaga medis yang dalam bias implisitnya menganggap pasien tertentu kurang mampu dalam finansial untuk pembayaran perawatan khusus dapat mengurangi kemungkinan pasien mendapatkan kedalaman perawatan medis yang mungkin dia butuhkan.[25]

Dalam konteks peradilan pidana dan keamanan masyarakat, bias implisit memiliki pengaruh yang signifikan dalam hasil interaksi antara polisi dan warga. Diskusi bias implisit dalam kepolisian cenderung berfokus pada bias rasial implisit. Namun, bias implisit dalam bidang hukum juga melibatkan faktor-faktor non-rasial, termasuk jenis kelamin, usia, agama, atau orientasi seksual. Bias implisit dapat mendistorsi persepsi seseorang dan merespons suatu permasalahan baik yang mendukung atau menentang orang atau kelompok tertentu. Dalam lingkup kepolisian, bias implisit mengakibatkan meluasnya praktik yang menyebabkan kecurigaan dan praduga pada beberapa kelompok dan menganggap kelompok lain tidak bersalah. Bias implisit juga mengakibatkan kecenderungan polisi untuk melakukan penembakan pada tersangka kulit hitam yang tidak bersenjata lebih sering daripada melakukannya pada orang kulit putih yang justru bersenjata. Wujud pengaruh bias implisit lainnya, seperti lebih memprioritaskan pembelaan umum terhadap kasus yang melibatkan terdakwa kulit putih, dapat berdampak besar pada masyarakat.[26]

Bias implisit dapat memengaruhi hubungan dan interaksi antar individu. Salah satu akibat dari bias implisit adalah mikro agresi atau perundungan secara terselubung dalam wujud penghinaan verbal atau nonverbal halus atau pesan yang cenderung merendahkan seseorang. Hal tersebut didasarkan pada aspek-aspek tertentu dari identitas misalnya, seksualitas, agama, atau gender. Individu tersebut bahkan tidak menyadari bahwa hal demikian merupakan suatu penghinaan halus, mereka menganggap hal tersebut wajar. [27] Contoh dari penghinaan verbal secara halus yaitu menanyakan hal berikut:

  • Sebenarnya kamu berasal dari mana?
  • Kamu memiliki rupa yang menawan untuk orang yang berasal dari sukumu?
  • Kamu berbeda dari orang kulit hitam lainnya?
  • Kamu bertindak tidak seperti orang-orang dari sukumu?

Dampak di tempat kerja[sunting | sunting sumber]

Bias implisit memiliki dampak negatif di lingkungan kerja seperti:[28]

  • Individu berbakat yang terdampak bias implisit tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangan karier di tempat kerja.
  • Pendapat yang beragam tidak didengarkan dalam rapat dan keputusan diambil tidak berasas keadilan.
  • Budaya seseorang tidak menunjukkan prinsip-prinsip kerja yang diikutsertakan.
  • Bias implisit akan membatasi karyawan untuk berkontribusi secara penuh pada sebuah organisasi.
  • Kreativitas dan produktivitas baik secara individu maupun tim dapat dikompromi.

Dampak di lembaga pendidikan[sunting | sunting sumber]

Di sekolah, efek bias implisit pada siswa berkulit selain putih telah dikaitkan langsung dengan disiplin yang berlebihan, harapan guru yang lebih rendah, dan prosedur penilaian yang terlalu kritis, dan terkait secara tidak langsung dengan tingkat putus sekolah yang lebih tinggi, penahanan di masa depan, dan hasil pendidikan tinggi yang lebih rendah.[29] Selain itu, bias implisit dapat memengaruhi hal berikut pada suatu lembaga pendidikan.

  • Perbedaan hasil belajar dan prestasi yang diraih oleh peserta didik berdasarkan keadaan sosial ekonomi dan latar belakang budaya mereka.[30]
  • Perbedaan perilaku pengajar pada setiap peserta didik berdasarkan bias implisit akan menimbulkan kesengjangan sosial yang ada di kelas. [30]
  • Siswa minoritas akan mendapat dampak buruk berupa hukuman yang lebih banyak dibandingkan kelompok lainnya karena bias rasial implisit serta pengabaian siswa berdasar gender di suatu kelas yang dianggap tidak memiliki kemampuan yang lebih unggul dalam suatu mata pelajaran.[31]
  • Terjadinya pengkategorian siswa yang berkelakuan "baik" dan "buruk" oleh tenaga pengajardi sekolah serta pengistimewaan terhadap siswa dari golongan tertentu.[31]

Tipe[sunting | sunting sumber]

Mengetahui jenis bias implisit yang ada pada diri seseorang dapat menguranngi dampak buruk dari bias itu sendiri. Oleh karena itu, tipe-tipe bias implisit berikut sangat penting untuk diketahui.

Unjuk rasa menentang perekrutan kerja yang mengharuskan pembayaran di Australia
Unjuk rasa menentang perekrutan kerja yang mengharuskan pembayaran di Australia

Bias afinitas[sunting | sunting sumber]

Bias afinitas yaitu bagian dari bias implisit yang merupakan kecenderungan seseorang melakukan suatu tindakan berdasarkan persamaan tertentu misalnya suku, minat, pengalaman, usia, jenis kelamin, dan latar belakang pendidikan. [32][33] Contoh ilustrasi dari bias afinitas yaitu ketika seorang individu yang memiliki latar belakang pendidikan dan kota yang sama bekerja pada suatu perusahaan, individu tersebut cenderung akan lebih mudah akrab dan tersenyum serta lebih mudah memuji dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki kesamaan tersebut.[34]

Bias konfirmasi[sunting | sunting sumber]

Bias konfirmasi merupakan bias dalam pengambilan keputusan dan penarikan kesimpulan berdasarkan keinginan, keyakinan, dan prasangka pribadi daripada prestasi individu itu sendiri.[33] Bias konfirmasi contohnya menganggap bahwa orang dengan tangan kidal diyakini lebih kreatif, untuk membuktikan prasangka tersebut bahkan sampai ditelusuri bukti-buktinya.[35]

Bias atribusi[sunting | sunting sumber]

Bias atribusi adalah penilaian atau pemahaman tentang perilaku seseorang berdasarkan pengalaman interaksi dan observasi yang telah individu lakukan dengan orang tersebut yang membentuk persepsi.[36] Contoh bias atribusi dalam kehidupan yaitu ketika ada seorang yang terburu-buru di jalan memotong jalan orang lain. Orang tersebut akan menilai bahwa si pemotong jalan merupakan pribadi yang kasar, dan ceroboh daripada memahami terlebih dahulu alasan mereka melakukan itu.[34]

Bias konformitas[sunting | sunting sumber]

Bias konformitas yaitu kecenderungan untuk melakukan tindakan yang mirip dengan orang-orang yang ada di lingkungan mereka berdasarkan keyakinan dan keistimewaan personal mereka, bias konformitas dikenal juga dengan istilah tekanan teman sebaya.[33]Bias konformitas contohnya jika seseorang akan tergerak untuk ikut dalam kegiatan amal atau penghematan air setelah mereka melihat dan mendengar orang lain melakukannya. Mereka menganggap hal tersebut sebagai normal sosial yang perlu diikuti.[37]

Efek halo[sunting | sunting sumber]

Efek halo yaitu kecenderungan untuk menilai seseorang setelah mempelajari kesan impresif yang menonjol baik negatif maupun positif yang ada pada dirinya.[38] Kesan positif disebut juga dengan efek halo sementara kesan negatif dikenal dengan efek horn.[39] Contoh nyata efek halo terjadi di kehidupan masyarakat misalnya menganggap lulusan sekolah elite atau perguruan tinggi favorit memiliki kemampuan yang lebih impresif.[33]

Bias kecantikan[sunting | sunting sumber]

Bias kecantikan atau beauty bias yaitu kecenderungan menganggap seseorang yang menarik secara fisik memiliki kualifikasi yang tinggi, berkompetensi dan berpeluang besar untuk sukses.[40] Bias ini bisa terjadi di lingkungan kerja misalnya seorang perekrut pegawai akan merekrut karyawan berdasarkan penilaian secara fisik yang dimiliki oleh seseorang.[41]

Bias otoritas[sunting | sunting sumber]

Bias otoritas mengacu pada kualitas ide dan pendapat yang disampaikan oleh seseorang yang dianggap menjadi figur otoritas lebih baik dan akurat tanpa menganalisa isi dan pemikiran tersebut. Contohnya, dalam suatu rapat terdapat anggota-anggota yang menyampaikan pemikiran dan ide namun yang pemikiran dari orang dengan otoritas tinggi lah yang dianggap berkualitas dan baik.[33]

Bias percaya diri[sunting | sunting sumber]

Bias percaya diri merupakan kecenderungan sikap terlalu percaya diri dan menganggap kemampuan diri yang lebih daripada yang lainnya.[33]

Efek kontras[sunting | sunting sumber]

Efek kontras merupakan salah satu bias tak sadar yang terjadi ketika individu membandingkan dua atau lebih hal yang memiliki hubungan erat dengan individu tersebut baik secara bersamaan atau satu demi satu. Hal tersebut menyebabkan melebih-lebihkan kinerja alah satunya yang kontras dengan yang lainnya.[33]

Bias gender[sunting | sunting sumber]

Bias gender adalah kecenderungan untuk lebih memilih satu jenis kelamin daripada jenis kelamin lainnya. Misalnya anggapan-anggapan bahwa pria lebih berpeluang untuk menjadi pemimpin, atau perempuan tidak mampu bersaing dengan yang lainnya, perempuan hanya cocok berada di rumah, atau pria lebih memiliki kemampuan dalam bidang-bidang tertentu.[33]

Ageisme[sunting | sunting sumber]

Ageisme merupakan bias tak sadar yang dimiliki oleh seorang individu untuk cenderung memiliki perasaan negatif tentang orang lain berdasarkan usia mereka. Sebagai contoh, dalam masyarakat pemimpin dipilih berdasarkan usia mereka bukan kemampuan yang ada atau anggapan bahwa seseorang yang lebih tua dipercaya memiliki kemampuan lebih daripada mereka yang muda.[33]

Bias tinggi badan[sunting | sunting sumber]

Bias tinggi badan atau heightisme adalah kecenderungan untuk menilai seseorang yang secara signifikan lebih pendek atau lebih tinggi daripada tinggi manusia yang diterima secara sosial. Contohnya, seseorang yang berpostur badan tinggi dikorelasikan dengan pribadi yang sempurna dan memiliki standar keca

ntikan fisik.[32]

Bias jangkar[sunting | sunting sumber]

Bias jangkar atau bias angkor adalah kecenderungan untuk memutuskan sesuatu berdasarkan pegangan informasi awal dan tunggal. Misalnya seorang guru yang menilai siswa pindahan memiliki perilaku buruk sebagaimana data awal perpindahan dirinya yang dikeluarkan dari sekolah terdahulu akibat melakukan pelanggaran-pelanggaran.[33]

Bias nonverbal[sunting | sunting sumber]

Bias nonverbal adalah kecenderungan untuk menganalisis atribut komunikasi nonverbal seperti bahasa tubuh dan membiarkannya mempengaruhi keput

usan atau pendapat.[33]

Bias nama[sunting | sunting sumber]

Bias nama merupakan kecenderungan menilai individu berdasarkan nama.[40] Bias nama paling sering terjadi dalam rekrutmen pekerja. Jika perekrut cenderung menawarkan wawancara kepada kandidat dengan nama dari marga atau suku tertentu daripada kandidat dengan kualifikasi y

ang sama.[42]

Pencegahan[sunting | sunting sumber]

Bias implisit akan mengakibatkan respon negatif atau bahkan kekeliruan dalam bertindak oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan yang dilakukan dengan penerapan strategi individu dan kelembagaan.

Strategi individu[sunting | sunting sumber]

Dampak negatif bias implisit dapat dicegah dan diatasi melalui strategi individu, seperti berikut ini.[43]

  • Meningkatkan kesadaran diri yaitu dengan mengikuti tes bias implisit atau Implicit Association Test (IAT) guna mengetahui tingkatan bias implisit yang ada pada pemikiran individu yang kemudian dari hasil tersebut dilakukan langkah-langkah pelatihan untuk mengatasi bias implisit.
  • Memahami sifat alamiah bias merupakan suatu hal yang penting. Strategi kategorisasi yang memunculkan bias implisit adalah aspek kognitif normal manusia. Memahami konsep penting ini dapat membantu individu memahami bias individu itu sendiri dengan cara yang lebih terinformasi dan terbuka. Dengan keterbukaan mengenai bias implisit maka akan berpengaruh pada praduga dan prasangka yang selama ini tertanam pada memori individu.
  • Menyempatkan untuk berdiskusi, khususnya dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang berbeda. Berbagi masalah mengenai bias yang kita pikirkan dapat membantu orang lain untuk merasa lebih aman dalam memahami bias mereka sendiri secara lebih luas. Namun diskusi tersebut perlu dilakukan di tempat yang aman. Individu juga harus terbuka terhadap perspektif dan sudut pandang alternatif. Diskusi tersebut mengenai tema yang berkaitan dengan pendidikan, rasisme, latar belakang budaya dan gender.
  • Meminimalkan bias implisit dengan melakukan diskusi dan sesi pelatihan yang mempromosikan literasi bias dengan menggunakan konsep dan teknik yang tersusun dengan tepat. Pelatihan tersebut dilakukan oleh lembaga dan orang-orang yang memiliki kompetensi dalam bidangnya.

Selain itu implisit bias yang negatif dapat dicegah melalui hal-hal berikut.[44]

  • Fokus dalam mengatur emosi, mengenali pengalaman pribadi yang dapat membentuk perspektif, menyimpulkan sesuatu berdasarkan fakta bukan asumsi, serta mengubah frustrasi menjadi rasa keingintahuan. Kemudian, rasa keingintahuan tersebut dimaksimalkan dengan menggali informasi-informasi akurat dari sumber-sumber terpercaya.
  • Mempelajari individu lainnya dengan cara memahami pengalaman mereka yang membentuk suatu perspektif, mempertimbangkan cara mereka melihat suatu situasi dan hal apa yang mereka anggap penting, menimbang dampak bagi mereka sebelum kita melakukan suatu tindakan tindakan.
  • Melakukan dialog mendalam dengan cara mengajukan pertanyaan terbuka, dengarkan pendapat mereka dan hindari perdebatan, mengutarakan pandangan kita terhadap sesuatu tanpa niat melakukan pembelaan ataupun memulai perselisihan, menguraikan dampak dari niat, serta hindari menyalahkan individu dan pikirkan tentang kontribusi.
  • Bentangkan pilihan untuk mencari solusi alternatif, fleksibel terhadap perbedaan cara pandang untuk mencapai tujuan umum, cari beragam perspektif, serta jangan ragu untuk bereksperimen sosial dan mengevaluasinya.

Strategi di bidang pelayanan kesehatan[sunting | sunting sumber]

Segenap administrator, perawat, dokter, dan tenaga medis lainnya yang terlibat dalam pelayanan kesehatan memiliki tanggung jawab terkait cara mengatasi bias implisit bersama-sama dengan membuat kebijakan-kebijakan yang tidak diskriminatif. Kebijakan-kebijakan tersebut yaitu melakukan evaluasi iklim rasial dengan mengadakan evaluasi persepsi karyawan tentang kebijakan dan praktik yang mengomunikasikan sejauh mana memupuk keragaman dan menghilangkan diskriminasi dalam memberikan pelayanan pada pasien. Selain itu perlu dilakukan penyelidikan laporan tentang diskriminasi halus atau terbuka dan perlakuan tidak adil.[5]

Para pembuat kebijakan juga harus mengidentifikasi dan mengubah kebijakan formal dan informal yang tidak mendukung keberagaman. Institusi kesehatan harus membangun sistem pemantauan di mana proses dan hasil perawatan yang dapat dibandingkan dengan ras pasien. Selain itu, tenaga medis terkait juga bertanggung jawab untuk mengumpulkan data tentang ras dan indikator lain dari posisi sosial yang dapat digunakan untuk menilai diri sendiri, memantau dan mengevaluasi efektivitas strategi organisasi untuk menghapus ketidakadilan dalam perawatan. Ketika ketidaksetaraan ditemukan, dukung solusi kreatif dan dapat dipercaya untuk perbaikan.[5]

Tenaga medis dan orang-orang yang terlibat dalam pelayanan kesehatan perlu mengurangi prasangka antar kelompok dan membantu mengurangi perasaan kecemasan antar ras. Selain itu, dukungan institusional untuk interaksi dapat meningkatkan manfaat kontak antar-kelompok. Pemangku kebijakan kesehatan harus menerapkan dan mengevaluasi pelatihan yang memastikan bahwa dokter memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencegah bias rasial yang dapat mempengaruhi kualitas perawatan yang diberikan. Pelatihan harus mencakup kesadaran diri tentang bias implisit, dan keterampilan yang terkait dengan pengambilan perspektif, regulasi emosional, dan pembangunan kemitraan.[5]


Strategi kelembagaan[sunting | sunting sumber]

Masalah bias implisit tidak hanya melibatkan individu saja namun juga komunitas bahkan kelembagaan oleh karena itu perlu pencegahan yang dilakukan secara legal oleh kelembagaan. Berikut adalah penerapan strategi kelembagaan dalam pencegahan implisit bias:[43]

  • Melakukan pengembangan indikator & hasil yang konkret dan objektif untuk perekrutan, evaluasi, dan promosi untuk mengurangi standar stereotip.
  • Mengembangkan kriteria standar untuk menilai dampak kontribusi individu dalam evaluasi kinerja.
  • Mengembangkan dan memanfaatkan wawancara terstruktur.
  • Mengembangkan kriteria evaluasi secara objektif.
  • Memfasilitasi lokakarya pelatihan bias implisit untuk semua konstituen.

Selain yang disebutkan di atas, institusi dan kelembagaan juga perlu membuat kebijakan-kebijakan yang ramah terhadap hak-hak anggotanya untuk mencegah bias implisit. Kebijakan yang ramah terhadap waktu melahirkan wanita, praktik wawancara berprinsip keadilan, tradisi yang memberikan toleransi kehadiran pada acara kelembagaan pada hari besar keagamaan, ruang khusus untuk ibu menyusui. Perubahan kebijakan kecil dapat berdampak besar pada keberhasilan pekerja. atau kriteria bias untuk perekrutan atau tinjauan kinerja semuanya dapat menciptakan institusi yang tidak disukai perempuan, orang kulit berwarna, orang dengan orientasi seksual tertentu, orang tua, orang yang cacat fisik, atau orang dari agama tertentu. Institusi juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang ramah perempuan, orang-orang berkulit apapun, orang dengan orientasi seksual tertentu, orang tua, orang yang cacat fisik, atau orang dari agama

tertentu.[23]

Tes asosiasi implisit[sunting | sunting sumber]

Salah satu tangkapan layar dari tes pengukuran bias implisit atau Implicit Association Test (IAT)
Salah satu tangkapan layar dari tes pengukuran bias implisit atau Implicit Association Test (IAT)

Tes asosiasi implisit atau Implicit Association Test (IAT) merupakan serangkaia tes yang digunakan untuk mengukur bias implisit seseorang. Cara kerja IAT yaitu dengan menyimpulkan pemikiran yang ada dalam memori otak seseorang baik spontan maupun otomatis. IAT menilai isi mental individu secara tidak langsung dengan mengukur seberapa cepat dan akurat seseorang dapat mengkategorikan dan mengaitkan sesuatu dengan dua kategori konseptual dan dua atribut evaluatif. Asumsi yang mendasari seseorang dalam melakukan tindakan menunjukkan latensi yang lebih rendah dengan sedikit kesalahan saat diklasifikasikan secara bersamaan. IAT kurang dipengaruhi oleh niat sadar dan proses keinginan sosial untuk menangkap konstruksi yang berada di luar kendali.[45]

Bias implisit diukur dengan cara meminta peserta untuk mengelompokkan konsep atau atribut yang berbeda dengan kelompok orang yang berbeda. Kemudian peneliti akan mengukur lamanya waktu yang dibutuhkan peserta untuk melakukan klasifikasi. Pendekatan umum lainnya untuk mengukur bias implisit adalah dengan menggunakan teknik priming yakni pertama-tama peneliti menunjuk peserta dari kelompok yang berbeda. Selanjutnya mereka diminta untuk menyelesaikan tugas. Sementara itu, peneliti mengukur proses perubahan kinerja yang telah mereka lakukan. Langkah-langkah tersebut sebelumnya telah dipelajari di laboratorium secara ekstensif untuk menakar korelasi perilaku beragam.[46]

Tes Asosiasi Implisit (IAT) umumnya digunakan untuk mengukur bias implisit pada individu. IAT mengukur kekuatan antar konsep misalnya, orang "kulit hitam", "orang tua", atau "gay" dan evaluasi misalnya, "baik" atau "buruk" atau karakteristik misalnya, "atletis", "pintar", atau "kikuk". Responden akan diberikan beberapa kata kemudian ia memilih di antara kata-kata dengan konsep-konsep sosial tersebut. IAT didasarkan pada pengamatan bahwa orang menempatkan dua kata di tempat yang sama dengan lebih cepat itu artinya kata-kata sudah tertanam di otak mereka. Misalnya, tingkat di mana seseorang dapat menghubungkan kata "hitam" atau "putih" dengan "baik" atau "buruk" menunjukkan bias implisit mereka. Hasil tes tersebut kemudian akan menjadi bahan evaluasi untuk mengatasi bias implisit yang dialami oleh seseorang. Setelah evaluasi barulah dilakukan pelatihan bias implisit.[23]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Brownstein, Michael S.; Saul, Jennifer Mather (2016). Implicit Bias and Philosophy: Metaphysics and epistemology (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 24. ISBN 978-0-19-871324-1. 
  2. ^ "Definition of BIAS". www.merriam-webster.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-09. 
  3. ^ a b Khan, Jonathan (2017). Race on the Brain. New York: Coloumbia University Press. ISBN 9780231184243. 
  4. ^ "Unconscious Bias | diversity.ucsf.edu". diversity.ucsf.edu. Diakses tanggal 2021-07-10. 
  5. ^ a b c d "Quick Safety 23: Implicit bias in health care | The Joint Commission". www.jointcommission.org. Diakses tanggal 2021-07-31. 
  6. ^ a b c d e f Michael, Brownstein,. "Implicit Bias". plato.stanford.edu. Diakses tanggal 2021-07-09. 
  7. ^ "Before Daunte Wright's death, a gun-Taser mix-up was blamed for another police killing: Oscar Grant at Fruitvale Station". Washington Post (dalam bahasa Inggris). ISSN 0190-8286. Diakses tanggal 2021-07-09. 
  8. ^ "Police fired 41 shots when they killed Amadou Diallo. His mom hopes today's protests will bring change". www.cbsnews.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-09. 
  9. ^ https://communityactionpartnership.com/wp-content/uploads/2018/05/CAPwhat-is-IB.pdf
  10. ^ FitzGerald, Chloë; Hurst, Samia (2017-03-01). "Implicit bias in healthcare professionals: a systematic review". BMC Medical Ethics. 18. doi:10.1186/s12910-017-0179-8. ISSN 1472-6939. PMC 5333436alt=Dapat diakses gratis. PMID 28249596. 
  11. ^ a b Williams, Zinaria (2021-01-14). "Racial Bias in Medicine a Barrier to Covid Health Equity". USNews. Diakses tanggal 2021-07-10. 
  12. ^ "Implicit bias in health care". www.jointcommission.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-10. 
  13. ^ "Implicit Bias". Ethics Unwrapped (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-10. 
  14. ^ Stevens, Matt (2018-04-15). "Starbucks C.E.O. Apologizes After Arrests of 2 Black Men". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2021-07-31. 
  15. ^ "Dealing with unconscious bias in the workplace". reed.co.uk (dalam bahasa Inggris). 2020-09-04. Diakses tanggal 2021-07-11. 
  16. ^ Levinson, Justin D.; Smith, Robert J. (2012-04-23). Implicit Racial Bias Across the Law (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 27–28. ISBN 978-1-107-01095-6. 
  17. ^ Benson, Tracey A.; Fiarman, Sarah E. (2020-07-22). Unconscious Bias in Schools: A Developmental Approach to Exploring Race and Racism (dalam bahasa Inggris). Harvard Education Press. hlm. pratinjau 26. ISBN 978-1-68253-371-0. 
  18. ^ "Awareness of Implicit Biases | Poorvu Center for Teaching and Learning". poorvucenter.yale.edu. Diakses tanggal 2021-07-11. 
  19. ^ "Unconscious bias". Imperial College London (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-11. 
  20. ^ Fuller, Pamela; Murphy, Mark; Chow, Anne (2020-11-10). The Leader's Guide to Unconscious Bias (dalam bahasa Inggris). Simon & Schuster UK. hlm. pratinjau bagian 6. ISBN 978-1-4711-9591-4. 
  21. ^ "Unconscious bias and implicit bias : Toolkit : ... : Centre for Higher Education and Equity Research (CHEER) : University of Sussex". www.sussex.ac.uk. Diakses tanggal 2021-07-11. 
  22. ^ https://royalsociety.org/~/media/policy/publications/2015/unconscious-bias-briefing-2015.pdf
  23. ^ a b c d https://obamawhitehouse.archives.gov/sites/default/files/microsites/ostp/bias_9-14-15_final.pdf
  24. ^ "Bias Implisit, Bias yang Tak Pernah Anda Sadari Melekat pada Diri". Hello Sehat. 2020-06-16. Diakses tanggal 2021-07-26. 
  25. ^ PatientEngagementHIT (2020-10-16). "What Is Implicit Bias, How Does It Affect Healthcare?". PatientEngagementHIT (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-27. 
  26. ^ "Implicit Bias". National Initiative. Diakses tanggal 2021-07-31. 
  27. ^ "Module 4: Implicit Bias & Microaggressions – Project READY: Reimagining Equity & Access for Diverse Youth" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-28. 
  28. ^ "Unconscious biases". www.forgov.qld.gov.au (dalam bahasa Inggris). 2016-05-27. Diakses tanggal 2021-07-29. 
  29. ^ "The negative effects of implicit bias in schools". WHYY (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-31. 
  30. ^ a b Dee, Thomas; Gershenson, Seth (Tue, 2017-08-01 00:00). "Unconscious Bias in the Classroom: Evidence and Opportunities". Google's Computer Science Education Research (dalam bahasa Inggris). 
  31. ^ a b Long, Cindy. "The Far-Reaching Effects of Implicit Bias in the Classroom | NEA". www.nea.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-29. 
  32. ^ a b "11 Harmful Types of Unconscious Bias and How to Interrupt Them (Blog Post)". Catalyst (dalam bahasa Inggris). 2020-01-02. Diakses tanggal 2021-07-28. 
  33. ^ a b c d e f g h i j k "16 Unconscious Bias Examples and How to Avoid Them in the Workplace". Built In (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-29. 
  34. ^ a b Toll, Author Erich (2021-04-19). "Types of Unconscious Bias". Diversity Resources (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-31. 
  35. ^ "Why Do We Favor Information That Confirms Our Existing Beliefs?". Verywell Mind (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-31. 
  36. ^ https://www.kscmp.org.uk/__data/assets/pdf_file/0015/115161/Unconscious-Bias2020_LBB.pdf
  37. ^ "Conformity Bias". Ethics Unwrapped (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-31. 
  38. ^ "Halo Effect - IResearchNet". Psychology (dalam bahasa Inggris). 2016-01-13. Diakses tanggal 2021-07-29. 
  39. ^ "Examples of Unconscious Bias and How to Reduce Their Impact • SpriggHR". SpriggHR (dalam bahasa Inggris). 2020-02-17. Diakses tanggal 2021-07-29. 
  40. ^ a b "Unconscious Bias and Assumptions - Human Resources | University of South Carolina". sc.edu. Diakses tanggal 2021-07-29. 
  41. ^ Skrzypinski, Catherine; Skrzypinski, Catherine (2018-03-16). "How to Avoid Beauty Bias When Hiring". SHRM (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-31. 
  42. ^ Asana. "19 Unconscious Bias Examples and How to Prevent Them • Asana". Asana (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-31. 
  43. ^ a b "Strategies to Address Unconscious Bias | diversity.ucsf.edu". diversity.ucsf.edu. Diakses tanggal 2021-07-12. 
  44. ^ "Unconscious Bias". diversity.llnl.gov. Diakses tanggal 2021-07-28. 
  45. ^ Sriram, N.; Greenwald, Anthony G. (2009). "The Brief Implicit Association Test". Experimental Psychology. 56 (4): 283–294. doi:10.1027/1618-3169.56.4.283. ISSN 1618-3169. PMID 19439401. 
  46. ^ "Unconscious bias in teaching". mit-teaching-systems-lab.github.io (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-29.