Bedah pintas arteri koroner

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bedah pintas arteri koroner
Intervensi
Coronary artery bypass surgery Image 657C-PH.jpg
Pada tahap awal bedah pintas arteri koroner, selama pengambilan vena dari kaki (gambar kiri) dan dimulainya prosedur bypass kardiopulmoner ditandai dengan peletakan kanul aorta (gambar bawah). Mesin perfusi dan jantung-paru ada di kanan atas.
SinonimCangkok pintas arteri koroner
ICD-10-PCS021209W
ICD-9-CM36.1
MeSHD001026
MedlinePlus002946

Bedah pintas arteri koroner atau dalam bahasa Inggris disebut coronary artery bypass graft (CABG) merupakan sebuah prosedur bedah untuk mengembalikan aliran darah normal pada arteri koroner yang mengalami obstruksi. Arteri koroner yang normal akan mengalirkan darah ke otot jantung dengan sendirinya, tanpa melalui sistem sirkulasi utama.

Terminologi[sunting | sunting sumber]

René Gerónimo Favaloro adalah seorang ahli bedah kardiotoraks asal Argentina dan pengajar terkenal di bidang CABG menggunakan vena saphena.
Tiga CABG, LIMA ke LAD dan dua cangkok vena saphena – satu ke sistem arteri koroner kanan dan satu ke sistem marginal.

Ada banyak variasi dalam terminologi, yaitu satu atau lebih dari salah satu kata "arteri", "bypass" atau "cangkok" tidak digunakan. Akronim yang paling sering digunakan untuk jenis operasi ini adalah CABG (diucapkan seperti cabbage dalam bahasa Inggris).[1] Pada awalnya, istilah bypass aortokoroner (aortocoronary bypass (ACB)) lebih sering digunakan untuk menjelaskan prosedur ini.[2] CAGS (bedah cangkok arteri koroner, diucapkan secara fonetis) tidak boleh disamakan dengan angiografi koroner (CAG).

Jumlah pemintasan arteri[sunting | sunting sumber]

Ilustrasi pintas tunggal, ganda, triplet, dan kuartet

Istilah pintas tunggal, pintas ganda, pintas triplet, pintas kuartet, dan pintas kuintet mengacu pada jumlah arteri koroner yang dipintas dalam prosedur ini. Dengan kata lain, pintas ganda berarti dua arteri koroner yang dilakukan pemintasan (misalnya arteri koroner anterior descending kiri (LAD) dan arteri koroner kanan (RCA)); pintas triplet berarti tiga pembuluh darah dipintas (misalnya LAD, RCA dan arteri sirkumfleks kiri (LCX)); pintas kuartet berarti empat pembuluh darah dipintas (misalnya LAD, RCA, LCX dan arteri diagonal pertama LAD) sedangkan pintas kuintet berarti lima pintasan. Obstruksi arteri koroner utama kiri memerlukan dua bypass, satu ke LAD dan satu ke LCX.

Sebuah arteri koroner mungkin tidak cocok untuk dilakukan pemintasan jika ukurannya kecil (<1 mm atau <1,5 mm), sangat terkalsifikasi, atau terletak di dalam otot jantung daripada di permukaan. Obstruksi tunggal dari arteri koroner utama kiri dikaitkan dengan risiko kematian jantung yang lebih tinggi dan biasanya menerima pintas ganda.[3]

Ahli bedah meninjau kembali angiogram koroner sebelum melakukan tindakan bedah dan mengidentifikasi jumlah obstruksi, persentase obstruksi pada tiap arteri koroner, dan kesesuaian arteri koroner di luar obstruksi sebagai target arteri yang dipintas. Jumlah cangkok pintas yang diperlukan serta lokasi untuk peletakan cangkok arteri ditentukan pada tahap awal sebelum operasi, tetapi keputusan akhir mengenai jumlah dan lokasi dibuat selama operasi dengan pemeriksaan jantung secara langsung.

Efikasi[sunting | sunting sumber]

  • Pedoman ACC/AHA untuk CABG pada tahun 2004 menyebutkan bahwa CABG adalah tatalaksana pilihan untuk:[4]
    • kerusakan pada arteri koroner utama kiri (LMCA),
    • kerusakan pada ketiga arteri koroner utama (LAD, LCX dan RCA), dan
    • kerusakan difus yang tidak dapat ditangani dengan PCI.
  • Pedoman ACC/AHA pada tahun 2005 lebih lanjut menyebutkan bahwa CABG adalah pengobatan pilihan dengan pasien berisiko tinggi lainnya, seperti pasien dengan disfungsi ventrikel yang berat (yaitu fraksi ejeksi rendah), atau diabetes mellitus.[4]
  • Operasi pintas dapat meringankan angina ketika lokasi obstruksi parsial menghalangi aliran darah dengan stent.
  • Operasi pintas tidak mencegah infark miokard di masa depan.[5]
  • Usia bukanlah faktor dalam menentukan risiko vs manfaat CABG.[6]

Prognosis setelah dilakukannya tindakan CABG tergantung pada berbagai macam faktor. Pencangkokan yang berhasil biasanya bertahan hingga 8-15 tahun. Secara umum, CABG meningkatkan kemungkinan keberlangsungan hidup pasien yang berisiko tinggi (umumnya tiga kali lipat atau lebih tinggi pada bypass), meskipun secara statistik setelah lima tahun kemudian terdapat penurunan tingkat kelangsungan hidup antara mereka yang telah menjalani operasi dengan mereka yang diobati dengan terapi obat-obatan. Usia pada saat CABG sangat penting untuk prognosis. Pasien yang lebih muda tanpa penyakit komplikasi memiliki prognosis yang lebih baik, sementara pasien yang lebih tua biasanya dapat diperkirakan mengalami blokade yang lebih lanjut.[7]

Vena dapat digunakan pada tindakan cangkok, baik dengan pelepeasan katup atau pemutaran katup sehingga katup di dalamnya tidak menghalangi aliran darah di cangkok. Alat bantu eksternal dapat ditempatkan pada vena sebelum dilakukan pencangkokan ke dalam sirkulasi koroner pasien. Cangkok LITA (left internal thoracic artery) lebih tahan lama daripada cangkok vena. LITA lebih kuat daripada vena dan sudah terhubung ke pohon arteri sehingga hanya perlu dicangkokkan pada salah satu ujungnya. LITA biasanya dicangkokkan ke arteri koroner anterior desendens kiri (LAD) karena patensi jangka panjangnya yang superior bila dibandingkan dengan cangkok vena saphena.[8][9]

Prosedur[sunting | sunting sumber]

Cangkok Pintas Arteri Koroner Tradisional[sunting | sunting sumber]

Selama operasi, tulang dada dibuka untuk mengakses jantung. Obat-obatan diberikan untuk menghentikan jantung, dan mesin bypass jantung-paru digunakan untuk mempertahankan aliran darah dan oksigen bergerak ke seluruh tubuh selama operasi. Hal ini memungkinkan ahli bedah untuk melakukan tindakan pada jantung yang diam.[10]

Setelah operasi, aliran darah ke jantung dikembalikan. Biasanya, jantung akan berdetak lagi dengan sendirinya. Dalam beberapa kasus, kejutan listrik ringan digunakan untuk menghidupkan kembali jantung.[10]

Cangkok Bypass Arteri Koroner Off-Pump[sunting | sunting sumber]

Jenis CABG ini mirip dengan CABG tradisional karena tulang dada dibuka untuk mengakses jantung. Namun, jantung tidak berhenti, dan mesin bypass jantung-paru tidak digunakan.[10]

Cangkok Bypass Arteri Koroner Langsung Invasif Minimal[sunting | sunting sumber]

Tindakan ini mirip dengan CABG off-pump. Namun, alih-alih sayatan besar (potong) untuk membuka tulang dada, beberapa sayatan kecil dibuat di sisi kiri dada di antara tulang rusuk.

Jenis operasi ini terutama digunakan untuk memotong pembuluh darah di depan jantung. Ini adalah prosedur yang cukup baru yang dilakukan lebih jarang daripada jenis CABG lainnya.

Jenis CABG ini bukan untuk semua orang, terutama jika lebih dari satu atau dua arteri koroner perlu di-bypass.[10]

Komplikasi[sunting | sunting sumber]

Meskipun ada penurunan semua prosedur revaskularisasi jantung, masih ada lebih dari 200.000 operasi CABG yang dilakukan di Amerika Serikat setiap tahunnya, dan sekitar 14% dari pasien ini kembali ke rumah sakit dalam waktu 30 hari setelah keluar dari rumah sakit akibat komplikasi pasca operasi.

Faktor risiko mortalitas dan morbiditas pasca operasi CABG dapat dibagi menjadi tiga kategori: karakteristik pasien, karakteristik klinisi, dan faktor pascaoperasi. Beberapa komplikasi pasca operasi tersebut antara lain: infeksi luka sternum, pneumonia, fenomena tromboemboli, kegagalan cangkok, fibrilasi atrium, hipertensi pulmonal, efusi perikard, stroke, cedera ginjal akut, gangguan gastrointestinal, dan ketidakstabilan hemodinamik.[11]

Mortalitas keseluruhan yang berhubungan dengan tindakan CABG adalah sekitar 3-4%. Selama dan segera setelah operasi CABG, serangan jantung dapat terjadi pada sekitar 5-10% pasien dan merupakan penyebab utama kematian. Sekitar 5% pasien memerlukan tindakan eksplorasi karena perdarahan. Operasi kedua ini meningkatkan risiko infeksi dan komplikasi paru-paru. Stroke terjadi pada 1-2%, terutama pada pasien usia lanjut. Kematian dan komplikasi meningkat seiring dengan:

  • usia (lebih dari 70 tahun),
  • fungsi otot jantung yang buruk,
  • sumbatan arteri koroner utama kiri,
  • diabetes,
  • penyakit paru kronis, dan
  • gagal ginjal kronis.

Kematian mungkin lebih tinggi pada wanita, terutama karena usia lanjut pada saat operasi CABG dan arteri koroner yang lebih kecil. Wanita menderita penyakit arteri koroner sekitar 10 tahun lebih lambat daripada pria karena adanya faktor protektif hormonal saat mereka masih menstruasi secara teratur. Wanita pada umumnya bertubuh lebih kecil daripada pria, dengan arteri koroner yang lebih kecil. Arteri koroner yang kecil ini membuat operasi CABG secara teknis lebih sulit dan menjadi lebih lama. Pembuluh darah yang lebih kecil juga menurunkan fungsi cangkok jangka pendek dan jangka panjang.[12]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "American Heart Association". www.heart.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-10. 
  2. ^ "Google Books Ngram Viewer". books.google.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-10. 
  3. ^ Ramadan, Ronnie; Boden, William E.; Kinlay, Scott (2018-03-31). "Management of Left Main Coronary Artery Disease". Journal of the American Heart Association: Cardiovascular and Cerebrovascular Disease. 7 (7). doi:10.1161/JAHA.117.008151. ISSN 2047-9980. PMC 5907594alt=Dapat diakses gratis. PMID 29605817. 
  4. ^ a b null, null; Eagle, Kim A.; Guyton, Robert A.; Davidoff, Ravin; Edwards, Fred H.; Ewy, Gordon A.; Gardner, Timothy J.; Hart, James C.; Herrmann, Howard C. (2004-08-31). "ACC/AHA 2004 Guideline Update for Coronary Artery Bypass Graft Surgery: Summary Article". Circulation. 110 (9): 1168–1176. doi:10.1161/01.CIR.0000138790.14877.7D. 
  5. ^ Kolata, Gina (2004-03-21). "New Heart Studies Question the Value Of Opening Arteries". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2021-07-10. 
  6. ^ Ohki, S.; Kaneko, T.; Satoh, Y.; Inaba, H.; Kaki, N.; Yamagishi, T.; Morishita, Y. (2002-09). "[Coronary artery bypass grafting in octogenarian]". Kyobu Geka. The Japanese Journal of Thoracic Surgery. 55 (10): 829–833; discussion 833–836. ISSN 0021-5252. PMID 12233100. 
  7. ^ Weintraub, William S.; Clements, Stephen D.; Crisco, L. Van-Thomas; Guyton, Robert A.; Craver, Joseph M.; Jones, Ellis L.; Hatcher, Charles R. (2003-03-11). "Twenty-Year Survival After Coronary Artery Surgery". Circulation. 107 (9): 1271–1277. doi:10.1161/01.CIR.0000053642.34528.D9. 
  8. ^ Kitamura, S.; Kawachi, K.; Kawata, T.; Kobayashi, S.; Mizuguchi, K.; Kameda, Y.; Nishioka, H.; Hamada, Y.; Yoshida, Y. (1996-03). "[Ten-year survival and cardiac event-free rates in Japanese patients with the left anterior descending artery revascularized with internal thoracic artery or saphenous vein graft: a comparative study]". Nihon Geka Gakkai Zasshi. 97 (3): 202–209. ISSN 0301-4894. PMID 8649330. 
  9. ^ Arima, Mizuhiro; Kanoh, Tatsuji; Suzuki, Takeshi; Kuremoto, Kenichi; Tanimoto, Kosei; Oigawa, Tetsuya; Matsuda, Shigeru (2005). "Serial Angiographic Follow-up Beyond 10 Years After Coronary Artery Bypass Grafting". Circulation Journal. 69 (8): 896–902. doi:10.1253/circj.69.896. 
  10. ^ a b c d "Cardiac Surgery - Coronary Artery Bypass Grafting (CABG)". cardiacsurgery.ucsf.edu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-07-10. Diakses tanggal 2021-07-10. 
  11. ^ "Coronary artery bypass graft surgery complications: A review for emergency clinicians". The American Journal of Emergency Medicine (dalam bahasa Inggris). 36 (12): 2289–2297. 2018-12-01. doi:10.1016/j.ajem.2018.09.014. ISSN 0735-6757. 
  12. ^ "Coronary Artery Bypass Graft (CABG) Surgery, Risks, Life Expectancy". MedicineNet (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-11.