Bedah kepala leher

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Bedah Kepala Leher merupakan salah satu cabang Otolaringologi (THT) di mana istilah ini menjelaskan tindakan-tindakan medik maupun operasi di daerah kepala dan leher, terutama untuk mengatasi keganasan tumor.

Tumor-tumor di daerah kepala dan leher[sunting | sunting sumber]

Di sisni akan dibicarakan beberapa tumor yang sering di kepala dan leher:

Tumor Nasofaring[sunting | sunting sumber]

Di Indonesia, Tumor ganas nasofaring merupakan tumor ganas yang paling sering di daerah kepala dan leher. Umumnya pasine datang ke petugas kesehatan dalam stadium yang sudah lanjut.

Tumor ini merupakan tumor yang tumbuh di tenggorok bagian belakang dari hidung.

Gejala yang sering timbul

  • Telinga terasa penuh sebelah, dan kadang berdenging
  • benjolan di leher
  • Ludah bercampur darah
  • Hidung tersumbat
  • Mimisan
  • Penglihatan ganda/membayang
  • Lendir dari hidung bercampur darah dan kadang berbau
  • Sakit Kepala

Tumor Sinus Paranasal[sunting | sunting sumber]

Tumor ganas di sinus paranasal dan hidung relatif jarang dan umumnya paien dtang ke dokter sudah dalam stadium yang lanjut. Tidak jarang pasien datang ke dokter karena keluhan gigi sebagai keluhan utamanya, atau penonjolan pada mata.

Tumor Laring (Pita Suara)[sunting | sunting sumber]

Tumor laring merupakan kasus yang paling sering di kepala leher di amerika, namun di indonesia tumor ini merupakan tumor tersering ke 3 di daerah kepala dan leher.

Suara serak dan sesak napas merupakan keluhan yang sering di keluhkan pasien. Berdasarkan letaknya tumor ini dibagi menjadi:

  1. Supraglotis
  2. Glotis
  3. Subglotis

Kanker Hidung[sunting | sunting sumber]

Kanker rongga hidung dan sinus paranasal adalah tumor ganas yang dimulai dari dalam rongga hidung atau sinus paranasal disekitar hidung. Rongga hidung merupakan sebuah ruang di belakang hidung di mana udara melewatinya masuk ke tenggorokan. Sinus paranasal adalah daerah yang dipenuhi-udara yang mengelilingi rongga hidung pada pipi (sinus maksila), diatas dan di antara mata (sinus etmoid dan sinus frontal), dan di belakang etmoid (sinus sfenoid). Kanker sinus maksila merupakan tipe paling sering kanker sinus paranasal. (1)

Tumor jinak pada hidung dan sinus paranasal sering ditemukan, tetapi tumor yang ganas termasuk jarang, hanya 3% dari tumor kepala dan leher atau kurang dari 1% seluruh tumor ganas. (2)

Gejala-gejala dan tanda klinis semua tumor hidung dan sinus paranasal hampir mirip, sehingga seringkali hanya pemeriksaan histopatologi saja yang dapat menentukan jenisnya. (2)

Hidung dan sinus paranasal merupakan rongga yang saling berhubungan dan seringkali tumor ditemukan pertamakali pada stadium yang sudah lanjut, sehingga tidak dapat ditentukan lagi asal tumor primernya. Tumor ganas hidung dan sinus paranasal termasuk tumor yang sukar diobati secara tuntas dan angka kesembuhannya masih sangat rendah. (2)

Rongga hidung dikelilingi oleh 7 sampai 8 rongga sinus paranasal yaitu sinus maksila, etmoid anterior dan posterior, frontal dan sfenoid. Kedelapan sinus ini bermuara ke meatus medius rongga hidung. Oleh sebab itu pembicaraan mengenai tumor ganas hidung tidak dapat dipisahkan dari tumor ganas sinus paranasal karena keduanya saling mempengaruhi kecuali jika ditemukan masing-masing dalam keadaan dini. (4)

Faktor risiko, yang jika muncul, dapat meningkatkan risiko antara lain: tembakau, infeksi, imunitas rendah, riwayat kanker, terhirup sebuk gergaji. Gejala dan tanda yang paling umum adalah: obstruksi hidung, masalah pernafasan, nyeri lokal, pembengkakan leher dan wajah, masalah persarafan, dan tanda metastasis. (5)

Langkah umum dalam evaluasi dugaan kanker rongga hidung termasuk: pemeriksaan fisik, pemeriksaan endoskopi, tes urin dan darah, tes pencitraan, dan biopsi. (5)