Lompat ke isi

Daftar tokoh wayang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tokoh wayang Werkudara

Daftar tokoh wayang menampilkan nama tokoh-tokoh yang muncul dalam wiracarita Ramayana dan Mahabharata yang sering dipentaskan dalam pertunjukan wayang.

Batara-Batari (Dewa-Dewi)

[sunting | sunting sumber]

Batara-Batari dalam pewayangan merupakan Dewa-Dewi yang muncul dalam mitologi agama Hindu di India, dan diadaptasi oleh budaya Jawa. Dewa dalam budaya Jawa disebut sebagai Batara (pria) atau Batari (perempuan).

Awal mula

[sunting | sunting sumber]

Seluruh dewa-dewi dimulai dari Nabi Adam, dengan urutan:

  1. Sang Hyang Adhama (Nabi Adam)
  2. Sang Hyang Sita
  3. Sang Hyang Nurcahya (Sayid Anwar)

Pertama munculnya Hyang Nur Cahya, bertempat tinggal di puncak gunung Mahameru. Hyang Nur Cahya menurunkan Nurasa, lalu menurunkan Hyang Wenang, lalu Hyang Tunggal dan berikutnya terciptalah dewata. Dalam hal ini, Sang Hyang Nurcahya ialah dewa pertama yang menurunkan para dewa-dewi di segala penjuru bumi, termasuk dewa-dewi dalam tradisi Hindu maupun Jawa.

  1. Sang Hyang Nurcahya
  2. Sang Hyang Nurrasa
  3. Sang Hyang Taya
  4. Sang Hyang Wenang
  5. Sang Hyang Tunggal
  6. Sang Hyang Rancasan
  7. Sang Hyang Ismaya (Semar)
  8. Sang Hyang Tejamaya (Togog)
  9. Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru)

Batara generasi awal

[sunting | sunting sumber]

Generasi awal ini terlahir dari bagian telur. Menurut R.A. Kosasih, urutannya dimulai dari Antaga, Ismaya, Manikmaya. Hanya kepada Manikmayalah Keturunan berikutnya di teruskan.

  • Sang Hyang Antaga, berasal dari kulit telur. Merasa dirinya lebih penting dari ketiganya, dia beradu ilmu dan sempat kalah. Tidak terima kekalahannya, dia menantang saudaranya beradu ilmu terakhir yaitu menelan gunung tetapi dia gagal dan berakibat dirinya seperti sekarang. Antaga kemudian diberikan nama Togog. Diberikan tugas untuk berada di sisi kejahatan dan mengayomi Kurawa.
  • Sang Hyang Ismaya, berasal dari putih telur yang nantinya akan menjadi Semar. Dia beradu ilmu dengan Antaga karena Togog atau Antaga yang bersifat sombong. Maka Semar dapat mengalahkan Togog atau Antaga ketika sayembara menelan gunung sehingga perutnya membesar seperti bentuknya sekarang. Dan tugas Semar yakni mengayomi Pandawa.
  • Sang Hyang Manikmaya, berasal dari kuning telur. Yang menjadi pemimpin dan bapak para batara-batara selanjutnya. Gelarnya banyak salah satunya batara Guru.

Walaupun dalam kehidupan nantinya mereka akan berpisah dan mengabdi pada orang yang berbeda, tetapi mereka memiliki satu tugas penting yaitu menjaga keseimbangan dunia. Pada masa depan akan banyak muncul ketidakseimbangan dunia seperti ulah Rahwana hingga perang Mahabaratha, tetapi semua itu adalah sebuah proses keseimbangan dunia yang sudah diatur.

Batara Indra

Keturunan Batara Guru

[sunting | sunting sumber]

Keturunan Batara Guru dengan Dewi Uma

  1. Batara Sambu
  2. Batara Bayu
  3. Batara Brahma
  4. Batara Indra
  5. Batara Wisnu
  6. Batara Ganesha
  7. Batara Kala
  8. Anoman

Dewa generasi berikutnya

[sunting | sunting sumber]
Batari Durga

Para Dewi

[sunting | sunting sumber]
  1. Batari Durga (Batari Uma)
  2. Batari Dresanala (Dersanala)
  3. Batari Wilutama
  4. Batari Ratih (Kamaratih)
  5. Batari Siwagnyana
  6. Batari Astuti
  7. Batari Dremi

Daftar tokoh wayang yang muncul di kisah Wayang Purwa (RA Kosasih)

Tokoh-tokoh Ramayana dalam budaya pewayangan Jawa diambil dan diadaptasi dari mitologi Hindu di India.

Keterangan
Tokoh dengan font tebal miring adalah tokoh asli Pujangga Jawa dan tidak ada dalam kitab asli Ramayana

Arjuna
Duryodana

Tokoh-tokoh era Mahabharata dalam budaya pewayangan Jawa diambil dan diadaptasi dari Kitab asli Mahabrata yang merupakan kitab peradaban Hindu. Namun, sebagian tokoh merupakan asli tokoh kreasi pujangga Jawa. Pada era Mahabharata dimulai dari leluhur Pandawa dan Korawa, sampai dengan putra-putranya.

  1. Abimanyu
  2. Abyasa (Resi Abyasa)
  3. Adirata
  4. Agrariyin
  5. Agrasara
  6. Ajibarang
  7. Amba
  8. Ambalika
  9. Ambika
  10. Antakadewa (Caranggana)
  11. Antakawulan
  12. Antareja (Anantareja)
  13. Antasena (Anantasena)
  14. Aribawa (gagrak solo)
  15. Aribawono **
  16. Arimba
  17. Arimbaka
  18. Arimbi
  19. Arjuna (Janaka)
  20. Aswatama
  21. Badrahini'
  22. Bagaspati (Begawan Bagaspati)
  23. Baladewa
  24. Balandari **
  25. Banowati (Banuwati)
  26. Basupati
  27. Basudewa
  28. Basukesti
  29. Basukiswara
  30. Basukunti
  31. Bima (Werkudara)
  32. Bima Andaka **
  33. Bimandari **
  34. Bimaratha
  35. Bimasuwala
  36. Bimawan **
  37. Bisma (Resi Bisma)
  38. Bogadenta
  39. Bomantara
  40. Bomawikata
  41. Bratalaras (Branlataras)
  42. Brajadenta
  43. Brajalamatan
  44. Brajamusti
  45. Brajawikalpa
  46. Burisrawa
  47. Cakil
  48. Carucitra
  49. Cedhakapuspa
  50. Citrabaya
  51. Citraboma
  52. Citradharma
  53. Citradirgantara
  54. Citrakala
  55. Citraksa
  56. Citraksi
  57. Citrakunda
  58. Citrakundala
  59. Citramarma (Citrawarma)
  60. Citrasanda
  61. Citrasena
  62. Citrasurti
  63. Citrawicitra
  64. Citrayuda
  65. Damayanti
  66. Danurdara
  67. Darmagosa
  68. Darmajahi
  69. Darmayuda
  70. Dirgabahu
  71. Dirgacitra
  72. Dirgasura
  73. Drona (Resi Dorna)
  74. Dredawarma
  75. Drestajumna
  76. Dretarastra
  77. Drupada
  78. Drupadi
  79. Druwasa
  80. Durasa
  81. Durdara (Duradara)
  82. Durgahamong
  83. Durganda
  84. Durgandasena
  85. Durgandini (Setyawati)
  86. Durgangsa
  87. Durganta
  88. Durgantara
  89. Durgapati
  90. Durgempo
  91. Durjaya
  92. Durkaruno
  93. Durmagati
  94. Durmanggala
  95. Durmuka
  96. Durnetra
  97. Durpakempa
  98. Dursaha
  99. Dursahesa
  100. Dursasana
  101. Dursaya
  102. Dursilawati
  103. Durwimocana
  104. Duryuda
  105. Duryudana (Suyudana)
  106. Dusadara
  107. Dusprajaya
  108. Dyah Sarimaya
  109. Ekalaya (Palgunadi)
  110. Gagarmayang
  111. Gatotkaca
  112. Gandabayu
  113. Gandamana
  114. Gandari (Gendari)
  115. Gandawati
  116. Ganggapranawa
  117. Gardapati
  118. Gardapura
  119. Giyanti (hanya ada di Gagrak Banyumasan)
  120. Gunadewa'
  121. Hadimba
  122. Hanudara
  123. Irawan (Gambiranom)
  124. Jalasaha
  125. Janamejaya
  126. Jarasanda
  127. Jayaboma
  128. Jayadarma
  129. Jayadrata
  130. Jayapermeya
  131. Jayasakti
  132. Jayasusena
  133. Jayasuwirya
  134. Jayawikata
  135. Jembawati
  136. Jimambang
  137. Juwitaningrat
  138. Kalabendana
  139. Kangsadewa
  140. Karna
  141. Kartadenda
  142. Kartamarma (Kertawarma)
  143. Kawati
  144. Kayapasena **
  145. Kencakarupa
  146. Kertipeya
  147. Kratana
  148. Krepa
  149. Kresna
  150. Kumaladewa
  151. Kumalasekti
  152. Kuntiboja
  153. Kuntitalibrata
  154. Kurandageni
  155. Larasati (Rarasati)
  156. Lesmana Mandrakumara
  157. Lesmanawati
  158. Madrim
  159. Maerah
  160. Maeswara
  161. Manuhara
  162. Manumayasa (Resi Manumayasa)
  163. Matswapati (Durgandana)
  164. Mumpuni
  165. Mustakaweni
  166. Nagagini
  167. Nagatatmala
  168. Nakula (Pinten)
  169. Naranurwenda
  170. Nilawara
  171. Nilawati
  172. Nirbita (Arya Nirbita)
  173. Niwatakawaca
  174. Pancasena (hanya ada di Gagrag Banyumasan)
  175. Pancawala
  176. Pandhudewanata
  177. Pandikunda
  178. Parasara (Palasara)
  179. Parikesit
  180. Partawijaya
  181. Perdapa
  182. Permeya
  183. Prabakesana
  184. Prabakusuma (Priyambada)
  185. Prada (Dewi Prada)
  186. Pragota
  187. Pramusinta (Bambang Pramusinta)
  188. Pramuwati (Dewi Pramuwati)
  189. Pregiwa
  190. Pregiwati
  191. Pujawati
  192. Rajamala
  193. Ratri
  194. Retnokasimpar
  195. Rekatawati
  196. Rudrakarman (Rodrakarma)
  197. Rukma (Harya Prabu Rukma)
  198. Rukmini
  199. Rupacitra
  200. Rupakenca
  201. Sahadewa (Tangsen)
  202. Sakri
  203. Sakutrem (Sekutrem)
  204. Salya (Narasoma)
  205. Sanga Sanga
  206. Sangkuni
  207. Samba
  208. Sanjaya
  209. Santanu (Sentanu)
  210. Satrunjaya (100)
  211. Satrusaha (100)
  212. Sembadra (Subadra)
  213. Sena Pideksa **
  214. Setiati (Setyati)
  215. Sidik Wacana
  216. Supreti
  217. Sempani (Begawan Sempani)
  218. Senacitra
  219. Seta (Sweta)
  220. Setatama
  221. Setija (Boma Narakasura)
  222. Setyaboma
  223. Setyajid
  224. Setyaka
  225. Setyaki
  226. Setyawati
  227. Siti Sundari
  228. Srengganawati
  229. Srenggini (hanya ada di Gagrak Banyumasan)
  230. Srengginiwati
  231. Sritanjung
  232. Sudarga
  233. Sudirga
  234. Sugatawati
  235. Sulacana
  236. Supala
  237. Sumbada
  238. Sumitra (putra Arjuna)
  239. Sungganawati **)
  240. Supraba
  241. Supreti
  242. Suradurma
  243. Surasudirga
  244. Surata (Arya Surata)
  245. Surtayu (100)
  246. Surtayuda
  247. Surtayuni
  248. Suryaasmara
  249. Surtikanti
  250. Susena
  251. Susenawati **
  252. Swaradenta
  253. Swikandini
  254. Swikerna
  255. Tambakganggeng
  256. Tambapetra
  257. Tokayo (100)
  258. Udawa
  259. Ugrasena (nama muda dari Setyajid)
  260. Ulupi (Palupi)
  261. Upacitra
  262. Urangayu
  263. Utara
  264. Utari
  265. Wahkawaca
  266. Walmuka
  267. Wasukunteya *))
  268. Wicitrawirya
  269. Widandini
  270. Widapaksa (Sidapaksa)
  271. Widura (Yamawidura)
  272. Wijanarka
  273. Wikarpa
  274. Wikataboma
  275. Wilawuk
  276. Wilugangga
  277. Wirata (Arya Wirata)
  278. Wiryajaya
  279. Wisata
  280. Wisanggeni
  281. Wiwingsati
  282. Wratsangka
  283. Wresaya
  284. Yudakarti
  285. Yudhistira (Puntadewa)
  286. Yuyutsu (Wiwitsu)

Keterangan

  • Tokoh yang bertuliskan font tebal miring adalah tokoh asli Pujangga Jawa, dan tidak ada dalam naskah Mahabhrata
  • Tokoh dengan tanda ** belum diketahui gagrak aslinya
  • Tokoh dengan tanda *)) belum memiliki penggambaran bentuk wayang secara baku (berstatus srambahan, biasanya jika muncul dalam pedalangan selalu meminjam tokoh lain/yang serupa)

Era Peralihan

[sunting | sunting sumber]

Pada era peralihan dari Mahabhrata menuju era Madya, terdapat beberapa tokoh tambahan yang tidak lain adalah para cucu dari Pandawa dan Korawa (dimulai dari Prabu Parikesit) serta para pasangan dari putra Pandawa

Pasangan putra keluarga Pandawa dan Korawa

[sunting | sunting sumber]
  1. Asmarawati
  2. Ganggi
  3. Janakawati
  4. Sumpani
  5. Suryawati
  6. Susatya (Arya Susatya)
Parikesit

Cucu Pandawa dan Korawa (beserta istrinya)

[sunting | sunting sumber]
  1. Parikesit
  2. Danurwenda
  3. Dwara
  4. Jayasena
  5. Jayasumpena
  6. Kadriti
  7. Nagapratala
  8. Pancakusuma
  9. Sabekti (Bambang Sabekti)
  10. Sasikirana (Megantara)
  11. Sayekti (Niken Sayekti)
  12. Suryakaca (Bambang Kaca)
  13. Warsakusuma
  14. Wisangkara (Wisantara)

Era Madya adalah era setelah Mahabhrata, yang dimulai dari tokoh Yudayaka (putra Parikesit, dan merupakan cicit dari Arjuna). Kisah berlanjut sampai dengan era Jayabaya dan Angling Dharma

  1. Ambarawati
  2. Angling Dharma
  3. Angling Kusuma
  4. Astradarma
  5. Batik Madrim
  6. Gandakusuma
  7. Gendrayana
  8. Jayabaya
  9. Merusupadma
  10. Pramesti
  11. Pramuni
  12. Sara
  13. Sariwahana
  14. Sasanti
  15. Sudarsana
  16. Wil Maricikunda
  17. Yudayaka
  18. Yudayana

Tidak diketahui

[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar tokoh wayang, namun tidak diketahui asal-usul zamannya

  1. Kenyawandu
  2. Ngruni
Semar

Punakawan

[sunting | sunting sumber]

Punakawan adalah para pembantu dan pengasuh setia Pandawa. Dalam wayang kulit, punakawan ini paling sering muncul dalam goro-goro, yaitu babak pertujukan yang sering kali berisi lelucon maupun wejangan.

Versi Jawa Tengah dan Timur

[sunting | sunting sumber]
  1. Semar
  2. Gareng
  3. Petruk
  4. Bagong

Versi Banyumas

[sunting | sunting sumber]

Untuk wayang kulit dan wayang orang.

  1. Semar
  2. Gareng
  3. Petruk
  4. Bawor

Versi Jawa Barat (wayang golek)

[sunting | sunting sumber]
  1. Semar
  2. Cepot atau Astrajingga
  3. Dawala
  4. Gareng

Versi Cirebon

[sunting | sunting sumber]
  1. Semar
  2. Cungkring
  3. Gareng
  4. Curis Sekarpandan
  5. Bagong
  6. Bagal Buntung
  7. Dawala
  8. Ceblok
  9. bitarota

Versi Bali

[sunting | sunting sumber]
  1. Tualen
  2. Merdah
  3. Sangut
  4. Delem
Cangik

Teman para Punakawan

[sunting | sunting sumber]
  1. Togog
  2. Bilung
  3. Limbuk
  4. Cangik

Alias (nama lain) dari para Pandawa

[sunting | sunting sumber]

Dalam cerita lakon wayang versi Jawa, tiap tokoh yang terkenal mempunyai banyak nama menyesuaikan dengan alur cerita yang dipentaskan. Berikut ini nama-nama tersebut:[1]

  • Yudhisthira mendapat sebutan Dharmaputra (Damarputra), Dharmaatmaja (Darmaatmaja), Dharmawangsa (Darmawangsa), Punta, Puntadewa, Dermakusuma atau Darmakusuma.
  • Bima mendapat sebutan Bhima (Bima), Bhimasena (Bimasena), Pawanasuta, Bayusuta, Ballawa, Jagal Bilawa, Birawa, Sena, Arya Sena, Bratasena, Wejasena, Wrekodara, Wrekudara, Werkodara, Werkudara.
  • Arjuna mendapat sebutan Partha (Parta), Dhananjaya (Dananjaya), Wrehannala, Palghuna (Palguna), Palgunadi, Janaka, Pamade, Kombang Ali-ali, Kalithi dan Karithi.
  • Nakula mendapat sebutan Tangsen dan Grantika.
  • Sadewa mendapat sebutan Sahadewa, Tantipala dan Pinten.

Berikut adalah daftar sebutan negara dari masing-masing Pandawa Lima:

  • Negara Yudhisthira (Puntadewa) bernama Indraprastha (Indraprasta), Ngamarta dan Cintakapura.
  • Negara tempat tinggal Bima disebut Jodhipati dan Tanggul Pamenang, maka dari itu Werkudara (Bima) sering disebut sebagai ksatria dari Jodhipati.
  • Negara tempat tinggal Arjuna (Janaka) bernama Madukara dengan taman Maduganda.
  • Negara tempat tinggal Nakula di desa Sawojajar.
  • Sementara negara atau desa tempat tinggal Sadewa bernama Bumi Ratawu.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
  • Slamet Muljana, 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhrathara

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Kisah Pewayangan: Daftar Judul Kisah Wayang dengan Lakon Pandawa Lima". suaramerdeka.com. Diakses tanggal 9 Nov 2025.