Batalaiworu, Muna

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Batalaiworu
Kecamatan
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Tenggara
KabupatenMuna
Pemerintahan
 • CamatWaode Hartaty Sukarsih, S,STP
Luas22.71 km²
Kepadatan610 jiwa/km²
Desa/kelurahanLaiworu, Sidodadi, Wakorambu, Wawesa

Batalaiworu adalah sebuah kecamatan di Kota Raha, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Kecamatan Batalaiworu merupakan pemekaran dari Kecamatan Katobu. Berdasarkan Perda No 27 Thn 2002 tentang pembentukan kecamatan Duruka, Batalaiworu, Lasalepa, Bone,Tiworo Tengah,Watopute, Barangka, Pasir Putih dan Kecamatan Kambowa dalam Lingkup Kabupaten Muna Kecamatan Batalaiworu terdiri dari 2 Desa dan 2 Kelurahan yaitu

yang meliputi 11 Lingkungan dan 22 RT, dengan jumlah penduduk 9.069 jiwa / 1.755 Kepala Keluarga (KK)(1), Luas Wilayah 22.71 Km2[1]

Geografis[sunting | sunting sumber]

Secara astronomis, Kecamatan Batalaiworu terletak di bagian timur Pulau Muna. Secara geografis, Batalaiworu terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan di kira-kira 4°47’ LS - 4°49’ LS dan membentang dari Barat ke Timur diantara 122°40’- 122°44’ BT BT

Batas wilayah administrasi Kecamatan Batalaiworu sebagai berikut:

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kec. Lasalepa
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Selat Buton
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kec. Katobu
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Kec. Watuputih

Luas daratan Kecamatan Batalaiworu yaitu sekitar 22,71 Km2 yang terletak di bagian Timur Pulau Muna. Kecamatan Batalaiworu terdiri atas 2 desa dan 2 kelurahan yaitu Wawesa, Laiworu, Wakorambu, dan Sidodadi.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Batalaiworu pada umumnya beriklim tropis dengan suhu rata-rata antara 25 °C – 27 °C. Seperti halnya daerah lain di Kabupaten Muna, pada bulan November sampai Juni angin bertiup dari benua asia dan samudera pasifik mengandung banyak uap air yang menyebabkan terjadinya hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kecamatan Batalaiworu. Sedangkan musim kemarau terjadi antara bulan Juli dan Oktober, dimana pada bulan ini angin bertiup dari benua Australia yang sifatnya kering dan sedikit mengandung uap air. Seperti halnya daerah Sulawesi Tenggara pada umumnya, di Kecamatan Batalaiworu angin bertiup dengan arah yang tidak menentu, yang mengakibatkan curah hujan yang tidak menentu pula, dan keadaan ini dikenal sebagai musim pancaroba.

Kecamatan Batalaiworu dengan luas 22,71 Km² terdiri atas 2 desa dan 2 kelurahan yaitu Wawesa, Laiworu, Wakorambu, dan Sidodadi. Pada umumnya musim hujan terjadi pada

bulan Desember sampai dengan Juni. Secara rata-rata, banyaknya hari hujan tiap bulan pada tahun 2016 adalah 16 hari dengan rata-rata curah hujan 172,00 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari sebesar 432,50 mm dengan jumlah hari hujan sebesar 21 hari hujan

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Batalaiworu merupakan kecamatan yang berada di bawah administrasi pemerintahan

Kabupaten Muna. Ibu kota Kecamatan Batalaiworu adalah Kelurahan Laiworu. Kecamatan Batalaiworu terdiri dari 4 Desa/Kelurahan yaitu Kelurahan Laiworu dan Sidodadi. 2 desa yaitu desa Wawesa dan Desa Wakorambu.

Pejabat Pemerintah Kecamatan Batalaiworu.

  • Tahun 2002 sd 2004 Samurabi, SH
  • Tahun 2004 sd 2006 Muh. Pahri, S.Sos
  • Tahun 2006 sd 2008 LD, Muchlimin, SE
  • Tahun 2008 sd 2010 Herman Harun, Spd
  • Tahun 2010 sd Sekarang Waode Hartaty Sukarsih, S,STP

Kependudukan dan Ketenagakerjaan[sunting | sunting sumber]

Penduduk Kecamatan Batalaiworu berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2016 sebanyak13.855 jiwa yang terdiri atas 6.674 jiwa penduduk laki-laki dan 7.181 jiwa penduduk perempuan dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.976 rumah tangga. Sementara itu besarnya angka rasio jenis kelamin tahun 2016 penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan sebesar 93,06.

Kepadatan penduduk di Kecamatan Batalaiworu tahun 2016 mencapai 610 jiwa/km2 dengan rata-rata jumlah penduduk per rumah tangga adalah 5 orang. Kepadatan Penduduk di 4 kelurahan/desa cukup beragam dengan kepadatan penduduk tertinggi terletak di Kelurahan Laiworu dengan kepadatan sebesar 2.087 jiwa/km2 dan terendah di Desa Wawesa sebesar 235 jiwa/km2

Tabel 1 Luas Wilayah,Penduduk dan Kepadatan di Kecamatan Batalaiworu
Desa/Kelurahan Luas Wilayah

Area (km2)

Penduduk

(jiwa)

Kepadatan Persebaran

%

Laiworu 4,33 9.035 2.087 65,22
Sidodadi 7,31 2.141 293 15,45
Wakorambu 4,26 1.075 252 7,76
Wawesa 6,81 1.604 235 11,57
Batalaiworu 22,71 13.855 610 100,00

Sosial[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pelaksanaan pembangunan pendidikan di Kecamatan Batalaiworu selama ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Indikator yang dapat mengukur tingkat perkembangan pembangunan pendidikan di Kecamatan Batalaiworu seperti banyaknya sekolah, guru dan murid disajikan pada Tabel 2

Tabel 2 Banyaknya guru,murid dan sekolah pada TK,SD,SMP dan SMA di Kecamatan Batalaiworu
Desa/Kelurahan Taman

Kanak-Kanak

Sekolah Dasar SMP SMA
Sekolah Guru Murid Sekolah Guru Murid Sekolah Guru Murid Sekolah Guru Murid
Wawesa 1 3 9 3 27 295 - - - - - -
Laiworu 9 40 328 7 95 809 4 115 1462 5 168 2254
Wakorambu 1 4 46 1 10 117 - - - - - -
Sidodadi 2 6 67 3 41 348 1 10 226 3 48 490
Jumlah/Total 13 53 450 14 173 1569 5 125 1688 8 216 2744

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Untuk mencapai sasaran pembangunan di bidang kesehatan maupun di bidang program keluarga berencana,pemerintah telah menggiatkan pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana kesehatan dan keluarga berencana sampai ke pelosok pedesaan.

Jumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kecamatan Batalaiworu pada tahun 2016 disajikan pada Tabel 3. yaitu 8 buah, yang terdiri dari, 1 puskesmas, 5 toko obat dan 2 Balai Pengobatan /UKBM

Tabel 3 Banyaknya sarana kesehatan menurut desa/kelurahan di Kecamatan Batalaiworu
Desa/Kelurahan Puskesmas Toko Obat Balai Pengobatan/

UKBM

Posyandu Klinik KB Pos Pelayanan

KB

Wawesa - - 1 2 1
Laiworu - 4 - 5 1 1
Wakorambu 1 - - 1 1 1
Sidodadi - 1 1 2 1 1
Jumlah/Total 1 5 2 10 3 4

Agama[sunting | sunting sumber]

Kegiatan pembangunan di bidang agama seperti pembangunan sarana peribadatan di Kecamatan Batalaiworu disajikan pada Tabel 4. Pada tahun 2016 jumlah tempat peribadatan di Kecamatan Batalaiworu berjumlah 16 unit, terdiri dari mesjid 14 unit dan gereja 2 unit

Tabel 4 Banyaknya Jumlah Tempat Ibadah
Desa/Kelurahan Masjid Gereja
Wawesa 2
Laiworu 8
Wakorambu 1
Sidodadi 3 2
Jumlah/Total 14 2

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Peternakan[sunting | sunting sumber]

Jumlah sapi di Kecamatan Batalaiworu pada tahun 2016 sebanyak 826 ekor, kambing sebanyak 343 ekor, ayam kampung sebanyak 74.641 ekor, ayam ras pedaging sebanyak 11.834 ekor, ayam ras petelur 3.506 ekor dan itik sebanyak 962 ekor.

Perikanan[sunting | sunting sumber]

Banyaknya produksi perikanan menurut jenis komoditas perikanan tahun 2014 yaitu ikan tangkap 1,94 dan ikan budidaya 3,29

Industri,Pertambangan,Energi dan Konstruksi[sunting | sunting sumber]

Industri[sunting | sunting sumber]

Pembangunan dibidang industry ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja, meratakan kesempatan berusaha, meningkatkan ekspor, menunjang

pembangunan daerah, serta memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Di Kecamatan Batalaiworu tahun 2016 sebagaimana disajikan pada Tabel 5 tercatat ada 2 dan menyerap tenaga kerja sebanyak . Jumlah industry terbanyak terdapat di Kelurahan Laiworu berjumlah 140 industri .

Tabel 5 Banyaknya Industri tiap desa/kelurahan
Desa/Kelurahan Industri B/S Industri

Kecil

Industri

Rumah Tangga

Makanan Pakaian Jadi Tekstil Barang Galian Bukan Logam Furnitur
Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Jumlah

(unit)

Naker

(orang)

Wawesa - - - - 32 55 24 40 1 2 1 1 1 3 4 6
Laiworu 1 20 8 59 131 165 76 92 24 32 3 3 3 3 14 53
Wakorambu - - 4 20 21 29 12 16 4 4 3 3 2 10 2 6
Sidodadi - - 2 16 21 43 7 10 4 4 1 1 4 18 6 16
Jumlah/Total 1 20 14 95 205 292 119 158 33 42 8 8 10 34 26 81

Energi[sunting | sunting sumber]

Pertambangan adalah suatu kegiatan pengambilan endapan bahan galian berharga dan bernilai ekonomis dari dalam kulit bumi, di bawah permukaan bumi dan di bawah permukaan air.

Di Kecamatan Batalaiworu sampai dengan tahun 2016 belum ada perusahaan pertambangan, yang ada adalah usaha penggalian golongan C yang diusahakan oleh masyarakat. usaha penggalian terdapat di kelurahan laiworu sebanyak 3 unit dengan tenaga kerja sebanyak 6 orang dan produksi galian sebesar 174 m3

Listrik[sunting | sunting sumber]

Di Kecamatan Batalaiworu, kebutuhan masyarakat akan tenaga listrik sebagian besar diperoleh dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rayon Raha, yang sebelumnya merupakan ranting dari PLN Cabang Bau-Bau, sedangkan bagi masyarakat yang tidak terjangkau dengan jaringan listrik dari PLN biasanya menggunakan lampu minyak tanah dan tenaga listrik non PLN sebagai alat penerangan. Tabel 7 menggambarkan jumlah rumah tangga pengguna listrik di Kecamatan Batalaiworu tahun 2016 yaitu sebanyak 2.763 rumah tangga.

Tabel 6 Sumber Energi Listrik tiap desa/kelurahan
Desa/Kelurahan Sumber Listrik
PLN meteran

/Non meteran

non PLN Jumlah/Total
Wawesa 342 3 345
Laiworu 1920 20 1940
Wakorumba 228 2 230
Sidodadi 457 4 461
Jumlah/Total 2763 29 2976

Air Minum[sunting | sunting sumber]

Pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap kebutuhan air bersih di Kecamatan Batalaiworu sebagian besar masih menggunakan air sumur. Pada tahun 2016 pelanggan PDAM baik menggunakan meteran maupun non meteran sebanyak 825 pelanggan.

Tabel 7 Sumber Air Minum tiap Desa/Kelurahan
Desa/Kelurahan Ledeng

PAM

Sumur Mata Air Jumlah/Total
Wawesa 30 300 15 345
Laiworu 717 1161 62 1940
Wakorambu 6 204 20 230
Sidodado 72 360 29 461
Jumlah/Total 825 2025 126 2976

Perdagangan[sunting | sunting sumber]

Sektor perdagangan merupakan salah satu sektor yang mampu menggerakkan perekonomian suatu wilayah. Di Kecamatan Batalaiworu terdapat pasar Laino. Selain itu banyaknya toko, kios, dan warung makan menurut Desa/ Kelurahan di Kecamatan Batalaiworu pada tahun 2016 dapat dilihat pada tabel 8

Tabel 8 Banyaknya Pedagang Besar, Eceran,Kios,Toko dan Rumah Makan di tiap kelurahan/desa
Desa/Kelurahan Pedagang Besar

(Orang)

Pedagang Eceran

(Orang)

Toko

(Unit)

Kios

(Unit)

Rumah Makan

/Warung (Unit)

Jumlah
Wawesa - 80 - 30 - 110
Laiworu 31 1.070 49 457 82 1689
Wakorambu - 40 1 10 1 52
Sidodadi 1 75 13 28 6 123
Jumlah/Total 32 1.265 63 525 89 1.974

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Sarana angkutan dan komunikasi merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan masyarakat yang dapat mendukung terciptanya kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat. Angkutan darat terdiri dari kendaraan bermotor dan tidak bermotor. Jumlah kendaraan bermotor di Kecamatan Batalaiworu dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Peningkatan ini dikarenakan masyarakat semakin membutuhkan kendaraan untuk memperlancar kegiatan sehari-hari mereka. Banyaknya angkutan darat menurut Desa/Kelurahan dan jenisnya di Kecamatan Batalaiworu dapat dilihat

pada Tabel 9

Tabel9 Banyaknya angkutan darat menurut desa/kelurahan
Desa/

Kelurahan

Mobil

Pribadi

Mikrolet Truk Ojek/

Motor

Jumlah
Wawesa 1 1 - 64 112
Laiworu 70 5 12 140 642
Wakorambu 9 3 2 52 61
Sidodadi 40 1 4 70 175
Jumlah/Total 120 10 18 326 990

Keuangan Daerah dan Harga[sunting | sunting sumber]

Kegiatan pencatatan harga pada kurun waktu tertentu merupakan aktivitas yang sangat penting dalam memantau kegiatan perekonomian, karena harga merupakan salah satu indikator untuk mengukur tingkat stabilitas ekonomi atau keseimbangan antara penawaran dan permintaan akan barang dan jasa.

Adapun harga yang disajikan meliputi harga 9 bahan pokok di Kecamatan Batalaiworu pada tahun 2016 adalah Beras Rp.10.696/Kg, Ikan Teri diawetkan Rp. 87.799/Kg, Minyak kelapa Rp. 11.917/botol, Gula Pasir Rp. 15.083/Kg, Garam Hancur Rp.4.000/Kg, Minyak Tanah Rp. 7.939/Liter, Sabun Cuci Rp. 3.000/batang, Tekstil teteron Rp. 25.000/meter, Batik Sedang Rp.35.000/meter

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "

Pranala luar[sunting | sunting sumber]