Kabupaten Barito Timur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Barito Timur)
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Barito Timur
Lambang Kabupaten Barito Timur.png
Lambang Kabupaten Barito Timur
Moto: Gumi Jari Janang Kalalawah
Bahasa Maanyan: Menjadi Jaya Selamanya
Di Tengah Makam Putri Mayang Sari dan Kanan Makam Uria Mapas.jpg
Lokasi Kalimantan Tengah Kabupaten Barito Timur.svg
Peta lokasi Kabupaten Barito Timur
Koordinat: -
Provinsi Kalimantan Tengah
Dasar hukum UU No. 5 Tahun 2002
Tanggal Peresmian -
Ibu kota Tamiang Layang
Pemerintahan
 - Bupati Ampera A.Y. Mebas, S.E.
 - Wakil Bupati H. Suriansyah, S.K.M.
 - DAU Rp. 424.326.347.000.-(2013)[1]
Luas 3.834 km²
Populasi
 - Total 96.820 jiwa (2010)
 - Kepadatan -
Demografi
 - Kode area telepon 0526
Pembagian administratif
 - Kecamatan 10
 - Kelurahan -
Simbol khas daerah
 - Situs web http://www.baritotimurkab.go.id/

Kabupaten Barito Timur adalah salah satu kabupaten di provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia yang beribu kota di Tamiang Layang.

Kantor bupati Barito Timur.
Gedung DPRD Kabupaten Barito Timur.
Tugu burung enggang gading di Pasar Panas.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kesultanan Banjar 1826-1860, dibagi dua wilayah regent (adipati) yaitu Martapoera dan Amonthaij
Kantor bupati Barito Timur.
Gedung DPRD Kabupaten Barito Timur.
Tugu burung enggang gading di Pasar Panas.

Gunung Ketam merupakan titik perbatasan tiga kerajan yaitu: Kutai, Paser dan Banjar. Gunung Ketam terletak di selatan Gunung Luang. Wilayah Kerajaan Banjar di sebelah utara dari Gunung Luang diserahkan oleh Sultam Adam dari Banjar kepada Hindia Belanda.

Wilayah Kabupaten Barito Timur (Tamiang Layang) termasuk daerah inti kerajaan Banjar sejak zaman Hindu hingga dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh Hindia Belanda pada tahun 1860, jadi sebelumnya tidak pernah diserahkan oleh Kerajaan Banjar kepada Hindia Belanda seperti kebanyakan daerah lainnya di Kalimantan. Perjanjian 1826 dengan Hindia belanda menetapkan wilayah yang masih termasuk kerajaan Banjar meliputi daerah tepi timur sepanjang sungai Barito dari Kuin hingga Mengkatip ditarik garis lurus ke gunung Luang kemudian dari gunung Luang ke arah selatan sepanjang sisi barat pegunungan Meratus sebagai wilayah Kesultanan Banjar (1826-1860), sedangkan wilayah di luar kawasan tersebut telah diserahkan kepada Kerajaan Belanda dan menjadi wilayah Hindia Belanda, seperti yang termuat dalam Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849, berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat, Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, pada 27 Agustus 1849, No. 8[2]

Kesultanan Banjar setelah ditaklukan oleh Hindia Belanda terdiri atas dua wilayah regent (adipati) yaitu regent Martapoera (dikepalai Pangeran Djaija Pamenang) dan regent Amonthaij (dikepalai Adipatie Danoe Radja), sedangkan wilayah Barito Timur termasuk ke dalam wilayah regent Amonthaij. Dalam tahun 1861 wilayah Barito Timur disebut Distrik Sihoeng (dikepalai Soeta Ono) dan Distrik Pattai (dikepalai Toemenggoeng Djaja Kartie) termasuk ke dalam wilayah pemerintahan Radhen Adipati Danoe Redjo regent der­ afdeeling Amonthaij (m. 1861) yang wilayah kekuasaan seluruhnya meliputi 9 distrik :[3]
1. Distrik Alaij
2. Distrik Amandit
3. Distrik Nagara
4. Distrik Amonthaij, Soengei benar dan Álabioe
5. Distrik Kaloewa
6. Distrik Balangan
7. Distrik Tabalong
8. Distrik Sihoeng
9. Distrik Patei.

Sampai tahun 1862 kedua distrik ini yaitu distrik Patai dan Distrik Sihong masih termasuk dalam Afdeeling Amonthaij.[4][5]

Setelah kematian Toemenggoeng Djaja Kartie, distrik Patai digabung ke dalam Distrik Sihong dan disebut Distrik Sihong en Patai, namun lama-kelamaan hanya disebut Distrik Sihong saja. Sejak tanggal 19 Agustus 1863 Distrik Sihong yang dikepalai Soeto Ono dikeluarkan dari Afdeeling Amonthaij kemudian digabung ke dalam Afdeeling Doessoen en Becompaij[6][7][8][9]

Barito Timur adalah nama yang secara resmi ditetapkan bagi daerah ini setelah terbentuk menjadi kabupaten otonom sejak tahun 2002. Sebelumnya, daerah ini masih bergabung dengan Kabupaten Barito Selatan. Barito Selatan dikenal dengan nama Barito Hilir untuk wilayah dengan luas 8.287,57 km² sepanjang kiri dan kanan aliran Sungai Barito dan untuk Barito Timur dengan luas 3.013 km² yang meliputi daratan sebelah timur Sungai Barito. Seiring dengan semangat otonomi daerah, maka masyarakat Barito Timur mengusulkan dibentuknya kembali Kabupaten Barito Timur.

Berdasarkan pembagian wilayah administrasi pemerintahan pada waktu itu, Wilayah Barito Hilir dan Barito Timur adalah Wilayah Kewedanaan dari Kabupaten Barito yang pusat pemerintahannya berkedudukan di Muara Teweh.

Kedua wilayah Kewedanaan tersebut adalah :

  • Kewedanaan Barito Hilir dengan ibu kotanya Buntok
  • Kewedanaan Barito Timur dengan ibu kotanya Tamiang Layang

Tuntutan masyarakat dari kedua kewedanaan ini agar Kabupaten Barito dipisahkan menjadi dua kabupaten, yang akhirnya mendapat dukungan dari DPRD Barito pada tahun 1956 dalam bentuk Mosi tanggal 30 Januari 1956 dengan Nomor 1/MS/DPRD/56 dan tanggal 21 September 1956 dengan Nomor 2/MS/DPRD/56.

Selain itu tuntutan masyarakat ini dituangkan pula dalam surat dukungan Bupati Kepala Daerah Kabupaten Barito dengan surat nomor 675/UP-IV-4 tanggal 23 April 1958. Sambil menunggu ketetapan dari Pemerintah Pusat oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah, dikeluarkan Surat Keputusan (SK) nomor 28/Des-I-4/58 tanggal 10 Juni 1958 kemudian ditunjuklah Wedana Barito Hilir disamping tugasnya mengadakan persiapan-persiapan seperlunya.

Realisasi dari Surat Keputusan (SK) tersebut maka pada tanggal 5 September 1958 resmi terbentuknya Kantor Persiapan Kabupaten yang berkedudukan di Buntok. Tahun 1959 keluarlah Undang-undang nomor 27 Tahun 1959 yang berlaku sejak tanggal 4 Juli 1959. Dalam Undang-undang tersebut ditetapkan antara lain Kewedanaan Barito Hilir dan Barito Timur dijadikan Daerah Otonomi yang terpisah dari Kabupaten Barito dengan nama Kabupaten Daerah Tingkat II Barito Selatan, dengan pusat pemerintahan berkedudukan di Buntok.

Secara formal Kabupaten Barito Timur terbentuk bersama-sama dengan beberapa kabupaten lainnya di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2002 berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur.

Sebelum Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Barito Timur ini dikeluarkan, wilayah Kewedanaan Barito Timur pernah berkembang dari Kewedanaan Barito Timur menjadi Wilayah Pembantu Bupati Barito Timur, sejak Undang-undang tersebut di atas berlaku, maka secara resmi Wilayah Barito Timur memisahkan diri dari Kabupaten Barito Selatan dan menjadi daerah otonom sendiri dengan nama Kabupaten Barito Timur dengan ibu kota Tamiang Layang.[10]

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Barito Timur dibagi menjadi 10 kecamatan, yaitu:

  1. Awang
  2. Benua Lima
  3. Dusun Tengah
  4. Dusun Timur
  5. Karusen Janang
  6. Paju Epat
  7. Paku
  8. Patangkep Tutui
  9. Pematang Karau
  10. Raren Batuah

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Kabupaten Barito Timur sekitar 96.820 jiwa dengan klasifikasi 49.845 laki-laki dan 46.975 perempuan serta jumlah Rumah Tangga sebanyak 25.697 KK (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010).

Kepala daerah[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati Barito Timur[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar nama-nama yang pernah memimpin Kabupaten Barito Timur sejak tahun 2002:

No. Foto Nama Periode Keterangan
1. Drs. Gumarawan Pantie 20022003 Penjabat Bupati
2. Drs. H. Zain Alkim 20032008 Periode pertama
20082013 Periode kedua
3. Ampera A.Y. Mebas, SE 2013–sekarang

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ (Belanda) Staatsblad van Nederlandisch Indië, s.n., 1849
  3. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1861). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 34. Lands Drukkery. p. 133. 
  4. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1862). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 35. Lands Drukkery. p. 135. 
  5. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1862). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 36. Lands Drukkery. p. 139. 
  6. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1863). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 37. Lands Drukkery. p. 146. 
  7. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1868). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 41. Lands Drukkery. p. 137. 
  8. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1870). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 43. Lands Drukkery. p. 179. 
  9. ^ (Belanda) Landsdrukkerij (Batavia), Landsdrukkerij (Batavia) (1871). Almanak van Nederlandsch-Indië voor het jaar 44. Lands Drukkery. p. 196. 
  10. ^ Pemkab Barito Timur - Sejarah Singkat

Pranala luar[sunting | sunting sumber]