Banjir Surakarta tahun 1966
Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. (Juni 2025) |
Banjir besar yang melanda Kota Surakarta yang terjadi di bulan Maret 1966 menjadi peristiwa banjir terburuk dalam sejarah Kota Surakarta. Presiden Soekarno mengamanatkan Keppres No. 7/3/1966 tentang banjir Solo sebagai bencana nasional.
Kronologi
[sunting | sunting sumber]Pada tanggal 14 dan 15 Maret 1966 kota Solo diguyur hujan terus-menerus tanpa henti yang mengakibatkan beberapa daerah seperti Baturono sebelah timur tergenang air. Hujan juga mengguyur daerah Wonogiri yang menyebabkan debit air sungai Bengawan Solo mengalami kenaikan. Walaupun sebenarnya musim hujan di daerah Wonogiri pada tahun 1966 mengalami keterlambatan selama dua bulan. Namun, pada minggu pertama tanpa diduga-duga hujan turun hampir setiap saat sehingga tanah gersang Wonogiri kelihatan menjadi basah. Pada tanggal 15 Maret 1966 jam 13.00 turun hujan lebat sekali. Air yang turun disertai butiran-butiran es, dan Wonogiri hidup dalam kebasahan yang menurut keterangan penduduk di sana tidak pernah di alami sebelumnya.[1]
Hujan yang turun dipunggung pegunungan yang gundul tidak memungkinkan tanah meresap air untuk penahan aliran yang deras. Mata air-mata air Bengawan Solo yang berpusat di kali Lanang atau Padekso di daerah Giriwoyo, Kecamatan Tirtomoyo yang bertemu di kali Weroko, dukuh Ngerjo, Nguntoronadi meluap. Demikian juga sumber mata air di kali Ngrawan yang mengalir dari Pasekan Eromoko, air meluncur ke bawah. Kali Kaduwang yang bermata air di hutan Donoloyo, Slogohimo yang kemudian bertemu di daerah Somoulun yang menjurus kearah daerah Wonogiri, secara serentak terus turun menelusuri Bengawan Solo dengan kecepatan air rata-rata 30 km/jam. Curah hujan bulan Maret memang cukup besar, hal ini dapat dilihat dalam daftar banyaknya curah hujan daerah Wonogiri pada bulan Maret 1966:
| No | Kecamatan | Dekade I (1-10) | Dekade II (11-20) | Dekade III (21-31) | Djumlah | Daerah Sekitar Bengawan Air Bah (tgl. 15/16) | ||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hari | Mm | Hari | Mm | Hari | Mm | Hari | Mm | |||
| 1 | Wonogiri | 4 | 44 | 4 | 100 | 6 | 369 | 14 | 513 | 145 mm |
| 2 | Selogiri | 9 | 70 | 6 | 109 | 7 | 326 | 22 | 505 | 129 mm |
| 3 | Ngadiredjo | - | - | - | - | - | - | - | - | Rusak |
| 4 | Nguntoronadi | 5 | 68 | 6 | 133 | 7 | 231 | 18 | 432 | 121 mm |
| 5 | Wurjantoro | - | - | - | - | - | - | - | - | 148 mm |
| 6 | Manjaran | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| 7 | Eromoko | - | - | - | - | - | - | - | - | 130 mm |
| 8 | Pratjimantoro | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| 9 | Baturetno | 5 | 135 | 8 | 243 | 5 | 370 | 18 | 748 | 317 mm |
| 10 | Batuwarno | 4 | 141 | 8 | 156 | 5 | 365 | 17 | 662 | 308 mm |
| 11 | Tirtomojo | 4 | 147 | 6 | 59 | 4 | 200 | 14 | 406 | 110 mm |
| 12 | Giriwojo | 5 | 55 | 6 | 187 | 5 | 242 | 16 | 484 | 109 mm |
| 13 | Giritontro | 5 | 46 | 6 | 157 | 4 | 310 | 15 | 513 | 256 mm |
| 14 | Djatisrono | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| 15 | Djatiroto | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| 16 | Djatipurno | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| 17 | Girimarto | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| 18 | Sidohardjo | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| 19 | Purwantoro | 6 | 219 | 7 | 69 | 7 | 299 | 20 | 587 | - |
| 20 | Kismantoro | 7 | 267 | 7 | 81 | 8 | 600 | 21 | 948 | - |
| 21 | Bulukerto | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
| 22 | Slogohimo | - | - | - | - | - | - | - | - | - |
Sumber: Arsip Komando Distrik Militer 0728 Pembantu Pelaksana Kuasa Perang, tanggal 21 Maret 1966
Sementara itu di kota Solo pada tanggal 16 Maret 1966 air sungai Bengawan Solo telah menggenangi luar tanggul setinggi 40 cm dan secara cepat wilayah timur kota Solo telah tergenang air. Pada malam hari tanggul Kusumodilagan dadal sepanjang 191 meter demikian juga dengan tanggul Semanggi yang tidak dapat menahan desakan air dadal sepanjang 8 meter. sedangkan di daerah Demangan tanggul dadal 8 meter, dan di daerah Tjenglik dadal ditiga tempat sepanjang 50 meter. Air tanggul sebelah dalam naik ketinggiannya menjadi 5,62 meter sedangkan di luar tanggul air yang tadinya 7,3 meter naik mencapai ketinggian 7,62 meter. Pada saat itulah, aliran Kali Tanggul tidak lagi mengalir ke timur sebagaimana biasanya, melainkan berbalik menuju arah barat kota. Pada tikungan Kali Anyar di Dawung air membelok dan menerobos masuk dan terus melaju deras menuju ke timur menggenangi kampung di sekitarnya.[1]
Pada malam hari air di dalam kota semakin meninggi. Tinggi air di sebelah dalam tanggul mencapai 6,33 meter, sedangkan di luar tanggul mencapai ketinggian 8,20 meter. Pintu air di Tirtonadi dan Kleco hampir tidak dapat menjalankan fungsinya karena tidak kuasa lagi menerima luapan air Bengawan Solo. Rusaknya beberapa tanggul yang membentengi kota Solo menyebabkan air sungai Bengawan Solo tidak dapat dicegah dan dengan cepat masuk menggenangi wilayah kota. Hanya dalam waktu 6 jam setelah tanggul-tanggul penahan air sungai Bengawan Solo rusak, 9 km2 wilayah kota Solo telah tergenang air yang rata-rata setinggi 2 meter. Di tempat-tempat yang landai, air meninggi hingga mencapai 4 meter bahkan di beberapa tempat ketinggian air ada yang melebihi ketinggian 4 meter. Di pusat-pusat ekonomi yang penting, pusat pemerintahan dan daerah yang diperkirakan tidak akan terendam air, dalam waktu singkat tergenang air. Hal ini tidak terduga sama sekali, dikarenakan kota Solo telah memiliki tanggul-tanggul penahan aliran sungai Bengawan Solo.[1]
Wilayah terdampak
[sunting | sunting sumber]Air yang mengalir pada banjir kota Solo pada tahun 1966 menggenangi sebagian kantor penting di kota Solo seperti gedung BNI unit I, II, dan III, Kantor Balaikota Solo, Kantor Pos, Kantor Telkom, Kantor eks Karesidenan Surakarta, Pasar Besar, Kantor Komando Resort Kepolisian 951, Gereja Purbayan, Gereja Kristen Gladag, Kantor Sub Den POM VII/21, Markas Brigif-4, Pekasmi. Kantor lain yang tergennag adalah Urril Adj. Rem 72 Cabang Surakarta, Asrama Jon Brigif-6, Zibang, Gudang Ikat Daerah Surakarta, Gedung Bioskop Widuri, Fadjar, Dhady, UP, Balai Wartawan, Kantor LP Surakarta, Stasiun Bus Hardjodaksino. Hampir semua wilayah kota yang menjadi pusat ekonomi dan pemerintahan kota Solo terendam banjir setinggi antara 1,5 meter hingga 2 meter. Banjir yang terjadi di kota Solo menggenangi hampir tiga perempat wilayah kota yang meliputi empat Kecamatan yaitu Pasar Kliwon, Jebres, Serengan, Banjarsari sedangkan Kecamatan yang tidak terendam banjir adalah wilayah Kecamatan Laweyan, dan Kecamatan Mojosongo.Selama beberapa hari roda ekonomi dan pemerintahan kota Solo mengalami kemandegan. Jalan-jalan tidak dapat dilalui, transportasi dan telekomunikasi terputus sehingga pertolongan menunggu air banjir surut.[1]
Kerusakan dan Kerugian
[sunting | sunting sumber]Menurut catatan tanggal 20 Maret 1966 banjir yang melanda kota Solo mengakibatkan 71 orang meninggal dunia, 26 orang luka-luka dan seorang gantung diri akibat depresi. Catatan selanjutnya yang dilakukan tanggal 1 April 1966 dan setelah melewati penelitian kembali diketahui bahwa korban banjir bertambah yaitu 90 orang meninggal dunia, yang terdiri dari 72 orang penduduk kota Madya Surakarta, sedangkan 18 orang lainnya merupakan bukan penduduk atau warga Solo. Korban luka-luka mencapai 1340 orang.62 Kerugian harta benda mencapai 61.715.244,67 rupiah (uang baru) yang meliputi kerugian di empat Kecamatan yang terkena banjir. Ini belum termasuk kerugian yang dialami oleh pemerintah kota Solo sendiri sehingga taksiran kerugian akibat banjir di kota Solo mencapai 1.000 miliar. Kerugian ini dapat diperinci berupa rumah yang roboh atau hancur berjumlah 611 buah dan yang rusak 711 buah, sedangkan yang terbakar 3 buah sehingga menyebabkan 7500 orang kehilangan tempat tinggal. Dari total korban yang kehilangan tempat tinggal 3500 orang memerlukan bantuan jangka pendek (sebulan) dan 3000 orang lainnya memerlukan bantuan jangka panjang dua bulan hingga tiga bulan. Selain itu jumlah jembatan dan tanggul yang bertebaran di kota Solo dan yang rusak yakni di Kecamatan Jebres, jembatan Kandang Sapi dan jembatan Arifin dan 3 buah tanggul yaitu Tjengklik Selatan rusak sepanjang 5 m, Tjengklik Tengah rusak sepanjang 10 m, Tjenglik Utara rusak sepanjang 20 m, di Kecamatan Serengan 9 buah yaitu 5 buah di Kelurahan Serengan dan sebuah jembatan di Kelurahan Danukusuman. Di Serengan juga terjadi tanah longsor sepanjang 25 m x 1 m yakni dipinggiran sungai Makam. Di Kecamatan Pasar Kliwon tanggul yang rusak ada di tiga titik yaitu tanggul Sumodilagan rusak sepanjang 120 m, Semanggi rusak sepanjang 6 m, dan Sangkrah sepanjang 6 m.[1]