Banjar, Banjar, Buleleng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 8°11′51″S 114°57′52″E / 8.197599°S 114.964371°E / -8.197599; 114.964371

Banjar
Negara Indonesia
ProvinsiBali
KabupatenBuleleng
KecamatanBanjar
Kodepos
81152
Kode Kemendagri51.08.04.2013
Luas9,08 km²[1]
Jumlah penduduk12.322 jiwa (2016)[1]
8.485 jiwa (2010)[2]
Kepadatan935 jiwa/km²(2010)
Jumlah KK3.641 KK[1]

Banjar adalah desa di kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia.[3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dahulu kala, pada saat Kerajaan Sweca Pura-Gelgel, Klungkung, diperintah oleh "Ida Dalem" ia mengangkat "Danghyang Wiraga Sandhi" sebagai Purorita (penasehat spiritual). Danghyang Wiraga Sandhi adalah seorang Pandita yang menguasai ajaran Agama Hindu, sehingga Kerajaan Sweca Pura mengalami zaman keemasan, damai, dan sejahtera. Karena sudah lama ia (Danghyang Wiraga Sandhi tinggal di puri Gelgel)(swecapura), ia bermaksud pulang kembali ke Jawa (karena ia adalah seorang Brahmana asal Jawa). Atas seijin sang Raja, berangkatlah ia dengan berjalan kaki diiringi oleh ke-5 putranya yang sudah menjadi Pandita yang bernama:

  1. Ida Pedanda Sakti Bukian
  2. Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade
  3. Ida Pedanda Sakti Kemenuh
  4. Ida Pedanda Sakti Bukit
  5. Ida Pedanda Sakti Katandan

Dari Klungkung, ia berjalan ke arah barat laut sampai di satu desa yang bernama desa "Taru Pinghe" (sekarang bernama desa Kayu Putih), yang masuk dalam wilayah kekuasaan Raja Ki Barak Panji. Di daerah Buleleng, ia dihadang oleh Warga Pasek Gobleg, dan mengharapkan agar ia mengurungkan niatnya pulang ke Jawa, dan dimohon agar rela tinggal di Taru Pinge sebagai Pandita, menuntun penduduk dalam mengaplikasikan ajaran agama serta sebagai pemimpin segala bentuk upacara keagamaan. Akhirnya, ia berkenan tinggal disana setelah mendapat restu dari Ki Barak Panji Sakti, sebagai penguasa daerah Buleleng. Danghyang Wiraga Sandhi dibuatkan Pasraman di daerah Samong (Taru Pinge), dan diberi kekuasaan sebagai Pandita oleh Ki Barak Panji Sakti dengan batas dari Kalibukbuk sampai dengan Gilimanuk.

Setelah beberapa lama tinggal di Kayu Putih, suatu saat, anaknya yang kedua, “Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade”, pergi diiringi oleh muridnya ke arah utara dari Taru Pinge. Sampai di satu dataran tinggi, ia merasa tercengang, tatkala melihat kebawah dataran itu ada satu tempat yang penuh ditumbuhi alang-alang sampai ketepi laut. Yang lebih aneh lagi di tengah alang-alang itu asap tipis mengepul tak putus-putusnya. Sehingga dari kekagumannya, timbul hasrat untuk mendatangi tempat itu. Ia pun bersama pengiringnya berjalan ke tempat itu. Sesampai disana, ditemukan asap itu mengepul keluar dari dalam tanah dan dijaga dua ekor serigala (anjing) yang berbulu hitam dan putih. Melalui perantara kekuatan batinnya, kedua serigala penjaga asap itu rela pergi, seolah-olah mengijinkannya mendekati tempat itu.

Lagi-lagi tumbuh keheranannya, karena ketidaktahuan nama tempat itu, maka ia berkeinginan memberikan nama. Setelah ia merenung dan mengingat situasi tempat itu, akhirnya diberikanlah nama “Janggala Kusa” (Janggala = tempat, Kusa = alang-alang) yang dalam bahasa Bali disebut Banjar Ambengan. Setelah mendapat ijin dari ayahnya, Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade tinggal membangun Pasraman di Janggala Kusa beserta pengiringnya. Karena ketenarannya, lama kelamaan banyak orang yang datang ke Janggala Kusa minta menjadi muridnya. Semakin hari semakin banyak orang yang datang dan langsung membabat hutan alang-alang itu, kemudian membangun kubu (rumah) berjajar rapi dari arah utara ke selatan yang dalam bahasa bali disebut "Mabanjaran". Karena itu, akhirnya nama Janggala Kusa tenggelam, berganti dengan nama “Desa Banjar”.

Perlawanan terhadap Belanda[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1868, nama desa Banjar terdengar setelah Belanda menguasai Buleleng dengan politik "Tawan Karang" pada tahun 1858. Saat itu, I Gusti Ketut Jelantik diangkat menjadi "Regen" oleh Belanda. Distrik Banjar yang dipegang oleh Punggawa Ida Made Rai, sangat tidak setuju. Karena itu, Ida Made Rai selaku Punggawa Distrik Banjar berontak melawan kekuasaan kompeni. Belanda tidak tinggal diam. Dengan bantuan I Gusti Ketut Jelantik Regen Buleleng, Distrik Banjar digempur habis-habisan.

Pada tanggal 16 September 1868, terjadi pertempuran sengit di Banjar Corot, desa Cempaga. Serdadu Belanda dipimpin oleh Lwig Stegman dan Letnan Nijs, sedangkan bantuan I Gusti Ketut Jelantik dipimpin oleh patihnya yang bernama I Ketut Liarta. Dari pihak kubu Banjar dipimpin oleh Ida Made Rai bersama adiknya Ida Nyoman Ngurah, keberuntungan ada di pihak Banjar. Belanda kalah, Kapten Lwig Stegman dan Letnan Nijs gugur diikuti kurang lebih 100 serdadu Belanda. Sebelum Belanda menyerbu Banjar Ida Made Rai sempat diangkat oleh rakyat Banjar untuk menjadi Resi di Banjar yang didukung oleh Raja Bangli dan desa-desa tetangga seperti: Kalianget, Tangguwisia, Patemon, Kayu Putih. Kalau serbuan pertama dari arah timur (dari kota Singaraja), maka kedua kalinya Banjar diserbu dari arah Barat (dari Pengastulan) oleh Belanda dibantu oleh L. Wayat Tragi (Perbekel Pengastulan).

Pada tanggal 3 Oktober 1868, terjadi perlawanan gigih pula oleh rakyat Banjar, dan Belanda kembali dapat dipukul mundur. Pada saat itulah, Banjar berubah nama menjadi "Sura Magada" (sura= berani, magada= berperang). Karena kegagalan Belanda sampai kedua kalinya, akhirnya Kompeni minta bantuan kepada Gubernur Jendral di Batavia. Atas bantuan Gubernur Jendral Batavia serdadu Bali kembali menggempur desa Banjar dibawah pimpinan Kolonel De Braban dan Mayor Bloom. Penyerbuan dimulai dari arah timur melalui Temukus dan Dencarik langsung ke desa Banjar. Satu persatu rakyat Banjar gugur dan akhirnya desa Banjar hancur. Ida Made Rai ditangkap di desa Jatiluwih, Tabanan bersama 5 orang pengikutnya dan diadili di Batavia dan menjalani hukuman seumur hidup dibuang ke Bandung dan akhirnya ia meninggal disana.[4]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk desa Banjar sampai dengan tahun 2016 berjumlah 12.322 jiwa terdiri dari 6.192 laki-laki dan 6.130 perempuan dengan sex rasio 101,01.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Kecamatan Banjar dalam Angka 2017". Badan Pusat Statistik Indonesia. 2017. Diakses tanggal 4 Oktober 2019. 
  2. ^ "Penduduk Indonesia Menurut Desa 2010" (PDF). Badan Pusat Statistik. 2010. hlm. 1379. Diakses tanggal 14 Juni 2019. 
  3. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  4. ^ A.A.Gde Agung. Petikan Sejarah Bali Abad XIX. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]