Lompat ke isi

Bangeran, Dukun, Gresik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bangeran
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenGresik
KecamatanDukun
Kode pos
61155
Kode Kemendagri35.25.01.2006 Suntingan nilai di Wikidata
Luas2,16 km²
Jumlah penduduk2.409 jiwa
Kepadatan1.115 jiwa/km²
Peta
PetaKoordinat: 6°59′0.46″S 112°24′19.48″E / 6.9834611°S 112.4054111°E / -6.9834611; 112.4054111

Bangeran adalah sebuah desa di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur, dengan kode Kemendagri bernomor 35.25.01.2006.[1]

Berdasarkan data Kecamatan Dukun dalam Angka 2025[2], Desa Bangeran memiliki jumlah penduduk laki-laki : 1.201 jiwa, dan jumlah penduduk perempuan : 1.208 jiwa.

Asal Usul Nama

[sunting | sunting sumber]

Sebelum dikenal dengan nama Bangeran, wilayah ini merupakan dataran tinggi yang disebut "Budug". Karena topografinya yang menggunung, kawasan ini sering dijadikan tempat singgah (ampiran) atau tempat berteduh bagi para pengelana, serta menjadi lokasi pengungsian yang aman saat banjir melanda dataran rendah di sekitarnya.[3]

Di kawasan ini terdapat sebuah sumur tua yang memiliki fenomena unik. Sumur tersebut mengeluarkan aroma menyengat atau banger ketika seseorang berada di dekatnya, namun air yang diambil dari sumur tersebut sama sekali tidak berbau, jernih, dan sangat bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari maupun pengobatan.

Menurut sejarah lisan, nama Bangeran dikukuhkan oleh tokoh bernama Mbah Mat (nama asli: Hanoman) sekitar awal tahun Masehi, merujuk pada fenomena sumur tersebut.

Pada masa selanjutnya, di era Mbah Amin, makna nama Bangeran mengalami perkembangan filosofis menjadi akronim dari bahasa Jawa "Wong Nyembah Pangeran" (Orang-orang yang menyembah Tuhan). Filosofi ini mengajarkan bahwa meskipun seseorang mungkin dianggap buruk oleh manusia (seperti bau banger), yang terpenting adalah ia tetap mulia dan bermanfaat di hadapan Tuhan.

Pembentukan Dusun

[sunting | sunting sumber]

Pada masa awal, penduduk bermukim di Dusun Lebak karena wilayahnya yang subur dan dekat dengan sumber air. Namun, lokasi ini rawan terkena banjir luapan Bengawan Solo. Atas kesadaran kolektif demi keselamatan generasi penerus, warga secara bertahap berpindah ke wilayah yang lebih tinggi, yang kemudian dikenal sebagai Dusun Geneng (berarti tanah yang tinggi). Meskipun terbagi secara geografis, kedua dusun ini tumbuh sebagai satu kesatuan sosial budaya.

Tokoh Penting

[sunting | sunting sumber]

Sejarah Desa Bangeran tidak lepas dari peran para tokoh leluhur yang dihormati:

  1. Ki Ageng Wiro (Mbah Wiro) Diperkirakan datang sekitar tahun 1530 Masehi. Beliau merupakan keturunan bangsawan Sunda dari Cirebon. Ki Ageng Wiro dikenal sebagai pelindung masyarakat dari ancaman kelaparan dan kejahatan, serta dianggap sebagai peletak dasar sistem pemerintahan desa.
  2. Raden Amin Hasan Syaifullah (Mbah Amin) Diperkirakan datang sekitar tahun 1560 Masehi. Beliau adalah keturunan Sunan Prawoto dari Kerajaan Demak yang ditugaskan menuntut ilmu ke wilayah timur (Wali Songo). Mbah Amin menjadikan Bangeran sebagai pusat dakwah Islam, sehingga banyak santri yang datang untuk menimba ilmu (nyantri).
  3. Mbah Salim dan Mbah Khadijah Pasangan tokoh yang dianggap sebagai cikal bakal pemukiman pertama dengan membangun gubuk-gubuk pernaungan sederhana.

Situs Bersejarah dan Cagar Budaya

[sunting | sunting sumber]

Desa Bangeran memiliki sejumlah situs yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat:

  • Makam Santri: Situs tertua yang diyakini sebagai makam Raden Amin Hasan Syaifullah. Menjadi pusat kegiatan spiritual dan tradisi Sedekah Bumi.
  • Makam Cilik / Kawitan: Tempat peristirahatan Ki Ageng Wiro dan leluhur awal desa.
  • Budug: Titik nol permukiman warga saat mengungsi dari banjir, tempat terdapatnya sumur tua keramat.
  • Peleman: Lokasi yang ditandai pohon mangga besar di samping kandang sapi, dipercaya memiliki nilai mistis.
  • Situs Lainnya: Meliputi Wit Turi Ranti, Golongan, Jati, Pelem Sumur, Klapanan, Guyangan, dan Kramanan.

Budaya dan Tradisi

[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Desa Bangeran masih memegang teguh tradisi leluhur, di antaranya:

  • Sedekah Bumi: Tradisi tahunan yang digelar di Makam Santri sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen. Acara diisi dengan doa bersama, tausiah, dan pembagian gunungan hasil bumi.
  • Kearifan Lokal: Terdapat aturan tidak tertulis (pantangan) untuk menjaga kelestarian alam, seperti larangan menebang pohon besar di area pemakaman (khususnya pohon kajaran) yang dipercaya sebagai paku bumi desa dan tempat spiritual.

Pemerintahan

[sunting | sunting sumber]

Dalam sejarahnya, Desa Bangeran telah dipimpin oleh berbagai kepala desa yang berjasa dalam transisi menuju era modern, antara lain: Ngadin, Asto Kadis, Hj. Ali, Subakir, Sumindar, Taufik, Mat Habib, hingga kepemimpinan saat ini di bawah Bapak Wahib Ridlwan.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  • Arsip Sejarah Desa Bangeran.
  • Penuturan Sesepuh Desa (Pak Muasim, Pak Ali Purtono, Pak Mukrim).
  • Tim KKN-T Universitas Negeri Surabaya 2025.
  • DIGITAL PRODUCTION BY e.bitzy.id

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Sirusa BPS" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2010-10-10. Diakses tanggal 2010-12-19.
  2. "Kecamatan Dukun dalam Angka 2025". BPS Kab. Gresik. Diakses tanggal 2025-12-07.
  3. "Sejarah Desa Bangeran - Interactive Book". sejarahbangeran.bitzy.id. Diakses tanggal 2025-12-09.