Bambu talang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Bambu Talang
Schizost brachycl 160511-0014 ipb.JPG
Bambu talang, Schizostachyum brachycladum
dari Kampus IPB Darmaga, Bogor
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Plantae
(tidak termasuk): Angiospermae
(tidak termasuk): Monocots
(tidak termasuk): Commelinids
Ordo: Poales
Famili: Poaceae
Bangsa: Bambuseae
Genus: Schizostachyum
Spesies: S. brachycladum
Nama binomial
Schizostachyum brachycladum
(Kurz) Kurz[1]
Sinonim
  • Arundarbor cratium Rumph.[2]
  • Arundo cratium Oken
  • Melocanna brachyclada Kurz[3] (nom.inval.)
  • Melocanna zollingeri var. brachyclada Kurz ex Munro
  • Schizostachyum brachycladum var. auriculatum Holttum

Sumber: The Plant List[4]

Bambu talang,[5] bambu lemang[6] atau buluh lemang (Schizostachyum brachycladum) adalah sejenis bambu yang biasa digunakan untuk membuat lemang. Menyebar luas di kawasan Malesia dan Indocina,[7] buluh ini dikenal pula dengan nama-nama lain seperti buluh nèhè (Sm.); buluh sèro (Mlk.); awi buluh (Sd.); pĕrréng bulu, p. lampar (Md.); bulo talang (Mak.), dan lain-lain.[8] Forma yang berwarna kuning mirip dengan bambu kuning, dan dikenal sebagai bambu gading, bambu bali,[6] atau bambu kuning bali. Dalam bahasa Inggris ia disebut Sacred Bali bamboo dan Golden Bali bamboo.[9]

Pengenalan[sunting | sunting sumber]

Rebung yang kekuningan

Bambu yang merumpun, rapat dan tegak; rebungnya kuning atau hijau, tertutup oleh bulu-bulu miang berwarna cokelat. Buluhnya lurus, mencapai tinggi 8-15 m dengan ujung yang melengkung; mulai bercabang lk. 1,5 m di atas tanah, cabang-cabang banyak hingga 25-30 tangkai yang ramping dan kurang-lebih sama besarnya. Panjang ruas 35-50 cm dan garis tengahnya 8–10 cm, tebal dinding buluh hanya sekitar 4 mm; hijau, hijau kebiruan atau kuning dengan garis hijau, biasanya tertutup oleh bulu-bulu miang berwarna keputihan, yang rontok ketika buluh menua.[6][10]

Pelepah buluh kaku dan tidak lekas rontok; lk. 12-27 × 18–35 cm; sisi luarnya tertutup oleh miang berwarna cokelat muda hingga cokelat gelap. Daun pelepah buluh menyegitiga dengan ujung meluncip kaku, 4-18 × 4–10 cm, tegak, biasanya gundul, berurat banyak. Kuping pelepah seperti bingkai, lebar 10 mm dan tinggi 2,5–6 mm, dengan bulu kejur 4–8 mm; ligula (lidah-lidah) rata, tinggi 2–3 mm.[6][10]

Buluh yang masih muda

Daun pada ranting bentuk lanset, 20-40 × 4–7 cm, sisi bawahnya berambut balig, atasnya gundul; kuping pelepah daun kecil, tinggi lk. 1 mm, dengan bulu kejur 0,7 mm; ligula rata, tinggi lk. 1 mm, lokos.[6]

Agihan dan ekologi[sunting | sunting sumber]

Buluh talang diketahui menyebar luas di wilayah Asia Tenggara; tercatat mulai dari Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, hingga Luzon di Filipina. Tumbuh liar di hutan sekunder atau hutan yang terganggu, jarang di hutan primer, hingga ketinggian 600 m dpl. Banyak ditanam di perdesaan, bambu ini kerap ditemukan tumbuh spontan di tepi-tepi jalan. Forma dengan buluh berwarna hijau kebiruan didapati di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku di atas ketinggian 250 m dpl.[10]

Manfaat[sunting | sunting sumber]

Close up kuping pelepah buluh

Buluhnya dipakai untuk pelbagai kegunaan; misalnya untuk membuat langit-langit penutup atap (di Toraja), tabung air (tahang), kerajinan tangan, penopang tanaman, wadah (gelas) untuk minum tuak, dan sebagai wadah untuk membuat lemang. Di Bali dan Toraja dipakai dalam upacara kematian (yakni dalam ngaben di Bali).[10]

Forma yang berwarna kuning banyak dipakai sebagai tanaman hias. Bambu lemang juga ditanam di lahan-lahan miring di Sabah untuk mencegah longsor. Rebungnya dapat dimakan, meski agak pahit rasanya.[10]

Anak jenis[sunting | sunting sumber]

Varietas dengan kuping pelepah buluh yang tinggi dan lebar dideskripsi dari Singapura dengan nama var. auriculatum Holttum.[11]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kurz. 1870. “On some new or imperfectly known Indian plants”. Journal of the Asiatic Society of Bengal. Vol. 39 (pt. 2, Nat. Hist.): 89, Pl. VI fig. 2. Calcutta :Bishop's College Press [Part 2 no 2: June 1870]
  2. ^ Rumpf, G.E. 1743. Herbarium Amboinense: plurimas conplectens arbores, frutices, ... Pars IV: 5. Amstelaedami :apud Franciscum Changuion, Hermannum Uttwerf. MDCCXLIII.
  3. ^ Teijsmann, J.E. & S. Binnendijk. 1866. Catalogus plantarum quae in Horto Botanico Bogoriensi coluntur. Catalogus van 's Lands Plantentuin te Buitenzorg: 20. Batavia :ter Lands-Drukkerij. [1866]
  4. ^ The Plant List: Schizostachyum brachycladum (Kurz) Kurz
  5. ^ KBBI daring: bambu
  6. ^ a b c d e Widjaja, E.A. 2001. Identikit jenis-jenis bambu di Jawa: 83-5. L.f. 29. Bogor: Puslitbang Biologi LIPI.
  7. ^ GrassBase: Schizostachyum brachycladum
  8. ^ Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia I: 345-6. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta. (versi berbahasa Belanda -1922- I: 287-8.)
  9. ^ Bambus Lexicon: Schizostachyum brachycladum f. luteum
  10. ^ a b c d e Dransfield, S. 1995. "Schizostachyum brachycladum Kurz". in Soejatmi Dransfield & E.A. Widjaja (Eds). Plant Resources of South-East Asia No. 7 Bamboos: 132-3. Bogor :PROSEA (Plant Resources of South-East Asia) Foundation. [Internet] Record from Proseabase. Accessed 13-May-2016
  11. ^ Holttum, R.E. 1958. "The bamboos of the Malay Peninsula". Garden's Bulletin Singapore, 16: 47, 1958.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]