Lompat ke isi

Bakat intelektual

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bakat intelektual atau kecerdasan istimewa (intellectual giftedness) adalah kemampuan intelektual yang jauh lebih tinggi daripada rata-rata dan juga dikenal sebagai high potential. Ini merupakan karakteristik pada anak-anak, yang didefinisikan dengan beragam cara, dan menjadi dasar perbedaan dalam program pendidikan sekolah. Kecerdasan istimewa dianggap bertahan sebagai sifat hingga dewasa, dengan berbagai konsekuensi yang dipelajari dalam studi longitudinal selama satu abad terakhir. Konsekuensi tersebut terkadang mencakup stigmatisasi dan pengucilan sosial.[1][2][3][4] Tidak ada definisi umum yang disepakati tentang kecerdasan istimewa baik pada anak maupun orang dewasa, tetapi sebagian besar keputusan penempatan di sekolah dan sebagian besar studi longitudinal sepanjang hidup individu mengikuti orang-orang dengan IQ pada 2,5 persen teratas populasi—yaitu IQ di atas 130 atau 115.[5] Definisi kecerdasan istimewa juga bervariasi di berbagai budaya.[6]

Berbagai definisi kecerdasan istimewa mencakup kemampuan tinggi secara umum atau kemampuan khusus. Sebagai contoh, menurut beberapa definisi, seseorang yang cerdas istimewa mungkin memiliki bakat mencolok dalam matematika tanpa memiliki kemampuan bahasa yang sama kuatnya. Secara khusus, hubungan antara kemampuan artistik atau musikal dan kemampuan akademik tinggi yang biasanya terkait dengan skor IQ tinggi masih terus dieksplorasi, dengan beberapa penulis menyebut semua bentuk kemampuan tinggi tersebut sebagai “kecerdasan istimewa”, sementara penulis lainnya membedakan antara “kecerdasan istimewa” dan “bakat”. Masih terdapat banyak perdebatan dan penelitian mengenai bagaimana kinerja orang dewasa berkembang dari perbedaan sifat sejak masa kanak-kanak, serta bagaimana dukungan pendidikan dan dukungan lain dapat paling membantu perkembangan kecerdasan istimewa pada orang dewasa.

Gambaran umum

[sunting | sunting sumber]

Identifikasi keberbakatan (giftedness) pertama kali muncul setelah pengembangan tes IQ untuk keperluan penempatan sekolah. Sejak itu, identifikasi siswa berbakat menjadi isu penting dalam dunia pendidikan, karena pengajaran bagi siswa berbakat kerap menghadirkan tantangan khusus. Sepanjang abad ke-20, anak-anak berbakat umumnya diklasifikasikan melalui tes IQ; berbagai prosedur identifikasi lain telah diusulkan, tetapi hanya digunakan dalam sebagian kecil kasus di sekolah-sekolah negeri di dunia berbahasa Inggris. Upaya untuk mengembangkan prosedur identifikasi yang efektif bagi siswa yang kemungkinan membutuhkan kurikulum sekolah yang lebih menantang masih menjadi masalah yang terus berlangsung dalam administrasi pendidikan.

Karena peran penting yang dimainkan oleh program pendidikan berbakat dalam proses identifikasi individu berbakat—baik anak-anak maupun orang dewasa—maka penting bagi lembaga pendidikan untuk meninjau dan memahami bagaimana sekolah mendefinisikan istilah “berbakat”.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "The Moral Sensitivity of Gifted Children and the Evolution of Society – SENG" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-10.
  2. https://hj.diva-portal.org/smash/get/diva2:807759/FULLTEXT02.pdf
  3. Striley, Katie Margavio (2014-04-01). "The Stigma of Excellence and the Dialectic of (Perceived) Superiority and Inferiority: Exploring Intellectually Gifted Adolescents' Experiences of Stigma". Communication Studies. 65 (2): 139–153. doi:10.1080/10510974.2013.851726. ISSN 1051-0974.
  4. https://www.researchgate.net/publication/321756596
  5. Institute, Davidson (2021-07-12). "What is Giftedness? | Gifted Definition & Meaning". Davidson Institute (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-10.
  6. Sarouphim, Ketty M. (2001-04). "DISCOVER: Concurrent Validity, Gender Differences, and Identification of Minority Students". Gifted Child Quarterly. 45 (2): 130–138. doi:10.1177/001698620104500206. ISSN 0016-9862.