Bahasa Mandarin Malaysia
| Bahasa Mandarin Malaysia
马来西亚华语 馬來西亞華語 Mǎláixīyà Huáyǔ | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Wilayah | Malaysia | ||||
Penutur | 6-7 juta | ||||
| Aksara Han sederhana | |||||
| Status resmi | |||||
Bahasa resmi di | Malaysia | ||||
| Diatur oleh | Dewan Pembakuan Bahasa Tionghoa Malaysia | ||||
| Kode bahasa | |||||
| ISO 639-3 | – | ||||
| Glottolog | Tidak ada | ||||
| Linguasfer | 79-AAA-bbd-(part)(=colloquial) | ||||
| IETF | cmn-MY | ||||
| Bahasa Mandarin Malaysia | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi sederhana: | 马来西亚华语 | ||||||
| Hanzi tradisional: | 馬來西亞華語 | ||||||
| Makna harfiah: | Bahasa Tionghoa Malaysia | ||||||
| |||||||
Bahasa Mandarin Malaysia (Hanzi sederhana: 马来西亚华语; Hanzi tradisional: 馬來西亞華語; Pinyin: Mǎláixīyà Huáyǔ) adalah salah satu ragam bahasa Tionghoa Mandarin yang dituturkan di Malaysia oleh kalangan Tionghoa. Saat ini, bahasa ini merupakan bahasa utama yang digunakan oleh masyarakat Tionghoa-Malaysia.[1]
Karena masyarakat Malaysia sering beraneka bahasa, penutur bahasa Mandarin Malaysia sering kali beralih kode ke bahasa Malaysia atau Inggris dalam percakapan sehari-hari untuk istilah atau nama setempat, meskipun terdapat istilah Mandarin resmi. Misalnya, terjemahan resmi untuk "Jalan Bukit Kepong" adalah "武吉甲洞路" (Wǔjí Jiǎdòng lù) dan digunakan seperti itu di media berbahasa Mandarin setempat, tetapi istilah yang terakhir jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari; orang-orang sering menggunakan nama dalam bahasa aslinya apa adanya. Ada pengecualian, misalnya Taiping, karena nama ini berasal dari bahasa Tionghoa, Ketika orang menyebut tempat ini dalam bahasa Mandarin setempat, mereka selalu menggunakan pelafalan Mandarinnya, "Tàipíng", alih-alih menggunakan pelafalan Malaysia, yang lebih dekat dengan "Taipeng". Contoh lain adalah ketika terjemahan bahasa Mandarin suatu tempat sangat beraneka dengan nama asli Malaysia-nya, misalnya: untuk Teluk Intan, Seremban, Kota Kinabalu, dan Bau, mereka lebih disukai disebut masing-masing sebagai Ānsùn (安順) (yang merujuk pada "Teluk Anson", nama Teluk Intan pada zaman penjajahan), Fúróng (芙蓉) Yàbì (亞庇), dan Shilongmen (石隆門).
Fonologi
[sunting | sunting sumber]Fonologi bahasa Mandarin Malaysia lebih erat kaitannya dengan bahasa Mandarin beraksen Tiongkok Selatan ketimbang aksen Beijing. Hal ini merupakan akibat dari pengaruh ragam bahasa Tionghoa lainnya seperti Kanton dan Hokkien[1]
Dibandingkan dengan bahasa Mandarin baku Tiongkok, baku Taiwan, ataupun baku Singapura, bahasa Mandarin Malaysia dicirikan oleh bunyi yang cukup 'datar', serta penggunaan letup celah suara yang meluas dan "nada masuk".[1] Hal ini menghasilkan bunyi yang "terpotong" dan khas dibandingkan dengan bentuk bahasa Mandarin lainnya.
- Fonem "j", "x", dan "h" (seperti pada 級 ji, 西 xi, dan 漢 han) cenderung dilafalkan sebagai /t͡s/, /s/, dan /h/ (ketimbang /t͡ɕ/, /ɕ/, dan /x/) – juga dipengaruhi oleh tidak adanya ronggi lelangit dalam fonologi bahasa Malaysia.[2]
- fonem "er" (seperti pada 兒 atau 二) biasanya dilafalkan sebagai /ə/ (ketimbang /ɚ/)
- fonem "i" (seperti pada 吃, 十, atau 日) biasanya dilafalkan sebagai /ɨ~ə/ (ketimbang /ɹ̩~ɻ̩/)
- fonem "r" (seperti pada 然) biasanya dilafalkan sebagai /ɹ/ (lebih mirip r dalam bahasa Inggris Amerika, ketimbang /ʐ/)
Penutur
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 2014, 93% keluarga bersuku Tionghoa di Malaysia menuturkan berbagai bahasa Tionghoa, termasuk bahasa Mandarin.[3]
Pendatang dari masa awal Ming dan Qing
[sunting | sunting sumber]Mayoritas bersuku Tionghoa yang tinggal di Malaysia berasal dari Tiongkok selama Dinasti Ming dan Qing, antara abad ke-15 dan awal abad ke-20. Para pendatang sebelumnya menikah dengan penduduk setempat dan berasimilasi lebih luas daripada gelombang migran selanjutnya – mereka membentuk kelompok sub-suku tersendiri yang dikenal sebagai Peranakan, dan keturunan mereka berbahasa Melayu dialek setempat.
Mayoritas pendatang merupakan penutur jati bahasa Hokkien, Kanton, Hakka, Tiochiu, dan Hainan. Pada abad ke-19, pendatang Qing ke Semenanjung Malaysia tidak memiliki satu bahasa yang sama dan sebagian besar adalah petani yang tidak berpendidikan, dan mereka cenderung mengelompokkan diri berdasarkan kelompok suku-bahasa, biasanya sesuai dengan tempat asal mereka, dan bekerja dengan kerabat dan penutur lain yang berbahasa sama. Pada tahun 1879, menurut Isabella Bird, seorang pengunjung kota pertambangan timah Taiping, Perak, "lima topolek bahasa Tionghoa dituturkan, dan orang Tionghoa terus bercakap satu sama lain dalam bahasa Melayu, karena mereka tidak dapat memahami bahasa Tionghoa satu sama lain".[4]
Bahasa Tionghoa yang dituturkan di Malaysia selama bertahun-tahun telah terlokalisasi (contohnya bahasa Hokkien Pulau Pinang), sebagaimana terlihat dari penggunaan kata serapan dari bahasa Malaysia dan Inggris. Kata-kata dari bahasa Tionghoa lainnya juga ditanamkan, tergantung pada latar belakang pendidikan dan budaya penuturnya. Bahasa Mandarin di Malaysia juga telah terlokalisasi, sebagai akibat dari pengaruh ragam bahasa Tionghoa lain yang dituturkan di Malaysia, ketimbang bahasa Malaysia ataupun dialek Melayu setempat. Kata serapan tidak dianjurkan dalam pengajaran bahasa Mandarin di sekolah Tionghoa setempat dan dianggap sebagai pelafalan yang keliru.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Putonghua, bentuk baku bahasa Mandarin di Tiongkok Daratan
- Bahasa Mandarin Taiwan, dikenal sebagai Guoyu
- Bahasa Mandarin Singapura, juga dikenal sebagai Huayu
- Bahasa Mandarin Filipina
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- 1 2 3 Khoo, Kiak Uei (2017-03-01). "Malaysian Mandarin variation with regard to Mandarin globalization trend: Issues on language standardization". International Journal of the Sociology of Language (dalam bahasa Inggris) (244): 65–86. doi:10.1515/ijsl-2016-0057. ISSN 1613-3668. S2CID 151899075.
Today, though recent studies showed the spread of Mandarin to replace Chinese dialects as the lingua franca among Chinese populations in Malaysia (Wang 2012), due to the unique dialectal groupings of Chinese populations among many townships nationwide, Chinese dialects still maintain their strongholds as regional languages, not dismissing the fact that they still remain as the most widely used household language (Khoo 2012).
- ↑ Huang Ting; Chang Yueh-chin; Hsieh Feng-fan (December 2016). "Articulatory Characteristics of the Coronal Consonants in Malaysian Mandarin: With Special Reference to the Non-"Canonical" Sibilants". Tsing Hua Journal of Chinese Studies. 46 (4). National Tsing Hua University: 775–9. doi:10.6503/THJCS.2016.46(4).03.
- ↑ Saiful Bahri Kamaruddin. "Research Found Malaysian Chinese Do Not Give Due Attention To Bahasa Malaysia Usage Diarsipkan 11 March 2015 di Archive.is" (Archive). National University of Malaysia. 27 May 2014. Retrieved 11 March 2015. "She also found 93% of Malaysian families of Chinese origin speak Mandarin with many different combinations of dialects and currently 53% of the respondents speak Chinese dialects with their parents compared with 42% in 1970."
- ↑ [The Encyclopedia of Malaysia: Languages & Literature by Prof. Dato' Dr Asmah Haji Omar (2004) ISBN 981-3018-52-6.]
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- 马来西亚华语-南洋的北方官话方言 (dalam bahasa Mandarin)