Bagalamuki
| Bagalamuki | |
|---|---|
Dewi yang melumpuhkan musuhnya | |
| Anggota Sepuluh Mahawidya | |
| Nama lain | Bagala |
| Gender | wanita |
| Afiliasi | Mahawidya |
| Warna kulit | keemasan |
| Senjata | gada atau pedang |
| Wahana | jenazah |
| Dipuja umat | Hindu India |
| Aliran | Sakta |
| Keluarga | |
| Suami | Siwa sebagai Narada-Bairawa |
Bagalamuki (Dewanagari: बगलामुखी; IAST: Bagalāmukhī) adalah salah satu dewi dalam agama Hindu, yang termasuk anggota sepuluh Mahawidya atau dewi kebijaksanaan dalam aliran Tantra. Menurut pustaka Tantrasara, Bagalamuki duduk di singgasana emas. Kulitnya berwarna kuning keemasan. Dia mengenakan pakaian kuning, dihiasi kembang kuning dan perhiasan serba emas. Dia sering digambarkan sedang menarik lidah asura dengan tangan kirinya, sedangkan tangan yang lainnya memegang gada atau pedang] dengan posisi siap menyerang si asura. Deskripsi lainnya menyatakan bahwa ia memiliki empat lengan dan mata ketiga. Dahinya dihias dengan bulan sabit kuning.[1]
Legenda
[sunting | sunting sumber]Kemunculan
[sunting | sunting sumber]Dikisahkan bahwa pada zaman Satyayuga (zaman pertama dari siklus empat masa menurut kosmologi Hindu), suatu badai yang dahsyat mengancam kelangsungan dunia. Dewa Wisnu terusik dengan kondisi tersebut, lalu dia melaksanakan tapa di Haridra Sarovar (danau air kunyit) untuk menyenangkan hati Dewi Parwati dengan harapan agar sang dewi bersedia menyelamatkan dunia. Sang dewi berkenan dengan tapa yang dilakukan Wisnu, lalu dia menciptakan manifestasi dirinya berupa Bagalamuki, yang muncul dari tengah danau. Bagalamuki menenangkan badai yang sedang berlangsung, sehingga menyelamatkan dunia.[2]
Mengalahkan Madanasura
[sunting | sunting sumber]Dalam suatu versi dikisahkan bahwa ada seorang asura bernama Madana (Madanasura)[3] yang memiliki kemampuan Wak-siddhi; apa pun yang diucapkannya akan menjadi kenyataan. Dia menyalahgunakan kemampuan tersebut sehingga mendatangkan masalah bagi para makhluk di dunia. Para dewa pun memohon bantuan kepada Bagalamuki. Sang dewi akhirnya merenggut lidah sang asura dan melumpuhkannya. Sebelum dieksekusi, Madana berharap agar dia ikut dipuja bersama sang dewi. Bagalamuki pun mengabulkan permohonan tersebut sehingga sang raksasa diabadikan dalam arca dan gambar sang dewi.[2]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Kinsley, David R. (1988). "Tara, Chinnamasta and the Mahavidyas". Hindu Goddesses: Visions of the Divine Feminine in the Hindu Religious Tradition (Edisi 1). University of California Press. ISBN 978-0-520-06339-6.
- 1 2 Kinsley, David R. (1997). Tantric Visions of the Divine Feminine: The Ten Mahāvidyās. University of California Press. hlm. 193–5. ISBN 978-0-520-20499-7.
- ↑ "Bagalamukhi | Mahavidya" (dalam bahasa American English). 26 December 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-07-20. Diakses tanggal 2019-07-20.