Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia
Logo BEM UI 2016
Slogan Ini UI Kita (2016)
Tanggal pembentukan 1974
Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (Dema UI)

1992
Senat Mahasiswa Universitas Indonesia
(SM UI)

1999
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia
(BEM UI) [1]
Jenis Organisasi Kemahasiswaan
Kantor pusat Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa, Kampus UI
Depok, Jawa Barat
Ketua
Arya Adiansyah (2016)
Wakil Ketua
Moch. Abdul Majid (2016))
Organisasi induk
Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia
(IKM UI)
Afiliasi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI)
Situs web www.bem.ui.ac.id

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia yang disingkat BEM UI adalah organisasi mahasiswa intra kampus Universitas Indonesia yang merupakan lembaga eksekutif di tingkat universitas. Dalam melaksanakan program-programnya, umumnya BEM UI memiliki beberapa departemen di strukturnya. Periode kepengurusan BEM UI berlangsung dari Januari-Desember selama 1 tahun, sebelum tahun 2007 kepengurusan BEM UI dan semua organisasi lainnya di UI berlangsung dari Juli-Juni.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Diskursus mengenai gerakan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dengan gerakan para pemuda Indonesia yang dimulai sejak masa kebangkitan nasional. Gerakan mahasiswa Indonesia sendiri merupakan bentuk transformasi dari gerakan pemuda dan pelajar dari masa kebangkitan nasional hingga masa orde lama. Ketika jumlah mahasiswa semakin bertambah, kalangan intelektual diwakili oleh kelompok mahasiswa. Universitas Indonesia sebagai universitas tertua di Indonesia mempunyai umur yang lebih tua dari kelahiran Indonesia, bila cikal bakal UI ditarik dari STOVIA. STOVIA atau sekolah mantri Jawa menjadi embrio lahirnya Fakultas Kedokteran UI saat ini, yang menjadi fakultas tertua di UI. Berasal dari sekolah inilah muncul Budi Utomo sebagai organisasi kepemudaan pertama Indonesia yang mengusung ide nasionalisme. Dalam masa pergerakan nasional kita mengenal sosok founding fathers Soekarno. Soekarno, menamatkan pendidikan tingginya di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau sekarang dikenal dengan ITB (Institut Teknologi Bandung). ITB sendiri merupakan pecahan Fakultas Teknik dari Univeritas Indonesia yang berdiri sendiri.

BEM UI dan BEM Fakultas se-UI ajukan kontrak politik kepada dua Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden RI 2014.

Memasuki era tahun 1966, tanggal 10 Januari 1966, di halaman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mahasiswa UI yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) menggelar aksi demonstrasi. KAMI pada awalnya hanya merupakan aliansi yang terbentuk saat demonstrasi untuk menentang pemerintahan Soekarno. Dalam demonstrasi tersebut mahasiswa mencetuskan istilah TRITURA atau tiga tuntutan rakyat. Tuntutan inilah yang sering digaungkan hingga kini sebagai salah satu peranan besar gerakan mahasiswa Indonesia untuk pertama kalinya sekaligus peranan besar gerakan mahasiswa UI dalam mengarahkan perjalanan sejarah Indonesia. Keberhasilan mempercepat terjadinya perubahan rezim Orde Lama menuju Orde Baru kemudian menjadi tonggak pertama sejarah gerakan mahasiswa. Hal ini kembali dilanjutkan oleh mahasiswa UI pada tahun 1974 dengan dipimpin oleh sebuah lembaga baru yang disebut Dewan Mahasiswa UI (Dema UI). Kelahiran Dema UI tidak lama berselang setelah berpindahnya kekuasaan Soekarno ke Soeharto melalui Supersemar.

Dalam peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974, Dema UI gagal untuk membawa sebuah perubahan ekonomi yang tidak tergantung dengan modal asing. Akan tetapi, gerakan mahasiswa UI melalui Dema UI telah mampu untuk mewarnai dan mengguncang stabilitas politik nasional. Tahun 1978, sekali lagi Dema UI dibawah kepemimpinan Lukman Hakim bersama dengan mahasiswa dari kampus-kampus lainnya berencana untuk berdemonstrasi meminta pergantian Soeharto sebagai Presiden RI dalam Sidang Umum MPR yang akan dilaksanakan tanggal 11 Maret 1978. Akan tetapi, sebelum demonstrasi itu berlangsung gerakan telah diberangus dengan penculikan-penculikan yang dilakukan terhadap para aktivis. Pada tanggal 19 April 1978, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Menteri P dan K) Daoed Joesoef mengeluarkan SK Menteri P dan K No. 0156/U/1978 yang berisi tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Melalui SK ini pemerintah melarang mahasiswa melakukan politik praktis dan kampus tidak boleh dijadikan sebagai arena politik. Kemudian kurang lebih satu tahun kemudian pada tahun 1979 muncul SK kedua dari Menteri P dan K, SK No.037/U/1979 yang berisi bentuk susunan lembaga kemahasiswaan di setiap perguruan tinggi. SK ini menandakan represifitas pemerintah terhadap gerakan mahasiswa dan menurunnya peranan gerakan mahasiswa setelah sebelumnya Pangkopkamtib Benny Moerdani mengeluarkan SK No. SKEP 02/KOPKAM/1978 mengenai pembekuan Dewan Mahasiswa di seluruh Indonesia.

Fenomena terbangunnya kembali gerakan mahasiswa yang menjadi pengejawantahan suara-suara protes rakyat dimulai sejak awal tahun 1990. Melalui SK Mendikbud Fuad Hasan No. 0457/ U/ 1990 melahirkan lembaga kemahasiswaan SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi). Melalui lembaga ini kembali lahir sebuah lembaga di tingkat universitas yang diakui secara formal untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. Ketua SM UI (Senat Mahasiswa UI) pertama tahun 1992 adalah Chandra M. Hamzah FH UI. SM UI masa awal masih berbentuk forum komunikasi yang terdiri dari ketua-ketua SM Fakultas. Tahun 1993, untuk pertama kalinya pemilihan ketua SM UI dilaksanakan melalui Pemilihan Raya (Pemira). Ketua SM UI pertama dengan sistem Pemira UI adalah Zulkiflimansyah FE UI. Tahun 1998, gerakan mahasiswa UI kembali memiliki peranan dalam membantu mengarahkan jalannya perubahan sejarah Indonesia. Terdapat dua kekuatan besar yang mewakili mahasiswa UI dalam melancarkan aksi-aksi demonstrasinya, yaitu SM UI pimpinan Rama Pratama FE UI dan Kesatuan Aksi Keluarga Besar UI (KB UI) yang salah satu pimpinannya adalah Irwansyah FISIP UI.[2]

Memasuki era reformasi, kehadiran BEM UI semakin diharapkan masyarakat menjadi aktor intelektual perubahan. BEM UI dituntut untuk selalu membantu memberikan solusi atas permasalahan bangsa. BEM UI memiliki beban sejarah besar dalam hal pergerakan kemahasiswaan yang mana sudah selayaknya dan sepatutnya menjadi rujukan bagi kampus-kampus lain perihal gerakan mahasiswa. Apalagi lokasi BEM UI yang berada dekat dengan pusat ibu kota, sangat berpeluang untuk melancarkan gerakan sosial politik secara optimal. Perubahan sosial pasca reformasi, jugaa telah membentuk paradigman bahwa BEM UI tidak melulu hanya bergerak dalam gerakan social politik saja, namun BEM UI juga harus bias menjadi wadah pengabdian lain, khususnya pada gerakan-gerakan social kemasyarakatan dan kegiatan di bidang kemahasiswaan.

Beberapa momen penting dalam sejarah perjalanan BEM UI di era reformasi seperti misalnya:

  1. BEM UI tahun 2001 dalam Aksi Laporan Pertanggungjawaban Presiden Abdurahman Wahid.
  2. BEM UI tahun 2004 dalam Aksi Kasus Korupsi Akbar Tandjung (Golkar) di Mahkamah Agung
  3. BEM UI tahun 2011 memulai dirintisnya Gerakan UI Mengajar.
  4. BEM UI tahun 2012 melakukan gerakan occupy rektorat UI yang pada intinya menguliti kasus-kasus korupsi di internal Rektorat UI
  5. BEM UI tahun 2014 melakukan kontrak politik dengan calon Presiden RI
  6. BEM UI tahun 2015 melakukan Aksi Rapat Akbar Anti Korupsi di Salemba UI dan menelurkan Catur Cita UI
  7. BEM UI tahun 2016 melakukan aksi penolakan reklamasi dan tuntutan DKI Jakarta menjadi pemerintah daerah yang bersih

Daftar Ketua dan Wakil Ketua BEM UI[sunting | sunting sumber]

No. Ketua SM Asal Fakultas Wakil Ketua SM Asal Fakultas Periode
1 Chandra M. Hamzah 1992-1993 FH
3 Zulkiflimansyah 1994-1995 FE
4 Kamaruddin 1995-1996 FISIP
5 Selamat Nurdin 1996-1997 FT
6 Rama Pratama 1997-1998 FE
No. Ketua BEM Asal Fakultas Wakil Ketua BEM Asal Fakultas Periode
1 Bachtiar Firdaus 1998-1999 FT
2 Taufik Riyadi 2000-2001 FH
3 Wisnu Sunandar 2001-2002 FT
4 Rico Marbun 2002-2003 FMIPA
5 Achmad Nur Hidayat 2003-2004 FT
6 Gari Primananda 2004-2005 FIB
7 Azman Muammar 2005-2006 FT
8 Ahmad Fathul Bari FIB Habibi Yusuf Sarjono FT 2006-2007
9 Muhammad Tri Andika FISIP Rangga Zanuar FMIPA 2007
10 Edwin Nofsan Naufan FPsi Pongki Dwi Aryanto FKM 2008
11 Trie Setietmoko FISIP Ananda Ridwansyah FISIP 2009
12 Imaduddin Abdullah FISIP Choky Risda Ramadhan FH 2010
13 Maman Abdurrakhman FT[3] Muhammad Adi Nugroho FIB 2011
14 Faldo Maldini FMIPA[4] Rosidi Rizkiandi FIB 2012
15 Ali Abdullah FH[5] Azhar Nurun Ala FKM 2013
16 Mohammad Ivan Riansa FT[6] Ahmad Mujahid FMIPA 2014
17 Andi Aulia Rahman FH[7] Taufik Hidayat FMIPA 2015
18 Arya Adiansyah FPsi Mochammad Abdul Majid FMIPA 2016

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "BEM UI sticks to moral action, upholds reform". Jakarta Post. 8 Februari 2001. Diakses tanggal 21 Oktober 2014. 
  2. ^ "Sejarah BEM UI". Kantor Komunikasi & Informasi BEM UI. Februari 2014. Diakses tanggal 21 Oktober 2014. 
  3. ^ "Kunjungan BEM UI 2011". Admin Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia. 4 Juli 2011. Diakses tanggal 21 Oktober 2014. 
  4. ^ "Mantan Ketua BEM UI Pimpin PPI United Kingdom". Republika Online. 26 November 2013. Diakses tanggal 21 Oktober 2014. 
  5. ^ "BEM UI Tegaskan Tak Ikut Aksi 25 Maret". Okezone News. 24 Maret 2013. Diakses tanggal 21 Oktober 2014. 
  6. ^ "Struktur BEM UI". Kantor Komunikasi & Informasi BEM UI. Februari 2014. Diakses tanggal 21 Oktober 2014. 
  7. ^ "BEM UI: Banyak Jawaban Presiden yang Membuat Kami Belum Puas". Beritasatu.com. 18 Mei 2015. Diakses tanggal 20 September 2015.