Badak NGL

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Badak Natural Gas Liquefaction
Jenis Non-profit Company
Industri/jasa Pengolahan gas alam, Pelatihan Operasi dan Perawatan Kilang gas alam cair
Didirikan 26 November 1974
Kantor pusat Wisma Nusantara, Jakarta & Bontang, Kalimantan Timur, Indonesia
Tokoh penting Djohardi A. Kusumah, Presiden Komisaris
Salis S. Aprillian, Presiden Direktur & CEO
Yhenda Permana, Direktur & COO
Produk LNG / LPG dan Modul Pelatihan
Karyawan 1.800 (karyawan)
2.600 (pekerja kontraktor)
Induk Pertamina
Situs web http://www.badaklng.co.id/
Kantor utama PT Badak NGL di Bontang.

PT Badak Natural Gas Liquefaction atau lebih dikenal dengan PT Badak NGL adalah perusahaan penghasil gas alam cair (LNG (Liquid Natural Gas) terbesar di Indonesia dan salah satu kilang LNG yang terbesar di dunia. Perusahaan ini berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur, dan memiliki 8 process train (A - H) yang mampu menghasilkan 22,5 Mtpa LNG (juta metrik ton LNG per tahun). PT Badak NGL merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Kota Bontang maupun Indonesia.

Pemegang saham[1][sunting | sunting sumber]

Pertamina  : 55%
VICO Indonesia  : 20%
Japan Indonesia LNG Co (JILCO)  : 15%
Total E&P Indonesie  : 10%

Pemasok gas[sunting | sunting sumber]

President Director & CEO[sunting | sunting sumber]

No Nama Awal Jabatan Akhir Jabatan
1 Singgih Darsono 1982 1986
2 H. R. I. J. Soetopo 1986 1991
3 J. R. Oekon 1991 1994
4 Toerki Witoelar 1994 1998
5 IG. G. Masputra 1998 2001
6 Harry Poernomo 2001 2003
7 Wahjudi Suhartono 2003 2005
8 Yoga P. Suprapto 2005 2008
9 Agus Haryanto 2008 2010
10 Hanung Budya 2010 2012
11 Nanang Untung 2012 2014
12 Rachmad Hardadi 2014 2015
13 Salis S. Aprilian 2015 sekarang

Perjalanan Badak LNG[sunting | sunting sumber]

Penemuan gas alam raksasa[sunting | sunting sumber]

Proyek LNG Badak dimulai ketika Huffco (sekarang VICO Indonesia), sebuah perusahaan kontraktor migas dengan PSC pada Pertamina, berhasil menemukan cadangan gas alam raksasa di lapangan Muara Badak, Kalimantan Timur pada Februari 1972, setelah sebelumnya ditemukannya juga cadangan gas alam raksasa serupa di lapangan Arun, Aceh oleh Exxon Mobil.

Saat itu bisnis LNG belum banyak dikenal dan hanya ada empat kilang LNG di seluruh dunia dengan pengalaman 3-4 tahun pengoperasian. Walau tanpa pengalaman sebelumnya di bidang LNG, Pertamina dan Huffco Inc., bersepakat untuk mengembangkan proyek LNG yang dapat mengekspor gas alam berbentuk cair dalam jumlah besar. Pertamina, Mobil Oil, dan Huffco Inc. berusaha menjual proyek kepada dua konsumen LNG potensial, penyandang dana potensial, dan mitra potensial di seluruh dunia. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan disepakatinya kontrak penjualan LNG terhadap lima perusahaan Jepang: Chubu Electric Co., Kansai Electric Power Co., Kyushu Electric Power Co., Nippon Steel Corp dan Osaka Gas Co. Ltd, pada tanggal 5 Desember 1973 yang dikenal dengan “The 1973 Contract”.

Pendirian dan perkembangan perusahaan[sunting | sunting sumber]

26 November 1974, didirikan perusahaan PT Badak NGL dengan pemegang sahamnya adalah Pertamina, VICO Indonesia dan JILCO. Perusahaan ini dipercayakan untuk mengoperasikan pabrik LNG Badak. Nama perusahaan ini diambil dari nama daerah tempat ditemukannya cadangan gas alam raksasa tersebut.

Konstruksi kilang dimulai pada tanggal 26 November 1974 dan selesai 36 bulan kemudian tanggal 5 Juli 1977 dengan berhasil dibangunnya train LNG pertama (train A). Kilang pertama ini diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1977 dan pengapalan LNG pertama dilakukan pada 9 Agustus 1977 ke Senboku, Jepang melalui kapal LNG Aquarius.

PT Badak juga mempunyai 4 jalur pipa paralel berukuran 36" dan 42" yang berfungsi mengirimkan gas alam dari ladang-ladang gas untuk bahan baku LNG dan LPG dari sebelumnya yang hanya punya satu jalur pipa berukuran 36" pada masa awal perusahaan berdiri. Selain itu, di jalur yang sama ada satu pipa berukuran 42" dimiliki oleh Pupuk Kalimantan Timur.

Selama 25 tahun, pabrik LNG Badak yang pada mulanya hanya memiliki 2 train, tapi sekarang sudah mempunyai 8 train dan ditambah dengan fasilitas penghasil LPG, seiring dengan ditemukannya cadangan gas alam yang tak kalah besar di sekitar Muara Badak. Jika beroperasi pada kapasitas penuh, kilang LNG Badak dapat memproduksi rata-rata 140.000 ton m3 gas alam per harinya. Total produksi gas alam setahunnya berhasil ditingkatkan dari 3,3 juta ton LNG per tahun pada tahun 1977 menjadi lebih dari 22 juta ton LNG dan 1,2 juta ton LPG per tahun. Produksi LNG di Badak NGL merupakan salah satu yang terbesar di dunia.

Penurunan produksi[sunting | sunting sumber]

Sejak tahun 2001, produksi LNG dari Bontang mulai menurun. Dari 379 kargo tahun 2001 menjadi 341 kargo pada tahun 2005. Penurunan produksi ini menyebabkan PT Badak tidak mampu lagi memenuhi komitmennya pada pembeli. Selain itu, kebijakan pemerintah juga mengurangi ekspor LNG dari Bontang karena LNG tersebut dialihkan untuk memenuhi pasokan beberapa pabrik pupuk di dalam negeri. Produksi LPG pun terpaksa dihentikan sementara melihat berkurangnya pasokan gas ke PT Badak, terhitung sejak tahun 2006.[2]

Produksi LPG yang sempat dihentikan oleh PT Badak pada tahun 2006, mulai dioperasikan lagi pada tahun 2009 dengan total produksi tahun itu 435.518. Namun, produksi LNG terus menurun sejak tahun 2001 (produksi tertinggi dalam sejarah PT Badak), meski sempat kenaikan pada tahun 2007 dan 2008. Pada tahun 2009, tercatat produksi LNG adalah sebanyak 17,375,053 ton.[3]

Menurut perkiraan beberapa pakar, berdasarkan pada data ketersediaan gas alam yang ada pada awal tahun 2008, diperkirakan pada tahun 2010, PT Badak akan beroperasi hanya dengan 6 train. Tahun 2011, yang beroperasi 4 train, rentang 2012-2014 yang beroperasi 2 train, dan 2015-2017 hanya beroperasi sebanyak 1 train. Pasca 2017 belum ada kepastiannya.[4]

Kerjasama Dengan Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2011, Badak LNG berniat untuk memberikan warisan yang berarti untuk dunia LNG Indonesia khususnya pada bidang pendidikan. Pada tahun yang sama, dibentuklah tim khusus (task force) yang bertugas menyusun program beasiswa bekerja sama dengan suatu perguruan tinggi yaitu Politeknik Negeri Jakarta. Badak LNG dan Politeknik Negeri Jakarta akhirnya bersepakat menjalin kerja sama dan menghasilkan program yang bernama LNG Academy.

Pengembangan Bisnis Baru Badak LNG[sunting | sunting sumber]

Dalam dekade terakhir. Badak LNG menyadari bahwa memiliki pengalaman mengoperasikan kilang selama empat dekade merupakan pengalaman berharga. Melalui divisi baru yang dibentuk yaitu Corporate Strategic Planning and Business Develompent (CSP & BD), Badak LNG mulai membagikan pengalaman tersebut melalui pelatihan, asistensi "start-up" kilang, dan asistensi teknis bagi klien domestik maupun klien intenasional.

Klien - klien Badak LNG domestik antara lain adalah:

Klien - klien Badak LNG Internasional antara lain adalah:

  • Angola LNG
  • Cameron LNG
  • Mozambique LNG
  • Yemen LNG
  • Mitsui
  • Chiyoda
  • Dominion Cove Point LNG

Serikat Pekerja[sunting | sunting sumber]

Terdapat dua serikat pekerja (SP) di PT Badak NGL yaitu SP-FPLB dan SP-LNG. Terdapat pula non-SP yang merupakan pekerja PT Badak NGL yang tidak mengkuti kedua SP tersebut:

  • SP-FPLB atau Serikat Pekerja - Forum Pekerja LNG/LPG Badak merupakan SP yang dominan di PT Badak NGL. Lebih dari 80% pekerja PT Badak NGL tergabung pada serikat pekerja ini. SP-FPLB adalah SP yang terdaftar di Kementrian Ketenagakerjaan sebagai SP yang resmi sebagai penyusun Perjanjian Kerja Bersama (PKB) bersama dengan PT Badak NGL.
  • SP-LNG merupakan salah satu serikat pekerja di PT Badak NGL. SP-LNG merupakan SP oposisi dari SP-FPLB.
  • Non-SP merupakan golongan pekerja yang tidak tergabung ke dalam dua SP diatas. Non-SP juga diakui oleh PT Badak NGL dan terdapat ketua golongan non-SP

Terminologi[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa penyebutan terhadap PT Badak NGL. Diantaranya adalah "LNG Badak", "PT Badak NGL", "PT Badak NGL Co.", "Badak LNG".

  • Penyebutan "PT Badak NGL" adalah yang secara resmi terdaftar pada akta perusahaan dan pada era 1990 - 2000 sering ditambahkan kata "co." yang merupakan kependekan dari "corporation". Terminologi ini yang selalu digunakan pada aktivitas legal / hukum, resmi, dan terkait dengan kontrak.
  • Sedangkan untuk penyebutan "LNG Badak" lebih sering digunakan ketika ajang olah raga yang mewakili nama perusahaan seperti: Tim Voli Bontang LNG Badak (BLB).
  • Badak LNG adalah terminologi baru yang dipopulerkan dan tercantum pada corporate identity PT Badak NGL yang baru. Penyebutan "Badak LNG" dinilai lebih familiar di telinga internasional karena perusahaan lain memakai terminologi dengan format ini. Format terminologi ini sering pula digunakan ketika menjalin kontrak atau agreement dengan pihak dari luar negeri atau internasional.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]