Babad Tanah Leluhur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Babad Tanah Leluhur
Sutradara M. Abnar Romli
Produser Handi Muljono
Penulis S. Tidjab
Pemeran Fitria Anwar
Lamting
Wisnu Wardhana
Indah Cahyani
Yulietta Kulit
WSF Ratu Evie
Alex Bernard
John Wiranata
Raymond Robot
Arman Effendy
Budi Schwarzkrone
Rudy Wahab
Yoseph Hungan
S. Naryo Hadi
Musik Didi AGP
Sinematografi William Samara
Penyunting Janis Badar
Tanggal rilis
1990
Negara Indonesia

Babad Tanah Leluhur adalah Sandiwara Radio karya M.Aboed yang naskahnya diperkenalkan sebagai hasil karangan Tizar Sponsen. Ide cerita pada episode awal merupakan buah karya Cece Sukhiar. Sandiwara ini mulai disiarkan 1 September 1989 dan berakhir pada 27 Desember 1992, terdiri dari 40 Episode, dimana tiap episode nya terdiri dari 30 Seri. Dalam satu kaset memuat 2 seri.

Plot[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya karya Cece Sukhiar ini menceritakan tentang sekelompok pendekar dari perguruan Goa Larang yang dikenal di masyarakat dengan julukan Ning Sewu. Mereka adalah :

  • Saka Palwaguna
  • Seta Keling
  • Dampu Awuk
  • Dadung Awuk
  • Anting Wulan

Ning Sewu mendapat perintah dari guru mereka Resi Wanayasa untuk membantu Prabu Aji Konda dari kerajaan Karang Sedana yang sedang terancam pemberontakan dari Ki Dalem Jaya Suntana yang dibantu oleh para pendekar rimba persilatan dari golongan hitam. Diantara tokoh golongan hitam itu ada Jerangkong Hidup, yang dikenal sebagai raja ilmu hitam tanah jawa.

Pada episode-episode berikutnya, tokoh utamanya nampak mengerucut pada sosok pasangan Anting Wulan, Saka Palwaguna dan raden Purbaya yang mencintai pengasuhnya Cempaka. Dan bermunculan tokoh jahat yang licik dan sakti seperti Ranghyang Purba Sora dan pembantunya, Resi Amista, seorang resi dari negeri India. Dan menjelang akhir-akhir episode dari Babad Tanah Leluhur, muncul sosok jahat siluman Ular Emas, Nenek Ranggis dari gunung Wukir.

Episode[sunting | sunting sumber]

  • 01. API BERKOBAR DI KARANG SEDANA
  • 02. KISAH SEPASANG ANAK HARIMAU
  • 03. RAHASIA BUKIT TENGKORAK
  • 04. SAYEMBARA PRABU SANA
  • 05. BIDADARI PENCABUT NYAWA
  • 06. BANYU CAKRA BUANA
  • 07. KEMELUT HATI SANG PENDEKAR
  • 08. SATRIA CILIK KARANG SEDANA
  • 09. KUPU-KUPU BERCADAR PUTIH
  • 10. GEGER BUMI GALUH
  • 11. RATU SEGARA KIDUL
  • 12. AWAL KEBANGKITAN MATARAM HINDU
  • 13. FAJAR MENYINGSING DI BUMI MATARAM
  • 14. PERTARUNGAN DUA PUTERA MAHKOTA
  • 15. RAHASIA GUNUNG WUKIR
  • 16. PUSAKA ARCA EMAS
  • 17. RAWA RONTEK
  • 18. PEDANG ULAR EMAS
  • 19. ANGKARA MURKA
  • 20. ANGKARA MURKA II
  • 21. BARA TANAH MATARAM
  • 22. KEMELUT SEBUAH WARISAN
  • 23. PETAKA ASMARA DEWA
  • 24. KISAH DI TANAH NAGA
  • 25. SANG RAJA SURYA
  • 26. LAYU YANG TERKEMBANG
  • 27. PERGURUAN KEMBANG HITAM
  • 28. KABUT GUNUNG SALAK
  • 29. REINKARNASI
  • 30. BAYANG BAYANG ANGKARA
  • 31. MENDUNG DI PAGI HARI
  • 32. PERGURUAN TONGKAT MERAH
  • 33. KEMELUT DESA TAMYANG
  • 34. GEMURUH DENDAM GEMURUH RINDU
  • 35. KEMELUT DI KERATON INDRASAPA
  • 36. PUSAKA SIMA
  • 37. GELORA API CEMBURU
  • 38. PRAHARA DI KAKI BURANGRANG
  • 39. GEGER KITAB ILMU SEJATI
  • 40. CENGKAR KEDATON

Film Layar Lebar[sunting | sunting sumber]

Sinopsis film[sunting | sunting sumber]

Jerangkong Hidup (Budi Schwarzkrone) mengacau Kerajaan Karang Sedana lagi. Sanata Dharma (Wisnu Wardhana) yang diminta untuk mengatasi masalah ini mula-mula menolak, karena ia sudah meninggal-kan keduniawian. Tapi, ketika suasana semakin tidak keruan, akhirnya Sanata Dharma turun tangan juga. Jerangkong Hidup bisa ditumpas.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Laman Babad Tanah Leluhur, diakses pada 17 Februari 2010

Pranala luar[sunting | sunting sumber]