Lompat ke isi

Ba 'Alwi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ba 'Alawi
با علوى
Foto sejumlah anggora keluarga Ba 'Alwi di Indonesia
Kelompok etnisArab
Region saat iniYaman, Arab Saudi, Indonesia, Malaysia, Brunei, Uni Emirat Arab, India, Bangladesh,Singapura, Maladewa, Komoro, Afrika Selatan, Somalia, Etiopia, Kenya, Uganda, Tanzania, Republik Demokratik Kongo
Tempat asalHadhramaut
Anggota
Klan
  • al-Mushayyakh
  • Al-Aydarus
  • al-Muhdar
  • al-Attas
  • al-Basakut
  • al-Saqqaf
  • al-Shahab
  • al-Haddad
  • al-Habshi
  • al-Hamid
  • al-Khirid
  • al-Qadri
  • al-Haddar
  • al-Jufri
  • lebih banyak...
Keluarga terkait
  • al-Rayyan
  • Thangal
  • Nuwaythi
  • Bafayed, Ba Mashkoor
  • Ba Rumaidaan
  • Ba Hamaam
  • al-Amoodi
  • Ba Naeemi
  • Ba Hammudi
TradisiTarekat Ba'alawiyah

Ba 'Alawi Sada (bahasa Arab: سادة باعلوي, translit. sādat bāʿalawiy, har. 'keturunan ‘Alawi'), atau Keluarga Ba 'Alawi (آل باعلوي, translit. Ālu Bāʿalawī), adalah sebuah kelompok keluarga Sayyid Hadhrami dan golongan sosial yang berasal dari Hadhramaut di sudut barat daya Jazirah Arab. Mereka mengklaim garis keturunan mereka tersambung kepada Ahmad al-Muhajir, seorang keturunan Nabi Islam Muhammad, yang berhijrah dari Basra ke Hadramaut pada tahun 931 M (318 H).[1] Ulama klasik Islam seperti Ibnu Hajar al-Haitami, Yusuf al-Nabhani, Ibrahim bin Manshur,Niqobah Diwan Al-Sadah Al-Uraidli dan Murtadha al-Zabidi [en] telah mengesahkan silsilah Ba 'Alawi.[2] [3] Klaim dan pengesahan tersebut mendapat kritik dari beberapa tokoh publik dan peneliti di Indonesia yang meragukan sekaligus membatalkan ketersambungan garis keturunan mereka dengan Muhammad dikarenakan faktor ketiadaan sumber kitab primer sejaman dan hasil tes Y-DNA yang menunjukkan ketidaksesuaian.[4] [5][6][7][8][9] Peneliti Indonesia lain telah membantah pembatalan nasab Ba Alawi tersebut dan berkesimpulan seandainya pendekatan sumber kitab sejaman tersebut diterapkan maka runtuh pula nasab banyak tokoh besar lain dalam Islam.[10]

Aliran utama keluarga Ba 'Alawi mengikuti Islam Sunni, dengan mazhab fikih Syafi'i, dan mazhab akidah Asy'ari. Dalam hal ini, Ba 'Alawi memiliki jalan tersendiri dalam mendekatkan diri kepada Tuhan, yaitu Tarekat Ba'alawiyah, salah satu tarekat sufi yang tersebar di dunia Islam.[11] Praktik yang dilakukan secara rutin seperti Majelis Zikir (biasanya dengan membaca zikir atau wirid seperti Wird al-Latif atau Ratib oleh Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad setelah setiap waktu Subuh dan Magrib),[12] membaca buku-buku Islam klasik [13] dan Ziarah adalah praktik tradisi di Yaman.[14]Ada pendapat Haul (Islam) dan Tahlil yang umunya dilakukan masyarakat Muslim Indonesia berasal dari Yaman.[15][16] [17][18][5]

Ba 'Alawi dikenal sebagai penyebar dakwah Islam. Pendiri tarekat mereka adalah Muhammad al-Faqih Muqaddam. Pada masanya, keluarga Sayyid di Hadramaut dianggap sebagai ancaman oleh kabilah-kabilah lain.[19] Dipercaya bahwa penyebaran Islam di Asia Tenggara dilakukan oleh para pedagang dan ulama Hadhramaut yang transit di India sejak abad ke-15, dan ajaran tasawuf beserta praktik serta pengaruhnya dapat ditelusuri dengan kuat di kawasan tersebut.[20][21][22] Pengaruh Ba Alawi dalam Islam terlihat dari daftar The 500 Most Influential Muslims 2026 yang mencantumkan nama Habib Umar bin Hafidz dari Yaman , Habib Luthfi bin Yahya dari Indonesia dan Habib Ali Al-Jufri dari Uni Emirat Arab .[23]

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Asal-usul nama Ba 'Alawi kembali kepada salah satu leluhur mereka, yaitu Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir, keturunan pertama dari al-Muhajir yang diberi nama 'Alawi. Penggunaan nama Ba 'Alawi dipengaruhi oleh orang-orang Hadhrami dalam cara mereka menyebut ayah mereka, dan makna (Ba) di kalangan Hadhrami adalah "anak-anak dari".[24]

Namun, Ba 'Alawi tidak menggunakan dua nama keluarga ini kecuali dalam biografi dan nasab, dan biasanya seseorang disandarkan pada kabilahnya. Akan tetapi, ada sebagian individu dari Bani Alawi yang tetap disebut Ba 'Alawi karena mereka tidak termasuk dalam kabilah-kabilah yang sudah dikenal.[25]

Kata Sadah atau Sadat (Arab: سادة) adalah bentuk jamak dari kata Sayyid (Arab: سيد), sedangkan kata Ba 'Alawi atau Bani 'Alawi berarti keturunan Alawi. Singkatnya, Ba 'Alawi adalah para Sayyid yang memiliki garis keturunan darah dari Nabi Muhammad melalui Alawi bin Ubaydillah bin Ahmad al-Muhajir. Sementara itu, Alawiyyin (Arab: العلويّن; al-ʿalawiyyīn) adalah istilah Sayyid yang digunakan untuk menyebut keturunan Ali bin Abi Thalib dari Husain bin Ali (Sayyid) dan Hasan bin Ali (Syarif). Seluruh Ba 'Alawi adalah Sayyid Alawiyyin melalui jalur Husain bin Ali, tetapi tidak semua keluarga Alawiyyin termasuk dalam Ba 'Alawi. Dalam konteks tertentu, istilah ʿAlawiyyīn digunakan dalam arti yang lebih terbatas oleh Ba 'Alawi untuk merujuk secara khusus pada keturunan ʿAlawi bin ʿUbaydillah bin Ahmad al-Muhajir.

Asal Usul

[sunting | sunting sumber]

Tradisi budaya Ba ‘Alawi menelusuri garis keturunan mereka hingga kepada Ahmad al-Muhajir. Cucu Imam al-Muhajir, yaitu Alawi, adalah Sayyid pertama yang lahir di Hadhramaut, sekaligus satu-satunya keturunan Imam al-Muhajir yang melahirkan garis keturunan berkelanjutan di Hadhramaut; sementara garis keturunan cucu-cucunya yang lain—Basri (yang nama aslinya Ismāʿīl) dan Jadīd—terputus setelah beberapa generasi. Karena itu, keturunan Imam al-Muhajir di Hadhramaut dikenal dengan nama Bā ‘Alawi atau Bani ‘Alawi (“keturunan Alawi”).

Keturunan Ahmad al-Muhajir terus berpindah dari satu desa ke desa lain di lembah Hadhramaut, sempat menetap di desa Sumal sebelum kemudian pindah ke desa Bayt Jubair. Pada tahun 521 H, Ali bin Alawi, yang dikenal sebagai “Khali‘ Qasam,” seorang keturunan Al-Muhajir, pindah ke kota Tarim dan menjadikannya sebagai tempat tinggal bersama anak-anaknya. Sejak saat itu, Tarim menjadi pusat kediaman Bani Alawi hingga hari ini.[26] Selain itu ada pula Bani Jadid dikenal masih mempunyai hubungan keluarga dengan Ba Alwi. [27] Kelompok ini dikabarkan punah di sekitar abad ke 7-8 H.

Kaum Sadah Ba ‘Alawi sejak itu menetap di Hadhramaut, Yaman Selatan, dengan tetap berpegang pada akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dalam mazhab fikih Syafi‘i. Pada mulanya, seorang keturunan Imam Ahmad al-Muhajir yang menjadi ulama dalam ilmu-ilmu Islam disebut Imam, kemudian disebut Syaikh, dan pada perkembangan berikutnya disebut Habib. Orang pertama dari marga Bā ʿAlawī yang disebut Habib adalah al-Ḥabīb ʿUmar bin ʿAbd al-Raḥmān al-ʿAṭṭās (w. 1072 H / 1661 M).

Barulah sejak tahun 1700 M mereka mulai bermigrasi[28] secara besar-besaran keluar dari Hadhramaut ke seluruh penjuru dunia, sering kali dalam rangka berdakwah.[29] Perjalanan mereka juga membawa mereka ke Asia Tenggara. Para imigran Hadhrami ini membaur dengan masyarakat setempat dengan cara yang jarang ditemukan dalam sejarah diaspora. Misalnya, Dinasti Jamalullail di Perlis merupakan keturunan Ba ‘Alawi. Habib Salih dari Lamu, Kenya, juga merupakan keturunan Ba ‘Alawi. Di Indonesia, cukup banyak dari mereka yang menikah dengan penduduk setempat, baik perempuan maupun laki-laki, bahkan terkadang dengan kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan. Pada umumnya mereka mempraktikkan pernikahan sekufu, dimana lelaki dari Ba 'Alwi bisa menikahi semua wanita ,sementara wanita Ba 'Alawi hanya bisa menikahi sesama Ba 'Alawi atau sayyid dan syarif dari kelompok lain. Walaupun dikritisi banyak pihak dan menimbulkan beberapa implikasi sosial yang tidak diinginkan, praktik tersebut dilakukan dengan alasan untuk menjaga supaya garis keturunan dari wanita Ba 'Alwi tidak terputus secara patrilineal dengan Muhammad.[8] [30] Sebagian keturunan mereka ada yang kemudian menjadi sultan atau raja, seperti di Kesultanan Pontianak atau Kesultanan Siak Indrapura.[31] Kesultanan Sulu, Lanao, dan Maguindanao pun menelusuri asal-usul mereka hingga kepada kaum Sadah Ba ‘Alawi.[32] Kesultanan-kesultanan tersebut mengikuti mazhab fikih Syafi‘i.[33]

Genealogi

[sunting | sunting sumber]

Menurut Ja'far al-Labni, seorang sejarawan dari Makkah:

“Banyak dari para Sayyid yang tinggal di Makkah dan Madinah adalah Ba‘Alawi, yang ketenaran mereka menyebar di Hadhramaut, kemudian mereka datang dari Hadhramaut ke Makkah, Madinah, dan negeri-negeri Allah lainnya. Maka para bangsawan inilah yang diserahi untuk menjaga nasab mereka, dan mereka dikenal oleh naqib (kepala) para Sayyid di Makkah dan Madinah. Naqib para Sayyid itu tiada lain adalah mereka. Kelahiran mereka diawasi di mana pun mereka berada, nama-nama mereka dicatat, dan nasab mereka dipelihara dengan cara yang telah dikenal. Nasab mereka dijaga dengan metode yang berlaku di kalangan mereka, untuk membagi pendapatan dari wakaf dan sejenisnya. Adapun selain mereka yang juga termasuk keturunan Nabi — baik dari Mesir, Syam, Romawi, maupun Irak — meski jumlah mereka banyak, mereka tidak semunya diakui, karena nasab mereka tidak ditetapkan atas dasar yang kuat yang diterima d masyarakat. Hal ini karena sebagian dari mereka mungkin memiliki bukti yang menimbulkan keraguan tentang kebenaran klaim mereka.”[34]

Selain Ba Alawi yang bernasab kuat, terdapat pula para Syarif Makkah dari kabilah Qatadi dan Jammaz yang selalu bermukim di Hijaz dan tidak pernah berhijrah dari wilayah tersebut. Namun demikian, genealog Blaine Bettinger mencatat mengenai hal ini:

“Tentu saja, sebagaimana yang diketahui semua ahli genealogi , hampir tidak pernah ada kepastian tentang nasab yang terbukti 100% benar , terutama bila berdasarkan memori lisan maupun catatan tertulis.”[35]

Rujukan Kitab Nasab

[sunting | sunting sumber]

Nasab Ba‘Alawi dicatat dalam sebuah daftar genealogi besar yang terdiri dari 15 jilid, disusun oleh ahli nasab , ‘Abd al-Rahman al-Mashhūr, pengarang Shams al-Dhahira (1340 H). Catatan itu masih tersimpan hingga kini di Hijaz, Yaman, negara-negara Asia Tenggara, dan Afrika Timur. Versi aslinya disimpan di Tarim, Hadhramaut, lalu diadopsi oleh Al-Rabithah Al-Alawiyah (Perhimpunan Alawiyyin) di Jakarta, Indonesia.[36]

Ada juga daftar nasab terkenal karya al-Musnid Idrus ibn ‘Umar al-Habshi, dan daftar nasab lainnya yang disimpan di Makkah dan disalin oleh al-Qadi Abu Bakr ibn Ahmad ibn Husayn al-Habshi. Selain pohon nasab umum tersebut, ada pula pohon nasab khusus untuk banyak kabilah Bani Alawi, di mana mereka mencatat garis keturunan masing-masing.[37] Setidaknya ada belasan karya lain yang juga dianggap menguatkan nasab mereka.[38] Sebuah manuskrip yang ditulis Imam Tirmidhi antara 589 H, membantah klaim ini. Pada halaman awal manuskrip terdapat tulisan tangan Muhammad bin Ali Al-Qala'i Shahib Mirbath Ba'alawi (w. 592 H./1195 M.), yang memberikan ijazah kepada Syarif Abdullah Ba'alawi pada tahun 575 H./1179 M. Dengan demikian, tahun wafat al-Qala’i Shahib Mirbath Ba’alawi lebih awal 15 tahun dibanding wafatnya Fakhruddin ar-Razi. Begitupun pemberian ijazah tersebut lebih awal 31 tahun dibanding wafatnya Fakhruddin ar-Razi. Selain itu, eksistensi ijazah pada manuskrip Sunan Trimidzi jauh lebih tua dari kitab al-Syarajah al-Mubarakah sekitar 17 tahun. Ini dihitung sejak wafatnya pengarang kitab al-Syajarah, yaitu: 17 tahun kemudian. Dan juga manuskrip riwayat dari Hasan bin Muhammad Al-'Allal (sezaman dengan Al-Ubaidili dan Al-Umari, bahkan ia saksikan wafat di Bagdad), riwayat di Bashrah dari kakeknya yaitu Ali bin Muhammad, riwayat di Bagdad dari pamannya yaitu Abdullah bin Ahmad Al-Abah yang bermigrasi ke Yaman (Nazil al-Yaman). Abdullah inilah yang kelak dipanggil Ubaidillah, datuk seluruh klan Baalawi di seluruh dunia.[39][40] [Verifikasi gagal]Juga disebutkan Bin Jadid yang menurut sejarah resmi Yaman merupakan anak Ubaidillah.[41]

Ahli nasab dari abad 8 Hijriah, Bahaudin Al-Janadi dalam bukunya As-Suluk Fi Tabaqatil Ulama Wal Muluk[42] menulis,

Di antara mereka adalah Hasan bin Muhammad bin Ali Ba'Alawi , dia seorang fukaha yang hafal di luar kepala kitab Al-Wajiz .

Garis Keturunan

[sunting | sunting sumber]

Setelah keturunan Ahmad bin ‘Isa al-Muhajir bermukim di Tarim, sebagian penguasa setempat meminta mereka membuktikan garis keturunan untuk menguatkan klaim mereka, dan hal itu harus dilakukan melalui keputusan hukum. Dikatakan bahwa di Tarim saat itu terdapat tiga ratus mufti. Maka ‘Ali bin Muhammad bin Jadid (w. 620 H) melakukan perjalanan ke Irak, membuktikan nasab tersebut di hadapan para hakim di sana, dan disaksikan. Para saksi ini kemudian bertemu para jamaah haji Hadhramaut di Makkah dan bersaksi kepada mereka. Saat para haji itu kembali ke Hadhramaut dan menyampaikan kesaksian, masyarakat pun mengakui nasab mereka, dan para syekh serta ulama sepakat atas hal ini.[43]

Ketika Ahmad al-Muhajir tiba di Hadhramaut, ia masih memiliki keluarga dan kerabat di Bashrah. Putranya Muhammad tetap tinggal di Bashrah untuk mengurus harta mereka bersama saudara-saudaranya, ‘Ali dan Husain. Cucu beliau, Jadid bin ‘Ubaydillah (nama aslinya Abdullah) pergi untuk melihat harta-harta itu dan mengunjungi kerabat. Anak-anak dan cucu al-Muhajir berinvestasi di Hadhramaut selama bertahun-tahun dari hasil harta mereka di Irak. Mereka tetap menjaga hubungan dengan tanah leluhur dan kerabat untuk beberapa generasi, menerima kabar dan cerita yang menjaga warisan dan sejarah mereka tetap hidup.[44]

Ulama yang Menguatkan Nasab Mereka

[sunting | sunting sumber]

Menurut sumber-sumber sejarah, banyak ahli nasab dan sejarawan[45] seperti: Ibn Tabataba,[46] Baha al-Din al-Janadi,[47] Ibn Inabah,[48] Muhammad al-Kadhim al-Yamani,[49] Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Amid al-Din al-Najafi,[50] Siraj al-Din al-Rifa‘i,[51] Shams al-Din al-Sakhawi,[52] Ibn Hajar al-Haytami,[53] Ibn Shadqum,[54] al-Muhibbi,[55] Yahya Muhammad Hamid ad-Din,[56] menyatakan bahwa garis keturunan ini bersambung kepada Nabi Muhammad.

Beberapa ulama otoritatif juga menyatakan hal yang sama, seperti mantan Mufti Mesir Syaikh ‘Ali Jum‘ah,[57] Syaikh Usamah al-Azhari dari Universitas Al-Azhar, Mesir,[58] Ayatullah Sayyid Mahdi Rajai dari Iran,[59][60] Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, para ahli nasab Saudi Syarif Ibrahim bin Manshur al-Hashimi al-Amir[61] dan Syarif Anas bin Ya‘qub al-Kutbi,[62] yang berpendapat bahwa nasab keluarga Ba‘Alawi bersambung kepada Nabi Muhammad.

Para Aulia dan Ulama NU sejak zaman dahulu seperti KH Muhammad Hasyim Asy'ari, KH Kholil al-Bangkalani, KH Hasan Genggong, K.H. Abdurrahman Wahid, KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Abdullah bin Nuh, KH As'ad Samsul Arifin, KH Muhammad Zaini Abdul Ghoni (Guru Sekumpul), KH Maimun Zubair, serta para Ulama dan Aulia’ lainnya mengakui keabsahan nasab Habaib Baalawi sebagai Dzurriyyah Nabi Muhammad SAW dan saling menghormati satu sama lainnya.[63]

Daftar marga

[sunting | sunting sumber]

Berikut daftar marga klan Ba'Alwi:[64][65]

No.Nama Marga (Latin)Nama Marga (Arab)
1Al-Attasالعطّاس
2Al-Aydarusالعيدروس
3Al-Aydidآل عيديد
4Ba Aqilباعقيل
5Al-Maqdiالمقدي
6Ba Abudباعبود
7Al-Barالبار
8Ba Surrahباصره
9Al-Baydhالبيض
10Balfaqihبلفقيه
11Al-Habshiالحبشي
12Al-Haddadالحدّاد
13Al-Haddarالهدار
14Al-Hadiالهادي
15Al-Hamidالحامد
16Jamalullailجمل الليل
17Al-Jufriالجفري
18Al-Juniedالجنيد
19Al-Kafالكاف
20Khanimanخنيمان
21Al-Mashoorالمشهور
22Al-Muhdharالمحضار
23Al-Musawaالمساوى
24Al-Mushayyakhآل مشيَّخ
25Al-Mutaharمطهر
26Al-Saqqafالسقاف
27Al-Shihabuddinآل شهاب الدين
28Al-Shatiriالشاطري
29Al-Sheikh Abu Bakrآل الشيخ أبو بكر
30Bin Sumaithبن سميط
31Bin Yahyaابن يحيى
32Al-Ayunالأعين
33Azamat Khanعظمات خان
34Al-Ba Hashimباهاشم
35Al-Ba Rumالباروم
36Al-Ba Sakutالبا سكوتا
37Al-Ba Haroon Jamalullailباهارون جمل الليل
38Al-Ba Raqbahبارقبة
39Bin Haroonبن هارون
40Bin Hashimبن هاشم
41Bin Murshedبن مرشد
42Al-Bin Shahelآل بن سهل
43Bin Jindanبن جندان
44Al-Hinduanالهندوان
45Al-Hiyedالحييد
46Al-Ibrahimالإبراهيم
47Al-Jadidجديد
48Al-Khiridالخرد
49Al-Nadhiryالنضيري
50Al-Adaniالعدنى
51Al-Mazimiالمازيمي
52Al-Tapiriالتابيري
53Ba Alawiباعلوي
54Ba Farajباعفاج
55Ba Fayedبافاييد

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Bang, Anne K. (2003). Sufis and Scholars of the Sea: Family Networks in East Africa, 1860-1925 (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. ISBN 978-0-415-31763-4.
  2. Muhammad Hanif, Alatas (23 September 2024). Keabsahan Nasab Ba'alawi. ISBN 978-623-88920-6-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. https://islami.co/jawaban-untuk-kiai-imaduddin-dan-krt-faqih-wirahadiningrat-jawaban-empat-tulisan-sekaligus/
  4. KH. Imaduddin Utsman al-Bantanie (2024). ULAMA NUSANTARA MENGGUGAT NASAB PALSU.
  5. 1 2 "Nasab Klan Baalwi dalam Perspektif Genealogi Genetik by Sugeng Sugiharto". utas.me (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-11. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama ":2" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  6. Padasuka TV (2024-04-12), Debat Sengit Test DNA Habaib, Gus Rumail vs Doktor Sugeng, diakses tanggal 2025-11-11
  7. Rhoma Irama Official (2024-06-21), BISIKAN RHOMA # 130: KYAI IMAD YAKIN TESISNYA TAK TERBANTAH, KOK BISA?!, diakses tanggal 2025-11-11
  8. 1 2 "Eksploitasi Agama atas Nama Keturunan: Mengungkap Kesesatan Doktrin Habaib di Indonesi". Google Docs. Diakses tanggal 2025-11-11.
  9. Rhoma Irama Official (2024-07-05), BISIKAN RHOMA # 132: MENGKAJI NASAB MELALUI ILMU GENETIKA, diakses tanggal 2025-11-13
  10. https://www.alkhoirot.org/2024/09/membongkar-penyimpangan-imaduddin.html
  11. بن سميط, زين بن إبراهيم (2005). المنهج السوي شرح أصول طريقة السادة آل باعلوي (PDF). تريم، اليمن: دار العلم والدعوة. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 June 2019.
  12. Abdillah, Aam (1998). Tradisi pembacaan ratibul Haddad di Bekasi: laporan penelitian. Bandung: Pusat Penelitian, IAIN Sunan Gunung Djati. hlm. 56. Diakses tanggal August 29, 2014.
  13. "Tradisi Khatam Bukhari". Diakses tanggal August 29, 2014.
  14. Turmudi, Endang (2006). Struggling for the Umma: Changing Leadership Roles of Kiai in Jombang, East Java. Islam in Southeast Asia Series. ANU E Press. hlm. 214. ISBN 978-1-920942-43-4. Diakses tanggal August 24, 2014.
  15. https://jatim.nu.or.id/tapal-kuda/kiai-ma-ruf-khozin-ungkap-pencetus-amaliyah-yasin-dan-tahlil-0RqcU
  16. https://www.konsultasisyariah.in/2019/09/tahlilan-berasal-dari-tabiin-thawus-al.html
  17. https://pcnukendal.com/artikel/id/3694/tradisi-tahlilan-sebuah-refleksi-sejarah https://www.youtube.com/watch?v=Zl4gahoE9VA
  18. Lambert, Jean (2003-07-01). "Ulrike Freitag: Indian Ocean, Migrants and State Formation in Hadhramaut. Reforming the Homeland. Ulrike Freitag & William Clarence-Smith : Hadhrami Traders, Scholars and Statesmen in the Indian Ocean, 1750s-1960s". Chroniques yéménites (11). doi:10.4000/cy.167. ISSN 2308-6122. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-08-17. Diakses tanggal 2020-04-12.
  19. Amin Buxton (2012). Imams of The Valley. Western Cape, South Africa: Dar al-Turath al-Islami. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  20. J. M. Barwise; Nicholas J. White (2002). A Traveller's History of Southeast Asia. Interlink Books. hlm. 80. ISBN 978-1566564397. islam dissemination in south east asia. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  21. El Hareir, Idris (2011). The Spread of Islam Throughout the World: Volume 3 of Different aspects of Islamic culture Multiple History Series. UNESCO. ISBN 978-9-231041532. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  22. السقاف, عبد العزيز محمد. "العلويون في اليمن.. درس تاريخي". اليمني الجديد. Diarsipkan dari asli tanggal 11 May 2020.
  23. https://themuslim500.com/2026-edition/top-50-2026/
  24. الحبشي, أيمن بن محمد. إتحاف الأحبة في بيان مشتبه النسبة [A gift to the beloved in clarifying the doubtful lineage] (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 March 2020.
  25. الحبشي, أيمن بن محمد. إتحاف الأحبة في بيان مشتبه النسبة [A gift to the beloved in clarifying the doubtful lineage] (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 March 2020.
  26. Ibn Sumaith, Zein ibn Ibrahim. Al-Manhaj as-Sawiy https://ia801300.us.archive.org/24/items/sehsy786_gmail_20160208_1459/%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8%20%20%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%86%D9%87%D8%AC%20%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%88%D9%8A%20%D8%B4%D8%B1%D8%AD%20%D8%A3%D8%B5%D9%88%D9%84%20%D8%B7%D8%B1%D9%8A%D9%82%D8%A9%20%D8%A7%D9%84%D8%B3%D8%A7%D8%AF%D8%A9%20%D8%A2%D9%84%20%D8%A8%D8%A7%D8%B9%D9%84%D9%88%D9%8A%20%20%D9%84%D9%84%D8%AD%D8%A8%D9%8A%D8%A8%20%D8%B2%D9%8A%D9%86.pdf.
  27. https://indo.hadhramaut.info/view/832.aspx
  28. "Bani alawi migration map". Bani alawi migration map. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-19.
  29. Ibrahim, Ahmad; Siddique, Sharon; Hussain, Yasmin, ed. (December 31, 1985). Readings on Islam in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 407. ISBN 978-9971-988-08-1.
  30. Firmansyah, Eka Kurnia; Hasanah, Maulida; Sofyan, Agus Nero (2023-10-07). "EKSISTENSI PERNIKAHAN SEKUFU PADA KALANGAN SYARIFAH GENERASI Z KETURUNAN BA-'ALAWI DI PURWAKARTA: EKSISTENSI PERNIKAHAN SEKUFU PADA KALANGAN SYARIFAH GENERASI Z KETURUNAN BA-'ALAWI DI PURWAKARTA". Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora. 5 (3): 264–271. doi:10.61296/jkbh.v5i3.176. ISSN 2830-697X.
  31. Freitag, Ulrike; Clarence-Smith, William G., ed. (1997). Hadhrami Traders, Scholars and Statesmen in the Indian Ocean, 1750s to 1960s. Vol. 57. BRILL. hlm. 9. ISBN 978-90-04-10771-7.
  32. Majul, Cesar Adib (1981). "An Analysis of the "Genealogy of Sulu"". Archipel. 22 (1): 167–182. doi:10.3406/arch.1981.1677.
  33. Abdurahman, Habib Jamasali Sharief Rajah Bassal (2002). The Sultanate of Sulu. University of Michigan: Astoria Print. & Publishing Company. hlm. 88. ISBN 9789719262701. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  34. الحبشي, أيمن بن محمد. إتحاف الأحبة في بيان مشتبه النسبة [A gift to the beloved in clarifying the doubtful lineage] (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 18 March 2020.
  35. Bettinger, Blaine (2009-06-19). "Family Tree DNA Discovers Y-DNA Signature That Might Represent the Prophet Mohammed". The Genetic Genealogist (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-09-07.
  36. المشهور, عبد الرحمن بن محمد. شمس الظهيرة [Noon Sun] (PDF). جدة، السعودية: عالم المعرفة. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2 January 2020.
  37. المشهور, عبد الرحمن بن محمد. شمس الظهيرة [Noon Sun] (PDF). جدة، السعودية: عالم المعرفة. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2 January 2020.
  38. "أنسآب السادة العلويين آل باعلوي". www.shabwaah-press.info (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-09-03.
  39. BUKTI SEZAMAN Nama "UBAIDILLAH" Tertulis dengan Jelas sebagai Putra Ahmad bin Isa an-Naqib. Diakses tanggal August 29, 2024.
  40. "مخطوط-سنن-الترمذي-نسخه-الكروخي" (dalam bahasa Arab). Diakses tanggal August 29, 2024.
  41. https://indo.hadhramaut.info/view/832.aspx
  42. Al-Janadi, Bahauddin. السلك فى طبقة العلماء والملك. Vol. 2. hlm. 463.
  43. الحامد, صالح بن علي. تاريخ حضرموت. Vol. الأول. صنعاء، اليمن: مكتبة الإرشاد. hlm. 309.
  44. شهاب, محمد ضياء; عبد الله بن نوح. الإمام المهاجر (PDF). جدة، السعودية: دار الشروق. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 27 January 2020.
  45. الجفري, حاتم بن محمد. السادة آل علوي العريضيون الحسينيون (PDF). بيروت، لبنان: منشورات ضفاف. hlm. 131. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 26 August 2021.
  46. ابن طباطبا, يحيى بن محمد بن القاسم. أبناء الإمام في مصر والشام "الحسن والحسين رضي الله عنهما" (PDF). الرياض، السعودية: مكتبة جل المعرفة. hlm. 167. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 27 August 2021.
  47. الجندي, محمد بن يوسف بن يعقوب. السلوك في طبقات العلماء والملوك (PDF). Vol. الثاني. صنعاء، اليمن: مكتبة الإرشاد. hlm. 135. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 26 August 2021.
  48. الزركلي, خير الدين (2002). الأعلام (PDF). Vol. الأول. بيروت، لبنان: دار العلم للملايين. hlm. 177. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 16 April 2021.
  49. اليماني, محمد كاظم. النفحة العنبرية في أنساب خير البرية (PDF). قم، إيران: مكتبة آية الله العظمى المرعشي النجفي. hlm. 52. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 27 August 2021.
  50. الحسيني, محمد بن أحمد بن عميد الدين. بحر الأنساب المسمى بالمشجر الكشاف لأصول السادة الأشراف (PDF). دار المجتبى. hlm. 75. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-01-28.
  51. الرفاعي, عبد الله محمد سراج الدين. صحاح الأخبار في نسب السادة الفاطمية الأخيار. دمشق، سوريا: دار العراب. hlm. 122.
  52. السخاوي, محمد بن عبد الرحمن. الضوء اللامع لأهل القرن التاسع. Vol. الخامس. بيروت، لبنان: دار الجيل. hlm. 59.
  53. الهيتمي, أحمد بن محمد. معجم ابن حجر الهيتمي (PDF). hlm. 31. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2020-09-19.
  54. الحسيني, ضامن بن شدقم. تحفة الأزهار وزلال الأنهار في نسب أبناء الأئمة الأطهار. Vol. الثالث. التراث المكتوب. hlm. 94. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-12-29.
  55. المحبي, محمد بن فضل الله. خلاصة الأثر في أعيان القرن الحادي عشر (PDF). Vol. الأول. hlm. 71، 82. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 15 December 2019.
  56. السقاف, أحمد بن عبد الله. خدمة العشيرة (PDF). جاكرتا، إندونيسيا: المكتب الدائمي لإحصاء وضبط أنساب السادة العلويين. hlm. ز. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 27 August 2021.
  57. "Syekh Ali Jum'ah: Nasab Sadah Ba'alawi valid keturunan Rasulullah". YouTube. 22 July 2024. Diakses tanggal August 18, 2024.
  58. "Syekh Dr. Usamah Assayyid Al Azhari Bahas Sadah Ba'alawy". YouTube. 13 June 2024. Diakses tanggal August 18, 2024.
  59. "Sayyid Mahdi Raja'i pentahqiq kitab Andalan Imad, mengakui Ba'Alawi". YouTube. 25 June 2024.
  60. Pengikut Sekte Imadiyah Makin Tergoncang!! Sayyid Mahdi Roja'i Mengakui Ba'alawiy!!. 2024-06-26. Diakses tanggal 2024-08-30 via YouTube.
  61. Al-Amir Al-Hashimi, Ibrahim bin Mansur. "Ashraf Al-Hijaz". Ashraf Al Hijaz.
  62. بن يعقوب الكتبي, الشريف أنس (January 30, 2017). "السادة آل باعلوي لآلِئُّ منثورة في بحر آل الرسول ." shabwaah-press.info (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-08-30.
  63. https://beritajatim.com/postingan-anda/mengakhiri-polemik-nasab-ba-alawi
  64. "أنسآب السادة العلويين آل باعلوي" [Genealogy of the Alawite masters, the Ba'alawi family]. Shabwaah Press (dalam bahasa Arab). Diakses tanggal September 11, 2014.
  65. "Gelar Keluarga Alawiyyin Habaib". Ustaz Syed Faiz. 16 February 2013. Diakses tanggal September 11, 2014.

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]

Muhajir, Ahmad; Alatas, Afra (2023-12-11). The Debate on the Ba'Alawi Lineage in Indonesia: Highlighting Weaknesses in the Genealogical Records (dalam bahasa Inggris). ISBN 978-981-5203-09-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

As'hal, Ajrun 'Azhim Al; Majidah, Maydani Nur; Sari, Ramadhanita Mustika (2024-11-30). "Media Literacy and Differences in Scholars' Views on Nasab Ba'alawi : Understanding the Historical Context". Journal Intellectual Sufism Research. 7 (1): 23–35. doi:10.52032/jisr.v7i1.169 (tidak aktif 1 July 2025). ISSN 2622-2175. Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)

Wahid, Soleh Hasan (2025-12-31). "Rebuilding ḥabāʾib authority in the digital age in Indonesia: Jamāʿah relations, social action, and transparency". Cogent Arts & Humanities. 12 (1): 2508025. doi:10.1080/23311983.2025.2508025.

Further reading

[sunting | sunting sumber]
[sunting | sunting sumber]
  • Ba'alawi.com - Sumber Definitif tentang Islam dan Keturunan Alawiyin.