Lompat ke isi

Atrofi vagina

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Atrofi Vagina terjadi ketika dinding vagina menjadi tipis, kering, dan meradang. Hal ini dapat terjadi ketika tubuh memproduksi lebih sedikit estrogen, seperti selama dan setelah menopause. [1] Atrofi Vagina atau (atrofi vulvovaginal) adalah penipisan lapisan vagina dan kulit vulva, yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen pada masa menopause. Penurunan kadar estrogen juga memengaruhi jaringan kandung kemih, uretra (tempat keluarnya air seni), dan otot dasar panggul.[2]

Kondisi ini beserta gejalanya disebut sindrom genitourinari menopause (GSM) akan merasakannya di vagina dan saluran kemih. mungkin mengalami. Vagina kering atau terbakar, Gatal pada alat kelamin, Keputihan yang tidak biasa, Lebih banyak infeksi jamur, Rasa terbakar saat buang air kecil, Sering ingin buang air kecil, Kesulitan menahan kencing (inkontinensia), Lebih banyak infeksi saluran kemi(ISK), Ketidaknyamanan atau pendarahan selama atau setelah berhubungan seks, Pelumasan alami berkurang saat berhubungan seks. Kekeringan biasanya merupakan tanda pertama. Banyak orang mengalaminya setelah menopause. Namun, mungkin pernah mengalaminya pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu masa yang disebut perimenopause . GSM umum terjadi: Hingga 40% orang setelah menopause mengalami gejala.[3]

Pengobatan

[sunting | sunting sumber]

Cara mengatasi Atrofi Vagina adalah berobat ke dokter. Pengobatan atrofi vagina umumnya melibatkan kolaborasi antar multidisiplin kedokteran, seperti dokter spesialis obstetri dan ginekologi, serta spesialis penyakit dalam. Pengobatan atrofi vagina bergantung pada gejala, penyebab, preferensi, harapan, dan kondisi penderita secara keseluruhan. Pengobatannya bertujuan untuk meredakan gejala, mengembalikan lingkungan vagina pada kondisi sebelum menopause yang sehat, dan memperbaiki kualitas hidup penderita.[4] Berikut cara mengobati atrofi vagina yang dipertimbangkan oleh dokter

Penderita akan menerima nasihat dari dokter terkait faktor risiko yang dapat memperberat dan mengurangi keluhan, pilihan pengobatan, aturan penggunaan obat, dan kemungkinan efek samping obat.

Penderita dianjurkan untuk mengendalikan berbagai faktor risiko, seperti Berhenti merokok, Melakukan aktivitas hubungan seksual secara aman dan teratur, sedapat mungkin menghindari penggunaan produk (sabun, bedak, deodoran, parfum, panty liner) dengan kandungan yang dapat mengiritasi, menggunakan pakaian yang longgar, menggunakan pelumas berbahan dasar air dan pelembap untuk mengatasi kekeringan vagina.


Terapi Sulih Hormon (Hormonal Replacement Therapy)

[sunting | sunting sumber]

Mengingat penyebabnya adalah kadar estrogen yang menurun, maka terapi sulih hormon atau terapi penggantian hormon juga dianjurkan pada penderita atrofi vagina. Terapi hormon estrogen ini umumnya direkomendasikan pada penderita yang menopause. Terapi hormon estrogen dapat bersifat sistemik yang berefek ke seluruh tubuh atau bersifat lokal. Terapi ini diresepkan dalam bentuk pil, krim, cincin vagina, gel, plester, dan cairan semprot. Dokter akan menjelaskan dosis dan cara pemakaian terapi sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Ospemifen

[sunting | sunting sumber]

Ospemifen merupakan modulator reseptor estrogen selektif (SERM) yang direkomendasikan untuk mengobati dispareunia pada atrofi vagina. Dokter akan menerangkan aturan penggunaan dan kemungkinan efek samping obat ini sebelum digunakan.

Prasteron

[sunting | sunting sumber]

Prasteron (dehidroepiandrosteron/DHEA) digunakan untuk mengobati dispareunia sedang hingga berat pada penderita atrofi vagina dengan menopause.

Terapi Laser

[sunting | sunting sumber]

Terapi laser membantu untuk menormalkan aliran darah dan mengembalikan kelembapan dan elastisitas vagina.

Dilator merupakan alat khusus yang dimasukkan ke dalam vagina dengan ukuran yang beragam. Penggunaan dilator vaginal berfungsi melebarkan vagina sehingga nyeri ketika berhubungan intim menjadi berkurang.[5]

Faktor Risiko

[sunting | sunting sumber]

Penyebab mendasar dari atrofi vagina adalah penurunan kadar estrogen, yang menjadi alasan mengapa kondisi ini paling sering menyerang wanita pascamenopause dan mereka yang berada dalam masa perimenopause.  Penurunan kadar estrogen yang signifikan  juga dapat terjadi akibat operasi pengangkatan ovarium, perawatan kanker, atau menyusui. Faktor-faktor tertentu dapat meningkatkan risiko atrofi vagina, termasuk merokok, kurangnya aktivitas seksual, dan tidak adanya riwayat persalinan vagina pada pasien.[6]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Nelson, Angela. "What Is Vaginal Atrophy?". WebMD (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-03.
  2. "Vaginal atrophy". Jean Hailes (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 2025-03-03.
  3. Nelson, Angela. "What Is Vaginal Atrophy?". WebMD (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-03.
  4. Lestari, dr Marsita Ayu. "Atrofi Vagina". www.klikdokter.com. Diakses tanggal 2025-03-03.
  5. Lestari, dr Marsita Ayu. "Atrofi Vagina". www.klikdokter.com. Diakses tanggal 2025-03-03.
  6. rladmin (2017-01-20). "What are the symptoms, causes, and treatments of vaginal atrophy?". Urology Associates P.C. (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-03.