Asesmen daur hidup

Asesmen daur hidup (Life Cycle Assessment/LCA), atau analisis daur hidup, adalah metodologi untuk menilai dampak yang terkait dengan semua tahapan siklus hidup suatu produk, proses, atau layanan komersial. Misalnya, dalam kasus produk manufaktur, dampak lingkungan dinilai mulai dari ekstraksi dan pengolahan bahan baku (cradle), melalui pembuatan, distribusi, dan penggunaan produk, hingga daur ulang atau pembuangan akhir bahan-bahan penyusunnya (grave).[1][2]
Studi ini melibatkan inventarisasi menyeluruh energi dan material yang dibutuhkan di seluruh rantai pasokan dan rantai nilai suatu produk, proses, atau layanan, dan menghitung emisi yang sesuai ke lingkungan, sehingga dapat menilai potensi dampak lingkungan kumulatif. Hal ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan meningkatkan profil lingkungan keseluruhan produk, yang berfungsi sebagai dasar holistik yang dapat digunakan untuk membandingkan jejak karbon secara akurat.[2]
Metode ini didasarkan pada standar ISO 14040 (2006) dan ISO 14044 (2006).[3][4] Prosedur yang diakui secara luas untuk melakukan asesmen ini termasuk dalam seri standar manajemen lingkungan ISO 14000 dari Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO), khususnya, dalam ISO 14040 dan ISO 14044. ISO 14040 menyediakan 'prinsip dan kerangka kerja' Standar, sedangkan ISO 14044 memberikan garis besar 'persyaratan dan pedoman'. Secara umum, ISO 14040 ditulis untuk audiens manajerial dan ISO 14044 untuk praktisi.[5] Sebagai bagian dari bagian pengantar ISO 14040, telah didefinisikan sebagai berikut:[6]
Asesmen daur hidup mempelajari aspek lingkungan dan potensi dampak sepanjang siklus hidup suatu produk (yaitu, dari awal hingga akhir) mulai dari pengadaan bahan baku hingga produksi, penggunaan, dan pembuangan. Kategori umum dampak lingkungan yang perlu dipertimbangkan meliputi penggunaan sumber daya, kesehatan manusia, dan konsekuensi ekologis.
Meskipun begitu, terdapat kritik terhadap asesmen ini, baik secara umum maupun terkait kasus-kasus spesifik (misalnya, dalam hal konsistensi metodologi, kesulitan dalam pelaksanaannya, biaya pelaksanaannya, pengungkapan kekayaan intelektual, dan pemahaman batasan sistem). Ketika metodologi yang dipahami untuk melakukan asesmen tidak diikuti, maka asesmen dapat diselesaikan berdasarkan pandangan praktisi atau insentif ekonomi dan politik dari entitas sponsor (masalah yang menghantui semua praktik pengumpulan data yang dikenal). Akibatnya, asesmen yang diselesaikan oleh 10 pihak yang berbeda dapat menghasilkan 10 hasil yang berbeda. Standar ISO untuk asesmen ini bertujuan untuk menormalkan hal ini; namun, pedoman tersebut tidak terlalu ketat dan 10 jawaban yang berbeda masih dapat dihasilkan.[5]
Definisi, sinonim, tujuan, dan maksud
[sunting | sunting sumber]
Asesmen siklus hidup terkadang disamakan dengan analisis siklus hidup dalam berbagai literatur ilmiah dan laporan lembaga.[1][7][8] Selain itu, karena sifat umum studi ini yang memeriksa dampak siklus hidup dari ekstraksi bahan baku (cradle) hingga pembuangan (grave), terkadang disebut sebagai "analisis cradle-to-grave".[4] Meskipun begitu, istilah "asesmen" baru dipakai pada tahun 2004, yang menggantikan istilah "analisis" yang digunakan saat RAND Corporation melaporkan tentang biaya pembangunan dan operasi akhir masa produk.[9]
Seperti yang dinyatakan oleh Laboratorium Penelitian Manajemen Risiko Nasional EPA, "Asesmen daur hidup adalah teknik untuk menilai aspek lingkungan dan potensi dampak yang terkait dengan suatu produk, proses, atau layanan, dengan:
- Menyusun inventaris input energi dan material yang relevan serta pelepasan lingkungan
- Mengevaluasi potensi dampak lingkungan yang terkait dengan input dan pelepasan yang diidentifikasi
- Menginterpretasikan hasilnya untuk membantu Anda membuat keputusan yang lebih tepat".[2]
Oleh karena itu, ini adalah teknik untuk menilai dampak lingkungan yang terkait dengan semua tahapan kehidupan suatu produk mulai dari ekstraksi bahan baku hingga pemrosesan bahan, pembuatan, distribusi, penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan, dan pembuangan atau daur ulang. Hasilnya digunakan untuk membantu pengambil keputusan memilih produk atau proses yang menghasilkan dampak paling kecil terhadap lingkungan dengan mempertimbangkan seluruh sistem produk dan menghindari sub-optimasi yang dapat terjadi jika hanya satu proses yang digunakan.[10]
Oleh karena itu, tujuan asesmen daur hidup adalah untuk membandingkan seluruh rangkaian efek lingkungan yang dapat dikaitkan dengan produk dan layanan dengan mengkuantifikasi semua masukan dan keluaran aliran material dan menilai bagaimana aliran material ini memengaruhi lingkungan.[11] Informasi ini digunakan untuk meningkatkan proses, mendukung kebijakan, dan memberikan dasar yang kuat untuk pengambilan keputusan yang tepat.
Istilah siklus hidup mengacu pada gagasan bahwa penilaian yang adil dan holistik memerlukan penilaian produksi bahan baku, pembuatan, distribusi, penggunaan, dan pembuangan termasuk semua langkah transportasi yang diperlukan atau disebabkan oleh keberadaan produk.[12]
Meskipun ada upaya untuk menstandarisasi asesmen ini, hasil dari berbagai asesmen ini seringkali saling bertentangan, sehingga tidak realistis untuk mengharapkan hasil tersebut unik dan objektif. Dengan demikian, asesmen ini sebagai sekumpulan metode yang berupaya mengukur hasil melalui sudut pandang yang berbeda.[13] Di antara metode-metode ini terdapat dua jenis utama: dan tidak bisa disatukan, yaitu Asesmen Daur Hidup Atribusional yang mengaitkan beban yang terkait dengan produksi dan penggunaan suatu produk, atau dengan layanan atau proses tertentu, untuk periode waktu tertentu, dan Asesmen Daur Hidup Konsekuensial yang mengidentifikasi konsekuensi lingkungan dari suatu keputusan atau perubahan yang diusulkan dalam suatu sistem yang sedang dipelajari dengan orientasi pada masa depan dan implikasi pasar dan ekonomi. [14][15]Dengan kata lain, Asesmen Daur Hidup Atribusional berusaha menjawab "bagaimana berbagai hal (yaitu polutan, sumber daya, dan pertukaran antar proses) mengalir dalam rentang waktu yang dipilih?", sedangkan Asesmen Daur Hidup Konsekuensial berusah menjawab "bagaimana aliran di luar sistem akan langsung berubah sebagai respons terhadap suatu keputusan?"[10]
Jenis asesmen daur hidup yang ketiga dan sedang dikembangkan disebut Asesmen Daur Hidup Sosial (Social Life Cycle Assessment/SCLA). Asesmen ini merupakan asesmen yang dapat menilai potensi implikasi dan dampak sosial dan sosio-ekonomi, sehingga berguna bagi perusahaan untuk mengidentifikasi dan menilai potensi dampak sosial sepanjang siklus hidup suatu produk atau layanan pada berbagai pemangku kepentingan (misalnya: pekerja, masyarakat lokal, konsumen).[16][17] Asesmen ini diacu oleh Pedoman UNEP/SETAC untuk penilaian siklus hidup sosial produk yang diterbitkan pada tahun 2009 di Quebec.[18] , yang berdasarkan pada Pedoman ISO 26000:2010 untuk Tanggung Jawab Sosial dan Pedoman Inisiatif Pelaporan Global (GRI).[19]
Keterbatasan asesmen lingkungan hidup yang hanya berfokus pada aspek ekologis keberlanjutan, dan bukan aspek ekonomi atau sosial, membedakannya dari analisis lini produk (Product Line Analysis/PLA) dan metode serupa, yang sengaja dibuat untuk menghindari kelebihan beban metode, meskkipun faktor sosio-ekonomi tidak boleh diabaikan ketika membuat keputusan produk.[6]
Beberapa prosedur yang diakui secara luas untuk asesmen lingkungan hidup termasuk dalam seri standar manajemen lingkungan ISO 14000, khususnya ISO 14040 dan 14044.[20][21][22] Penilaian siklus hidup produk gas rumah kac juga dapat memenuhi spesifikasi seperti Spesifikasi yang Tersedia untuk Umum (Publicly Available Specification/PAS) 2050 dan Standar Akuntansi dan Pelaporan Siklus Hidup Protokol Gas Rumah Kaca.[23][24]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Ilgin, Mehmet Ali; Gupta, Surendra M. (2010). "Environmentally Conscious Manufacturing and Product Recovery (ECMPRO): A Review of the State of the Art". Journal of Environmental Management. 91 (3): 563–591. Bibcode:2010JEnvM..91..563I. doi:10.1016/j.jenvman.2009.09.037. PMID 19853369.
Life cycle analysis (LCA) is a method used to evaluate the environmental impact of a product through its life cycle encompassing extraction and processing of the raw materials, manufacturing, distribution, use, recycling, and final disposal.
. - 1 2 3 "Life Cycle Assessment (LCA)". EPA.gov. Washington, DC. EPA National Risk Management Research Laboratory (NRMRL). 6 March 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 6 March 2012. Diakses tanggal 8 December 2019.
LCA is a technique to assess the environmental aspects and potential impacts associated with a product, process, or service, by: / * Compiling an inventory of relevant energy and material inputs and environmental releases/ * Evaluating the potential environmental impacts associated with identified inputs and releases / * Interpreting the results to help you make a more informed decision
- ↑ "ISO 14040:2006". ISO (dalam bahasa Inggris).
- 1 2 "ISO 14044:2006". ISO (dalam bahasa Inggris).
- 1 2 Matthews, H. Scott, Chris T. Hendrickson, and Deanna H. Matthews (2014). Life Cycle Assessment: Quantitative Approaches for Decisions That Matter. hlm. 83–95. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- 1 2 Klopffer, Walter and Birgit Grahl (2014). Life Cycle Assessment (LCA). Wiley-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA. hlm. 1–2.
- ↑ Jonker, Gerald; Harmsen, Jan (2012). "Creating Design Solutions". Engineering for Sustainability. Amsterdam, NL: Elsevier. hlm. 61–81, esp. 70. doi:10.1016/B978-0-444-53846-8.00004-4. ISBN 978-0-444-53846-8.
It is very important to first set the goal of the life cycle analysis or assessment. In the conceptual design stage, the goal in general will be identifying the major environmental impacts of the reference process and showing how the new design reduces these impacts
- ↑ Ilgin, Mehmet Ali; Gupta, Surendra M. (2010). "Environmentally Conscious Manufacturing and Product Recovery (ECMPRO): A Review of the State of the Art". Journal of Environmental Management. 91 (3): 563–591. Bibcode:2010JEnvM..91..563I. doi:10.1016/j.jenvman.2009.09.037. PMID 19853369.
Life cycle analysis (LCA) is a method used to evaluate the environmental impact of a product through its life cycle encompassing extraction and processing of the raw materials, manufacturing, distribution, use, recycling, and final disposal.
. - ↑ Huppes, Gjalt; Curran, Mary Ann (2012). "Environmental Life Cycle Assesment: Background and Perspective". Dalam Curran, Mary Ann (ed.). Live Cycle Asseement Handbook: A Guide for Environmentally Sustainable Products. Salem, Masachusetts: Scrivener Publishing. ISBN 97811180999728. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 Life Cycle Assessment: Principles and Practice. Cincinnati, Ohio: U.S. Environmental Protection Agency. 2006. hlm. 3–9.
- ↑ "Life Cycle Assessment (LCA) Overview". SFTool. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal Jul 14, 2014. Diakses tanggal 1 July 2014.
- ↑ "Entry details | FAO Term Portal". Food and Agriculture Organization of the United Nations. Diakses tanggal 13 August 2021.
- ↑ Ekvall, Tomas (2020). "Attributional and Consequential Life Cycle Assessment". Sustainability Assessment at the 21st century. doi:10.5772/intechopen.89202. ISBN 978-1-78984-976-9.
- ↑ Hauschild, Michael Z., Ralph K. Rosenbaum, & Stig Irving Olsen (2018). Life Cycle Assessment: Theory and Practice. Cham, Switzerland: Springer International Publishing. hlm. 83–84. ISBN 978-3-319-56474-6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ Gong, Jian; You, Fengqi (2017). "Consequential Life Cycle Optimization: General Conceptual Framework and Application to Algal Renewable Diesel Production". ACS Sustainable Chemistry & Engineering. 5 (7): 5887–5911. Bibcode:2017ASCE....5.5887G. doi:10.1021/acssuschemeng.7b00631.
- ↑ Guidelines for Social Life Cycle Assessment of Products Diarsipkan 18 January 2012 di Wayback Machine., United Nations Environment Programme, 2009.
- ↑ Benoît, Catherine; Mazijn, Bernard. (2013). Guidelines for social life cycle assessment of products. United Nations Environment Programme. OCLC 1059219275.
- ↑ Benoît, Catherine; Norris, Gregory A.; Valdivia, Sonia; Ciroth, Andreas; Moberg, Asa; Bos, Ulrike; Prakash, Siddharth; Ugaya, Cassia; Beck, Tabea (February 2010). "The guidelines for social life cycle assessment of products: just in time!". The International Journal of Life Cycle Assessment. 15 (2): 156–163. Bibcode:2010IJLCA..15..156B. doi:10.1007/s11367-009-0147-8.
- ↑ Garrido, Sara Russo (2017-01-01). "Social Life-Cycle Assessment: An Introduction". Dalam Abraham, Martin A. (ed.). Encyclopedia of Sustainable Technologies (dalam bahasa Inggris). Elsevier. hlm. 253–265. doi:10.1016/b978-0-12-409548-9.10089-2. ISBN 978-0-12-804792-7.
- ↑ E.g., see Saling, Peter (2006). ISO 14040: Environmental management—Life cycle assessment, Principles and framework (Report). Geneve, CH: International Organization for Standardization (ISO). Diakses tanggal 11 December 2019.[perlu rujukan lengkap] For the PDF of the 1997 version, see this Stanford University course reading.
- ↑ E.g., see Saling, Peter (2006). ISO 14044: Environmental management—Life cycle assessment, Requirements and guidelines (Report). Geneve, CH: International Organization for Standardization (ISO). Diakses tanggal 11 December 2019.[perlu rujukan lengkap]
- ↑ ISO 14044 replaced earlier versions of ISO 14041 to ISO 14043.[butuh rujukan]
- ↑ "PAS 2050:2011 Specification for the assessment of the life cycle greenhouse gas emissions of goods and services". BSI. Retrieved on: 25 April 2013.
- ↑ "Product Life Cycle Accounting and Reporting Standard" Diarsipkan 9 May 2013 di Wayback Machine.. GHG Protocol. Retrieved on: 25 April 2013.