Aruna & Lidahnya (film)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Aruna & Lidahnya
SutradaraEdwin
ProduserMuhammad Zaidy dan Meiske Taurisia
PenulisTitien Wattimena
BerdasarkanAruna & Lidahnya
oleh Laksmi Pamuntjak
Pemeran
MusikKen Jenie dan Mar Galo
SinematografiAmalia T. S.
PenyuntingIchwandiardono
Perusahaan
produksi
DistributorCJ Entertainment
Tanggal rilis
27 September 2018
Durasi
106 menit
Negara Indonesia
BahasaIndonesia
Pendapatan kotorRp4.820.000.000

Aruna & Lidahnya merupakan film drama Indonesia yang diadaptasi lepas dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak dan dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, dan Oka Antara. Film ini adalah film kedua yang diproduksi Palari Films setelah Posesif dan film panjang keempat karya Edwin. Tema dari film ini adalah masakan Indonesia yang dituangkan ke dalam sebuah alur cerita yang berfokus pada persahabatan dua pria dan dua wanita yang semuanya berusia 30 tahunan, bersamaan pula dengan penyelidikan kasus flu burung yang dilakukan dua orang di antara mereka. Film ini menggunakan musik yang merupakan perpaduan dari lagu lawas dan lagu baru. Film ini memenangi dua dari sembilan nominasi Festival Film Indonesia 2018 serta dinominasikan di delapan kategori Piala Maya 2018.

Produksi Aruna & Lidahnya dilakukan di lima kota, yaitu Jakarta, Surabaya (Jawa Timur), Pamekasan (Jawa Timur), Pontianak (Kalimantan Barat), dan Singkawang (Kalimantan Barat). Film ini menghabiskan anggaran dengan jumlah yang lebih besar daripada Posesif. Pengambilan gambar berlangsung selama bulan Mei 2018 dan menghabiskan waktu selama 25 hari. Terdapat 21 hidangan yang ditampilkan dalam film ini. Film ini ditayangkan pada 27 September 2018 dan hanya mampu menjaring 130.000 penonton selama sebelas hari penayangan, tetapi film ini juga ditayangkan di Festival & Penghargaan Film Internasional Makau ke-3 dan Festival Film Internasional Berlin ke-69.

Alur[sunting | sunting sumber]

Ahli wabah Aruna Rai (Dian Sastrowardoyo) yang juga pencinta makanan ditugasi oleh perusahaannya untuk menyelidiki kasus flu burung di beberapa tempat di Indonesia. Aruna pergi bersama temannya Bono (Nicholas Saputra), seorang koki profesional yang ingin menemukan resep kuliner Indonesia yang otentik bersama dengan Nadezhda (Hannah Al Rashid), seorang kritikus kuliner yang ingin menulis sebuah buku. Mereka melawat Surabaya, Pamekasan (Jawa Timur), Pontianak, dan Singkawang (Kalimantan Barat) untuk melakukan penyelidikan kasus flu burung yang hanya dilakukan Aruna sekaligus juga berwisata kuliner. Di Surabaya, mereka bertemu mantan teman kantor Aruna bernama Farish (Oka Antara)—Aruna memiliki perasaan cinta terhadap Farish—yang juga menangani kasus flu burung. Sepanjang perjalanan, Aruna merasakan sesuatu yang janggal dalam penyelidikan dan dipaksa untuk menghadapi keraguannya bersama dengan masalahnya yang belum terselesaikan terhadap Farish. Akhirnya, Aruna mengetahui bahwa kasus flu burung tersebut hanyalah akal-akalan pejabat pemerintahan yang ingin melakukan korupsi terhadap dana kesehatan. Aruna kemudian berjaya membongkar kejahatan para pejabat pemerintahan dan memecahkan permasalahannya dengan Farish.

Pemeran[sunting | sunting sumber]

Produksi[sunting | sunting sumber]

Aruna & Lidahnya yang dibintangi Dian Sastrowardoyo (kanan) diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Laksmi Pamuntjak (kiri). Aruna & Lidahnya yang dibintangi Dian Sastrowardoyo (kanan) diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Laksmi Pamuntjak (kiri).
Aruna & Lidahnya yang dibintangi Dian Sastrowardoyo (kanan) diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Laksmi Pamuntjak (kiri).

Aruna & Lidahnya merupakan film kedua yang diproduksi Palari Films setelah Posesif,[1] yang berjaya memenangi tiga di antara sepuluh kategori yang didapat pada Festival Film Indonesia 2017.[2] Film ini juga merupakan film panjang keempat karya Edwin setelah Babi Buta yang Ingin Terbang (2009), Kebun Binatang (2012), dan Posesif.[3] Film ini sendiri awalnya tidak direncanakan sebagai film kedua produksi Palari Films; sebelumnya studio film ini berniat memproduksi film berdasarkan adaptasi dari novel keluaran 2014 berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Pada akhir 2016, mereka mengumumkan telah mengantongi hak adaptasi Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Seiring berjalannya waktu, ternyata proses adaptasi ini memerlukan waktu yang lebih lama, sehingga Edwin mengajukan novel keluaran tahun yang sama, Aruna & Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak sebagai proyek baru yang lebih dahulu diproduksi,[4] yang disebut oleh produser Meiske Taurisia sebagai adaptasi lepas dari novel tersebut karena isi film tidak sama persis dengan novelnya.[5] Karena ide yang diajukan Edwin, dalam sebuah wawancara, produser Muhammad Zaidy menyebut bahwa pemilihan Edwin sebagai sutradara bukan hanya karena Edwin merupakan bagian dari Palari Films, tetapi juga karena Edwin mengajukan ide tersebut. Edwin sudah bertemu dengan penulis novel, Laksmi Pamuntjak, untuk berdiskusi tentang kemungkinan adaptasi novel ke dalam film.[6]

Proses pembuatan film ini juga melibatkan sineas lokal asal Kalimantan Barat. Pontianak Post menyebut sejumlah nama, seperti Aries Yudha Prarana, Akilbudi Patriawan, Pawadi Jihad, Ega Rahayu Lestari, dan Achol Nassrullah turut dalam proyek ini. Selain itu pula, kru dan para pemain sempat mengunjungi kawasan wisata Rindu Alam, menikmati sejumlah kuliner seperti chai kue, dan mengunjungi gerai pengkang di Peniti Luar, Siantan, Mempawah.[7] Film ini juga melibatkan penata gaya makanan Puji Purnama.[8] Produksi film ini menghabiskan biaya yang lebih besar daripada Posesif. Alasan biaya produksi yang besar di antaranya biaya peralatan dan pengangkutan. Untuk menjimat biaya produksi, lokasi pengambilan gambar yang tadinya sepuluh kota dipangkas menjadi setengahnya.[9] Poster film diumumkan pada 12 Juli,[10] diikuti dengan teaser film yang diunggah empat hari kemudian,[11], dan trailer film yang diunggah pada 9 Agustus.[12]

Pengambilan gambar melibatkan lima tempat yaitu Jakarta, Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang. Pemilihan tempat ini mempertimbangkan pelbagai faktor mulai dari kebutuhan peralatan hingga tingginya biaya pengangkutan.[9] Pengambilan gambar ini dilakukan selama 25 hari. Produksi film berakhir pada 25 Mei 2018.[13] 21 hidangan Indonesia yang dipaparkan dalam film ini dipilih atas berbagai pertimbangan selama penelitian dan praproduksi, dengan rujukan utama yaitu novel aslinya,[14][15] misalnya bakmi kepiting, chai kue, pengkang, nasi goreng ala Pontianak,[16] rawon, lorjuk, soto lamongan, rujak soto,[17] sup buntut, kacang kuah, madumongso,[15] dan mi loncat.[18]

Artis yang terlibat dalam film ini di antaranya Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rasyid, dan Oka Antara. Dalam film ini, Dian dan Nicholas kembali bersua setelah penampilan mereka pada seri film sebelumnya, Ada Apa dengan Cinta? (2002 dan 2016).[19] Laksmi merasa puas atas pemilihan aktor dan aktris yang membintangi film ini.[20] Dian mengaku jati dirinya dengan Aruna lumayan mirip, yaitu menyukai dan mencoba mencicipi makanan baru. Dian bahkan menegaskan Aruna akan memilih makanan daripada mencari jodoh jika seandainya Aruna disodori pertanyaan yang meminta Aruna memilih makanan atau jodoh. Nicholas menyebut bahwa peran yang dilakoninya adalah sahabat Aruna yang suka memasak untuk Aruna. Menanggapi perannya sebagai Nadezhda, Hannah menyebut Nadezhda memiliki sifat yang ceria, kritis dan sangat menikmati hidupnya.[21] Dalam proses produksi, Oka dan Hannah mengaku jatuh cinta dengan bakmi kepiting.[22][23]

Diperlukan pula pemeran kecil dalam film ketika proses syuting di Singkawang. Seluruh kru bahu-membahu guna mengatur Cap Go Meh agar lebih terasa. Akilbudi Patriawan menyebut bahwa hampir di tiap sudut terpasang lampion. Selain itu, dihadirkan juga atraksi naga. Sebelum syuting bermula, pemain lokal tak bisa terlalu dekat dengan pelakon utama. Mereka telah diarahkan agar pemeran kecil tak bertindak berlebihan, dan meminta agar situasi tetap kondusif. Selain itu, kru juga memastikan agar pemain lokal sudah menghafal posisi dan dialog, supaya tak perlu ada pengulangan adegan. Kesulitan dalam pemeranan pemeran kecil juga dirasakan ketika syuting di Surabaya. Di Singkawang, ada pula kesulitan mencari pemain yang benar-benar bisa berbicara bahasa Jawa berlogat Surabaya.[7]

Musik[sunting | sunting sumber]

Film ini juga diperkaya dengan banyak lagu. Penata musik film ini, Ken Jenie dan Mar Galo, memilih lagu lama bernuansakan pop jazz,[24] seperti "Aku Ini Punya Siapa" dari album berjudul sama tahun 1987 karya January Christy, "Tentang Aku" dari album berjudul sama tahun 1996 karya Jingga yang dinyanyikan oleh Fe Utomo, dan "Antara Kita" karya Andre Hehanusa yang dinyanyikan oleh Monita Tahalea.[25] Terdapat pula lagu baru semisal "Takkan Apa" dari album Merakit karya Yura dan "Lebuh Rasa" & "Lamun Ombak" karya Mondo Gascaro.[24]

No. JudulPenyanyi Durasi
1. "Takkan Apa"  Yura 4:05
2. "Aku Ini Punya Siapa"  January Christy  
3. "Tentang Aku"  Fe Utomo  
4. "Antara Kita"  Monita Tahalea  
5. "Lebuh Rasa"     
6. "Lamun Ombak"     

Tema dan gaya[sunting | sunting sumber]

Sri Mulyani (kiri) dan Triawan Munaf (kanan) sama-sama menyinggung hidangan Indonesia dalam pendapat mereka. Sri Mulyani (kiri) dan Triawan Munaf (kanan) sama-sama menyinggung hidangan Indonesia dalam pendapat mereka.
Sri Mulyani (kiri) dan Triawan Munaf (kanan) sama-sama menyinggung hidangan Indonesia dalam pendapat mereka.

Francisca Romana Ninik dari Kompas menilai percakapan mengenai persahabatan, cinta, dan juga perselingkuhan dihidupkan dengan baik. Namun, isu-isu sosial seperti korupsi dan agama juga dihidupkan bersamaan dengan makanan sebagai tema utama walaupun terkesan terlalu klise.[26] Aulia Adam dari Tirto menilai film ini memiliki kesan dingin, muram, dan misterius dalam film-film yang disutradarai Edwin sebelumnya dan menyoroti isu-isu yang dipilih berasal dari iklim yang menurutnya gelap dan atmosfer getir, misalnya kapitalisme dalam Kara, Anak Sebatang Pohon (2005), diskriminasi terhadap Tionghoa-Indonesia dan penindasan militer dalam Babi Buta yang Ingin Terbang (2009), dan budaya kekerasan dalam kehidupan patriarki dalam Posesif (2017).[27] Wening Gitomaryono dari The Jakarta Post menilai pengambilan gambar makanan dilakukan secara alami sehingga terkesan agak menggoda bagi penonton untuk menyantap makanan yang disajikan dalam film. Meskipun demikian, penggambaran makanan dalam film ini tidak memunculkan suatu kesan bahwa hal tersebut direncanakan secara mendalam oleh Edwin.[28] Dari Whiteboard Journal, Febrina Anindita menulis ulasan yang menyebut film ini "serasa mengingat kembali janji sarapan bakmi dengan teman di Glodok atau justru membuat siapapun ingin segera mengajak sahabat ke Surabaya untuk mencari rawon ternikmat sembari membahas keluh kesah kantor atau percintaan."[29]

Dari kalangan politikus, Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai film ini memiliki banyak pelajaran tanpa terkesan menggurui penonton, dibuktikan dari film ini yang dinilainya bercerita "tentang kita, tentang kekayaan budaya kita, tentang diri kita, tentang perasaan kita, tentang cara kita bergaul, tentang banyak sekali kekayaan dari kuliner Indonesia yang banyak sekali bahkan kita tidak tahu."[30] Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf menyebut film ini sarana mempromosikan film dan kuliner selain daripada film itu sendiri, dan film ini menampilkannya dengan renyah dan berselera tinggi.[31]

Busana[sunting | sunting sumber]

Penggunaan pakaian oleh para pemeran film juga mendapat ulasan dari para pengulas. Mereka menyebut pemilihan pakaian berpengaruh terhadap penokohan tiap-tiap pemeran tanpa perlu dijelaskan panjang lebar lewat dialog. Aruna disebut memiliki sifat yang menggemaskan dilihat dari rok yang digunakan dan tatanan rambutnya yang memvisualkan kematangan usia. Bono dinilai memiliki sifat yang sederhana dilihat dari kemeja warna-warni yang dikenakan. Nadezhda, yang juga menggunakan kemaja yang serupa dengan Bono, dinilai sebagai sosok asli makanan berjalan menurut Aruna. Farizh dinilai bersifat kaku, tidak peduli dengan lingkungan sekitar, dan sedikit keras kepala dilihat dari kemeja polosnya yang selalu berwarna muram yaitu abu-abu dan biru tua.[27][32]

Hubungan Dian dan Nicholas[sunting | sunting sumber]

Keterlibatan Dian dan Nicholas dalam film ini turut pula diulas oleh beberapa pengulas, terutama karena keduanya pernah bermain dalam seri film Ada Apa dengan Cinta?. Sebuah ulasan dari CNN Indonesia yang ditulis oleh Muhammad Andika Putra menyoroti peran Dian dan Nicholas yang memainkan peran masing-masing dengan baik hingga berhasil keluar dari citra mereka sebagai pasangan Cinta dan Rangga dalam seri film Ada Apa dengan Cinta?;[33] Windy Eka Pramudya dari Pikiran Rakyat, Tempo, dan Pontianak Post juga memberikan ulasan yang serupa.[34][35][36] Devy Octaviany dari Detik menilai hubungan Dian dan Nicholas yang akrab—bila dibandingkan dengan seri film Ada Apa dengan Cinta ketika mereka berdebat perihal perasaan dan mempertanyakan cinta secara serius—dan bisa riang menertawakan banyak hal.[37]

Peran Aruna sebagai narator[sunting | sunting sumber]

Peran Aruna yang juga menjadi narator bagi penonton tak luput dari ulasan film. Purba Wirastama yang menulis ulasan di MetroTV menyebut sudut pandang Aruna menguasai keseluruhan kandungan film ini, dibuktikan dengan cara Edwin menunjukkan suara hati Aruna dalam cara sangat visual.[38] Liza Novirdayani yang menulis ulasan untuk Kincir menyebut interaksi yang dilakukan Aruna memberikan gambaran perasaan hati Aruna, yang seringkali berbeda dengan apa yang ditunjukkan saat adegan ditampilkan.[39]

Wening menyebut peran sampingan Aruna tersebut adalah perwujudan dari perasaan terkekang yang tak dapat dilepaskan dari Aruna yang terbiasa dilindungi dan memproses perasaannya dalam pikirannya sendiri. Perwujudan tersebut dibuktikan dari banyak adegan yang menampilkan peran sampingannya kepada penonton dengan pelbagai ekspresi yang menjemput penonton untuk mengetahui isi hati sebenarnya yang bahkan tidak terungkap kepada sahabat-sahabatnya.[28] Namun, Tempo menyebut mimpi Aruna yang ditampilkan dalam film ini tidak digarap dengan cukup baik sehingga bagi yang belum pernah membaca novelnya, adegan ini terkesan membingungkan. Adengan ini dinilainya sangat mudah dihilangkan begitu saja karena tak akan mengurangi makna keseluruhan film.[34]

Perbandingan dengan film lain[sunting | sunting sumber]

Film ini juga menjadi bahan perbandingan dengan film lainnya. Oleh Aulia dan Tempo, film ini dibandingkan dengan seri film Deadpool (2016 dan 2018). Keduanya menyoroti penggunaan teknik meruntuhkan dinding keempat dan Tempo juga menambahkan The Wolf of Wall Street (2013) dan Annie Hall (1977);[27][34] komentar serupa juga diberikan oleh Purba.[38] Aulia turut menambahkan emosi yang dirasakan ketika menonton film ini dapat dibandingkan dengan The Florida Project (2017), dan menyebut film ini nyaris terasa seperti film dokumenter karena dialog dan penampilan yang amat alami.[27]

Penayangan[sunting | sunting sumber]

Aruna & Lidahnya ditayangkan pada 27 September 2018 di seluruh Indonesia.[40] Lembaga Sensor Film mengklasifikasi film ini sebagai 17+.[41] Film ini hanya berhasil menjaring 130.000 penonton dengan perkiraan pendapatan kotor sebesar Rp4.820.000.000 dalam sebelas hari.[42][a] Zaidy membuka kemungkinan film ini untuk ditayangkan di luar Indonesia dengan memanfaatkan kerja sama dengan rekan produksi mereka CJ Entertainment; walau demikian, kemungkinan ini masih belum pasti.[1]

Seminggu sebelum penayangan film ini, empat jenis hidangan yang dipaparkan dalam film sudah dijual di kantin bioskop jaringan XXI hingga hari terakhir penayangan film di tiap bioskop sebagai bentuk kerja sama antara tim produksi film dengan XXI. Hidangan tersebut meliputi "Nasi Goreng Si Mbok Aruna" yang menggunakan kencur, "Waffle Aren Bono" yang menggunakan gula aren, "Kentang Goreng Sambel Manis Farish", dan "Es Kopi Susu Pandan Nad" yang menggunakan gula aren; keempat hidangan tersebut mewakili jati diri keempat pemeran film. Hanya "Nasi Goreng Si Mbok Aruna" yang dijual di beberapa bioskop tertentu, lainnya dapat dijumpai di seluruh bioskop.[44] Selain itu, Palari Films juga mengunggah empat video ke YouTube yang bertajuk "Cooking With Bono" yang dipandu oleh Nicholas Saputra dan dibintangi oleh Jefri Nichol & Ayla Dimitri di video pertama dan Sesa Nasution & Alexander Thian di video kedua.[45]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Di Festival Film Indonesia 2018, film ini mendapat paling banyak nominasi bersama Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly (kiri, kanan dari gambar) dan Sekala Niskala karya Kamila (kanan). Di Festival Film Indonesia 2018, film ini mendapat paling banyak nominasi bersama Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly (kiri, kanan dari gambar) dan Sekala Niskala karya Kamila (kanan).
Di Festival Film Indonesia 2018, film ini mendapat paling banyak nominasi bersama Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly (kiri, kanan dari gambar) dan Sekala Niskala karya Kamila (kanan).

Aruna & Lidahnya mendapat sembilan nominasi pada Festival Film Indonesia 2018,[46] hanya berselisih satu nominasi dengan film produksi Palari Films sebelumnya Posesif. Dari sembilan nominasi, film ini hanya berhasil memenangi dua nominasi, juga berselisih satu nominasi dengan Posesif. Enam dari sembilan kategori nominasi tersebut dimenangkan oleh Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya, yang berjaya memenangi sepuluh dari empat belas nominasi.[47] Bersama Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak dan Sekala Niskala karya Kamila Andini, film ini merupakan salah satu film yang mendapat paling banyak nominasi pada tahun itu.[48] Selain itu, film ini juga mendapat 3 nominasi di Festival Film Tempo 2018, tetapi tiada satupun yang berhasil menjadi pemenang.[49] Di Anugerah Lembaga Sensor Film 2018, film ini mengalahkan Buffalo Boys dalam kategori Film Bioskop Klasifikasi Usia 17 Tahun ke Atas.[50] Film ini juga menang di kategori Sinematografi Terbaik Festival Film Asia Jogja-NETPAC ke-13.[51] Di Piala Maya 2018, film ini berjaya dinominasikan di delapan kategori, walau tiada satupun kategori yang berjaya dimenangkan.[52]

Di kancah internasional, film ini ditayangkan pada 12 Desember 2018 di kategori Gala di Festival & Penghargaan Film Internasional Makau ke-3,[53] setelah Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 tayang di kategori Special Presentations pada 11 Desember 2018.[54] Film ini juga ditayangkan dengan film panjang lainnya Complicity karya Kei Chikaura dan enam film dokumenter di Culinary Cinema di Festival Film Internasional Berlin ke-69.[55]

Penghargaan Tahun Kategori Penerima Hasil
Festival Film Indonesia 2018 Penulis Skenario Adaptasi Terbaik Titien Wattimena Menang
Pemeran Pendukung Pria Terbaik Nicholas Saputra Menang
Film Cerita Panjang Terbaik Aruna & Lidahnya Nominasi
Sutradara Terbaik Edwin Nominasi
Pemeran Utama Pria Terbaik Oka Antara Nominasi
Pemeran Pendukung Wanita Terbaik Hannah Al Rashid Nominasi
Pemeran Utama Wanita Terbaik Dian Sastrowardoyo Nominasi
Penyunting Gambar Terbaik Ichwandiardono Nominasi
Penata Musik Terbaik Ken Jenie dan Mar Galo Nominasi
Festival Film Tempo 2018 Aktor Pendukung Pilihan Tempo Nicholas Saputra Nominasi
Aktris Utama Pilihan Tempo Dian Sastrowardoyo Nominasi
Sutradara Pilihan Tempo Edwin Nominasi
Anugerah Lembaga Sensor Film 2018 Film Bioskop Klasifikasi Usia 17 Tahun ke Atas Aruna & Lidahnya Menang
Festival Film Asia Jogja-NETPAC 2018 Sinematografi Terbaik Amalia T. S. Menang
Piala Maya 2018 Film Cerita Panjang/ Film Bioskop Terpilih Aruna & Lidahnya Nominasi
Penyutradaraan Terpilih Edwin Nominasi
Aktris Utama Terpilih Dian Sastrowardoyo Nominasi
Aktor Pendukung Terpilih Nicholas Saputra Nominasi
Aktris Pendukung Terpilih Hannah Al Rashid Nominasi
Skenario Adaptasi Terpilih Titien Wattimena Nominasi
Tata Artistik Terpilih Iqbal Marjono Nominasi
Lagu Tema Terpilih "Antara Kita" Nominasi

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sebagai perbandingan, Dilan 1990 berjaya menjaring 6.315.664 penonton sehingga menempati peringkat pertama film Indonesia terlaris pada 2018. Untuk film berklasifikasi sama dengan Aruna dan Lidahnya, Suzzanna: Bernapas dalam Kubur berjaya menjaring 3.270.468 penonton sehingga menempati peringkat kedua.[43]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Wirastama, Purba (5 September 2018). "Aruna & Lidahnya Incar Tayang di Luar Negeri". Metro TV News. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 September 2018. Diakses tanggal 28 September 2018. 
  2. ^ Juniman, Puput Tripeni (13 Oktober 2017). "Produser 'Posesif' Menjawab Polemik Nominasi FFI 2017". CNN Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 September 2018. Diakses tanggal 28 September 2018. 
  3. ^ Yuniar, Nanien (25 September 2018). Pasaribu, Alviansyah, ed. "Rasa yang pas untuk film "Aruna dan Lidahnya"". Antara. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 September 2018. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  4. ^ Djaya, Andi Baso (2 Juni 2018). "Menyatukan perbedaan Indonesia dengan makanan". Beritagar. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 September 2018. Diakses tanggal 28 September 2018. 
  5. ^ Yuniar, Nanien (31 Mei 2018). Burhani, Ruslan, ed. "Aruna dan Lidahnya, perjalanan kuliner dan persahabatan". Antara. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Desember 2018. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  6. ^ "Mengenal Pendatang Baru Di Industri Film Lokal, Palari Films". Whiteboard Journal. 6 Juni 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 September 2018. Diakses tanggal 28 September 2018. 
  7. ^ a b Safitri, Ghea Lidyaza (7 Oktober 2018). "Sineas Kalbar dalam Aruna & Lidahnya". Pontianak Post. hlm. 17. 
  8. ^ Wargadiredja, Arzia Tivany (25 September 2018). "Sosok Ini Bikin Kalian Lapar Nonton Masakan di Layar Kaca, Walau Rasanya Belum Tentu Enak". Vice. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 Desember 2018. Diakses tanggal 19 Desember 2018. 
  9. ^ a b Anisa, Dina Fitri (2 Juni 2018). "Kisah Persahabatan dan Jelajah Kuliner di Film Aruna dan Lidahnya". Suara Pembaharuan. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 Desember 2018. Diakses tanggal 10 Desember 2018 – via Berita Satu. 
  10. ^ Octaviany, Devy (12 Juli 2018). "'Aruna dan Lidahnya' Rilis Poster Bernuansa Ceria". Detik. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 September 2018. Diakses tanggal 22 Desember 2018. 
  11. ^ Auliawan, Adib (18 Juli 2018). "Rilis Teaser Trailer, Film "Aruna & Lidahnya" Bakal Bikin Perut Lapar". Suara Merdeka. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 Desember 2018. Diakses tanggal 22 Desember 2018. 
  12. ^ "Kisahkan Perjalanan Kuliner, Trailer 'Aruna Dan Lidahnya' Resmi Rilis". Detik. 9 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 Desember 2018. Diakses tanggal 22 Desember 2018. 
  13. ^ Shaidra, Aisha, ed. (30 Mei 2018). "Film Aruna dan Lidahnya Rampungkan Syuting di 5 Kota". Tempo. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 Mei 2018. Diakses tanggal 28 September 2018. 
  14. ^ Wirastama, Purba (21 September 2018). "Film Aruna & Lidahnya Hadirkan 21 Macam Makanan Khas Nusantara". Media Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 September 2018. Diakses tanggal 28 September 2018. 
  15. ^ a b Wirastama, Purba (20 September 2018). "Ada 21 Macam Santapan di Film Aruna & Lidahnya". MetroTV News. Diarsipkan dari versi asli tanggal 20 September 2018. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  16. ^ Rahmawati, Andi Annisa Dwi (29 September 2018). ""Aruna & Lidahnya" Populerkan Bakmi Kepiting dan Pengkang dari Pontianak". Detik. Diarsipkan dari versi asli tanggal 30 September 2018. Diakses tanggal 1 Oktober 2018. 
  17. ^ "7 Kuliner Indonesia yang Muncul di Film Aruna dan Lidahnya". Viva. 8 Oktober 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 Oktober 2018. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  18. ^ Agmasari, Silvita (28 September 2018). Nursastri, Sri Anindianti, ed. "10 Makanan Nusantara yang Disantap di Film "Aruna dan Lidahnya"". Kompas. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Desember 2018. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  19. ^ Aditia, Andika (3 Agustus 2018). Maullana, Irfan, ed. "5 Fakta Film Aruna dan Lidahnya yang Harus Kamu Ketahui". Kompas. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 Maret 2019. Diakses tanggal 1 Oktober 2018. 
  20. ^ Yuniar, Nanien (3 Agustus 2018). Nurcahyani, Ida, ed. "Penulis Laksmi Pamuntjak puas atas pemilihan pemain "Aruna dan Lidahnya"". Antara. Diarsipkan dari versi asli tanggal 4 Agustus 2018. Diakses tanggal 19 Desember 2018. 
  21. ^ Shadra, Aisha, ed. (4 Juni 2018). "Sekilas Tentang Para Pemeran Utama Film Aruna dan Lidahnya". Tempo. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 Juli 2018. Diakses tanggal 17 Desember 2018. 
  22. ^ Setiawan, Tri Susanto (21 September 2018). Dewi, Bestari Kumala, ed. "Gara-gara Aruna dan Lidahnya, Oka Antara Ketagihan Mie Kepiting". Kompas. Diakses tanggal 1 Oktober 2018. 
  23. ^ "Antusias Hannah Al Rashid Berakting Di 'Aruna Dan Lidahnya'". Detik. 4 Juni 2018. Diakses tanggal 22 Desember 2018. 
  24. ^ a b Asrianti, Shelbi; Rezkisari, Indira (red.) (21 September 2018). "Lagu Lawas Nostalgia Iringi Aruna dan Lidahnya". Republika. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  25. ^ Fakhurrozi (24 September 2018). "Monita Tahalea Bawakan Lagu RSD untuk Aruna & Lidahnya". Media Indonesia. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  26. ^ Ninik, Fransisca Romana (23 September 2018). "Petualangan Lidah dan Hati". Kompas. hlm. 21. 
  27. ^ a b c d Adam, Aulia (30 September 2018). "Aruna & Lidahnya: Sajian Mantap Khas Edwin dengan Bumbu Pas". Tirto. Diakses tanggal 1 Oktober 2018. 
  28. ^ a b Gitomaryono, Wening (21 September 2018). "'Aruna dan Lidahnya' tells you to savor the little things" ['Aruna dan Lidahnya' mengajak Anda untuk menikmati hal-hal yang kecil]. The Jakarta Post. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  29. ^ Anindita, Febrina (21 September 2018). ""Aruna dan Lidahnya", Sajian Film yang Nyata dan Dekat dengan Keseharian". Whiteboard Journal. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  30. ^ Setiawan, Tri Susanto (28 September 2018). Maullana, Irfan, ed. "Sri Mulyani: Aruna dan Lidahnya Beri Pelajaran Tanpa Menggurui". Kompas. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  31. ^ Rura, Cecylia (29 September 2018). "Iqbaal Ramadhan hingga Menteri Sri Mulyani Puji Film Aruna dan Lidahnya". MetroTV News. Diakses tanggal 19 Desember 2018. 
  32. ^ Fathurrozak (2 Oktober 2018). "Ulasan film: Aruna & Lidahnya, Tentang kekayaan Makanan dan Kegagapan Perasaan". Media Indonesia. Diakses tanggal 19 Desember 2018. 
  33. ^ Putra, Muhammad Andika (28 September 2018). "Ulasan Film: 'Aruna & Lidahnya'". CNN Indonesia. Diakses tanggal 28 September 2018. 
  34. ^ a b c Shaidra, Aisha (28 September 2018). "Ada Apa dengan Aruna dan Lidahnya?". Tempo. Diakses tanggal 3 Oktober 2018. 
  35. ^ Pramudya, Windy Eka (30 September 2018). "Sinopsis Aruna & Lidahnya, Kisah Cinta dan Persahabatan". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 3 Oktober 2018. 
  36. ^ "Bakmi Kepiting Curi Perhatian". Pontianak Post. 7 Oktober 2018. hlm. 17. 
  37. ^ Octaviany, Decy (29 September 2018). "'Aruna dan Lidahnya', tentang Makanan dan Panggung Lain Cinta-Rangga". Detik. Diakses tanggal 3 Oktober 2018. 
  38. ^ a b Wirastama, Purba (21 September 2018). "Ulasan Film Aruna & Lidahnya". Metro TV News. Diakses tanggal 3 Oktober 2018. 
  39. ^ Novirdayani, Liza (21 September 2018). "(REVIEW) Aruna dan Lidahnya: Sebuah Suguhan Kuliner Nusantara". Kincir. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  40. ^ Aditia, Andika (3 Agustus 2018). Kistyarini, ed. "Aruna dan Lidahnya dari Novel ke Film dengan Bintang Dian Sastro". Kompas. Diakses tanggal 28 September 2018. 
  41. ^ Daftar Sensor. Lembaga Sensor Film. 31 Agustus 2018. Diakses 28 September 2018. Petunjuk: Ketik "Aruna dan Lidahnya" pada kolom "Judul", klik "Tampilkan", kemudian klik tombol bergambar kertas yang terletak di sebelah kanan untuk mengetahui keputusan lengkap.
  42. ^ Wirastama, Purba (9 Oktober 2018). "The Origin of Santet Unggul di Box Office Sepekan Pertama". Medcom. Diakses tanggal 17 Desember 2018. 
  43. ^ Ulfa, Maria (12 Desember 2018). "Daftar 5 Film Indonesia Terlaris Sepanjang 2018". Tirto. Diakses tanggal 17 Desember 2018. 
  44. ^ Wira, Ni Putu (11 Agustus 2018). "'Aruna and Her Palate', Cinema 21 team up to launch fried rice" [XXI meluncurkan penjualan nasi goreng selama penayangan ‘Aruna dan Lidahnya’]. The Jakarta Post. Diakses tanggal 17 Desember 2018. 
  45. ^ Setiawan, Tri Susanto (24 September 2018). Kistyarini, ed. "Empat Masakan dalam Film Aruna dan Lidahnya Dijual di Bioskop". Kompas. Diakses tanggal 17 Desember 2018. 
  46. ^ Novirdayani, Liza (12 November 2018). "Aruna dan Lidahnya Masuk 9 Nominasi Piala Citra 2018". Kincir. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  47. ^ Aditia, Andika (10 Desember 2018). Kistyarini, ed. "Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak Borong 10 Piala Citra". Kompas. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  48. ^ Setiawan, Tri Susanto (10 November 2018). Maullana, Irfan, ed. "Film Marlina Raih Nominasi Terbanyak di FFI 2018". Kompas. Diakses tanggal 10 Desember 2018. 
  49. ^ Shaidra, Aisha, ed. (30 November 2018). "Daftar Nominasi Festival Film Tempo 2018". Tempo. Diakses tanggal 19 Desember 2018. 
  50. ^ Pangerang, Andi Muttya Keteng (19 Oktober 2018). Maullana, Irfan, ed. "Aruna dan Lidahnya Ungguli Buffalo Boys dalam Anugerah Lembaga Sensor Film 2018". Kompas. Diakses tanggal 19 Desember 2018. 
  51. ^ Purwandono, Agung (5 Desember 2018). "Ini Film-film yang Berjaya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival". Kedaulatan Rakyat. Diakses tanggal 23 Desember 2018. 
  52. ^ Khoiri, Agniya (10 Januari 2019). "Daftar Lengkap Nominasi Piala Maya 2019". CNN Indonesia. Diakses tanggal 21 Januari 2019. 
  53. ^ "Aruna & Her Palate" [Aruna dan Lidahnya]. 3rd International Film Festival & Awards, Macao. Diakses tanggal 17 Desember 2018. 
  54. ^ "212 Warrior" [Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212]. 3rd International Film Festival & Awards, Macao. Diakses tanggal 17 Desember 2018. 
  55. ^ Roxborough, Scott (16 Januari 2019). "Food and Politics Mix in Berlin's Culinary Cinema Lineup" [Makanan dan Politik Berbaur di Barisan Film yang Ditampilkan di Culinary Cinema di Festival Film Internasional Berlin]. The Hollywood Reporter. Diakses tanggal 21 Januari 2019. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]