Lompat ke isi

Arketipe Jungian

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Arketipe Jungian merupakan sebuah konsep psikologi yang merujuk pada ide, pola pemikiran, atau citra universal yang diwariskan dalam ketidaksadaran kolektif seluruh umat manusia. Sebagai representasi psikis dari insting, yaitu ekspresi simbolis psikologis bawaan yang bermanifestasi sebagai respons terhadap insting biologis yang terpolakan.[1] Dalam hal ini arketipe dianggap sebagai fondasi dari berbagai tema dan simbol umum yang muncul dalam narasi, mitos, serta mimpi di berbagai lintas budaya dan masyarakat.

Beberapa contoh arketipe yang sering dibahas dalam topik ini antara lain figur ibu, anak, pengelabu dan pahlawan. Konsep mengenai ketidaksadaran kolektif ini pertama kali dikemukakan oleh Carl Jung, seorang psikiater dan pakar psikologi analitis asal Swiss.

Menurut Jung, arketipe adalah pola pemikiran dan perilaku bawaan yang berupaya mencapai realisasi dalam lingkungan individu. Proses aktualisasi ini memengaruhi tingkat individuasi atau menjadi proses pengembangan identitas unik seorang individu. Contohnya, kehadiran figur ibu yang mirip dengan yang diidealisasi oleh seorang anak mengenai figur seorang ibu, bisa mengaktivasi arketipe ibu di dalam pikiran anak tersebut. Arktipe seperti ini menyatu ke dalam pikiran bawah sadar si anak sebagai "mother complex", yang berfungsi sebagai pikiran bawah sadar personal yang analog dengan arketipe pikiran bawah sadar secara kolektif.

Perkembangan awal

[sunting | sunting sumber]
Carl Jung standing in front of Burghölzli clinic, Zurich 1909

Intuisi Jung yang lebih mengarah kepada kesimpulan bahwa psike lebih mendominasi dibanding pengalaman individual, bisa jadi berasal dari pengalamannya di masa kecil. [2] Ia pernah bermimpi yang sumbernya tampaknya dari luar dirinya sendiri, dan salah satu ingatannya yang paling kuat adalah Tuhan/malaikat berbentuk phalus.

Di tahun-tahun berikutnya dalam hidupnya, riset Jugn di Rumah Sakit Burghölzli terhadap pasien psikotik dan analisanya terhadap diri sendiri mendukung kepercayaannya terhadap eksistensi stuktur psike universal yang menjadi dasar dari semua pengalaman dan kebiasaan manusia. Ia menemukan bahwa mimpi-mimpi pasiennya mengikuti pola tertentu dan memiliki elemen mitos, legenda, dan dongeng tertentu.[3]

Jung awalnya menganggap hal ini sebagai imaji primordial, sebuah istilah yang ia pinjam dari Jacob Burckhardt,[4] untuk kemudian mengubahnya menjadi ketidaksadaran kolektif yang mendominasi pada tahun 1917.[5]

Perkembangan lanjutan

[sunting | sunting sumber]

Di tahun-tahun berikutnya, Jung merevisi dan memperluas konsep arketipe, menyimpulkannya sebagai pola psiko-fisikal yang ada di dalam alam semesta, karena diekspresikan alam sadar dan budaya manusia. Ini adalah usahanya untuk menghubungkan kedalaman psikologi kepada program-program ilmiah besar di abada ke 20.[6]

Jung mengajukan pemikiran bahwa arketipe memiliki dua kondisi alamiah, eksis di naik di dalam psike dari individu maupun dunia secara keseluruhan. Elemen non psikis, atau arketipe psikoid, adalah sintesis dari insting dan spirit. [7] dan tidak isa diakses oleh alam sadar.[8] Jungjuga mengembangkan konsep dengan kolaborasi dengan ahli Fisika dari Austria, Wolfgang Pauli, yang percaya bahwa arketipe psikoid sangat krusial untuk memahami prinsip-prinsip yang berlaku di alam semesta. [9] Jung juga memandang arketipe psikolid senagai sebuah kontinuum yang mengikutsertakan apa yang awalnya ia anggap sbagai tendensi artkipal, atau pola bawaan dari sebuah aksi.[7]

Arketipe Jungian bukan hanya sebuah entitas psikis, tapi lebih fundamental lafi sebuah jembatan atas sebuah materi secara umum.[10] Jung menggunakan istilah unus mundus untuk mendeskripsikan realitas unitari yang ia percayai menjadi dasar dari semua manifes fenomena, semua hal yang bisa diobservasi atau dipersepsikan yang ada di dunia fisik.

Kritik atas konsep arketipe Jungian datang dari kaum feminis, yang memandang konsep ini adalahreduksi dan stereotipe atas pandangan feminitas dan maskulinitas. [11]

Jung juga dituding menyebarkan esensialisme metafisis. Ajaran psikologi dan pemikiran-pemikirannya dianggap tidak punya basis keilmiahan, membuatnya lebih bernilai mistis dan berbasis asumsi, dibanding hasil investigasi empiris.

Kritik lainnya atas konsep arketipe adalah memandang mitos sebagai bernilai universal cenderung mengabstraksinya dari sejarah dari penciptaannya dan konteks kulturalnya.[12] Beberapa kritikus modern menyatakan bahwa arketipe mereduksi ekspresi kultural menjadi konsep terdekontektualisasi yang terlalu generik, merebutnya dari konteks kultural awal yang unik, mereduksi sebuah realitas kompleks menjadi "terlalu sederhana dan mudah untuk dicerna".[12]

Kritikus lain menyatakan bahwa arketipe tidak melakukan apapun selain malah memperkuat preasangka dari penginterpretasi sebuah mitos–umumnya orang-orang dari dunia Barat. Akademisi masa kini menganggap arketipe adalah alat yang terlalu eurosentris dan kolonialis dalam menyamaratakan budaya dan cerita--cerita tertentu dari sebuah budaya.[13]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Colman, W. (2018). Are archetypes essential? Journal of Analytical Psychology, 63, 336–346. https://doi.org/10.1111/1468-5922.12414
  2. Stevens, Anthony (2006). The Handbook of Jungian Psychology: Theory, Practice and Applications (dalam bahasa Inggris). New York: Routledge. hlm. 76, 84, 85. ISBN 1-58391-147-2.
  3. Coleman, Donatella Spinelli (2011). Filming the Nation: Jung, Film, Neo-Realism and Italian National Identity (dalam bahasa Inggris). New York: Routledge. hlm. 32. ISBN 978-0-415-55513-5.
  4. Shamdasani, Sonu; Sonu, Shamdasani (2003). Jung and the Making of Modern Psychology: The Dream of a Science (dalam bahasa Inggris). Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 309. ISBN 0-521-53909-9.
  5. Jacobi, Jolande (7 February 2017). "COMPLEX, ARCHETYPE, SYMBOL in the Psychology of C.G. Jung". appliedjung.com.
  6. Cambray, Joseph; Carter, Linda (2004). Analytical Psychology: Contemporary Perspectives in Jungian Analysis. Hove: Brunner-Routledge. hlm. 43. ISBN 1-58391-998-8.
  7. 1 2 Aziz, Robert (1990). C. G. Jung's Psychology of Religion and Synchronicity. Albany, NY: SUNY Press. hlm. 54. ISBN 0-7914-0166-9.
  8. Dryden, Windy; Reeves, Andrew (2013). The Handbook of Individual Therapy, Sixth Edition. Thousand Oaks, CA: SAGE. hlm. 76. ISBN 978-1-4462-0136-7.
  9. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Stevens 2006
  10. Jung, C.G. (1947/1954/1960), Collected Works vol. 8, The Structure and Dynamics of the Psyche, pp. 187, 211–216 (¶384, 414–420). "Just as the 'psychic infra-red,' the biological instinctual psyche, gradually passes over into the physiology of the organism and thus merges with its chemical and physical conditions, so the 'psychic ultra-violet,' the archetype, describes a field which exhibits none of the peculiarities of the physiological and yet, in the last analysis, can no longer be regarded as psychic, although it manifests itself psychically."
  11. Reed, Toni (2009). Demon-Lovers and Their Victims in British Fiction. University Press of Kentucky. ISBN 978-0-8131-9290-1.[halaman dibutuhkan]
  12. 1 2 Holt, Douglas; Cameron, Douglas (2010). Cultural Strategy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-958740-7.[halaman dibutuhkan]
  13. Adam Frank, The Constant Fire: Beyond the Science vs. Religion Debate, 1st edition, 2009