Andrew Darwis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Andrew Darwis
Andrew darwis.jpg
Lahir Andrew Darwis
Pekerjaan Wirausahawan
Agama Katolik
Orang tua Antonius Darwis &
Nancy Amidjoyo

Andrew Darwis (lahir 20 Juli 1979; umur 37 tahun) adalah pendiri komunitas daring terbesar di Indonesia, Kaskus. Andrew sekarang menjabat sebagai Chief Technology Officer (CTO) PT Darta Media Indonesia (Kaskus) sekaligus pemilik (owner) Kaskus Network lewat PT Darta Media Indonesia.

Kehidupan awal dan latar belakang[sunting | sunting sumber]

Lahir sebagai putra kedua dari empat bersaudara,[1] Andrew memiliki satu kakak laki-laki, satu adik laki-laki, dan satu adik perempuan.[2] Ayahnya adalah seorang pakar elektronika yang yang bekerja di sebuah perusahaan pipa. Semenjak masa kecil, ia gemar mengutak-atik radio dan barang-barang elektronik lainnya.[3] Awalnya, ia merupakan anak yang kreatif, banyak teman dan agak nakal. Namun semenjak tidak naik kelas pada kelas 6, ia berubah menjadi minder, mengurung diri, dan hanya berteman dengan segelintir orang, namun cukup akrab, dua diantaranya adalah Ronald Stephanus dan Budi Dharmawan.[1]

Pada darsawarsa 90-an, saat usia remaja, ia mulai mengenal internet.[4] Bahkan pada tahun 1997, Andrew telah membuat sebuah situs web pribadi. Namun karena masih menggunakan internet dari sambungan telepon, ibunya sempat marah karena tagihan telepon akhir bulan membengkak. Sesuai dengan minatnya, Andrew pun mendaftar ke Universitas Bina Nusantara atau Binus Jurusan Teknik Informatika. Karena keaktifannya di dunia maya, sebuah perusahaan pengolah data di Menteng menawarinya pekerjaan sehingga internet dan telepon dibayar perusahaan.[5]

Tawaran lain pun didapatkan saat pamannya yang memiliki perusahaan mebel meminta dibuatkan situs web kepada Andrew untuk mempromosikan produk-produknya. Andrew pun segera mengolah data dan foto-foto mebel produksi pamannya dan merancang situs web dengan menarik. Setelah itu, ia diberi sebuah amplop yang berisi uang sejumlah sepuluh juta rupiah.[6]

Kuliah di Seattle dan membuat Kaskus[sunting | sunting sumber]

Seattle, Amerika Serikat, tempat dimana Andrew kuliah dan membuat Kaskus.

Pada tahun 1998, Kris, Ronald, dan Budi, beberapa sahabatnya yang kuliah di Amerika Serikat dan sedang berlibur ke Jakarta membujuk Andrew agar ikut berkuliah di Seattle dengan iming-iming dapat bermain internet sepuasnya dan dekat dengan kantor milik Bill Gates dan Amazon.com.[7] Andrew pun terpikat, namun karena orangtuanya tak sanggup membiayai biaya kuliahnya disana,[2] Andrew pun dipinjami uang sebanyak 150 juta dolar dari pamannya yang menjual mebel.[8]

Andrew mengklaim bahwa ia sempat bertemu dengan Bill Gates saat sedang meluncurkan Xbox di Seattle. Pada November 1999, dosennya memberikan tugas untuk membuat sebuah situs web pribadi.[9] Teman-teman sekelasnya pun mengisi situs web pribadinya dengan pengalaman-pengalaman mereka. Karena pada masa lalunya hanya diisi dengan mengurung diri di kamar, Andrew pun lantas beralih dari membuat situs web pribadi ke situs web komunitas setelah mengetahui bahwa E-commerce sedang laris di Indonesia menjelang tanggal akhir pengumpulan tugas.[10]

Dari situs web komunitas yang ia buat, lahirlah Kaskus yang mula-mula dijadikan sebagai ajang berbagi untuk kalangan mahasiswa Indonesia di Seattle dan Amerika Serikat. Dosennya pun menyukai situs web komunitas yang dibuat Andrew dan banyak memberi masukan perihal Kaskus. Andrew pun memutuskan untuk meneruskan eksistensi Kaskus sehingga tak hanya sekadar tugas kampus belaka.[11] Andrew kemudian mengajak Ronald dan Budi untuk ikut serta mengelola Kaskus. Ronald ditugaskan untuk menerjemahkan artikel-artikel yang dibuat Andrew ke dalam bahasa Inggris mengingat kalangan mahasiswa asing juga membuka Kaskus, sementara Budi mengunggah foto-foto acara mahasiswa yang diadakan di Seattle.[12]

Pada tahun 2000, Ronald dan Budi memutuskan untuk berhenti membantu Andrew mengelola Kaskus namun keduanya tetap berharap agar Andrew tetap meneruskan Kaskus.[13]

Karena pendapatan yang didapatkan dari Kaskus masih kurang, Andrew pun sempat bekerja sebagai pengiris tomat di dapur dan kemudian kasir di Burger King[14] dan sebagai tukang fotokopi dokumen yang dimiliki oleh orang Thailand.[15] Pada pertengahan 2004, Andrew bertemu dengan Ken Lawadinata, salah seorang saudaranya dan orang yang kelak menjadi CEO Kaskus.[16] Sejak awal 2006, melalui pemasangan lamaran pekerjaan di monster.com, ia pun diberi pekerjaan menyalin lirik lagu dari situs lain dan menampilkannya ke lyrics.com yang dimiliki oleh seorang pria Vietnam-Amerika yang bernama Alex.[17]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Karier[sunting | sunting sumber]

Mendirikan Kaskus[sunting | sunting sumber]

Andrew mendirikan Kaskus pada 6 November 1999. Bermula dari pengalamannya saat menimba ilmu di salah satu universitas terkemuka di Negeri Paman Sam, Seattle University, Program Studi Multimedia & Web Design, Art Institute of Seattle Computer Science pada tahun 1999, pria yang disapa Andrew ini terinspirasi membuat website forum komunitas yang bisa di bilang menjadi yang terbesar di Indonesia.[18] "Saat itu saya ditugaskan oleh dosen untuk membuat program dari free software, dari situlah mulai muncul ide membuat website dengan nama Kaskus." Ujar Andrew yang bekerja di perusahaan lyrics.com saat kuliah di Amerika.

Kaskus berasal dari kata Kasak-Kusuk atau bermakna bergosip. Dengan modal awal sebesar US$ 3 (Rp 30.000,-) untuk menyewa server, Andrew dan dua rekannya, Ronald dan Budi, memilih untuk membuat portal yang berisi mengenai berita maupun informasi tentang Indonesia. Portal tersebut sengaja di buat menjadi suatu media untuk memuaskan kerinduan bagi masyarakat Indonesia yang berada di Luar negeri.[19]

Manfaatnya adalah semakin membaiknya geliat bisnis online, serta banyaknya orang yang memulai bisnis online dilihat Andrew sebagai potensi besar yang mendukung perkembangan Kaskus. Berdasarkan survey, terdapat lebih dari 40 juta pengguna Internet di Indonesia. Dengan jumlah yang luar biasa tersebut, ia mengasumsikan bahwa masing-masing pengguna Internet adalah target pasar yang potensial

Kendalanya Andrew mengaku bahwa kendala terberat dialaminya saat awal pembentukan Kaskus. Ia harus turun tangan langsung dan memperbaiki apabila ada server yang down, karena saat itu Andrew belum memiliki karyawan. Selain itu kendala terberat juga dialaminya ketika pindah ke Jakarta, karenai ia harus meyakinkan customer dan advertiser mengenai citra Kaskus.

Pemasarannya Andrew dan timnya di awal usaha harus bergeriliya door to door ke klien untuk memperkenalkan positioning Kaskus dan tidak sampai 1 tahun, Kaskus sudah banyak dipercaya oleh client-client besar yang sudah mendukung Kaskus sejak pertama kali Kaskus launching pada Desember 2008. Berselang 2 bulan kemudian Kaskus resmi menjadi perusahaan professional di bawah bendera PT. Darta Media Indonesia.

Saat ini tercatat Kaskus memiliki 4.366.134 member(update pertanggal 20 Mei 2012 pada pukul 13.21) dan terus bertambah tiap detiknya. Kaskus memiliki target pasar dari usia 15-40 tahun baik kalangan pelajar, mahasiswa, karyawan, professional dan entrepreneur.

Berbagai penghargaan juga diterima oleh Andrew di antaranya The Best Indonesian Communities for 2005 and 2006 versi Alexa.com dan Wikipedia, dari Microsoft dengan nominasi Kaskus Indonesia Innovative Top Web Site pada tahun 2008, dan dari Indosat dengan nominasi Kaskus The Online Inspiring Award pada tahun 2009

Saat ini untuk me-manage Kaskus, Andrew dibantu 30 orang karyawan yang terbagi dalam tim pemasaran (marketing), sales, IT dan kreatif (creative).

Dari sekian banyak konten dalam Kaskus.us, tanpa ragu Andrew menyebut konten Forum Jual Beli (FJB) dan Lounge sebagai terfavorit dikunjungi kaskuser. Para kaskuser yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu bisa memanfaatkan konten ini untuk transaksi bisnis online. Dalam sehari saja, 80 ribu daftar barang, diikutkan dalam Forum Jual Beli (FJB).

Obsesi yang ingin diraih Andrew untuk pengembangan bisnis online-nya adalah terus mengembangkan content (fasilitas yang ada di dalam website) Indonesia, sehingga nantinya orang luar negerilah yang akan membeli content itu.

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Dalam budaya populer[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Endah, Alberthiene (2013). Ken & Kaskus: Cerita Sukses di Usia Muda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9792291415. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]