Lompat ke isi

Ananda Mahidol (Rama VIII dari Thailand)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
  • Ananda Mahidol
  • อานันทมหิดล
Raja Rama VIII
Potret formal, 1946
Raja Thailand
Berkuasa2 Maret 1935 – 9 Juni 1946
Penobatan13 Agustus 1946 (anumerta)
PendahuluPrajadhipok (Rama VII)
PenerusBhumibol Adulyadej (Rama IX)
Bupati
Lihat daftar
Kelahiran(1925-09-20)20 September 1925
Heidelberg, Baden-Württemberg, Jerman
Kematian9 Juni 1946(1946-06-09) (umur 20)
Istana Agung, Bangkok, Thailand
Pemakaman29 Maret 1950
Royal Crematorium, Sanam Luang, Bangkok
Nama anumerta
Phrabat Somdet Phra Poramenthra Maha Ananda Mahidol Phra Atthamaramathibodin
WangsaMahidol
DinastiChakri
AyahMahidol Adulyadej
IbuSangwan Talapat
AgamaBuddha Theravada
tanda tangan aksara ThailandTanda tangan Ananda Mahidol
tanda tangan latinTanda tangan Ananda Mahidol

Phra Bat Somdet Phra Chao Yu Hua Maha Ananda Mahidol[a] (20 September 1925  9 Juni 1946) adalah raja kedelapan raja Siam (kemudian Thailand) dari Dinasti Chakri, bergelar Rama VIII. Pada saat ia diakui sebagai raja oleh Majelis Nasional pada bulan Maret 1935, ia pergi ke Swiss saat ia berusia sembilan tahun.[1] Ia kembali ke Thailand pada bulan Desember 1945, tetapi enam bulan kemudian, pada bulan Juni 1946, ia ditemukan tewas tertembak di tempat tidurnya. Meskipun pada awalnya diduga sebagai kecelakaan, kematiannya ditetapkan sebagai pembunuhan oleh pemeriksa medis, dan tiga pembantu kerajaan kemudian dieksekusi setelah pengadilan yang tidak teratur. Keadaan misterius seputar kematiannya telah menjadi subjek banyak kontroversi.

Masa kecil

[sunting | sunting sumber]

Pangeran Ananda Mahidol Mahidol dilahirkan pada tanggal 20 September 1925 di Heidelberg, Jerman. Ananda merupakan anak kedua dan putra pertama dari Pangeran Mahidol Adulyadej dari Songkhla, yang merupakan putra dari Raja Chulalongkorn, dan Putri Srinagarindra. Segera setelah kelahiran putra Pangeran Mahidol tersebut, Raja Vajiravudh mengirim telegram pada tanggal 13 Oktober 1925, yang menyarankan nama "Ananda Mahidol" (อานันทมหิดล) bagi sang putra, yang berarti "kebahagiaan Mahidol". Ketika itu, Ananda Mahidol memegang gelar Mom Chao, gelar terendah pangeran. Sehingga, nama resmi Ananda berubah menjadi "Mom Chao Ananda Mahidol Mahidol".

Ananda kemudian mengikuti orangtuanya ke Paris, Lausanne, dan ke Massachusetts, ketika Raja Prajadhipok mengeluarkan suatu pengumuman yang mengakibatkan promosi Ananda Mahidol sebagai pangeran di tingkatan yang lebih tinggi, bergelar Phra Worawong Ther Phra Ong Chao. Pengumuman ini juga menguntungkan Mom Chao-Mom Chao lainnya, yaitu anak-anak pangeran bergelar Chao Fa, dengan istri-istri yang sebelumnya merupakan orang biasa. Mereka yang derajatnya juga naik antara lain adalah kakak Ananda, Galyani Vadhana, dan adiknya, Bhumibol Adulyadej.

Keluarga Mahidol kemudian kembali ke Thailand, setelah Pangeran Mahidol Adulyadej berhasil menyelesaikan pendidikan kedokterannya di Universitas Harvard. Namun, Pangeran Mahidol meninggal dunia pada usia 37 tahun, ketika Ananda Mahidol masih berusia 4 tahun. Semenjak itu, Putri Srinagarindra membesarkan putra-putrinya seorang diri.

Pada tahun 1932, sebuah kudeta terjadi di Thailand yang mengakhiri kekuasaan absolut Raja Prajadhipok. Hal ini memaksa Raja Prajadhipok untuk mundur dari jabatannya. Ratu Svang Vadhana, nenek Ananda, merasa cemas dengan keselamatan cucunya tersebut, yang merupakan salah satu calon waris takhta. Dia kemudian menyarankan agar Keluarga Mahidol kembali lagi ke Lausanne. Alasan resmi yang dikeluarkan istana terkait keberangkatan ini adalah demi kesehatan dan pendidikan putra-putri Mahidol. Mereka meninggalkan Thailand pada tahun 1933. Pangeran Ananda menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di sana.

Ketika pengunduran diri Raja Prajadhipok tampak sudah sangat dekat, para anggota pemerintahan bertanya kepada Srinagarindra seputar pendapatnya apabila Ananda Mahidol diangkat menjadi Raja Thailand berikutnya.

Raja Ananda yang berusia tiga belas tahun (kiri), dan adiknya Pangeran Bhumibol Adulyadej (kanan), melihat model kereta api yang dihadiahkan kepadanya di Taman Saranrom, Bangkok pada tahun 1938.
Wilayah Thailand/Siam selama masa pemerintahan Rama VIII.

Raja Prajadhipok (Rama VII) turun takhta pada tahun 1935 karena perselisihan politik dengan pemerintahan kuasi-demokratis yang baru serta masalah kesehatan. Raja memutuskan untuk tidak menggunakan hak prerogatifnya untuk menunjuk penerus takhta. Pada saat itu, garis suksesi mahkota telah berpindah dari garis Pangeran Mahidol ke garis saudara tirinya ketika kakak laki-laki seayah-seibunya, Putra Mahkota Maha Vajirunhis, meninggal dunia saat masih remaja pada masa pemerintahan Raja Chulalongkorn. Seorang saudara tiri, Pangeran Vajiravudh (sebagai putra tertua berikutnya), menggantikan Pangeran Vajirunhis sebagai putra mahkota. Ia akhirnya naik takhta pada tahun 1910 sebagai Raja Rama VI. Pada tahun 1924, raja menetapkan Undang-Undang Suksesi Istana 1924 untuk mengatur suksesi selanjutnya. Undang-undang tersebut memberikan prioritas kepada anak-anak dari ibunya, Ibu Suri Saovabha Phongsri, di atas anak-anak dari dua istri raja Chulalongkorn lainnya. Undang-undang ini diberlakukan saat kematian Raja Vajiravudh pada tahun 1925, dan mahkota beralih ke adik bungsunya, Pangeran Prajadhipok dari Sukhothai.

Penawaran takhta kepada Pangeran Prajadhipok bukannya tanpa perdebatan. Dalam prosesnya, kandidat lain terlewati: Pangeran Chula Chakrabongse, putra mendiang Marsekal Lapangan Pangeran Chakrabongse Bhuvanath dari Phitsanulok, yang sebelum kematiannya telah menjadi ahli waris sementara Raja Vajiravudh. Muncul pertanyaan apakah Undang-Undang Suksesi yang ditetapkan oleh Raja Vajiravudh sebenarnya melarang Pangeran Chakrabongse Bhuvanath (dan dalam hal ini, Pangeran Chula Chakrabongse) dari suksesi dengan alasan ia menikahi orang asing. Namun, pernikahannya telah terjadi sebelum undang-undang ini ditetapkan dan telah disetujui oleh Raja Chulalongkorn sendiri. Tidak ada resolusi yang jelas, tetapi pada akhirnya banyak kandidat terlewati dan Pangeran Prajadhipok dinobatkan.

Ketika Raja Prajadhipok kemudian turun takhta, karena ia adalah putra terakhir yang tersisa dari Ratu Saovabha, mahkota kembali ke putra-putra dari ratu yang pangkatnya tepat di bawahnya: Ratu Savang Vadhana, ibu dari mendiang Putra Mahkota Vajirunhis. Selain mendiang putra mahkota, ia memiliki dua putra lagi yang bertahan hidup hingga dewasa: Pangeran Sommatiwongse Varodaya dari Nakhon Si Thammarat, yang meninggal tanpa putra pada tahun 1899, dan Pangeran Mahidol yang, meskipun sudah wafat, memiliki dua putra yang masih hidup. Dengan demikian, tampak bahwa Pangeran Ananda Mahidol akan menjadi orang pertama dalam garis suksesi kerajaan.

Meskipun demikian, perdebatan yang sama mengenai Pangeran Chula Chakrabongse yang berdarah campuran asing terjadi kembali. Argumennya adalah bahwa Raja Vajiravudh secara virtual telah mengecualikan ayah pangeran tersebut dari larangan dalam Undang-Undang Suksesi, sehingga mahkota bisa saja diturunkan kepadanya.

Namun, karena kerajaan saat itu sudah diperintah di bawah konstitusi, kabinet-lah yang memutuskan. Pendapat terpecah mengenai hak suksesi Pangeran Chula Chakrabongse. Tokoh kuncinya adalah Pridi Banomyong, yang meyakinkan kabinet bahwa Undang-Undang tersebut harus ditafsirkan sebagai pengecualian pangeran tersebut dari suksesi, dan bahwa Pangeran Ananda Mahidol harus menjadi raja berikutnya. Tampaknya juga lebih nyaman bagi pemerintah untuk memiliki raja yang baru berusia sembilan tahun dan sedang belajar di Swiss. Pada tanggal 2 Maret 1935, Pangeran Ananda Mahidol dipilih oleh Majelis Nasional dan pemerintah Thailand untuk menggantikan pamannya, Raja Prajadhipok, sebagai raja kedelapan dari dinasti Chakri.

Naik takhta

[sunting | sunting sumber]
Gambar Raja Ananda Mahidol dalam prangko.

Kemudian sebuah peristiwa besar dalam sejarah Thailand terjadi ketika Raja Prajadhipok mengundurkan diri pada tahun 1935, di tengah kondisi politik negeri yang memanas, dan juga karena masalah kesehatan dirinya sendiri. Kala itu, mahkota sebenarnya sudah jatuh ke tangan saudara-saudara tiri Pangeran Mahidol Adulyadej, karena kakak kandungnya, Putra Mahkota Maha Vajirunhis, meninggal dunia ketika masih remaja dalam masa pemerintahan Raja Chulalongkorn. Kemudian, saudara tirinya, Pangeran Vajiravudh, menggantikan Vajirunhis sebagai putra mahkota, dan ibu Vajiravudh dijadikan ratu sementara, ketika Chulalongkorn melakukan kunjungan ke Eropa. Yang menjadi masalah adalah, pangeran-pangeran yang merupakan putra dari ibu Vajiravudh, Ratu Saovabha, menjadi lebih berhak atas takhta kerajaan. Hal ini kemudian berujung ketika Raja Vajiravudh meninggal dunia, dan mahkota jatuh ke tangan Pangeran Prajadhipok, adiknya.

Pemberian mahkota kepada Pangeran Prajadhipok sendiri menuai konflik. Kemudian muncul kandidat baru Raja Siam, yaitu Pangeran Chulachakribongse, putra Pangeran Chakrapongsepoovanat dari Phitsanulok, yang telah ditunjuk sebagai pewaris Raja Vajiravudh sebelum kematiannya. Undang-undang Pewarisan Takhta yang disahkan Vajiravudh sendiri kemudian dipertanyakan, karena menutup kemungkinan Pangeran Chakrapongsepoovanat (dan Pangeran Chulachakripongse) dari jalan menuju takhta, lantaran menikahi orang asing. Namun pernikahan tersebut terjadi sebelum disahkannnya UU, dan posisinya dikembalikan ke jalur. Belakangan, Prajadhipok dimahkotai sebagai raja.

Ketika Raja Prajadhipok mengundurkan diri, mahkota kembali lagi ke ibu Vajirunhis, Ratu Savang Vadhana, karena Prajadhipok adalah satu-satunya putra Ratu Sri Pacharindra yang tersisa. Savang Vadhana memiliki dua putra lain yaitu, Pangeran Sommootiwongwarothai yang meninggal tanpa putra dan Pangeran Mahidol Adulyadej yang meninggal tetapi memiliki putra, yakni Ananda dan Bhumibol. Kemungkinan Ananda Mahidol menjadi raja tampak lebih jelas. Bagaimanapun juga, konflik yang sama seputar raja berikutnya terjadi lagi. Namun, karena negara telah mempunyai sistem pemerintahan yang baru, Kabinetlah yang menentukan jawabannya. Suara terbelah antara Pangeran Chulachakrapongse dan Pangeran Ananda Mahidol. Pada tanggal 2 Maret 1935, Ananda Mahidol terpilih sebagai Raja Siam berikutnya, menggantikan Prajadhipok yang mengundurkan diri, pada usia 9 tahun.

Perang Dunia II

[sunting | sunting sumber]
Raja Ananda bersama ibunya Putri Srinagarindra dan adiknya Pangeran Bhumibol, Oktober 1945.
Raja Ananda Mahidol kembali dari Swiss ke Thailand dalam upacara resmi pada Januari 1946 di Bangkok, bersama Pridi Banomyong, Srinagarindra, dan Pangeran Bhumibol.

Pada tanggal 8 Desember 1941, Thailand diinvasi oleh Jepang. Meskipun terjadi pertempuran sengit di Thailand Selatan, pertempuran tersebut hanya berlangsung selama lima jam sebelum berakhir dengan gencatan senjata. Thailand dan Jepang kemudian membentuk aliansi yang menjadikan Thailand sebagai bagian dari blok Poros hingga akhir Perang Dunia II. Raja Ananda sedang berada di luar negeri karena ia telah kembali ke Swiss untuk menyelesaikan studinya, dan Pridi Banomyong menjabat sebagai wali raja (regensi) selama ketidakhadirannya.

Sejak 24 Januari 1942, Thailand menjadi sekutu formal Kekaisaran Jepang dan anggota Poros. Di bawah kepemimpinan Plaek Phibunsongkhram, Thailand menyatakan perang terhadap kekuatan Sekutu. Namun, wali raja menolak menandatangani deklarasi tersebut sehingga secara hukum dianggap tidak sah. Banyak anggota pemerintah Thailand, termasuk kedutaan besar Siam di Jepang, bertindak sebagai mata-mata de facto dalam gerakan bawah tanah Seri Thai di pihak Sekutu, menyalurkan informasi rahasia kepada intelijen Inggris dan Office of Strategic Services (OSS) Amerika Serikat.

Pada tahun 1944, tampak jelas bahwa Jepang akan kalah dalam perang. Bangkok menderita luka parah akibat serangan bom Sekutu. Hal ini, ditambah dengan kesulitan ekonomi, membuat perang dan pemerintahan Plaek Phibunsongkhram menjadi sangat tidak populer. Pada bulan Juli, Plaek Phibunsongkhram digulingkan oleh pemerintah yang telah disusupi oleh gerakan Seri Thai. Majelis Nasional bersidang kembali dan menunjuk pengacara liberal Khuang Aphaiwong sebagai perdana menteri. Jepang menyerah pada 15 Agustus 1945, dan tanggung jawab militer Sekutu atas Thailand jatuh ke tangan Inggris.

Pascaprang

[sunting | sunting sumber]
Raja Ananda Mahidol dan Louis Mountbatten pada 19 Januari 1946.

Hanya setelah berakhirnya Perang Dunia II, Ananda Mahidol dapat kembali ke Thailand. Ia kembali untuk kunjungan kedua pada Desember 1945 dengan gelar sarjana hukum. Meskipun usianya masih muda dan kurang pengalaman, ia dengan cepat memenangkan hati rakyat Thailand yang terus menghormati monarki melalui gejolak tahun 1930-an dan 1940-an. Rakyat Thailand sangat gembira memiliki raja mereka di tengah-tengah mereka sekali lagi. Salah satu kegiatannya yang paling diingat adalah kunjungan yang sangat sukses ke Pecinan Bangkok, Sampheng Lane (ซอยสำเพ็ง), yang bertujuan untuk meredakan ketegangan pascaprang yang masih tersisa antara etnis Tionghoa-Thailand dan orang Thai di Bangkok.

Namun, pengamat asing percaya bahwa Ananda Mahidol sebenarnya tidak ingin menjadi raja dan merasa masa pemerintahannya tidak akan bertahan lama. Louis Mountbatten, Earl Mountbatten dari Burma, komandan Inggris di Asia Tenggara, mengunjungi Bangkok pada Januari 1946 dan mendeskripsikan sang raja sebagai "seorang anak laki-laki yang ketakutan dan rabun, bahunya yang miring dan dadanya yang tipis digantungi dekorasi bertabur berlian yang indah, secara keseluruhan merupakan sosok yang menyedihkan dan kesepian". Pada sebuah acara publik, Mountbatten menulis: "Keresahannya meningkat ke tahap yang mengkhawatirkan, sehingga saya berdiri sangat dekat untuk menjaganya seandainya ia pingsan".

Pada 9 Juni 1946, raja ditemukan tewas tertembak di kamar tidurnya di Balairung Boromphiman (sebuah istana kediaman modern yang terletak di dalam Istana Besar), hanya empat hari sebelum ia dijadwalkan kembali ke Swiss untuk menyelesaikan gelar doktoralnya di bidang hukum di Universitas Lausanne.

Peristiwa 9 Juni 1946

[sunting | sunting sumber]
Balairung Boromphiman di Istana Besar. Kamar tidur raja berada di lantai atas.

Keith Simpson, seorang ahli patologi untuk Kementerian Dalam Negeri Britania Raya dan ketua pendiri Departemen Kedokteran Forensik di Rumah Sakit Guy di London, melakukan analisis forensik terhadap kematian raja dan menceritakan urutan peristiwa pada pagi hari tanggal 9 Juni 1946 sebagai berikut:[2]

  • 06:00: Ananda dibangunkan oleh ibunya.
  • 07:30: Pelayan setianya (page), But Patthamasarin, mulai bertugas dan menyiapkan meja sarapan di balkon yang bersebelahan dengan ruang ganti raja.
  • 08:30: But Patthamasarin melihat raja berdiri di ruang gantinya. Ia membawakan gelas jus jeruk yang biasa diminum raja beberapa menit kemudian. Namun, saat itu raja sudah kembali ke tempat tidur dan menolak jus tersebut.
  • 08:45: Pelayan raja lainnya, Chit Singhaseni, muncul dan mengatakan bahwa ia dipanggil untuk mengukur medali dan tanda kehormatan Raja atas nama seorang pembuat perhiasan yang sedang membuatkan wadah untuk benda-benda tersebut.
  • 09:00: Pangeran Bhumibol Adulyadej mengunjungi Raja Ananda. Ia kemudian mengatakan bahwa ia mendapati raja sedang tertidur di tempat tidurnya.
  • 09:20: Sebuah tembakan tunggal terdengar dari kamar tidur raja. Chit Singhaseni berlari masuk dan kemudian berlari keluar sepanjang koridor menuju apartemen ibu raja, sambil berteriak "Raja menembak dirinya sendiri!" Ibu raja mengikuti Chit Singhaseni ke dalam kamar tidur raja dan menemukan raja terbaring telentang di tempat tidur, bersimbah darah dari luka di kepala.[2]
Tiga orang yang dituduh membunuh raja: Chit Singhaseni, But Patthamasarin, dan Chaliao Pathumrot
Kremasi Raja Ananda Mahidol, 1950

Pengumuman radio awal pada tanggal 9 Juni menduga bahwa raja tewas secara tidak sengaja saat sedang bermain dengan pistolnya.[3]

Segera setelah kematian tersebut, Partai Demokrat menyebarkan rumor bahwa perdana menteri sayap kiri Pridi Banomyong berada di balik kematian tersebut.[4]

Menyusul pergantian perdana menteri, pada Oktober 1946, sebuah Komisi Penyelidikan melaporkan bahwa kematian raja tidak mungkin merupakan kecelakaan, namun baik bunuh diri maupun pembunuhan tidak terbukti secara memuaskan.

Pada November 1947, Marsekal Lapangan Plaek Phibunsongkhram melakukan kudeta terhadap pemerintahan terpilih Pridi, menunjuk pemimpin Partai Demokrat Khuang Aphaiwong sebagai Perdana Menteri, dan memerintahkan persidangan. Sekretaris Raja Ananda, Senator Chaliao Pathumrot, serta para pelayan, But dan Chit, ditangkap dan didakwa atas konspirasi pembunuhan raja. Setelah kudeta, mantan Perdana Menteri Luang Thamrong secara pribadi berujar kepada Duta Besar AS Edwin F. Stanton bahwa bukti-bukti yang dikumpulkan selama penyelidikan pembunuhan raja melibatkan Raja Bhumibol dalam kematian mendiang raja.[5]

Persidangan dimulai pada Agustus 1948. Sebelum persidangan, Plaek Phibunsongkhram mengaku kepada Duta Besar AS Edwin F. Stanton bahwa ia ragu persidangan tersebut dapat memecahkan misteri kematian Ananda Mahidol.[6] Kasus jaksa penuntut didukung oleh 124 saksi dan bukti dokumenter yang sangat banyak sehingga penasihat hukum terdakwa meminta penundaan untuk mempelajarinya. Ketika permintaan ini ditolak, penasihat hukum tersebut mengundurkan diri, dan penasihat hukum baru pun dicari. Belakangan, dua dari penasihat hukum pembela ditangkap dan didakwa dengan pengkhianatan terhadap negara. Dari dua yang tersisa, satu mengundurkan diri, menyisakan hanya seorang pengacara muda untuk pembelaan, Fak Na Songkhla. Menjelang akhir kasus, ia dibantu oleh putri Chaliao Pathumrot yang baru saja lulus.

Persidangan panjang tersebut akhirnya berakhir pada Mei 1951. Pengadilan memutuskan bahwa Raja Ananda telah dibunuh, namun Chaliao tidak terbukti bersalah dan tidak satu pun dari pelayan (page) tersebut yang bisa melepaskan tembakan fatal itu. Namun, mereka menemukan Chit bersalah karena terlibat dalam kejahatan tersebut. Dakwaan terhadap Chaliao dan But dibatalkan dan mereka dibebaskan.

Chit mengajukan banding atas putusan bersalahnya, dan jaksa penuntut mengajukan banding atas pembebasan Chaliao dan But. Setelah lima belas bulan pertimbangan, Pengadilan Banding menolak banding Chit, dan juga menyatakan But bersalah.

Chit dan But mengajukan banding ke Mahkamah Agung, yang mempertimbangkan selama sepuluh bulan lagi sebelum akhirnya menguatkan kedua hukuman tersebut, dan kali ini juga menyatakan Chaliao bersalah.

Permohonan grasi ketiga pria tersebut ditolak oleh Raja Rama IX (Bhumibol Adulyadej), dan mereka dieksekusi oleh regu tembak pada 17 Februari 1955.[7][8] Raja Rama IX kemudian menyatakan bahwa ia tidak percaya bahwa mereka bersalah.[6]

Raja Ananda Mahidol dikremasi di Sanam Luang, Bangkok, pada 29 Maret 1950, empat tahun setelah kematiannya.

Penjelasan alternatif mengenai kematian

[sunting | sunting sumber]

Kematian sang raja masih dianggap sebagai sebuah misteri. Topik ini tidak pernah dibahas secara terbuka di media arus utama Thailand. Semua tokoh utama yang diketahui memiliki hubungan dengan kematian tersebut kini telah meninggal dunia.

Pada 15 Juni 1946, Kuasa Usaha Amerika Serikat Charles Yost bertemu dengan Menteri Luar Negeri Direk Jayanama, yang baru saja melakukan audiensi dengan raja baru, Bhumibol Adulyadej. Dalam laporannya kepada Departemen Luar Negeri AS, Yost mencatat,

Raja Bhumiphol... memberi tahu Menteri Luar Negeri bahwa ia menganggap rumor [tentang kematian mendiang Raja] yang beredar luas sebagai hal yang tidak masuk akal, bahwa ia mengenal kakaknya dengan baik dan ia yakin bahwa kematiannya adalah kecelakaan... Apa yang dikatakan Raja kepada Direk belum tentu mewakili apa yang sebenarnya ia yakini, namun tetap menarik bahwa ia membuat pernyataan kategoris seperti itu kepada Menteri Luar Negeri.[9]

Pada tahun 1948, Pinit Intaratood, yang baru saja ditunjuk sebagai perwira polisi yang bertugas, pergi ke Villa Vadhana di Lausanne untuk menanyai Raja Bhumibol. Selama penyelidikan tersebut, raja tampak muram, sehingga Pinit memutuskan untuk meminta maaf. Raja kemudian tersenyum dan berkata:

Aku tidak bisa, bahkan untuk sesaat pun, berhenti merindukannya. Aku sempat berpikir bahwa kami tidak akan pernah berpisah sepanjang hidupku. Itu adalah takdir kami. Aku tidak pernah berpikir untuk menjadi raja, [aku] hanya ingin menjadi adiknya.[10]

Namun, dalam sebuah dokumenter BBC tahun 1980, Bhumibol menyatakan bahwa meskipun pengadilan memutuskan bahwa kematian tersebut "terbukti" bukan kecelakaan, "seseorang tidak tahu pasti." Beliau mencatat dalam bahasa Inggris:

Penyelidikan memberikan fakta bahwa ia meninggal dengan luka peluru di dahinya. Terbukti bahwa itu bukan kecelakaan dan bukan bunuh diri. Seseorang tidak tahu pasti. ... Tapi apa yang terjadi sangat misterius, karena segera setelah kejadian, banyak bukti yang digeser begitu saja. Dan karena hal itu bersifat politis, maka semua orang menjadi politis, bahkan polisi pun politis, [keadaannya menjadi] tidak sangat jelas. Aku hanya tahu [bahwa] ketika aku tiba, ia sudah meninggal. Banyak orang ingin mengemukakan bukan sekadar teori melainkan fakta untuk menjernihkan masalah ini. Mereka dibungkam. Dan mereka dibungkam oleh orang-orang berpengaruh di negara ini dan dalam politik internasional.[11]

Sulak Sivaraksa

[sunting | sunting sumber]

Sulak Sivaraksa, seorang tokoh konservatif dan loyalis monarki terkemuka, menulis bahwa peran Pridi dalam peristiwa tersebut adalah melindungi anggota kerajaan yang bersalah, dan mencegah penangkapan orang yang menghancurkan barang bukti.[12]:5–6 Ia menulis sebuah unggahan Facebook pada tahun 2015 yang mengklaim: "sebenarnya, pembunuh Raja Rama VIII bukanlah Pridi Banomyong. Orang itu masih hidup, meskipun tidak berniat melakukannya."[13]

Seni Pramoj dan Partai Demokrat

[sunting | sunting sumber]

Seni Pramoj dan Partai Demokrat menyebarkan rumor bahwa Pridi berada di balik kematian tersebut. Yost mencatat dalam komunikasi Departemen Luar Negeri AS:

"... Dalam waktu empat puluh delapan jam setelah kematian mendiang Raja, dua kerabat Seni Pramoj, pertama keponakannya dan kemudian istrinya, datang ke Legasi dan menyatakan secara kategoris keyakinan mereka bahwa Raja telah dibunuh atas desakan Perdana Menteri (Pridi Phanomyong). Jelas sekali bahwa mereka diutus oleh Seni. Saya merasa perlu untuk menyatakan kepada mereka berdua dengan istilah yang paling tegas, guna memperjelas bahwa Legasi ini tidak dapat ditarik ke dalam intrik politik Siam, bahwa saya tidak mempercayai cerita-cerita ini dan bahwa saya menganggap penyebaran rumor fantastis pada saat ini tanpa didukung sedikit pun bukti sebagai hal yang sama sekali tidak dapat dimaafkan. Menteri Inggris memberi tahu saya pagi ini bahwa ia juga telah didatangi oleh beberapa anggota Oposisi yang kepadanya ia menyatakan bahwa ia menerima laporan resmi tentang kematian Raja dan bahwa ia tidak akan ditarik ke dalam diskusi lebih lanjut mengenai masalah tersebut.[14]

Pridi Banomyong

[sunting | sunting sumber]

Pada 14 Juni 1946, Yost bertemu dengan Pridi Banomyong dan membuat laporan berikut kepada Departemen Luar Negeri AS:

"[Pridi berbicara] dengan sangat jujur mengenai situasi tersebut dan menghubungkan kematian Raja dengan sebuah kecelakaan, namun jelas bahwa kemungkinan bunuh diri ada di benaknya. [Pridi] sangat marah atas tuduhan permainan kotor yang ditujukan kepadanya dan merasa sangat pahit atas cara yang ia tuduhkan (tanpa ragu secara adil) bahwa Keluarga Kerajaan dan Oposisi, khususnya Seni Pramoj dan Phra Sudhiat, telah memengaruhi Raja dan terutama Putri Ibu untuk menentangnya."[14]

Plaek Phibunsongkhram

[sunting | sunting sumber]

Setelah menggulingkan Pridi Banomyong dalam kudeta, Marsekal Lapangan Plaek Phibunsongkhram memberi tahu Duta Besar AS Edwin Stanton bahwa ia "secara pribadi meragukan apakah Pridi terlibat langsung karena dua alasan: pertama, ... Pridi adalah politisi yang sangat cerdas dan kedua, ... ia memiliki 'hati yang baik'." Phibun menyimpulkan kepada Duta Besar bahwa "ia tidak berpikir [Pridi] akan menyebabkan siapa pun dibunuh. Istri Phibun, yang hadir dalam pertemuan tersebut, mendukung pengamatan suaminya. Namun, Phibun mencatat kemungkinan bahwa Pridi telah menutupi atau menghancurkan beberapa bukti untuk melindungi penerusnya, Bhumibol Adulyadej."[14]

Keith Simpson

[sunting | sunting sumber]

Keith Simpson, seorang ahli patologi forensik yang menyelidiki kematian raja, menemukan bahwa sangat kecil kemungkinan kematian tersebut disebabkan oleh bunuh diri, dengan mencatat bahwa:

  • Pistol ditemukan di tangan kiri raja, padahal ia tidak kidal (tangan kanan).
  • Arah peluru yang ditembakkan tidak mengarah ke dalam menuju pusat kepala.
  • Luka, di atas mata kiri, bukan berada di salah satu lokasi pilihan (untuk bunuh diri), juga bukan merupakan tembakan "kontak" (menempel kulit).
  • Raja terbunuh saat terbaring telentang. Simpson mencatat bahwa dalam pengalaman dua puluh tahun, ia tidak pernah mengetahui adanya penembakan bunuh diri saat sedang terbaring telentang.[15]

William Stevenson

[sunting | sunting sumber]

Laporan mengenai kematian tersebut diberikan dalam buku The Revolutionary King karya William Stevenson, yang ditulis dengan kerja sama Raja Bhumibol Adulyadej. Laporan ini membebaskan mereka yang dieksekusi dan menunjukkan bahwa Ananda Mahidol dibunuh oleh Tsuji Masanobu. Masanobu adalah mantan perwira intelijen Jepang yang aktif di Thailand selama perang dan, pada saat kematian Ananda Mahidol, bersembunyi di Thailand karena takut diadili atas kejahatan perangnya.

Laporan Stevenson menyatakan bahwa Ananda Mahidol tidak mungkin membunuh dirinya sendiri, baik melalui bunuh diri maupun kecelakaan. Ia ditemukan tergeletak telentang di tempat tidurnya, tidak mengenakan kacamata, yang tanpa kacamata tersebut ia hampir buta. Ia memiliki luka peluru kecil di dahi dan luka keluar yang agak lebih besar di bagian belakang kepalanya. Pistolnya, sebuah M1911 yang diberikan oleh mantan perwira Angkatan Darat AS, tidak ada di dekatnya. M1911 tidak mudah meledak secara tidak sengaja; senjata ini hanya akan menembak jika tekanan yang cukup diberikan pada pelat pengaman di bagian belakang gagang bersamaan dengan pelatuk yang ditekan. Senjata ini berat dan sulit digunakan oleh orang yang tidak terlatih. Hampir tidak mungkin bagi Ananda Mahidol, seorang pemuda berusia 20 tahun yang rapuh, untuk berbaring telentang dan menembak dahinya sendiri dengan senjata semacam itu. Jika ia melakukannya, dampaknya, menurut para ahli forensik, akan menghancurkan tengkoraknya, bukan menyebabkan luka kecil seperti yang dilihat oleh banyak saksi. Stevenson menulis bahwa tidak ada selongsong peluru yang ditemukan, dan penyelidikan selanjutnya yang diperintahkan oleh Raja Bhumibol mendapati bahwa Colt tersebut belum pernah ditembakkan.[16]

Rayne Kruger

[sunting | sunting sumber]

Laporan lain, yang menyimpulkan bahwa kematian Ananda Mahidol adalah akibat bunuh diri, dieksplorasi oleh jurnalis Rayne Kruger dalam bukunya, The Devil's Discus.[17] Buku ini dilarang di Thailand. Kruger, yang memiliki akses yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada anggota lingkaran dalam keluarga kerajaan Thailand (meskipun kontak-kontak ini harus tetap anonim), menarik kesimpulan bahwa kematian Ananda kemungkinan besar adalah 'bunuh diri yang tidak disengaja'. Menurut Kruger, kematian tragis raja muda tersebut dieksploitasi untuk tujuan balas dendam politik, dan tiga orang yang tidak bersalah dieksekusi untuk menjaga fasad (citra luar).

Paul Handley

[sunting | sunting sumber]

Paul Handley, penulis biografi Raja Bhumibol Adulyadej, menulis bahwa baik bunuh diri atau penembakan tidak sengaja oleh Pangeran Bhumibol adalah penyebab kematian raja:[18] "Saya tidak tahu apakah Ananda menembak dirinya sendiri atau dibunuh oleh Bhumibol, dua kemungkinan yang paling diterima di kalangan sejarawan. Jika yang terakhir, saya jelas mengistilahkannya sebagai kecelakaan yang terjadi saat sedang bermain".[19]

Penghargaan, gelar, dan lencana

[sunting | sunting sumber]
Gelar bangsawan untuk
  • Raja Ananda Mahidol
  • Rama VIII dari Thailand
Gaya referensiKebawah Duli Yang Mulia
Gaya penyebutanKebawah Duli Seri Paduka Baginda
Gaya alternatifPhra Chao Yu Hua
Monogram Kerajaan Raja Ananda Mahidol

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Bibliografi

[sunting | sunting sumber]
  • Chachavalpongpun, Pavin (2021). Love and Death of King Ananda Mahidol of Thailand. Springer Singapore. ISBN 978-981-16-5288-2.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Thai Monarchy and Switzerland". www.thaiembassy.ch. Diakses tanggal 2025-04-22.
  2. 1 2 Simpson, Keith (1978). "Chapter 13: The Violent Death of King Ananda of Siam". Forty Years of Murder: an Autobiography (PDF). London: Harrap. Diakses tanggal 15 December 2016.
  3. "Hua Hin Tourist Information, Biography of King Ananda Mahidol". Diarsipkan dari asli tanggal 15 April 2012. Diakses tanggal 9 Maret 2005.
  4. Sulak Sivaraksa, "Powers That Be: Pridi Banomyong through the rise and fall of Thai democracy", 1999.
  5. Kedutaan Besar Amerika Bangkok, "Confidential Memorandum of Discussion between Prime Minister Luang Thamrong and Ambassador Edwin F. Stanton", , 31 Maret 1948
  6. 1 2 Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Sulak2
  7. Kasetsiri, Charnvit (2022). Thailand: A Struggle for the Nation. Singapura: ISEAS Publishing. hlm. 92. ISBN 9789815011241.
  8. "Has Rama X revived Thailand's death penalty?". New Mandala. 22 Juni 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Juni 2018.
  9. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Sulak3
  10. “เมื่อข้าพเจ้าบินไปสืบกรณีสวรรคต ที่สวิตเซอร์แลนด์”. แหลมสน. เกียรติศักดิ์. ตีพิมพ์เมื่อ 24 Juni 1948
  11. BBC, "Soul of a Nation", pertama kali disiarkan 1980; disiarkan ulang sebagai bagian dari Gero von Boehm, "Paläste der Macht—Herrscher des Orients: Der Sultan von Brunei und das thailändische Königshaus.", disiarkan di saluran "Arte", 14 Mei 2008
  12. ส. ศิวรักษ์, เรื่องปรีดี พนมยงค์ ตามทัศนะ ส.ศิวรักษ์, สำนักพิมพ์มูลนิธิโกมลคีมทอง, 2540
  13. Unggahan Facebook Sulak Sivaraksa, tertanggal 27 Juni 2015
  14. 1 2 3 Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Sulak4
  15. Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama FortyYears2
  16. William Stevenson, "The Revolutionary King: the true-life sequel to the 'King and I'", 2001, Constable and Robinson, ISBN 1-84119-451-4.
  17. Kruger, Rayne (1964). The Devil's Discus. London: Cassell & Co.
  18. Handley, Paul M. (2006). The King Never Smiles. Yale University Press, ISBN 0-300-10682-3.
  19. "Nuanced Views of the King", Far Eastern Economic Review, November 2006.
Ananda Mahidol (Rama VIII)
Wangsa Mahidol
Cabang kadet Wangsa Chakri
Lahir: 20 September 1925 Meninggal: 9 Juni 1946
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Prajadhipok
Raja Siam
2 Maret 1935 – 23 Juni 1939
Siam berubah nama menjadi "Thailand"
Jabatan baru
Siam berubah nama menjadi "Thailand"
Raja Thailand
23 Juni 1939 – 7 September 1945
Thailand berubah nama kembali menjadi "Siam"
Jabatan baru
Thailand berubah nama kembali menjadi "Siam"
Raja Siam
7 September 1945 – 9 Juni 1946
Diteruskan oleh:
Bhumibol Adulyadej
  1. bahasa Thai: อานันทมหิดล; RTGS: Ananthamahidon
Kesalahan pengutipan: Ditemukan tanda <ref> untuk kelompok bernama "lower-alpha", tapi tidak ditemukan tanda <references group="lower-alpha"/> yang berkaitan