Lompat ke isi

Almarhum (film)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Almarhum
Poster rilis teatrikal
SutradaraAdhe Dharmastriya
ProduserOswin Bonifanz
SkenarioEvelyn Afnilia
Pemeran
PenatamusikOfel Obaja Setiawan
SinematograferGuntur Arief Saputra
PenyuntingGita Miaji
Perusahaan
produksi
Tanggal rilis
  • 9 Januari 2025 (2025-01-09) (Indonesia)
Durasi103 menit
NegaraIndonesia
BahasaIndonesia
Pendapatan
kotor
Rp 28,3 miliar

Almarhum adalah film horor supranatural Indonesia tahun 2025 yang disutradarai oleh Adhe Dharmastriya, berdasarkan skenario yang ditulis Evelyn Afnilia. Film produksi Unlimited Production serta A&Z Films ini dibintangi oleh Ratu Sofya, Dimas Aditya, dan Rukman Rosadi, dengan alur cerita yang berkisah mengenai sebuah keluarga yang baru saja kehilangan salah satu anggota keluarganya. Setelah kejadian tersebut, keluarga tersebut mengalami serangkaian peristiwa menakutkan dan mengerikan.

Almarhum tayang perdana di bioskop pada tanggal 9 Januari 2025.[1]

Mulwanto adalah seorang juragan pemilik kebun yang mempunyai tiga anak, di mana anak bungsunya (Yanda) tidak mau melanjutkan pendidikan ke universitas seperti kakak-kakaknya. Pada tanggal 22 Selasa Kliwon, tepat saat wisuda dari anak keduanya (Nuri), Mulyanto meninggal secara tragis akibat tersengat listrik pada saat mandi. Konon siapa pun yang meninggal pada hari Selasa Kliwon akan mengajak anggota keluarganya untuk ikut mati bersama mereka. Keluarga yang ditinggalkan pun diminta menjalani serangkaian ritual pecah piring untuk mencegah hal tersebut. Wisesa, anak sulung yang berprofesi sebagai dokter, menolak ritual tersebut karena tidak masuk akal. Pada saat ritual berlangsung, istri Mulyanto (Rahmi) yang kondisi tubuhnya lemah tidak ikut melakukan ritual dengan ditemani oleh Wasesa dan berjalan di belakang rombongan.

Pada pagi hari kedua setelah mayat Mulyanto meninggal, Rahmi ditemukan tidur di jalan depan rumah dan berhasil diselamatkan tepat pada waktunya saat ada mobil melintas. Rahmi yang selalu merasa kedinginan berkata pada Nuri dan Ajeng bahwa dirinya akan segera pergi dan akan mengajak mereka. Di hari ketiga, Wasesa izin pamit untuk kembali ke Yogya karena tuntutan pekerjaannya sebagai dokter. Pada malam hari, muncul penampakan pocong di kamar Rahmi diikuti dengan kipas pendingin ruangan di langit-langit yang jatuh dan membunuhnya.

Setelah kematian ibunya, Wasesa mulai melihat penampakan-penampakan dan merasa kedinginan sepanjang waktu. Setelah penguburan ibunya, Nuri bersama Yanda pergi menemui Mbah Sukma, orang pintar di tengah hutan yang direkomendasi oleh Pak Budi. Di waktu yang sama, Wisesa mulai mencurigai Pak Budi yang dari dulu suka ikut campur urusan keluarganya dan menemukan sebuah bola mata dan sebuah bungkusan di bawah tempat tidur rumahnya. Setelah mengirimkan foto mengenai bungkusan kepada adiknya, Wasesa melihat dan mengikuti penampakan almarhum ayahnya yang berjalan menuju ke dalam hutan. Kakinya terluka akibat sebuah jebakan tanah untuk hewan yang ada di hutan. Setelah mencegat sebuah mobil yang lewat, Wasesa diantarkan ke sebuah klinik desa terdekat. Di sana, ia berhalusinasi dimasukkan ke dalam ruang mayat dan terbunuh setelah terjatuh dari tempat tidur di mana sebuah besi menusuk kepalanya.

Wasesa dikuburkan pada hari kelima sejak Mulwanto meninggal. Nuri dan Yanda kemudian membawa bungkusan yang ditemukan kakaknya kepada Mbah Sukma. Mbah Sukma langsung mengetahui bahwa keluarga Mulwanto telah diserang dengan ilmu santet dan melakukan ritual untuk mengarahkan serangan santet tersebut kembali ke pemiliknya. Pelaku dari santet tersebut ternyata adalah Pak Suyono, adik ipar dari Mulwanto yang di masa lalu menitipkan anaknya, Ajeng agar dikuliahkan oleh Pak Mulwanto setelah istrinya meninggal. Pada kenyataannya, Pak Mulwanto tidak pernah mengkuliahkan Ajeng dan hanya dijadikan pengurus kuda. Suyono yang merasa jengkel dengan kakak iparnya menggunakan ilmu hitam dengan bantuan Ajeng untuk menyantet seluruh keluarga Mulwanto. Berkat ritual yang dilakukan Mbah Sukma, santet berbalik membunuh Suyono. Tidak lama kemudian, Ajeng yang pulang ke rumah tiba-tiba kakinya tersangkut dan ditarik oleh kuda hingga meninggal.

Nuri kemudian memutuskan untuk tinggal dan membangun desa bersama Pak Lurah, dan menunda melanjutkan studi di Yogya. Yanda di akhir masih bingung bahwa dirinya dan Nuri selamat apakah karena ritual pecah piring atau karena tokoh pendem. Di tempat lain, Pak Budi mengunjungi tempat kediaman Mbah Sukma, di mana Mbah Sukma memberikan hormat padanya dan Pak Budi kemudian tersenyum.

  • Safira Ratu Sofya sebagai Nuri, anak kedua Pak Mulwanto
  • Rukman Rosadi sebagai Mulwanto, ayah dari Wisesa, Nuri dan Yanda
  • Nova Eliza sebagai Rahmi, istri Mulwanto
  • Dimas Aditya sebagai Wisesa, anak sulung Pak Mulyanto yang menjadi dokter di rumah sakit di Yogya
  • Alzi Markers sebagai Yanda, anak bungsu Pak Mulwanto
  • Rizky Hanggono sebagai Pak Suyono, adik ipar dari Mulwanto
  • Meisya Amira sebagai Ajeng, keponakan Mulyanto
  • Gito Gilas sebagai Pak Budi, Pak Lurah
  • Ruth Marini sebagai Mbah Sukma, seorang ahli supranatural yang tinggal di tengah hutan

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Gisela, Felicia (11 Januari 2025). "Sinopsis Film Almarhum, Mitos tentang Kematian di Selasa Kliwon". detik. Diakses tanggal 19 Januari 2025.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]