Ali bin Abdullah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Dia dikenal dengan Imam Ali As-Sajad dilahirkan pada tanggal 24 Ramadan 40 H di Basroh, ketika ayahnya menjadi penguasa di Basroh dari pihak khalifah Ali bin Abi Tholib Radiyallohu ‘anhum jamiian, sesudah ayahnya meninggal di Thaif Ali bin Abdullah pergi ke Hamimah sesuai wasiat ayahnya. Ia tinggal di daerah Hamimah bersama anak-anaknya sampai berdirinya Daulah Abasiyah pada tahun 132 H. Ia berpostur tinggi dan berbadan besar, orang-orang Quraisy memberikan tempat kepada dia untuk bermajlis ta’lim di dalam Majidil Haram, mereka meninggalkan aktivitas ibadah dan kegiatan mereka untuk berkumpul menghadiri majlis ta’limnya Ali bin Abdullah sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan kepada dia. Tidak ada satupun orang Quraisy yang melakukan aktivitas dzikir apapun di Masjidil Haram sampai Ali bin Abdullah keluar dari Masjidil Haram.

Ali bin Abdullah mempunyai anak yaitu Muhammad, Daud dan Isa, Sulaiman dan Sholeh, Isma’il, Abdussomad, Ya'kub, Abdullah Al-Akbar, ‘Ubaidillah, Abdulmuluk, Utsman, Abdurrahman dan seterusnya. Abdullah Al-Ashgar yang pergi ke Syam, sebagian orang menyebut Abdullah al-Ashgar dengan asy-Syamakh (orang yang bertubuh tinggi) ia juga mempunyai penerus. Yahya, Ishak, Ya’qub, Abdul Aziz, Ismail al-Asghar, Abdullah al – Ausath atau disebut juga Ahnaf, dst. Kemudian Aminah, Ummu Isa yang menikah dengan Ibnu Hasan bin Abdullah bin Ubaidillah bin Abbas. Labbabah yang menikah Ibnu Qotsam bin Abbas bin Ubaidillah bin Abbas.

Ali bin Abdullah tinggal di Syarrah suatu wilayah bagi di daerah Damsyik, dia selalu memakmurkan masjid, tampat sujud dia terbuat dari hamparan yang didatangkan dari zam-zam, dia juga orang yang gemar menjamu musafir, sehingga setiap orang yang lewat dalam rangka pergi ke syam dari Hijaz atau sebaliknya dia selalu menjamunya dan dia juga menjadi penghubung bagi orang-orang yang membutuhkan sampai ada orang yang berkata: "Kesungguhnya pertolongan yang engkau berikan akan memulyakan dirimu", sebagaimana tergambar dalam perkataan Saluli:

Apa yang patut kami berikan tatkala panasnya masalah kami Di selesaikan oleh orang yang berhati mulya dan berbuat luhur Maka diberitahu kami apa sangat dia inginkan Walau wajah kami akan rusak kamiakan berusaha

Suatu hari seroang wanita tua dari Quraisy menemui Ali bin Abdullah bin Abbas, lalu dia menceritakan permasalahan yang sedang ia hadapi maka Ali menyuruh pembantunya untuk memberi wanita tersebut 200 dinar, lalu ia berkata "semoga Allah menjadikan aku tameng bagimu", seperti apa yang dikatakan oleh Ummu Jamil binti Harb bin Ummayyah:

Engkau adalah dari golongan terbaik Baik di daerah desa atapun kota Yang paling mulya tatkala banyak kesulitan Bagi yang melakukan perjalanan dekat atau jauh Benar belas kasih dan sangat dermawan Memberikan apa yang dimiliki tanpa pamrih

Banyak orang mengatakan: sesudah Muslim bin 'Uqbah selesai dari perjalanan mengurus masalah yang ada di daerah Huroh. Rakyat membai'at Yazid bin Muawiyah menjadi khalifah dan mereka bersedia loyal kepada Yazid bin Muawiyah. Muslim bin ’Uqbah diutus menemui Ali bin Abdullah yang kala itu berada di Madinah. Hal itu terjadi 4 tahun menjelang meninggalnya ayah Ali yaitu Abdullah bin Abbas. Ketika sampai di barak tentara yang ada di daerah Fusthath, dia melihat sekelompok tentara di depan pintunya kemudian Muslim bertanya tentang pemimpin kelompok itu dan dijawab bahwa pemimpin kelompok itu adalah Al-Hashin bin Namir as-Sukuni. Muslim itu berkata: ”sampaikan pada pimpinanmu akan kedatanganku”, lalu yang disuruh kembali dan berkata sesungguhnya anak saudara perempuanmu Ali bin Abdullah telah dipaksa keluar dari rumahnya (diculik) padahal dia ingin bertemu dengan Muslimin bin ’Uqbah. Kemudian Muslim mengutus pasukan yang dipimpin oleh al-Hashin untuk membebaskan Ali bin Abdullah dari tangan para penculik. Ketika akan menyergap para penculik al-Hashin berkata: pukulah para penculik itu dengan cambuk! Maka dipukulah para penculik itu dengan cambuk sehingga mereka kabur. Al-Hashin berhasil membawa Ali bin Abdullah kehadapan Muslim bin ’Uqbah dan berbai’at kepada Yazid bin Mu’awiyah seperti bai’at kepada sultan.

Ali bin Abullah meninggal di Hamimah suatu daerah di wilayah Damsiq pada tahun 117 H dalam usia 78 tahun.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Sumber Pustaka[sunting | sunting sumber]

Al Asas fi Ansab Bani Abbas oleh Sayyid Syarif Husni Bin Ahmad Bin Ali Al Abbasi Al Hasyimi ( الأساس في أنساب بني العباس - تأليف السيد الشريف حسني بن أحمد بن علي العباسي الهاشم )