Al-Mansur Muhammad, Sultan Mesir
| Muhammad | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Al-Malik al-Mansur | |||||
Dinar emas, dicetak di Mesir, 1361-1363 | |||||
| Sultan Mesir | |||||
| Berkuasa | 17 Maret 1361 – 29 Mei 1363 | ||||
| Pendahulu | Al-Nasir Hasan | ||||
| Penerus | al-Ashraf Sha'ban | ||||
| Kelahiran | 1347/48 | ||||
| Kematian | 1398 (umur 50–51) | ||||
| Pemakaman | |||||
| |||||
| Wangsa | Qalawuni | ||||
| Dinasti | Bahri | ||||
| Ayah | Al-Muzaffar Hajji | ||||
| Agama | Islam | ||||
Al-Mansur Salahuddin Muhammad bin Hajji bin Muhammad bin Qalawun (1347/1348–1398), lebih dikenal sebagai al-Mansur Muhammad, adalah sultan Mamluk yang memerintah pada tahun 1361–1363. Ia hanya memegang jabatan secara simbolis, karena kekuasaan sebenarnya berada di tangan para bangsawan Mamluk, terutama Yalbugha al-Umari yang bertindak sebagai wali sekaligus penguasa sejati. Yalbugha-lah yang memerintahkan pembunuhan pendahulu sekaligus paman al-Mansur Muhammad, yaitu an-Nasir Hasan, lalu menobatkan al-Mansur Muhammad sebagai penggantinya.
Biografi
[sunting | sunting sumber]Al-Mansur Muhammad adalah putra Sultan al-Muzaffar Hajji.[1] Setelah pamannya, Sultan al-Nasir Hasan, dibunuh oleh Emir Yalbugha al-Umari pada tahun 1361, Yalbugha bersama para emir senior lainnya memilih al-Mansur Muhammad,[2] yang saat itu masih remaja, sebagai penggantinya.[3] Para pengangkatnya terdiri dari delapan emir, dengan Yalbugha dan Taybugha al-Tawil sebagai tokoh utama.
Penobatan al-Mansur Muhammad, yang merupakan cucu Sultan al-Nasir Muhammad, menandai berakhirnya tradisi penobatan putra-putra al-Nasir Muhammad sebagai sultan. Mereka memilih al-Mansur Muhammad daripada al-Amjad Husayn, putra terakhir al-Nasir Muhammad yang masih hidup, karena menganggap al-Mansur Muhammad lebih mudah dikendalikan. Dalam pemerintahan baru ini, Yalbugha menjadi tokoh paling berkuasa di antara para emir senior, meskipun ia sering berbagi kendali dengan Taybugha.[2]
Pada awal tahun 1363, Yalbugha dan Taybugha menurunkan al-Mansur Muhammad dari takhta dengan tuduhan perilaku tidak pantas. Mereka kemudian mengangkat sepupunya, al-Ashraf Sha'ban, putra sepuluh tahun dari al-Amjad Husayn, sebagai sultan baru karena dianggap lebih mudah dikendalikan.[3]
Al-Mansur Muhammad meninggal pada tahun 1398 dan dimakamkan di pemakaman nenek dari pihak ayahnya (istri al-Muzaffar Hajji) di Pulau Roda. Ia meninggalkan sepuluh orang anak.[4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Steenbergen, Jo Van (2006). Order Out of Chaos: Patronage, Conflict and Mamluk Socio-political Culture, 1341–1382. Brill. ISBN 9789004152618.
- 1 2 Steenbergen 2011, p. 434.
- 1 2 Steenbergen 2011, p. 437.
- ↑ Bauden, Frédéric. "The Qalawunids: A Pedigree" (PDF). University of Chicago. Diakses tanggal 2016-02-25.