Air leding

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Air leding yang keluar melalui keran.

Air leding atau air keran adalah air yang dialirkan melalui pipa leding dan keluar melalui keran air. Air leding biasa digunakan untuk minum, mencuci, memasak, dan menyiram toilet. Air dengan sistem leding telah ada sejak zaman kuno, namun hanya tersedia bagi sejumlah kecil orang sampai paruh kedua abad ke-19 saat air leding mulai meraih popularitas di negara yang saat ini dikategorikan sebagai negara maju. Air leding menjadi umum di banyak wilayah pada abad ke-20, dan saat ini kelangkaan air leding sebagian besar hanya dialami oleh orang-orang berkekurangan, khususnya di negara berkembang.

Air leding sering digunakan sebagai air minum, terutama di negara maju. Tergantung wilayah, biasanya air leding dapat langsung diminum meskipun tidak jarang terjadi masalah pada kualitas air tersebut. Metode penjernihan air rumah tangga seperti filter air, perebusan, atau distilasi dapat dilakukan jika tingkat kelayakan minum air leding diragukan. Penerapan teknologi (seperti instalasi pengolahan air) yang dapat menyediakan air bersih untuk perumahan, tempat-tempat bisnis, dan bangunan-bangunan publik merupakan subbidang utama dari teknik sanitasi. "Air ledeng" dibedakan dari berbagai macam air tawar siap guna lainnya yang mungkin tersedia; seperti air dari perigi pengumpul air hujan, dari pompa sumur, air yang langsung dari sumur, atau air yang dibawa dari sungai, atau danau (yang laik minumnya dapat bervariasi).

Tantangan dalam membuat air leding siap minum[sunting | sunting sumber]

Mendistribusikan air leding siap minum memerlukan banyak sekali masalah yang harus dipecahkan untuk memastikan bahwa air yang didapatkan konsumen bersih dan layak dikonsumsi. Contohnya pada standar yang berlaku di Britania Raya, dimana aspek yang harus diperhatikan adalah kandungan logam pada air, kandungan unsur kimia seperti nitrat dan pestisida, kandungan mikroorganisme, dan juga bagaimana rasa dan warna airnya.

Tidak hanya menjaga sumber air, air juga harus dijaga dari beberapa peristiwa fatal yang dapat merusak kualitasnya. Beberapa di antaranya adalah:

  • Cuaca yang buruk dapat merusak kualitas air sungai
  • Kegagalan di Penampungan air, seperti pompa yang rusak atau pemadaman listrik
  • Terdapat kebocoran dalam pipa sehingga terdapat banyak endapan yang masuk, atau pipa yang kurang terjaga

Dampak dari peristiwa ini antara lain adalah warna air yang memburuk (perlu diingat bahwa air minum harusnya tidak memiliki warna apapun), air yang memiliki rasa yang aneh, dan air yang terkontaminasi bakteri.[1]

Air leding di berbagai negara[sunting | sunting sumber]

Britania Raya[sunting | sunting sumber]

Sekitar sepertiga dari seluruh air yang ada pada Inggris dan Wales bersumber dari air bawah tanah. Sumber air lainnya datang dari waduk, danau, dan sungai.[2]

Air leding yang disebarkan ditambahkan sebuah unsur kimia bernama Klorin.[3] Klorin di sini bertugas sebagai disinfektan yang akan menjaga kebersihan air dalam perjalanannya menuju pipa suplai air publik. Praktek menambahkan Klorin ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintahan Britania raya saja, tetapi juga dilakukan oleh banyak perusahaan air di seluruh dunia. Jumlah Klorin yang ditambahkan sangatlah kecil, yaitu setara dengan 0.5 mg/l air. WHO menetapkan kandungan maksimal Klorin yang boleh ditambahkan ke dalam air sebesar 5mg/l.[4] Karena kandungan Klorin yang sangat kecil, air leding Britania masih tergolong sangat aman diminum.

Warga Britania Raya sendiri tidak disarankan untuk membeli filter air. Karena secara hukum, perusahaan penyedia air leding siap minum sudah harus memastikan bahwa air yang mereka distribusikan bersih dan aman diminum.

Indonesia[sunting | sunting sumber]

Standar sumber air di Indonesia diatur pada UU Nomor 17 Tahun 2019 pasal 24 ayat (4) tentang Sumber Daya Air.[5] Penyedia air leding di Indonesia umumnya adalah PAM. Air leding pada Indonesia sudah mengikuti standar kebersihan yang cukup baik. Namun, pemeliharaan pipa di Indonesia masih kurang terjaga, sehingga tidak disarankan untuk meminum air leding secara sembarangan. Hampir seluruh warga Indonesia merebus air leding mereka untuk dijadikan air minum. Meskipun telah direbus, meminum air leding mentah sangatlah berisiko karena masih terdapat kemungkinan mengandung endapan logam, bakteri yang bisa hidup di suhu tinggi, atau bahkan senyawa kimia yang berbahaya yang tidak bisa hilang hanya dengan direbus.[6][7][8]

Selain air dari PAM, beberapa rumah juga mendapatkan sumber air mereka dari air tanah. Air yang didapatkan langsung dari tanah sangatlah tidak disarankan untuk digunakan sebelum diuji kebersihan dan kelayakannya di laboratorium.[6][8]

Singapura[sunting | sunting sumber]

Singapura adalah salah satu negara yang memiliki air leding yang dapat diminum.[9] Sebagai sebuah negara berukuran kecil tetapi berpenduduk padat, Singapura sangat membutuhkan air leding yang bersih. Singapura memiliki sejarah ketergantungan air pada Malaysia, dan mereka telah menginvestasikan banyak uang dan sumber daya untuk mendapatkan sumber air dari tempat lain. PUB, agensi air nasional negara Singapura, adalah penyedia air utama yang diandalkan untuk mendistribusikan air bersih. Setiap hari, air diambil dari segala sumber seperti waduk, jaringan distribusi, dan lain lain untuk dites pada sebuah laboratorium milik PUB.[10][11] Meskipun kualitas air yang sudah terjamin, banyak warganya yang tetap memilih untuk membeli air botol, meskipun menggunakan air leding lebih menguntungkan secara finansial.[12]

Swiss[sunting | sunting sumber]

Swiss adalah salah satu negara yang memiliki kualitas air leding terbaik di dunia. Meskipun mayoritas air yang didapatkan berasal dari tanah, air tetap bisa dikonsumsi secara langsung tanpa diproses terlebih dahulu. Swiss juga memiliki banyak sungai dan danau yang dapat menjadi alternatif jika salah satu sumber air tercemar. Air-air ini berasal dari salju dan gletser yang meleleh, sehingga Swiss selalu memiliki air bersih pada setiap saat. Kualitas air yang baik ini juga karena pemerintahan Swiss yang melarang penggunaan fosfat di deterjen, dan hampir semua limbah dari deterjen ini diproses terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai.[13][14][15]

Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Tiongkok adalah salah satu negara yang memiliki akses ke air leding siap minum yang terbatas.[16] Penyebab utamanya adalah sumber air yang terpolusi. Sembilan puluh persen dari seluruh limbah, baik limbah rumah tangga atau limbah pabrik, dibuang secara sembarangan ke sungai tanpa diproses.[17] Selain sumber air yang buruk, pipa air yang kurang dipelihara juga menyebabkan air leding tidak jarang mengandung kadar kalsium, magnesium, dan senyawa lain yang tinggi.[17][18] Dan karena jumlah penduduk yang tinggi, banyak wilayah yang kesulitan untuk mendapatkan akses ke air bersih, terlebih lagi wilayah kecil yang jauh dari perkotaan. Untuk saat ini, kondisi suplai air di Tiongkok telah membaik. Pemerintah Tiongkok dan perusahaan swasta telah melakukan banyak upaya untuk mengurangi polusi dan membersihkan suplai air, tetapi masih banyak sumber yang menyarankan untuk menggunakan air dalam kemasan.[17][19]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Quality". discoverwater.co.uk. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  2. ^ "Water and Health". water.org.uk. 
  3. ^ "The Truth About What's Really in the UK's Water Supply". aquacure.co.uk. Diakses tanggal 24 Januari 2022. 
  4. ^ "Chlorine" (PDF). cdn.dwi.gov.uk. hlm. 1-2. Diakses tanggal 24 Januari 2022. 
  5. ^ "Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2019 Sumber Daya Air". peraturan.bpk.go.id. hlm. 21; 67. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  6. ^ a b Anindyaputri, Irene. "Mana yang Lebih Sehat: Minum Air Galon atau Air Rebusan dari Keran?". hellosehat.com. Diakses tanggal 21 Januari 2022.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama ":2" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  7. ^ "Ternyata, Ini Alasan Air Pipa Tak Bisa Langsung Diminum". liputan6. 22 Juli 2020. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  8. ^ a b "Bolehkah Meminum Air Keran yang Dimasak?". gojek.com. 26 Juli 2018. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  9. ^ Magrath, Andrea (13 Oktober 2014). "Keep your mouth closed in the shower and be picky when you brush your teeth: Infographic reveals the countries around the world that have water safe to drink". Dailymail. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  10. ^ "Can I drink the tap water in Singapore?". appwater.co. 2 Oktober 2019. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  11. ^ "Water Quality". pub.gov.sg. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  12. ^ "Is Bottled Water Really Better?". psd.gov.sg. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  13. ^ "Drinking water". myswitzerland.com. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  14. ^ Hengartner, Michael (30 Juli 2020). "That's why our water is so clean". sciena.ch. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  15. ^ "Lakes and Rivers". eda.admin.ch. 19 Februari 2021. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  16. ^ Ahmad, Sidrah (19 Februari 2018). "How tap water varies across the world". waterlogicaustralia.com.au. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  17. ^ a b c "WATER POLLUTION IN CHINA". factsanddetails.com. April 2014. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  18. ^ O'Malley, Tom (13 Februari 2014). "Can I Drink The Water In Beijing?". bespoketravelcompany.com. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  19. ^ "Is water safe to drink in China?". intrepidtravel.com. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 
  • ASTM B75-02 Specification for Seamless Copper Tube
  • ASTM B42-02e1 Standard Specification for Seamless Copper Pipe, Standard Sizes
  • ASTM B88-03 Standard Specification for Seamless Copper Water Tube
  • AWWA Research Foundation, Residential End Uses of Water, ISBN 1-58321-016-4, 1999

Pranala luar[sunting | sunting sumber]