Ahmad Syahiduddin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Ahmad Syahiduddin
Ahmad Syahiduddin.jpg
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Agama Islam

Drs. K.H. Ahmad Syahiduddin (lahir 15 Maret 1956; umur 61 tahun) adalah pemimpin dan pengasuh Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Gintung, Jayanti, Tangerang. Ia merupakan putra dari H. Qasad Mansyur bin Markai Mansyur dan Hj. Hindun Masthufah binti Rubama, juga adik dari pendiri pesantren, Drs. K.H. Ahmad Rifa'i Arief (Alm).

Masa kecil[sunting | sunting sumber]

Dilahirkan dengan nama Ahmad Syahiduddin, pada tanggal 15 Maret 1956 di Kampung Gintung, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Ia adalah anak ketujuh dari 12 bersaudara. Ayahnya bernama H. Qasad Mansyur dan ibunya bernama Hj. Hindun Mastufah. Ayah ia merupakan pendiri Madrasah Ibtidaiyah Masyariqul Anwar (MMA) yang terletak di kampung Gintung, Balaraja (sekarang Jayanti) Tangerang. Nama panggilan pada masa kecilnya adalah Endin sehingga yang tercatat dalam identitas formal seperti KTP atau ijazah adalah Endin Syahiduddin. Nama Ahmad Syahiduddin kembali digunakan ketika ia menggantikan kakaknya, K.H. Ahmad Rifa’i Arief (alm.) sebagai Pemimpin dan Pengasuh Pondok Pesantren Daar el-Qolam pada 17 Juni 1997.

Masa kecilnya bercita-cita menjadi seorang insinyur. Bakat itu terlihat pada masa kecilnya yang senang membuat mobil-mobilan sendiri yang ia buat dari kayu atau bambu. Ia memulai pendidikan agamanya langsung kepada ayahnya, yang mengajarkannya membaca al-Quran. Kemudian melanjutkan ke SD di desa Pangkat pada tahun 1962. Untuk mewujudkan cita-citanya ia menggemari dengan serius mata pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam.

Pada tahun 1968, ketika itu ia baru duduk di kelas 6 SD, ayahnya meminta Rifa'i Arief- yang baru selesai belajar dan mengajar di Pondok Modren Gontor—membuka pondok pesantren. Tujuannya adalah memanfaatkan 1 hektare tanah wakaf dari neneknya, Hj. Pengki, dan supaya murid-murid Madrasah Ibtidaiyah Masyariqul Anwar dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Ayahnya menginginkan berdirinya pondok pesantren modern seperti Gontor. Kemudian pada tanggal 20 Januari 1968 resmi didirikan Madrasatul Mu’allimin al-Islamiyah Pondok Pesantren Daar el-Qolam.

Pada tahun pertama untuk mengawali proses belajar mengajar, Rifa'i mengajak saudara-saudaranya untuk belajar. Syahiduddin yang baru duduk di kelas 6 SD juga diperintahkan untuk menjadi santri. Saat itu jumlah santrinya hanyalah 22 orang. Tempat yang digunakan untuk ruang belajar adalah bekas dapur tua di samping kandang kerbau. Perintah ayah dan kakaknya itu ia turuti untuk belajar di pesantren yang tentunya lebih banyak mengajarkan materi agama dibandingkan materi yang lain. Padahal ia ingin masuk sekolah teknik kemudian Sekolah Teknik Menengah (STM), karena cita-citanya yang ingin menjadi insinyur. Ia menerima pilihan orang tuanya, dengan harapan setelah selesai belajar di pesantren dapat diizinkan untuk kuliah di fakultas teknik.

Masa Pendidikan di Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Tetapi apa yang terjadi pada tahun 1974 ketika ia selesai belajar di pesantren. Orang tuanya yang didukung oleh kakaknya, Ahmad Rifa’i Arief, menolak keinginannya, bahkan memaksanya untuk masuk IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama kakak perempuannya, Enah Huwaenah. Perasaan kecewa dan sedih menggelayuti perasaannya kala itu. Betapa tidak, ia tidak hanya dipaksa masuk IAIN tetapi ia juga perintahkan untuk duduk di Fakultas Syariah. Sementara Enah Huwaenah, di fakultas Tarbiah, Jurusan Bahasa Arab.

Pada tahun 1974 dengan membawa selembar ijazah pesantren yang ditulis tangan oleh Kyai Rifa’i. Pasalnya, Daar el-Qolam belum terdaftar sebagai lembaga pendidikan atau belum menginduk kepada lembaga lain sehingga belum bisa mendapatkan ijazah resmi. Dan Syahiduddin adalah alumni pertama pesantren itu. Bersama kakaknya Enah Huwaenah, ia pergi mendaftarkan diri di IAIN itu. Perasaan sedih dan kecewa masih tersimpan sesampainya di Ciputat.

Di bagian pendaftaran ijazah yang dibawanya tidak diterima bahkan tidak diakui. Bertambah perasaan rasa kesal dan kecewanya. Sebab ia merasa sudah belajar mati-matian selama 6 tahun tetapi setelah selesai tidak diakui. Tetapi pada saat yang bersamaan ada pula perasaan senang yakni agar ia tidak jadi masuk IAIN.

Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada ayah dan kakaknya. Kemudian Kyai Rifa'i Arief meminta bantuan Abdurahman Partosantono yang saat itu menjabat sebagai Pembantu Rektor III. Melalui ia, Syahidudin dan Enah dites dan akhirnya diterima di Jurusan Qadha dan Enah di Jurusan Bahasa Arab.

Di Ciputat ia tinggal bersama Enah Huwaenah di rumah Pak Syahroni kerabat dari ibunya di kampung Situ Ukur Ciputat Hari demi hari ia jalani belajar di Fakultas Syariah, meskipun jiwa insinyurnya masih terpendam. Untuk menghilangkannya ia mencoba untuk mengisi waktu luang dengan menyibukkan diri ikut organisasi mahasiswa, ia memilih Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan pernah ikut training HMI. Tetapi keinginannya untuk menjadi insinyur dan mendalami ilmu-ilmu teknik sipil ataupun mesin belum juga hilang. Apalagi ditambah ketertarikannya menyaksikan pembangunan Masjid Istiqlal, seringnya ia mengamati pembangunan masjid itu, statusnya sebagai anggota HMI ia tinggalkan sampai selesai sarjana muda.

Setelah mendapat sarjana muda (BA) ia memilih pulang ke kampungnya. Ia merasa garis hidupnya adalah mengabdi kepada orang tua dan menaati segala yang diinginkan orang tuanya. Pada tahun 1978 ia aktif membantu pesantren orang tua dan kakaknya itu. Selain mengajar ia membantu kakaknya membangun fasilitas pesantren seperti ruang belajar, asrama santri, masjid dan lain-lain. Keinginannya menjadi insinyur teknik sipil sedikit terobati. Terkadang ia sendiri yang mengusulkan model atau bentuk bangunan pesantren kepada kakaknya dari tahap awal sampai finishing-nya. Pengalamannya itulah yang membuatnya paham seluk-beluk bangunan atau arsitektur.

Selain membuat bangunan, ia pun menguasai seluk beluk listrik, elektronik dan mesin. Menurutnya, sang kakak memahami betul bakat teknik yang terpendam pada adiknya itu. Sebab itulah agar bakat itu tidak tumpul, maka urusan listrik dan elektronik pesantren diserahkan pengelolaannya kepada Syahiduddin. Untuk urusan mesin, kiai yang satu ini juga paham betul. Dari mesin motor, mobil, mesin Diesel sampai alat-alat berat. Jika ada mesin-mesin yang rusak semaksimal mungkin ia perbaiki sendiri. Konon ia berangan-angan ingin membuat mesin yang akan dinamakan "Syahid".

Namun, ilmunya dari pesantren dan fakultas Syariah tidak serta-merta ia tinggalkan. Selain mengurus persoalan bangunan, listrik dan sebagainya, ia juga mengajar. Mata pelajaran yang ia pegang adalah fiqih, ushul fiqh, tafsir ayat ahkam dan faraidl (fiqh waris) di Pondok Pesantren Daar el-Qolam.

Setelah selesai dari sarjana muda, ia menyelesaikan sarjana penuh (Drs). Sebab itulah sambil membantu mengajar dan membangun pesantren ia menyelesaikan sarjana lengkapnya dengan membuat skripsi berjudul "Pengaruh Perkembangan Teknologi Perhubungan Terhadap Pelaksanaan Salat dalam Shafar". Ia berhasil menggondol gelar sarjana pada tahun 1980.

Pengabdian kepada Pesantren[sunting | sunting sumber]

Setelah menyelesaikan studi strata 1-nya ia memilih untuk pulang kampung, berkiprah di tanah kelahirannya sendiri. Berbeda dengan teman-temannya baik yang sekelas, maupun seniornya yang terus mengadu nasib di Jakarta. Beberapa teman-temannya sudah banyak yang jadi orang terkenal seperti Amin Suma, Didin Hafidudin, Amin Haedar dan banyak lagi yang lainnya.

Keputusannya untuk mengabdi di kampungnya lagi-lagi didasari oleh ketaatannya kepada orang tua, kakak sekaligus gurunya. Ibu dan kakaknya tidak suka anak-anaknya jadi Pegawai Negeri. Mereka lebih suka anak-anaknya berkiprah di kampung, berjuang membangun pesantren, mendidik generasi muda dari rumahnya sendiri.

Sejak tahun 1980 ia aktif berkiprah di Pondok Pesantren Daar el-Qolam. Beberapa tugas yang pernah ia emban adalah Direktur Pembangunan dan Tata Laksana Rumah Tangga Direktur Bidang Pengasuhan Santri Putra, Kepala Madrasah Tsanawiyah Daar el-Qolam, dan Direktur Pendidikan dan Pengajaran. Dari pengalamannya itulah ia memahami betul seluk-beluk Pesantren Daar el-Qolam.

Dalam kehidupan ini seseorang pasti memiliki figur teladan. Begitu pun Syahidudin yang sangat meneladani ayah, kakaknya (Ahmad Rifa’i Arief), dan guru kakaknya (K.H. Imam Zarkasyi). Dalam aspek yang lain, seperti yang telah disebutkan di atas, ia sangat menyukai kepribadian B. J. Habibie, sebagai sosok muslim yang taat plus teknokrat ulung. Menurutnya Habibie adalah sosok muslim yang mempunyai keseimbangan iman takwa dan iptek yang cukup kuat.

Pada tahun 1983 Syahiduddin melepas masa lajangnya. Ia menyunting santrinya sendiri, Ade Zamzami yang kemudian dinikahinya pada tanggal 10 September 1983. Setahun kemudian ia mendapat seorang putra yang bernama Ahmad Zahid Purna Wibawa yang lahir pada tanggal 19 September 1984. Putra semata wayang itu kini sudah bergelar sarjana teknik dari sebuah Universitas swasta di bilangan Jakarta.

Perjalanan menuju kepemimpinan[sunting | sunting sumber]

Ahmad Syahiduddin secara tidak langsung disiapkan oleh kakaknya memimpin pesantren. Alasan mungkin karena ia dalam peringkat keluarga merupakan adik laki-laki Ahmad Rifa’i Arief yang pertama. Alasan lain mungkin karena karakter dan watak Syahiduddin yang selalu punya keinginan kuat, tegas, cerdas dan pandai beretorika. Sekitar tahun 1995-1997 setiap pagi ba'da Shubuh, kakaknya selalu datang ke rumahnya. Membicarakan banyak hal tentang perkembangan Daar el-Qolam. Tidak jarang ia menjadi sopir kakaknya atau menggantikan tugas-tugas kakaknya itu baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren. Seperti pada tahun 1984 ia diutus oleh kakaknya mengikuti penelitian dan study banding para ulama dan pimpinan pondok pesantren se-Indonesia ke Sarvodaya Institute yaitu Lembaga Pendidikan Agama Budha untuk para biksu di Srilanka. Kemudian dilanjutkan ke Pusat Aliran Darul Arqam di Malaysia dan melihat perkembangan Islam dan masjid di Singapura. Kegiatan ini disponsori oleh Departemen Agama RI.

Selain mengajar tugas utamanya ialah membangun fasilitas pesantren. Menggambar, mengawasi tukang dan sebagainya. Mayoritas bangunan yang ada di Daar el-Qolam adalah hasil kerjanya. Begitu pun ketika K.H. Rifai membangun pondok pesantren La Tansa di Lebak, Banten, pembangunan fasilitas di La Tansa diserahkan kepada Syahiduddin. Setiap hari usai salat Shubuh ia berangkat ke La Tansa yang jaraknya kurang lebih 50 Km dari Gintung. Pekerjaannya itu dilakukan selama 3 tahun pulang pergi antara Gintung dan Cipanas, Rangkasbitung. Begitu pun ketika sang kakak ingin membangun pesantren wisata di Labuan. Ia juga yang ditugaskan membangun pesantren itu. Selama 1,5 tahun ia juga bolak-balik Gintung-Labuan. Itu semua dilakukan tidak lain hanya karena ingin patuh dan taat kepada kakak yang juga gurunya.

Ketika La Tansa selesai dan resmi dibuka pada tahun 1992 Kyai Rifa’i tidak menunjuk Syahiuddin untuk tinggal dan memimpin di La Tansa. Justru sang Kakak menunjuk adiknya yang lain Odhy Rosyhuddin sebagai pimpinan di sana. Bagi Syahiduddin ia tidak pernah terdetik dalam hatinya untuk mengharap jabatan. Karena ia merasa tidak pantas memimpin. Konon katanya ia berwatak keras dan tidak sabar.