Ahmad Najamuddin Prabu Anom

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom merupakan Sultan terakhir Kesultanan Palembang Darussalam. Ia dilahirkan di Palembang pada hari kamis tanggal 14 Syafar 1211 H (18 Agustus 1796 M). Ayahnya adalah Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Adipati atau dikenal juga dengan nama Susuhunan Husin Diauddin, sedangkan ibunya bernama Ratu Nakiah binti Pangeran Suryo Wikrama Dawau bin Pangeran Suryo Dilaga bin Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikrama.

Silsilah[sunting | sunting sumber]

Nasab lengkapnya adalah Sultan Ahmad Najamuddin (iv) Prabu Anom bin Sultan Ahmad Najamuddin (ii) Pangeran Adipati (Susuhunan Husin Diauddin) bin Sultan Muhammad Bahauddin bin Sultan Ahmad Najamuddin (i) Adi Kusuma bin Sultan Mahmud Badaruddin (i) Jaya Wikrama bin Sultan Muhammad Mansyur Jaya ing Laga bin Sultan Abdurrahman Khalifatul Mukminin Sayidul Imam bin Pangeran Seda ing Pasarean bin Pangeran Manconegara Caribon.

Berdasarkan catatan Tuan Guru Jalaluddin bil Faqih (yang hidup dimasa Sultan Muhammad Mansur), Nasab Pangeran Manconegara sebagai berikut:

Pangeran Manconegara Caribon bin Maulana Abdullah Adipati Sumedang Negara bin Maulana Ali Mahmud Nuruddin Pangeran Wiro Kusumo (Sunan Dalem Gresik) bin Maulana Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin Maulana Ibrahim Zain al Akbar bin Maulana Husin Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik bin ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-’Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Muhammad S.A.W..

Masa Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Sultan Ahmad Najamuddin (iv) Prabu Anom, diangkat menjadi Sultan Palembang Darussalam menggantikan saudara sepupunya Sultan Ahmad Najamuddin (iii) Pangeran Ratu bin Sultan Mahmud Badaruddin (ii) Pangeran Ratu bin Sultan Muhammad Bahauddin.

Dia mulai memerintah pada tanggal 16 Juli 1821. Tidak lama memerintah, Sultan berselisih dengan Kolonial Belanda. Pada tanggal 21 November 1824, Sultan dibantu keluarga, alim-ulama dan rakyat, menyerbu garnisun Belanda di Kuto Besak. Selepas melakukan penyerangan, Sultan beserta pengikutnya hijrah ke daerah Ogan.

Beberapa waktu kemudian, tersiar khabar, Sultan berhasil ditangkap oleh Belanda, dan pada tahun 1825, Sang Sultan dibawa ke Batavia, dan setelah itu dipindahkan ke wilayah pedalaman daerah Menado (Sulawesi Utara).

Legenda Sultan Amuk[sunting | sunting sumber]

Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom, dikenal Belanda sebagai seorang yang pemberani dan sulit untuk dikendalikan, hal inilah yang membuatnya digelari Sultan Amuk oleh Belanda.

Di daerah ulu Sungai Ogan, ada yang meyakini Sultan Amuk merupakan leluhur masyarakat setempat. Menurut Legenda, Sultan Amuk memiliki keturunan bernama Ki Haji Rahim, yang dikenal sebagai ulama di daerah itu.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]