Agus Sutondo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
H. Agus Sutondo
Lahir 11 Agustus 1967 (umur 50)
Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Pekerjaan Wiraswasta
Agama Islam
Pasangan Hj. Lina Marlina, SE
Anak Hutari Wirandini Sutondo (1996)
Duma Marhaeni Sutondo (1999)
Nabil Naufal Sutondo (2002)
Orang tua Sudarsono (ayah)
Zubaenah (ibu)
Situs web Agus Sutondo Center
Agus Sutondo (celana pendek) beserta temannya di Pasar Komoro, Dili, Timor Timur tahun 1989

H. Agus Sutondo (lahir di Jakarta, 11 Agustus 1967; umur 50 tahun) dikenal dengan panggilan bung agus adalah seorang politikus dan wiraswastawan di Kota Depok.[1]

Saat menjadi anggota DPRD Kota Depok periode 1999-2004 pernah dipercaya sebagai Ketua Panitia Khusus RTRW Kota Depok 2000-2010 serta Panitia Khusus penetapan Hari Jadi Kota Depok.[2]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Agus Sutondo mulai menempuh pendidikan di Sekolah Dasar di Jakarta (1980), lalu melanjutkan ke SMP Negeri 113 Jakarta (1983) dan terakhir, di SMA Negeri 20 Jakarta (1986). Meski tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, namun dia sering menjadi tempat curhat bagi teman-teman seperjuangannya yang berlatar belakang pendidikan tinggi. Jabatan sekretaris selalu melekat dalam setiap organisasi maupun berbagai kegiatan lain yang diikutinya.[3][4]

Kehidupan pribadi[sunting | sunting sumber]

Sebelum berkecimpung ke dunia politik masa remaja Agus Sutondo banyak dihabiskan berkelana keliling Indonesia. Mulai dari Pulau Bali, Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, NTT, Timor Timur, Tana Toraja, Pulau Batam, Tanjung Pinang, Tanjung Balai Karimun, Sulawesi Selatan dan seluruh wilayah di Pulau Sumatera kecuali Propinsi Aceh. Dari semua daerah yang dikunjunginya ternyata bumi Lorosae Timor Timur mempunyai arti yang sangat besar dalam perjalanan hidupnya.[5]

Disanalah Agus Sutondo menjadi guru bagi rakyat Timor Timur yang ingin memahami apa itu Indonesia yang sebenarnya. Guru dalam hal ini adalah memberikan pemahaman terhadap rakyat Timor Timur tentang jiwa nasionalisme yang harus dibangun agar mereka paham bahwa rakyat Timor Timur adalah bagian dari anak bangsa, negeri yang besar yakni Indonesia.

Kegiatan sosial dan politik[sunting | sunting sumber]

Agus Sutondo (ketua pansus), Mansuria (wakil ketua) dan Istichori (sekretaris) memimpin rapat Tim Panitia Khusus RTRW Kota Depok 2000-2010 bersama beberapa dinas di lingkungan Pemerintah Kota Depok
Agus Sutondo (ketua Komisi D) foto bersama Anggota Komisi D DPRD Kota Depok 1999-2004

Setelah berkelana keliling Nusantara bahkan pernah tinggal di Singapura dan Malaysia, Agus Sutondo kembali ke Kota Depok. Pengalaman keliling Indonesia membuatnya peduli terhadap masalah-masalah sosial di masyarakat dan membuatnya aktif di berbagai kegiatan sosial hingga terjun secara total menjadi anggota legislatif di DPRD Kota Depok.[6][7]

Sebagai Anggota Legislatif, Agus juga pernah dipercaya sebagai tim pencari fakta pembakaran tempat ibadah di Kota Depok. Begitu juga perannya terhadap keberadaan jalan tembus proklamasi yang mengalami hambatan karena terhalang keberadaan tembok Perumahan Pesona Depok. Istilah Tembok Berlin begitu kental waktu itu, maka atas upaya yang dilakukannya, tembok berlin di wilayah Kecamatan Sukmajaya, Depok akhirnya di bongkar, sehingga ada akses jalan bagi warga Depok Dua Tengah dan Depok Dua Timur untuk menuju jalan Margonda tanpa melewati jalan Tole Iskandar dan jalan Siliwangi.[8]

Bukan hanya membongkar tembok berlin, sebagai ketua Komisi bidang pembangunan dan ketua panitia khusus Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok 2000-2010, Agus Sutondo mencoba melakukan koordinasi dengan dinas terkait agar dapat direncanakan pembangunan akses jalan untuk mengatasi kemacetan di jalan Tole Iskandar maupun jalan Siliwangi, serta rencana pengembangan jalan meliputi pembangunan ruas Jalan Tol Cinere-Jagorawi dan Depok-Antasari.[9]

Peruntukan akses jalan dan rencana ruas jalan tol inilah yang direncanakan dalam perencanaan tata ruang wilayah Kota Depok. Melalui perencanaan RTRW Kota Depok 2000-2010, akses Jalan Juanda Kota Depok dan jalan tembus Sentosa Raya dapat terealisir, sehingga bermanfaat dan dapat mengurangi kemacetan di jalan tole Iskandar dan jalan Siliwangi. Begitu juga terwujudnya ruas Jalan Tol Cinere-Jagorawi dan rencana ruas jalan tol Depok-Antasari yang nantinya akan menghubungkan wilayah Jakarta, Depok dan Bogor.[10]

Kemacetan juga terjadi di jalan Arif Rahman Hakim karena ruas jalan tersebut sangat padat dan dilalui oleh rel kereta api doble track yang melintas setiap 5-10 menit sekali. Maka melalui RTRW Kota Depok 2000-2010, direncanakanlah pembangunan fly over untuk mengatasi kemacetan jalan di wilayah tersebut.[11]

Setelah RTRW Kota Depok 2000-2010 disahkan, akhirnya pembangunan fly over di Jalan Arif Rahman Hakim Kota Depok dapat terwujud. Saat ini keberadaan fly over tersebut, manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat luas.[12]

Perjalanan hidup[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Alat-Alat dan Perlengkapan Bisnis Linkedin, Tiga Bidadari
  2. ^ Dibalik Penetapan 27 April Sebagai Hari Jadi Kota Depok. depoklik.com. Diakses 27 April 2014
  3. ^ Penghargaan Tidak Berkorelasi Dengan Prestasi depoktren.com,25 Februari 2014
  4. ^ 40 persen PNS Tidak Netral rakyat merdeka online, 7 September 2010
  5. ^ Kantor Radar Depok Diserang Komisi Kepolisian Indonesia, diakses 18 Oktober 2010
  6. ^ Walikota Depok Dengarkan Suara Kami depoktren.com, 1 Februari 2014
  7. ^ Buka Puasa Bersama Republik Facebooker depokinteraktif.com, 2 Agustus 2013
  8. ^ Atasi Kemacetan, Sebaiknya Jalan Tembus Pesona Dibuka, Lebih Lama pelita.or.id
  9. ^ Menkimpraswil Resmikan Jalan Ir.H.Juanda di Kota Depok pu.go.id, 3 Desember 2003
  10. ^ Jalan Tol Depok-Antasari Segera Dibangun metropolitan.inilah.com, Diakses 8 mei 2014
  11. ^ Perda Nomor 12 Tahun 2001 tentang RTRW Kota Depok 2000-2010 bphn.go.id, Tahun 2001
  12. ^ Pembangunan Fly Over Arif Rahman Hakim Akan Dimulai Tahun 2005 Arsip.Gatra.com, 14 Juli 2005

Pranala luar[sunting | sunting sumber]