Adipati Soero Adinegoro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Adipati Soero Adinegoro
Ronggo dari Besuki
Masa jabatan
1772–1776
Daerah pemilihan Besuki
Tumanggung dari Bangil
Masa jabatan
1776–1809
Daerah pemilihan Bangil
Bupati Malang, Sidayu & Tuban
Masa jabatan
1809–1818
Daerah pemilihan Malang, Sidayu & Tuban
Informasi pribadi
Lahir 1752 (1752)
Jawa Timur
Meninggal dunia 1833
Jawa Timur
Hubungan

Han Siong Kong (kakek)
Kyai Tumanggung Soero Adhi Negoro (cucu)
Raden Soero Adiwikromo (saudara laki-laki)
Pakunataningrat I, Sultan Sumenep (saudara ipar)
Han Bwee Kong, Kapitan Cina (paman)
Han Chan Piet, Mayor Cina (sepupu)

Han Kik Ko, Mayor Cina (sepupu)
Anak Raden Panderman
Bapak Ngabehi Soero Pernollo
Tempat tinggal Jawa Timur
Pekerjaan Birokrat pemerintahan, priyayi

Adipati Soero Adinegoro (1752 – 1833), juga dieja Adipati Suroadinegoro, nama lahir Han Sam Kong (Tradisional: 韓三江), dan kadang-kala dikenal Baba Sam, adalah seorang bangsawan dan pejabat pemerintah, terkenal semasa hidupnya karena tata kelola pemerintahan wilayahnya yang baik.[1][2][3][4]

Latar belakang keluarga[sunting | sunting sumber]

Lahir pada tahun 1752 sebagai putra dari Ngabehi Soero Pernollo (1720 – 1776), pendiri aliran Muslim dari keluarga Han dari Lasem, dan sebagai cucu dari keturunan Tionghoa Han Siong Kong (1672 – 1743).[5] Ayahnya, Ngabehi Soero Pernollo, mengabdi pada Perusahaan Hindia Timur dalam jabatan sebelum diangkat sebagai politiehoofd, atau kepala polisi, dari Besuki dan Panarukan pada 1764.[5] Salah satu dari saudara perempuannya menikah dengan Pakunataningrat I, Sultan dari Sumenep (memerintah 1812 - 1854).[1] Anggota penting keluarganya termasuk adik laki-lakinya, Raden Soero Adiwikromo; pamannya, Han Bwee Kong, Kapitan Cina (1727 – 1778); dan sepupunya, Han Chan Piet, Mayor Cina (1759 – 1827), dan Han Kik Ko, Mayor Cina (1766 – 1813).[2][3][5] Keluarganya memainkan peran penting dalam konsolidasi pemerintahan Belanda dan administrasi pemerintahan Jawa Timur selanjutnya.[5][6]

Karier pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Karier Baba Sam dalam administrasi pemerintahan kolonial mulai dengan pengangkatannya oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda pada 1772 sebagai Ronggo, atau kepala kabupaten, dari Besuki dengan nama Jawa Soemodiwirjo.[2][6] Dia memperoleh jabatan ini berkat intervensi pamannya yang berpengaruh, Han Bwee Kong, Kapitan Cina dari Surabaya dan pachter, atau pemilik lahan, dari kabupaten Besuki.[2] Pada 1776, Baba Sam dipromosikan ke jabatan yang lebih tinggi sebagai Tumanggung Bangil dengan gelar bangsawan berturut-turut Ngabehi Soero Widjojo (1776 – 1788) dan Tumanggung Soero Adinegoro (1788 – 1808).[3] Menurut Jacques Julien de Labillardière dan Ch. F. Tombe, penjelajah Perancis selama masa peralihan pemerintahan (interegnum) di Jawa (1806 – 1815), Tumanggung tidak hanya fasih berbahasa Belanda, namun juga pengagum berat Napoleon Bonaparte dan kebijakan administratif yang terakhir di Eropa.[1]

Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808 – 1811) selama Interegnum, berkunjung ke kabupaten Tumanggung di Bangil pada tahun 1808.[1] Terkesan dengan tata kelola pemerintahan kabupaten yang baik, Daendels kemudian pada tahun yang sama mengangkat Tumanggung sebagai seorang Ridder, atau Ksatria, dalam Order of Holland, yang baru didirikan pada 1807 oleh Louis Bonaparte, Raja Hollandia.[3]

Setahun kemudian, pada tahun 1809, Daendels menganugerahkan kepada Tumanggung kebangsawaan Adipati , gelar tertinggi dalam priyayi, atau aristokrasi Jawa.[5] Adipati Soero Adinegoro juga diangkat untuk jabatan Bupati Malang.[5][7] Kemudian, kabupaten Sidayu dan Tuban ditambahkan pada yurisdiksinya yang kini cukup luas.[5][7] Banyak putranya juga memegang jabatan pemerintah dalam administrasi pemerintahan kolonial.[1][5]

Namun, pada 1818, Adipati dan para putranya mendadak kehilangan posisi pemerintahan mereka.[1] Diperkirakan bahwa pemerintah Belanda merasa terancam oleh kekuatan terorganisasi keluarga Han dari Lasem, dan ingin menegaskan kembali kekuasaan atas Tapal Kuda, Jawa Timur.[1]

Adipati Soero Adinegoro meninggal pada 1833.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h Salmon, Claudine (1991). "The Han Family of East Java. Entrepreneurship and Politics (18th-19th Centuries)". Archipel. 41 (1): 53–87. Diakses tanggal 22 February 2016. 
  2. ^ a b c d Lombard, Denys; Salmon, Claudine (1994). "Islam and Chineseness". Indonesia. 57: 115–132. Diakses tanggal 22 February 2016. 
  3. ^ a b c d Han, Bing Siong (2001). "A Short Note on a Few Uncertain Links in the Han Lineage". Archipel. 62 (1): 53–64. Diakses tanggal 22 February 2016. 
  4. ^ "Raden Adipati Suroadinegoro/Babah Sam". id.rodovid.org. Diakses tanggal 2 February 2017. 
  5. ^ a b c d e f g h Salmon, Claudine (1997). "La communauté chinoise de Surabaya. Essai d'histoire, des origines à la crise de 1930". Archipel. 53 (1): 121–206. Diakses tanggal 22 February 2016. 
  6. ^ a b Margana, Sri (2007). Java's last frontier : the struggle for hegemony of Blambangan, c. 1763-1813. Leiden: TANAP. hlm. 210–236. Diakses tanggal 22 February 2016. 
  7. ^ a b Zhuang, Wubin (2011). Chinese Muslims in Indonesia. Singapore: Select Publishing. ISBN 9814022683. Diakses tanggal 22 February 2016.