Addatuang Sidenreng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Addatuang Sidenreng merupakan kerajaan yang terletak di Celebes atau tepatnya di Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.

Kerajaan ini merupakan Cikal bakal dari Kabupaten Sidenreng Rappang, yang dulunya tergabung dalam Konfederasi Limae Ajatappareng sebelum resmi bergabung ke NKRI. Tahun 1960 Mengawali pengangkatan Bupati Pertama Sidrap.

Etnik asli di Sidenreng adalah Bugis sehingga corak budaya yang dominan yaitu budaya Bugis. Sidenreng memiliki beberapa ekspresi kebudayaan yang khas diantaranya Pakkacaping, Tari Padduppa, Padendang, Maccera Tappareng, Tudang Sipulung (Musyawarah untuk mufakat),

Sidenreng Rappang memiliki beberapa eksperesi kebudayaan yang merupakan hasil akulturasi dengan berbagai kebudayaan yang lain diantaranya: perpaduan Bugis-Arab dalam bentuk music dan tari Jeppeng, mappanre temme (Khatam Qur’an).

MANUSKRIP

Manuskrip yang terdapat di Sidenreng Rappang adalah satu bilah bambu kering ukuran panjang 40 cm dan Naskah Kuno Khotbah pertama di Mushallah Langgara Tungga.

TRADISI LISAN

Tradisi lisan yang terdapat di Sidenreng Rappang diantaranya adalah Asal Mula Nama Sidenreng, Tau Accana SIdenreng, Pejuang Usman Balo, La Monri Putra Bungsu Bulucenrana, Nenek Mallomo, La Welle, Nenek Pakande, Meongpolo Bolongngede dan Datu Ase, serta La Buta dan La Peso.

RITUS

Ritus yang dilaksanakan oleh masyarakat di Sidenreng Rappang diantaranya adalah Mappaci, dan Mappatettong bola (mendirikan rumah panggung)

PENGETAHUAN TRADISIONAL

Pengetahuan tradisional masyarakat Sidenreng Rappang diantaranya Ilmu-Ilmu Pertanian lokal, yang berkaitan dengan obat-obatan, Pandai besi, Pandai Rumah, Pananrang, dan lain-lain

TEKNOLOGI TRADISIONAL

Teknologi tradisional yang terdapat di Sidenreng Rappang diantaranya adalah pembuatan alat rumah tangga, pembuatan Kecapi Bugis Sidrap, Kerajinan Batu Ukir, dan lain-lain

SENI

Kesenian masyarakat di Sidenreng Rappang diantaranya adalah Cule Cule To Riolo, Manu Gagak (Ayam Ketawa), Paduppa, Padendang, Bosara, Massempe, pettenung, Pakkacaping Sarapo, Cule-cule Pakkacaping, Meong Palo Karelle, Osong Lailainna Sidenreng, dan lain-lain

BAHASA

Bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Sidenreng Rappang adalah Bahasa Bugis.

PERMAINAN RAKYAT

Permainan rakyat masyarakat di Sidenreng Rappang diantaranya adalah Mallebba, Maggoli, Maggetta, Makkenja, Majjalengka, Massanto, Maggalanto, Mappolo Becceng, Massempek, Mammencak, Mappadendang, Makkurung Manuk, Mallanca, Maccukke/ Maccengke, Maggasing, Mabbong, Makkalajang, dan lain-lain

OLAHRAGA TRADISONAL

Olahraga tradisional masyarakat di Sidenreng Rappang diantaranya adalah Terompah Panjang, Patok Lele/ Maccukke, Egrang/Malonggak, Gasing/Maggasing dan lain-lain

CAGAR BUDAYA

Cagar budaya yang terdapat di Sidenreng Rappang diantaranya adalah Struktur Makam Syeh Keramat Padomai, Struktur Makam Nenek Petta Bolong Aje, Makam Puatta Punri Mojong, Langgara Tungga, Makam Korban 40.000 Jiwa Kulo, Makam Nene Mallomo, Makam Petta Soppo Batu, Bangunan Kolonial Belanda, Makam Andi Pajala Kitta, dan lain-lain. [1]

Addituang Sidenreng memiliki sejarah panjang sebagai kerajaan Bugis yang cukup disegani di Sulawesi Selatan disamping Kerajaan Luwu, Bone, Gowa, Soppeng, dan Wajo. Berbagai literatur yang ada menyebutkan, eksitensi Kerajaan ini turut memberi warna dalam percaturan politik dan ekonomi kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan.

Sejarah dan Asal Usul[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Sidenreng yang berpusat di sekitar danau besar (Tappareng karaja) menjadi salah satu negeri yang ramai dan terkenal hingga ke benua lain. Ini sesuai dengan catatan seorang Portugis pada abad ke-16 M yang menuliskan Sidereng sebagai “...Sebuah kota besar dan terkenal, berpusat di sebuah danau yang dapat dilayari, dan dikelilingi tempat-tempat pemukiman.” (Tiele 1880, IV;413).[2]

Manuel Pinto, seorang berkebangsaan Portugis lainnya malah sempat menetap selama delapan bulan di Kerajaan Sidenreng dan merekam suasana tahun 1548 M. Pinto menggambarkan Sidenreng sebagai sebuah negeri yang ramai dengan penduduk sekitar 300.000 orang. Ada yang berpendapat bahwa asumsi penduduk di tahun 1548 M yang disebut Pinto terlalu besar. Namun dengan kebesaran dan kejayaan Sidenreng di masa itu, tak menutup kemungkinan bahwa Sidereng mempunyai wilayah yang jauh lebih luas daripada Kabupaten Sidenreng Rappang atau wilayah Ajatappareng sekarang ini.

Ia juga menceritakan aktivitas perdagangan di kerajaan ini yang dikunjungi pedangang dari berbagai belahan dunia termasuk Portugis dengan muggunakan jalur laut menuju Tappareng Karaja. Pinto menulis, “Sebuah fusta besar (kapal layar portugis yang panjang dan dilengkapi deretan dayung di kedua sisinya) dapat berlayar dari laut munuju Sidenreng.” (Wicki, Documents Indica, II: 420-2).[3] Hal ini diperkuat oleh Crawfurd pada 1828 (Descriptive Dictionary; 74, 441)[4] yang menulis, “pada kampung-kakmpung di tepi (danau)... berlangsung perdagangan luar negeri yang peset. Perahu-perahu dagang dihela ke hulu sungai Cenrana...Kecuali pada musim kemarau, airnya cukup dalam untuk dilewati perahu-perahu paling besar sekalipun.”

Sejarawan lainnya mencatat, “Kerajaan Sidenreng adalah perbatasan wilayah pengaruh Kerajaan Luwu dan Kerajaan Siang, terletak di antara dataran yang merupakan satu-satunya celah alami antara gugusan gunung yang memisahkan pantai barat dan timur semenanjung Sulawesi Selatan.” (Andaya 2004, Warisan Arung Palakka, Sejarah Sulawesi di Abad XVII).[5]

Dalam literatur lain, Kerajaan Rappang disebutkan sebagai kerajaan yang menguasai daerah hilir Sungai Saddang pada abad 15 M. Bersama dengan Kerajaan Sidenreng, Kerajaan Sawitto, Kerajaan Alitta, Kerajaan Suppa, mereka membentuk persekutuan Aja’Tappareng (wilayah barat danau) untuk membendung dominasi Luwu. Persekutuan itu kemudian diikatkan dalam perkawinan antar keluarga raja-raja mereka.

Cikal Bakal terbentuknya Kerajaaan Sidenreng sebagaimana Lazimnya dengan kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan dari berbagai Referensi, Fakta dan Sejarah disebutkan  :


Bahwa Addaowang Sidenreng pertama adalah Manurungnge Ri Bulu Lowa Di turunkan pada saat terjadi peristiwa kekacau balauan/SIANRE BALE TAU'E (Memakan selaksana ikanlah orang), sepeningalan/mallajangnya turunan I Laga Ligo. Dan ia pun tetap Mallajang lagi walau di minta untuk tidak mallajang, karna itulah ketetapan sang pencipta,. beliau digantikan oleh putranya Yakni Sukku PulawengE yang kemudian kawin dengan We Pawawoi Arung Bacukiki, putri Labanggenge Manurungnge ri Bacukiki Arung Bacukiki I Addatuang Sawitto I dari perkawinannya dengan We Tipu Linge Mompoe Ri Walamparang Datu Suppa I

I

Pertalian antara Sidenreng dan Rappang sudah ada sejak awal. Itu Sebabnya, kedua kerajaan memiliki hubungan yang sangat erat. Terbukti dengan sumpah kedua kerajaan yang dipegang teguh hingga Addatuang Sidenreng terakhir, yakni: Mate Elei Sidenreng, Mate Arewengngi Rappang (bahasa Bugis), Artinya, Jika Sidenreng mati dipagi hari, sorenya Rappang akan menyusul. Sebuah ikrar solidaritas sehidup semati yang dipegang teguh setiap raja atau arung yang memerintah di kedua kerajaan.

Walau demikian, kedua kerajaan ini juga memiliki perbedaan yang sangat mendasar dalam sistem pemerintahan.

Kerajaan Sidenreng Yang Menganut Sistem Pemerintahan Mengalir Dari Atas Seperti Air Sungai,byang dalam bahasa bugisnya dikenal dengan istilah “Massorong Pawo” dan Kerajaan Rappang Yangg Menganut Sistem Pemerintahan Berkembang Dari Bawah Seperti Air Pasang, yang dalam bahasa bugisnya dikenal dengan istilah “MANGELLE WAE PASANG”.[6]

Namun perbedaan itu tidak memisahkan hubungan keduanya. Malah, pada Tahun 1889, Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang justru diperintah oleh seorang raja bernama La Panguriseng Sultan Muh Ali. Beliau menjadi Addituang X sekaligus Arung Rappang XIX. Hal yang sama juga diteruskan oleh putranya yakni La Sadapotto, Addituang Sidenreng XII yang naik tahta menggantikan saudaranya, Sumangerukka, yang tidak di karuniawi keturunan.

Dalam perjalanannya, Kerajaan Sidenreng dan Rappang mengalami pasang surut pemerintahan, hingga pada Tahun 1906 kedua kerajaan yang ketika itu diperintah La Sadapotto, Addatuang Sidenreng XII sekaligus Arung Rappang XX, akhirnya dipaksa kalah kepada kolonial Belanda setelah melalui perlawanan yang sengit. Wilayah kedua kerajaan ini kemudian berstatus distrik dalam wilayah onderafdeling Parepare. Selanjutnya pada Tahun 1917 kedua wilayah tersebut digabung menjadi satu, sebagai bagian dari wilayah pemerintahan Afdeling Ajatappareng yang meliputi:

1. Onderafdeling Sidenreng Rappang

2. Onderafdeling Pinrang

3. Onderafdeling Parepare

4. Onderafdeling Enrekang

5. Onderafdeling Barru

Onderafdeling Sidenreng Rappang di bawah pemerintahan Controleur yang berkedudukan di Rappang, dengan membawahi wilayah administrasi daerah adat yang disebut Regen. Keadaan ini berlangsung hingga masa pendudukan Pemerintahan Jepang yang pada masa itu berada dibawah pengawasan Bunken Kanrikan. Seiring fajar kemerdekaan yang menyingsing pada 17 Agustus 1945, gelora semangat persatuan Indonesia tak terbendung lagi. Maka dengan dukungan penuh seluruh masyarakat, Sidenreng Rappang menyatakan diri sebagai bagian dari negera kesatuan Republik Indonesia.

Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor U. P. 7/73-374 tanggal 28 Januari 1960 yang menetapkan Andi Sapada Mappangile sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Sidenreng Rappang yang pertama. Pada 18 Peberuari 1960, Andi Sapada Mappangile kemudian dilantik sebagai Bupati oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. Atas dasar pelantikan Bupati tersebut , maka ditetapkan tanggal 18 Februari 1960 sebagai hari jadi daerah Kabupaten Sidenreng Rappang yang diperingati setiap tahunnya.[7]

Pemimpin[sunting | sunting sumber]

Berikut susunan raja-raja Sidenreng[1]

No Pemimpin Gelar
1
To Manurung'e Ri Bulu Lowa
Addaowang I
2
Sukku Mpulaweng'e
Addaowang II
3
La Makkarakka
Addaowang III
4
We Tipulinge
Addaowang IV
5
We Pawawoi
Addaowang V
6
La Batara
Addaowang III
7
La Pasampoi
Addaowang IV
8
La Pateddungi
Addaowang V
9
La Patiroi
Addaowang VI
10
We Yabeng
Tellu Latte I Sidenreng
11
La Makkaraka
Addituang I
12
La Soni
Addituang II
13
La Todani
Addituang III
14
La Tenri Tippe Towalennae
Addituang IV
15
La Mallewai
Addituang V
16
We Rakiyah
Addituang VI
17
Taranatie
Addituang VII
18
Towappo
Addituang VIII
19
La Wawo
Addituang IX
20
La Panguriseng
Addituang X
21
Sumangerukka
Addituang XI
22
La Sadapotto
Addituang XII
23
La Cibu
Addituang XIII

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Jumaidi Purnama
  2. ^ "Patents". Scientific American. 42 (26): 413–413. 1880-06-26. doi:10.1038/scientificamerican06261880-413. ISSN 0036-8733. 
  3. ^ Wicki, M. (1990). Krebs und Alternativmedizin II. Berlin, Heidelberg: Springer Berlin Heidelberg. hlm. 252–255. ISBN 978-3-540-50516-7. 
  4. ^ Dictionary of Gems and Gemology. Berlin, Heidelberg: Springer Berlin Heidelberg. hlm. 441–441. ISBN 978-3-540-72795-8. 
  5. ^ Andaya, Leonard Y. (1981-01-01). The Heritage of Arung Palakka. BRILL. ISBN 978-90-04-28722-8. 
  6. ^ Jumaidi Purnama
  7. ^ "Jumaidi Purnama Sec Ond". m.facebook.com. Diakses tanggal 2020-12-06.