Abu Mina

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Abu Mena
Abu Mena Ancient Monastery 04.JPG
Situs Warisan Dunia UNESCO
Tipe Budaya
Kriteria iv
Nomor identifikasi 90
Kawasan UNESCO Negara-negara Arab
Tahun pengukuhan 1979 (sesi ketiga)
Terancam 2001–sekarang
Koordinat geografi 30°50′28″LU 29°39′47″BT / 30,8411°LU 29,6631°BT / 30.8411; 29.6631Koordinat: 30°50′28″LU 29°39′47″BT / 30,8411°LU 29,6631°BT / 30.8411; 29.6631

Abu Mina (juga dieja sebagai Abu Mena); Arab Mesir: ابو مينا‎  diucapkan [æbuˈmiːnæ, æbo-]) adalah sebuah kota, biara, dan pusat ziarah agama Kristen pada zaman Mesir Kuno akhir, sekitar 45 km (28 mi) di barat daya Iskandariyah. Puing-puingnya diresmikan sebagai situs Warisan Dunia pada tahun 1979. Hanya sedikit puing-puing yang tersisa, namun fondasi kebanyakan bangunan penting, seperti basilika yang agung, masih mudah dikenali.

Usaha-usaha pertanian terkini di sekitar daerah situs telah menyebabkan kenaikan permukaan air yang berarti, yang telah menyebabkan beberapa bangunan di situs itu runtuh atau menjadi tidak stabil. Situs tersebut ditambahkan ke dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO yang dalam bahaya pada tahun 2001. Otoritas setempat terpaksa menempatkan pasir di dasar bangunan yang paling terancam bahaya di situs tersebut.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Mina dari Iskandariyah tewas sebagai martir pada akhir abad ke-3 atau awal abad ke-4 Masehi. Berbagai kisah pada abad ke-5 menceritakan versi-versi yang sedikit berbeda tentang penguburannya dan pendirian gerejanya. Intinya, jenazah Mina dibawa dari Iskandariyah di atas seekor unta, yang dituntun ke gurun melewati Danau Mariut. Pada suatu tempat, unta tersebut tidak mau lagi berjalan, meskipun orang-orang sudah berusaha keras mendorong dan menghalaunya. Ini dianggap sebagai perintah ilahi, dan jenazah Mina dikubur tepat di tempat itu.

Kebanyakan versi cerita tersebut menyatakan bahwa tempat kuburan tersebut kemudian dilupakan sampai penemuannya kembali yang ajaib oleh gembala setempat. Dari kitab Synaxarium dari Etiopia (terjemahan Inggris oleh E.A.W. Budge):

Dan Tuhan ingin mengungkapkan [tempat] jasad Santo Minas. Dan ada di gurun tersebut seorang gembala, dan pada suatu hari seekor domba yang menderita sakit kudis pergi ke tempat itu, dan merendam dirinya di dalam mata air kecil yang berada di dekat tempat itu, dan dia berguling-guling di dalamnya dan langsung sembuh. Dan ketika gembala itu melihatnya, dan sadar akan mukjizat tersebut, dia sangat terheran-heran dan tercengang. Dan kemudian dia mulai biasa mengambil debu dari tempat keramat tersebut, dan mencampurnya dengan air, dan menggosoknya ke domba-domba itu, dan bila mereka menderita kudis, mereka langsung sembuh. Dan ini dilakukannya setiap saat, dan dia menyembuhkan semua yang sakit yang mendatanginya dengan cara ini.

Berita tentang daya penyembuhan gembala itu dengan cepat tersebar. Kitab synaxarium menceritakan Konstantinus I mengirimkan putrinya yang sakit ke gembala tersebut untuk disembuhkan, dan memberi pengakuan penemuan jasad Minas padanya. Setelah itu Konstantinus memerintahkan pendirian gereja di tempat itu (beberapa versi dari cerita ini mengganti Konstantiuns dengan Kaisar Zeno, yang memerintah di akhir abad ke-5, namun para arkeolog telah menetapkan tanggal pendirian fondasi asli di akhir abad ke-4[1]). Di akhir abad ke-4, tempat tersebut sudah menjadi situs ziarah yang penting buat umat Kristen yang ingin mencari penyembuhan atau mukjizat lainnya. Labu Minas adalah sejenis ampula tanah liat kecil yang dijual kepada para peziarah sebagai wadah air suci atau minyak suci. Labu ini ditemukan secara meluas di kawasan Mediterania Barat, tertanggal kira-kira dari abad itu dan setengah abad sebelum penaklukan Islam. Labu tersebut dibuat secara murahan namun dicetak dengan gambar santo yang penting untuk studi ikonografi. Labu-labu ini diperkirakan dibuat di sekitar kota tersebut.

Di zaman berkuasanya Arcadius, uskup agung setempat memperhatikan bahwa kerumunan yang ada sudah membanjiri gereja kecil tersebut. Dia menulis surat ke kaisar Romawi Timur, yang memerintahkan perluasan besar-besaran terhadap fasilitas tersebut, dan merupakan ekspansi pertama yang akhirnya akan dilakukan. Pada akhir zaman Kuno, Abu Mina telah menjadi situs ziarah terkemuka di Mesir.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Grossmann, Peter (1998). "The Pilgrimage Center of Abû Mînâ". in D. Frankfurter (ed.), Pilgrimage & Holy Space in Late Antique Egypt. Leiden-Boston-Köln, Brill: p. 282