A Man Called Ahok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
A Man Called Ahok
Sutradara Putrama Tuta
Produser Ilya Sigma, Emir Hakim, dan Reza Hidayat
Penulis Putrama Tuta bersama Ilya Sigma[1]
Pemeran Daniel Mananta, Eric Febrian, Denny Sumargo
Perusahaan
produksi
Tanggal rilis
8 November 2018
Negara  Indonesia
Bahasa Indonesia

A Man Called Ahok adalah sebuah film nasional tahun 2018 yang disutradarai oleh Putrama Tuta berdasarkan pada buku A man called #Ahok: sepenggal kisah perjuangan & ketulusan karya Rudi Valinka yang mengisahkan kehidupan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok di Belitung Timur.[2] Film yang diproduksi oleh The United Team of Art ini diproduseri bersama oleh Ilya Sigma, Emir Hakim, dan Reza Hidayat, dengan bintang utama Daniel Mananta berperan sebagai Ahok dewasa dan Eric Febrian sebagai Ahok remaja.[1] Selain itu, deretan para pemeran lain dalam film ini antara lain Denny Sumargo, Chew Kin Wah, Sita Nursanti, Donny Damara, Ferry Salim, Eriska Rein, dan Jill Gladys.

Proses syuting film ini sebagian besar berlokasi di Belitung dan berjalan selama 37 hari mulai Maret hingga April 2018.[1][3]

Film ini mulai ditayangkan serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 8 November 2018.[4]

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Ahok adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya adalah seorang tauke perusahaan pertambangan di Belitung bernama Kim Nam dan ibunya yang penyayang dan tegar bernama Buniarti. Masa kecil hidupnya bahagia dan tidak kekurangan. Bisnis ayahnya di pertambangan sangat baik, sampai suatu saat Kim Nam harus berhadapan dengan korupsi dan ia tidak mau memberi "upeti" kepada oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut. Bisnisnya perlahan mengalami kemunduran. Kehidupan Ahok yang tadinya serba berkecukupan mulai menjadi sulit.

Kim Nam yang sudah antipati dengan keadaan korupsi di Belitung mengarahkan Ahok untuk menjadi dokter. Namun Ahok mengambil keputusan lain sehingga mengakibatkan hubungan dengan ayahnya menjadi dingin. Dengan semangat yang masih menggebu, Ahok mulai mengikuti langkah Kim Nam membuka pertambangan di Belitung dengan bermodalkan ilmu yang ia pelajari saat kuliah. Kenyataannya Ahok harus berurusan langsung dengan oknum yang sama, hingga perusahaannya harus gulung tikar. Selain situasi korupsi yang terus menerus menggerogoti ekonomi keluarga, datang kejadian tragis yang menimpa keluarganya hingga kesehatan Kim Nam yang memburuk. Saat Ahok masih berjuang untuk melawan korupsi, musibah besar datang dan situasi bertambah runyam. Dalam kondisi kalut, Ahok mengingat pesan ayahnya untuk menjadi pemimpin dan akhirnya ia bertekad untuk terjun ke dunia politik.

Perjalanannya dimulai dari menjadi anggota DPRD, hingga ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Belitung Timur, di tengah keyakinannya untuk terus maju, ada pihak yang ingin menjegal dirinya. Namun ia tetap berpegang teguh pada nasihat dan mimpi Kim Nam untuk memperjuangkan nasib orang banyak.

Pemain[sunting | sunting sumber]

Penayangan[sunting | sunting sumber]

Film tersebut dirilis pada 8 November 2018 bersamaan dengan film Hanum & Rangga, sebuah film yang mengisahkan tentang kisah percintaan Hanum Salsabiela Rais (putri Amien Rais) dan suaminya, Rangga Almahendra.[7] Jumlah penonton film A Man Called Ahok mengalahkan jumlah penonton film Hanum & Rangga.[8] Dalam 4 hari penayangan pertama, film A Man Called Ahok meraih 587.747 penonton.[9] Para calon anggota legislatif (caleg) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) cabang Manado menonton film A Man Called Ahok secara serentak.[10]

Hanum Rais menanggapinya dengan menuduh bahwa pihak film A Man Called Ahok melakukan cara curang dengan cara "borong bookingan seats teater tiket dibeli sendiri tapi tanpa ada penonton" dan menyatakan bahwa pihaknya tak dapat melakukan hal seperti itu karena "tidak memiliki dana untuk melakukan hal tersebut dan mengapa harus membohongi diri sendiri".[11] Namun hal itu ditepis oleh sutradara film A Man Called Ahok yang menegaskan bahwa publik sendirilah yang tertarik untuk menonton film A Man Called Ahok.[12]

Tanggapan[sunting | sunting sumber]

Pada masa pemutaran A Man Called Ahok, adik Ahok Fifi Lety Indra mengaku kecewa karena penggambaran ayahnya tidak sesuai[13] dan membandingkannya dengan Jenderal Soedirman.[14] Meskipun demikian, Fifi Lety masih memuji akting Daniel Mananta sebagai Ahok.[15]

Kritikan Fifi kemudian dikomentari oleh putri dari Ahok dengan menunggah tangkapan layar berisi arti kata adaptation, base dan replication. Ia berpendapat bahwa film A Man Called Ahok yang merupakan hasil adaptasi dari novel dengan judul yang sama, tidak harus semuanya sama persis dengan apa yang ada di dalam novel.[16] Nathania mengkritik Fifi dengan mengatakan cara Fifi menggunakan sosial media untuk menyebarkan kebencian adalah suatu hal yang tidak bisa diterima dan membandingkan bagaimana respon Basuki Tjahaja Purnama yang harusnya diikuti oleh Fifi.[17]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Purba Wirastama (6 September 2018). "Film A Man Called Ahok Angkat Kisah Ahok di Belitung". Metrotvnews.com. Diakses tanggal 6 Oktober 2018. 
  2. ^ Hariyanto, Ibnu. "Pesan Khusus Ahok ke Sutradara Film 'A Man Called Ahok'". Diakses tanggal 7 September 2018. 
  3. ^ Lalu Hendri Bagus Setiawan (6 September 2018). "Film A Man Called Ahok Butuh Waktu 37 Hari Syuting di Belitung". Grid.id. Diakses tanggal 10 Oktober 2018. 
  4. ^ Hestin Nurindah (8 Oktober 2018). Astini Mega Sari, ed. "Film A Man Called Ahok Tayang 8 November, Daniel Mananta Buktikan Totalitasnya Melalui Video Ini". TribunWow.com. Diakses tanggal 10 Oktober 2018. 
  5. ^ Ira Gita Natalia Sembiring (7 September 2018). Ati Kamil, ed. "Jadi Bapak dari Ahok, Denny Sumargo Lakukan Riset". Kompas.com. Diakses tanggal 6 Oktober 2018. 
  6. ^ Purba Wirastama (6 September 2018). "Pemeran Veronika Tan di Film A Man Called Ahok Masih Dirahasiakan". Metrotvnews.com. Diakses tanggal 6 Oktober 2018. 
  7. ^ https://seleb.tempo.co/read/1134607/dimajukan-film-putri-amien-rais-tayang-bareng-a-man-called-ahok/full&view=ok
  8. ^ https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20181112182618-220-345952/akhir-pekan-debut-ahok-kalahkan-hanum-rangga
  9. ^ https://m.jpnn.com/news/film-ahok-tembus-500-ribu-penonton-begini-respons-daniel
  10. ^ http://manado.tribunnews.com/2018/11/09/caleg-psi-manado-ramai-ramai-nonton-film-dokumenter-ahok
  11. ^ https://www.wartaekonomi.co.id/read203166/tiket-a-man-called-ahok-terjual-habis-putri-amien-rais-iri.html
  12. ^ Octafiani, Devy. "Penegasan Sutradara, 'A Man Called Ahok' Disebut Sengaja Borong Tiket". detikhot. Diakses tanggal 2018-11-23. 
  13. ^ https://metro.tempo.co/read/1143973/adik-ahok-beri-komentar-miring-tentang-film-a-man-called-ahok
  14. ^ http://wartakota.tribunnews.com/2018/11/08/masih-kecewa-fifi-lety-bandingkan-film-a-man-called-ahok-dengan-jenderal-soedirman
  15. ^ https://hot.detik.com/movie/d-4295681/sempat-kritik-a-man-called-ahok-adik-ahok-puji-akting-daniel-manata
  16. ^ "Fifi Lety Kritik Film A Man Called Ahok, Putri Ahok Beri Sindiran pada Tantenya - Tribun Wow". Tribun Wow. 2018-11-07. Diakses tanggal 2018-11-23. 
  17. ^ "Tantenya Kecewa pada Film A Man Called Ahok, Putri Ahok Tulis Curhatan Ini - Pos Belitung". Pos Belitung. 2018-11-14. Diakses tanggal 2018-11-23.